[REVIEW] STEAK (R)EVOLUTION : REVOLUSI DALAM SEPOTONG DAGING
[Review] Foxcatcher : Sia-Sianya Menangkap Sang Rubah
Director : Bennett Miller
Screenplay : E. Max Frye dan Dan Futterman
Cast : Steve Carell, Channing Tatum, Mark Rufallo, Sienna Miller, Vanessa Redgrave
Kisruh politik yang memanas antara KPK dan Polisi ini bikin gue menyimpulkan suatu hal, bahwasanya kekuatan adalah segalanya, walau kekuatan tersebut bisa jadi merenggut kebebasan yang kita punya. Ada satu kutipan dari George Orwell di bukunya yang berjudul "1984". "Kebebasan adalah bebas untuk berkata dua tambah dua sama dengan empat tanpa perlu takut konsekuensi yang didapat dari pendapat itu". Ada harga yang harus dibayar saat memperjuangkan sebuah bentuk kebebasan." Kesan yang sama gue dapat dari film yang mendapatkan 5 nominasi Oscar tahun ini, Foxcatcher.
Diinspirasi oleh kejadian nyata, kakak beradik Dave (Ruffalo) dan Mark (Tatum) Schultz adalah peraih medali emas untuk olahraga gulat di tahun 1984 dan mereka sedang berlatih untuk menghadapi Olimpiade Seoul 1988. Mark lalu menerima tawaran dari John du Pont (Carell), seorang milyuner, untuk bergabung dan berlatih dalam team gulat yang dinamakan 'Foxcatcher'. Dengan iming-iming gaji dan fasilitas yang tinggi, Mark pun bergabung sementara kakaknya menolak karena ingin menetap bersama dengan keluarganya. Little did they know, tawaran ini tak menguntungkan seperti yang mereka kira.\
Sinematografi dari Greig Fraser memberikan efek dingin dan bermusuhan, yang secara perlahan membuat kita ikut membeku. Mulai dari efek lomo dan tone warna yang biru, sampai ke potret lukisan ibu du Pont yang mengawasi seperti elang, membuat penonton rindu dengan kehangatan yang dibawa oleh Dave dan Mark di awal film.Dari kacamata Mark, kita tahu ada sesuatu yang salah dalam hubungan antara Dave dan Mark. Sebagai sosok yang sempurna, baik sebagai kakak, pegulat, hingga kepala keluarga, Dave sangat menyayangi Mark. Bagaikan induk ayam, Dave memandu, mendukung, dan melindungi Mark. Keinginan Mark untuk keluar dari bayang-bayang ini yang membawanya ke John du Pont.
Secara fisik, du Pont terlihat mengerikan dengan hidung panjang dan bengkok seperti paruh elang, kulit pucat dan bersisik, postur bungkuk, dan suara pelan. Carell lalu memberikan performa mengerikan sekaligus terbaik sepanjang karirnya dengan mengisi du Pont sebagai seorang megalomania gila kekuasaan yang tingkat ke-halu-annya seribu kali lipat lebih mengerikan dibanding Dijah Yellow. Inilah yang kemudian menarik Mark, Dave, dan kita semua ke dalam pusaran depresi.
Pun, kita tidak bisa mengesampingkan tensi seksual yang begitu kuat di antara mereka berdua. Seperti latihan gulat di perpustakaan saat tengah malam atau kecemburuan Mark ketika du Pont berhasil membawa Dave ke dalam Foxcatcher. Belum lagi dengan adanya gejala-gejala megalomania dalam diri du Pont. Rasa superioritas yang terancam dengan hadirnya Dave, mood swings parah, dan terutama sekali rasa haus untuk diakui sebagai seorang mentor. Bersamaan dengan sifat megalomania ini, tensi seksual yang ada malah destruktif dan membuat gue sesak nafas dan ketakutan. Penampilan Carell disini adalah definisi 'creepy' yang sesungguhnya.
Menarik ketika kemudian kita melihat film Miller sebelum Foxcatcher. Di Capote dan Moneyball, Miller memfokuskan diri pada cara penyelesaian masalah yang tidak konvensional di dalam sebuah sistem. Disini, kita malah diajak untuk melihat lebih dalam dari sekedar latar psikologis du Pont dan Mark. Bahwasanya, di dalam masyarakat kekuasaan, garis keturunan, sejarah, dan warisan dari sebuah nama adalah segalanya. Lewat tokoh ibu du Pont , sistem yang seperti inilah yang merusak du Pont dan masyarakat di sekitarnya. Bagaimana masyarakat menerima saja ke-halu-an dan delusionalnya du Pont karena kekayaan dan kekuasaan yang dia miliki. Misalnya membiarkan du Pont menang di pertandingan gulat yang ia danai, atau membuat film dokumenter tentang kehebatan du Pont sebagai mentor. Orang-orang ini lah membuat sifat megalomania du Pont semakin menjadi. Dan yang melawan harus rela terenggut kebebasannya, seperti Dave Schultz.
Mendapatkan lima nominasi Oscar, termasuk Best Original Screenplay, Foxcatcher memberikan sisi gelap kekuasaan dan kekayaan yang bisa merubah hidup seseorang khas Amerika, plus plot naskah yang top notch dan sama tegangnya dengan senar gitarnya Santana. Bukan hanya itu saja, Foxcatcher jadi sebuah potret gelap tentang bagaimana masyarakat tunduk di bawah orang-orang yang punya kekuasaan dan kekayaan.Mengingat du Pont duduk di atas singgasananya sampai sekarang membuat bulu kuduk gue masih merinding, and that is amazing, my friend.
[Review] The Babadook : "Baba...dook dook!"
Tanpa akting yang memukau, tentu The Babadook tidak akan bisa tampil semenakutkan ini. Davis dengan sangat cemerlang memerankan banyak layer dari Amelia. Di satu sisi, ia memerankan apa yang masyarakat ingin lihat dari seorang single parent : pekerja keras namun lembut dan menyayangi anaknya. Di sisi lain, ia lapar untuk memiliki partner berbagi sekaligus merasa kesepian. Dan ketika cerita bergulir semakin intens, kita diberikan sisi baru dari Amelia yang tertekan sekaligus berjuang mempertahankan kewarasannya. Seperti saat ia sedang bermasturbasi lalu tiba-tiba Samuel masuk ke dalam kamar sambil menjerit-jerit ketakutan. Frustasi sekali bukan?
[Review] Gone Girl : "Marriage Surely is a Hard Work!"
[Review] Sils Maria : Sebuah Proses Move One Seorang Aktor Watak
Dawn of the Planet of the Apes : "Et tu, Brute?"
Jeritan Hati Pecinta Genre Psikopat [2]
![]() |
| ...with fava beans and chianti, perhaps? |
Jeritan Hati Pecinta Genre Psikopat [1]
Saat menulis ini, gue sedang dalam perjalanan pulang setelah menonton Killers, film psikopat terbaru dari Mo Brothers. Tenang aja, reviewnya akan ada di Layar Tancep kok, hehehe. Satu hal penting yang menjadi trigger gue dalam menulis curcol ini adalah ketika gue menonton Killers, gue menemukan banyak sekali referensi film-film psikopat. Like 'Peeping Tom', 'American Psycho', 'Dexter'...you named it. Which leading to tulisan ga penting yang lagi lo baca sekarang.
Tidakkah elo cinta abis sama film bertema psikopat? Well, i do. Mereka adalah orang-orang yang terlihat sama kayak kita, punya hobi dan ritual, punya perasaan. Hanya saja, hobi itu bukan nonton Gossip Girl atau ngebeer di sevel kayak alay, tapi ngebunuhin orang dengan alat yang mereka pilih. Ritualnya bukan minum air distilasi lemon tiap pagi atau makan pake kecap. Bisa saja abis ngebunuh orang, si psikopat ini memperlakukan korbannya dengan berbagai cara : dikuliti, diperkosa, dicukur rambut pubisnya, dipotong-potong, sampai dimasak trus dijual ke orang-orang. Dan yang lebih ngerinya lagi, orang-orang kayak gini ada di sekitar kita. Bisa aja orang yg ada di sebelah gue di dalam kopaja ini sebenernya adalah psikopat. Kita ga pernah tahu.
Hollywood banyak memproduksi film-film psikopat dengan berbagai macam pendekatan. Misalnya yang memang pure gore/slash dan bahkan jadi legenda hingga sekarang. Leather Face dari 'Texas Chainsaw Massacre' adalah salah satunya. Pertama kali dibuat di tahun 1974, karakter fiksi karangan Tobe Hopper & Kim Henkell ini memakai topeng yang berasal dari kulit manusia dan membunuhi remaja-remaja kesasar dengan gergaji mesin (dan dimakan juga, oh well..). Belum lagi seluruh keluarganya yang..sama-sama gilanya. Sukses membuat gue WO dari bioskop di tahun 2014 dan muntah-muntah.
Atau bagaimana dengan karakter legendaris Michael Myers dari seri 'Halloween' di tahun 1978. Sudah sosiopat dan psikopat sejak kecil, Myers selalu berambisi menghabisi sebanyak mungkin remaja dengan pisau dapur. Gak mempan ditusuk atau ditembak, Myers kayaknya cocok jadi lawan Superman.
Di era emansipasi wanita kayak sekarang, gak banyak psikopat wanita dalam genre cincang mencincang ini. Yang gue tahu adalah Lola, dari The Loved Ones. Naksir cowok dan ngajak dia ke prom night tapi dia malah naksir aama cewek lain? Culik saja. Siksa dengan senjata favorit dan penuh rasa cinta. Kurang cewek? Pakai dress pink.
Lalu ada Dara, dari film Macabre / Rumah Dara. Ya, ini adalah film besutan The Mo Brothers. Dan karakter Dara yang diperankan oleh Shareefa Danish bener-bener top level. Saking ngerinya, Justn Bieber kalo nonton ini mungkin langsung trauma pernah datang ke Indonesia.
Dan masih banyak sekali psikopat sadis nan keji dengan berbagai macam senjata favorit dan cara-cara kreatif. Kebanyakan dari mereka paling senang membunuhi remaja-remaja tanggung yang kalo menjerit seannoying toa' mesjid. Caranya juga kebanyakan itu-itu saja.
Gelar psikopat paling kreatif mungkin paling tepat diberikan kepada Jigsaw dari 'Saw' franchise. Motivasinya ngebunuh juga rada-rada sakit jiwa : buat ngetes keinginan orang buat hidup. Korban-korbannya adalah orang-orang yang ngejalanin hidup tanpa semangat. Mereka diculik dan ditempatkan dalam sebuah ruangan yang sama, masing-masing dengan sebuah jebakan yang gila. Pilih mati atau ga punya kaki? Itu ringan. Atau mau mati dengan kepala dicaplok venus trap yang berpaku. Dan macam-macam lagi. Kreatif sekali memang dia.
Saingan berat Jigsaw? Trilogi 'Human Centipede' yang super duper sakit jiwa. Misalnya saja membuat kelabang dari manusia, dimana 3 orang korbannya 'digabungkan'. Jangan tanya gimana caranya. Membaca sinopsisnya saja sudah mau muntah. Atau 'Inside' yang dengan sangat sadis menceritakan tentang seorang psikopat yang ingin mengambil seorang bayi dari seorang ibu hamil. Bayangkan : psikopat vs ibu hamil tua. Kejam. Atau 'Martyrs', yang konon katanya terlalu sadis bahkan untuk dibayangkan. Konon.
Konon, karena sesungguhnya gue belum menonton banyak judul film-film diatas. Tidak sejak Texas Chainsaw Massacre, yang membuat iman dan nyali gue yang setipis kertas ini kapok menonton film bergenre slasher. Punya psikopat favorit dengan metode membunuh yang tak biasa di genre gore dan belum gue sebutkan? Monggo lho ditambahin, ceritain ke gue.
[To be continued...]
[Journal] My Most Favourite 2013 Movie List
About
Proud Single Fighter - Subterranian Homesick Alien - Paranoid, but not an Android
Popular Posts
Labels
- Fiction
- Intermezzo
- Movie











