Tampilkan postingan dengan label Miscellsnous. Tampilkan semua postingan

Doubutsu Doonatsu yang Sedap Dipandang Mata



Doubutsu Doonatsu yang lucu >_<
Minggu siang ini saya habiskan untuk mengerjakan tugas kampus sembari nternet surfing mengenai makanan. Mungkin karena pengaruh sedang berpuasa, namun akhir-akhir ini saya mudah lapar mata jika melihat foto makanan yang cantik dan menerbitkan air liur. Dari kegiatan iseng ini, saya kemudian menemukan "Doobutsu Donuts", atau donat berbentuk binatang asal Jepang.

Cukup telat memang, karena ketika saya mengetikkan 'Doobutsu Doonatsu' di search engine, fenomena donat berbentuk binatang ini sudah dimulai sejak tahun lalu. Yang membuat mata saya (dan kamu yang membaca ini!) langsung membelakak adalah karena aneka bentuk donut yang begitu indah dan menggemaskan. Mulai dari kucing, katak, panda, babi, hingga karakter terkenal dari Line dan Hello Kitty yang dibuat dari donat. Hiasan ini dibuat dari coklat leleh berwarna untuk menambah keotentikan binatang yang digambarkan. Misalkan cokelat untuk kucing atau hijau untuk kodok.

Doobutsu donat sendiri pertama kali dikreasikan oleh Ikumi Nakao, seorang seniman kuliner yang kemudian dijual di Ikumama pada tahun 2012. Nakao kemudian meng-upload foto kreasinya ini di twitter dan menjadi sensasi di dunia maya. Donat cantik ini bisa dibeli dalam kemasan per kotak dengan isi 4 buah, dengan harga sekitar $9 per kotaknya.

Bagi banyak orang, donat hanyalah donat, jenis penganan dan camilan yang acapkali memiliki lubang di tengahnya. Seringkali manis, namun tak jarang asin dan gurih. Donat juga sering jadi pilihan untuk oleh-oleh bagi keluarga dan anak-anak. Kita mengenal ada banyak merk yang menjual berbagai varian donat dengan topping dan frostingnya. Yang paling familiar bagi kita adalah Dunkin Donuts, raksasa franchise dari AS. Ada juga Krispy Kreme hingga J.Co, yang adalah perusahaan asli Indonesia namun dengan branding internasional. Bukan gak mungkin, donat cantik nan lucu ini bisa segera menjadi sensasi di Indonesia. Atau mungkin sudah ada?

note : and there goes my trembling stomach and sweet tooth...nom nom nom!

Kalau yang ini sudah pasti halal :))
Hello Kitty!!! Kawaiiii!



Gambar-gambar lucu lainnya bisa kamu baca disini ya ;). Happy fasting and have a sweat tooth! Berbukalah dengan yang manis...nanti sore!


[Bukan] Mati Suri di Taman

Source image : IFI fanpage


Dari semua tempat yang ada, tak pernah terpikirkan di benak saya bahwa taman kota bisa jadi venue pilihan untuk sebuah konser. Akustik masih masuk akal, namun full band? Rasa-rasanya saya belum pernah mendengar hal ini terjadi. Namun semalam, ini benar-benar terjadi.

Sebagai salah satu rangkaian acara dari Printemps Francais Festival, IFI Indonesia mengadakan konser folk jazz dengan musisi asal negara Perancis di Taman Suropati, Menteng Jakarta. Konser ini sendiri merupakan rangkaian acara dari Printemps Francais yang sudah sepuluh tahun terselenggara oleh IFI Indonesia. Ya, kamu memang tak salah baca. Sebuah konser jazz di taman kota, ide yang sangat unik dan out of the box.

Konser yang diadakan pada Selasa, 17 Juni 2014 pukul 20.00 WIB ini dibuka oleh SORE, sebuah band indie asal Jakarta yang digawangi oleh Ade Paloh, Mondo Gascaro, dan Awan Garnida. Penampilan SORE malam itu menakjubkan, mereka berinteraksi dengan penonton dan memainkan lagu-lagu andalan mereka. Crowdnya pun asyik, semuanya duduk bersila dengan rokok di tangan, ikut menyanyikan lagu-lagu seperti 'Pergi Tanpa Pesan' dan 'Merintih Perih'. Saya tahu saya cupu karena ini adalah konser SORE pertama yang saya tonton.


Selesai penampilan SORE, yang ditunggu-tunggu akhirnya naik ke panggung. Melissa Laveaux bersama dengan drummer Anne Paceo terlihat begitu humble. Walaupun saya tak mengerti bahasa Perancis ataupun mengenal lagu-lagu yang ia bawakan, jelas terlihat skillnya bukan kelas kacangan. Suara yang serak dan empuk, beat dari drum yang begitu menghipnotis, alunan musik yang begitu groovy, plus si dia. Benar-benar sebuah pengalaman menonton konser sekaligus alternatif kencan yang sangat berkelas dan berbudaya, gratis pula.

note : best moment mungkin ketika Laveaux membawakan lagu Hash Pipe versi folk/jazz. Kereeeen =w=
Source image from SORE fanpage



[Misc.] From Under The Cork Tree then Saving The Rock and Roll




Buat beberapa orang yang follow gue di twitter ataupun pernah membaca salah satu tulisan gue disini, pasti ngeh kalau gue adalah salah satu penikmat musik dari band asal Illinois, Amerika Serikat, Fall Out Boy. Band yang beranggotakan Patrick Stump (vokal + gitar), Pete Wentz (bass), Andy Hurley (drum), dan Joe Trohman (gitar) ini dibentuk di tahun 2001. Album pertama mereka adalah Take This To Your Grave si tahun 2003, nama mereka justru melejit melalui album keduanya, yang juga merupakan salah satu album favorit gue sepanjang masa : From Under The Cork (2005).

From Under The Cork Tree (2005) : One of the  most memorial and influent album in my whole life


Saat itu, saat dimana MTV masih waras dengan banyak memutarkan video klip dari musisi-musisi keren, adalah saat dimana gue mengenal mereka. Ya, lagu Sugar We're Goin' Down merupakan lagu pamungkas dari album mereka. Dan memang, kekuatan FOB ada ada duet Pete-Patrick, dimana Wentz menulis lirik dan Stump yang menjadi komposernya, album From Under The Cork Tree kebanyakan berisi lagu-lagu beraliran emo tentang patah hati. Is it any good? Well hell yea! Buat yang belum dengerin, mungkin bisa nyobain denger Get Busy Living or Get Busy Dying, XO, Dance, Dance, I Slept with Someone in Fall Out Boy and All I Got Was This Stupid Song Written About Me, dan Nobody Puts Baby In The Corner.


Infinity on High cover album


Lalu kemudian popularitas mereka semakin besar, namun sayangnya, hal itu lebih banyak disebabkan oleh skandal si frontman Pete Wentz. You name it lah, kencan dengan banyak artis sexy (termasuk Lindsay Lohan) lalu puncaknya ketika foto (maaf) tititnya beredar di interner tentu membawa mereka ke ketenaran yang bagaikan 2 sisi mata uang. Lalu di tahun 2007 dirilis Infinity on High, dengan single pamungkas mereka This Is Ain't Scene, This An Arms Race. Video klipnya sarkastis, justru menertawakan skandal-skandal yang mereka lalui. Dan untuk albumnya sendiri, bekerja sama dengan Babyface dan Jay Z, albumnya sendiri merupakan kombinasi emo-punk dengan R&B dan soul, banyak beatnya yang cukup enak. Coba dengerin Thnks Fr Th Mmrs, Thriller, dan The Carpal Tunnel of Love. 

 

And then, Folie a Deux dirilis setahun kemudian. But this one might the less favorite from me, tapi gue sendiri sebenarnya suka dengan gaya musikalitas mereka yang lebih dewasa dengan lirik yang jauh lebih sarkastis dan banyak menyentil masalah moral dan politik. Mungkin karena gue agak 'kaget' aja kali ya dengan perubahan ini, walau kalau untuk sisi vokal, Patrick Stump memang semakin dan semakin keren aja. Buat lagu favorit gue, coba denger : American Suiteheart, 27, I Don't Care, dan What a Catch, Donnie. 

Sampai pada akhirnya di tahun 2009, mereka mengumumkan untuk hiatus dan membuat fans-fans mereka menunggu dalam ketidakpastian, termasuk gue. Waktu itu gue pikir, walau statusnya hiatus, bisa jadi ada kemungkinan mereka bakalan bubar. And as a big fan, I was scared. Trohman dan Hurley membuat sebuah band beraliran heavy metal : The Damned Things, Wentz bergabung bersama Bebe Rexha membentuk band beraliran punk-ska bernama Black Cards, sementara Stump membuat sebuah solo album Soul Punk dimana dia menulis dan menkomposeri semua lagunya, bahkan termasuk memainkan semua instrumen di albumnya. Transformasi Stump juga berupa fisik, dimana selama ini dia dikenal sebagai vokalis bertubuh tambun dan geeky, lalu tiba-tiba berubah menjadi lebih kurus dan mulai menarik perhatian banyak orang (Although, rupanya justru banyak yang mencemooh perubahan fisiknya. Stump menulis sebuah blog post berjudul We Liked You Better Fat: Confessions of a Pariah, dimana banyak fans yang menghinanya saat konser solonya dengan mengatakan , “We liked you better fat!”).

"We liked you better fat!" - angry fans shouted after seeing Stump like this


Desas-desus kembalinya Fall Out Boy mulai berhembus kencang di tahun 2012 namun masing-masing dari mereka menyangkal akan hal itu. Gue sudah mulai H2C (njirr, jadul :p) dengar kabar ini, tapi karena belum ada komentar yang official jadi jelas gue mematikan pengharapan ini, dan terus move on sama hidup gue. Iye, lebay gue tahu. Sampai akhirnya di 4 Februari 2013, akhirnya FOB membuat pernyataan resmi bahwa album terbaru mereka akan berjudul “Save Rock and Roll”, dan merilis single pertama My Songs Know What You Did In The Dark (So Light 'Em Up) yang terdengar super kinky. Dan gue awalnya kaget melihat arah musikalitas mereka yang lebih dan dewasa. Dan kesan yang gue dapatkan dari lagu ini, mereka terdengar lebih 'clean and sleek' dibandingkan dengan album-album sebelumnya yang terasa lebih 'rebel' dan 'raw'. Lalu kemudian di bulan April, mereka merilis albumnya secara full dan gue benar-benar cintaaaaaa sama lagu-lagunya!

The cover reflects on how

Any goods from here? Well, I almost love all the tracks, baby! Yang gue sangat kagumi adalah dimana suara vokal dari Stump yang benar-benar bertransformasi, jadi terasa lebih powerful dan crisp. Walau permasalah artikulasi masih belum-belum jelas (Buat pendengar yang berbahasa non-Inggris, artikulasi Stump terkadang memang agak kurang jelas. Kecuali kalo lo sudah hapal liriknya), tapi toh hal ini ditutupi oleh musik mereka yang semakin terdengar dewasa. Dan satu hal, album ini terasa begitu personal, menggambarkan perjuangan yang harus dilalui setiap member, terutama Wentz yang sempat kecanduan Xanax dan Klonopin dan bercerai. Hal ini kemudian terasa sekali dari segi lirik yang ditulis oleh Wentz. Seperti yang gue tulis di atas, lirik lagu-lagu FOB memang banyak yang terdengar sinis, penuh kemarahan akan relationships, namun di album terbaru ini, justru terdengar lebih kalem dan tenang, juga dewasa.

My suggestion : The Phoenix, Young Volcanoes, Alone Together, Where Did The Party Go, Rat a Tat (feat Courtney Love), dan Save Rock and Roll (feat Elton John). Dan terinspirasi dari Daft Funk dengan Interstella 5555: The 5tory of the 5ecret 5tar 5ystem-nya. FOB membuat The Young Blood Chronicles, yaitu musik video yang dibuat saling sambung-menyambung, membentuk sebuah timeline cerita yang utuh. Dimulai dari My Songs Know What You Did In The Dark, lalu berlanjut ke The Phoenix, lalu Young Volcanoes. Kisah diakhiri di Alone Together, dengan memberikan detail dari chapter yang pertama : My Songs. Isn't it cool enough?

 
First Chapter of Young Chronicle : My Songs Know What You Did In The Dark



 Second Part, The Phoenix, a constantly eargasm for me!



Third part : Young Volcanoes. Alert : It's Explisit and Contain Some of Disgusting Scene!

The Last (so far) of Young Blood Chronicles


(Misc.) Balada Nama




Seorang penyair legendaris, William Shakespeare pernah berkata, “Apalah arti sebuah nama?”, dan awalnya gue termasuk orang yang berpikir bahwasanya tak masalah gue dipanggil apa, selama yang dimaksud itu tetaplah gue, si cantik dan imut ini. Selama ini gue toh tidak pernah merasa kesulitan dalam hal panggil-memanggil nama ini, karena selama ini gue selalu berada di zona nyaman dimana gue selalu berada di lingkungan yang memang sudah mengenal gue, berikut dengan nama panggilan gue.

Okay, jadi nama panjang gue adalah Indanavetta Putri Bungasa Giswitda Amri. Iya, panjang memang. Blame my over creative mom for that. But actually gue justru sangat senang dengan nama gue. Karena dengan nama yang super panjang sekaligus langka ini, gue justru jadi lebih mudah diingat oleh orang lain. Tapi toh, dengan nama panjang ini membuat banyak orang mesti memutar nama untuk memanggil gue dengan pendek dan efektif.

Daridulu gue selalu dipanggil dengan nama “Indana”. Itu adalah nama panggilan terkenal sejak jaman SD sampai SMA. Dari guru, sahabat, musuh, sampai pacar jaman itu selalu manggil gue dengan nama Indana. Hal ini membuat gue merasa nyaman dan percaya diri saat memperkenalkan diri dengan nama itu.

Banyak juga lalu yang akhirnya tahu bahwa gue punya nama panggilan ‘Tias’, dan mulai iseng memanggil gue dengan nama itu. Gue kasih tahu saja ya, gue awalnya tidak terlalu suka dengan nama panggilan ‘Tias’ itu. Banyak sih yang nanya, “Bagian darimananya nama lo yang super panjang itu ada kata ‘Tias’?”, yang akan gue jawab dengan serius bahwa sesungguhnya nama ‘Tias’ merupakan anagram dari nama Opa dan Om ague : “Een SumiaTI dan Juju Wahyu ASmaradi.” Get it? Ti-As? So yeaaah…Tapi daridulu justru keluarga besar gue selalu memanggil gue dengan nama panggilan ‘Nju’, instead of Tias. Karena nama Tia situ hanya dipakai ketika nyokap dan bokap gue sedang marah dan kemudian memanggil gue dengan intonasi yang menyeramkan.



Tapi ada untungnya juga sih. Justru karena makin banyak orang yang memanggil gue dengan sebutan ‘Tias’, gue jadi ga trauma lagi kalo mendengar nama pendek gue. Dan akhirnya nama itu jadi nama keberuntungan, banyak orang yang mengenal gue di soc-med seperti twitter dan blog dengan nama itu, hihihi…

Masalah dimulai ketika gue memutuskan untuk keluar dari zona nyaman gue di kawasan Indonesia Timur (baca : Makassar) dan pindah untuk berkuliah di Jakarta. Darisana gue harus mulai untuk memperkenalkan diri lagi ke banyak orang-orang baru. Untungnya untuk kasus seperti teman-teman komunitas yang sudah tahu nama panggilan gue, membuat gue tidak terlalu ribet lagi. Ketika kemudian di kampus, orang-orang mulai belibet (baca : males) untuk memanggil gue dengan Indana. Atau bahkan Tias karena sudah ada nama yang sama. Jadilah gue di kampus dipanggil dengan ‘Inda’ (nanggung!) atau bahkan ‘Mamih’ (mentang-mentang gue tua!).

Hal yang sama berlaku ketika gue akhirnya memasuki dunia perkantoran sejak 3 minggu yang lalu. Sejak awal gue sudah berusaha untuk terdengar professional dengan memperkenalkan diri dengan nama Indana. Namun toh rupanya orang-orang mulai belibet pula untuk memanggil nama gue itu. Jadilah, gue dipanggil “Pata” (seriously?), “Indra” (ngecek celana), Endah” (hiks), “Nda” (biar ringkas), dan akhirnya, secara resmi dan sepihak oleh rekan-rekan sekantor, nama panggilan gue ada lah “Indy”. 



Jadi, kalau sekarang ada orang yang mengutip William Shakespeare dengan quote terkenalnya itu, gue akan berteriak “PENTING TAUK!”, karena punya terlalu banyak nama panggilan berpotensi membuat lo sakit kepala. Dan itulah kenapa gue menamai anak gue simpel : Amorina dan Ayden, biar mereka tidak mengalami kesulitan yang gue rasakan ketika sekolah dulu. Atau ini cuma gue aja yang puyeng dan lebay ya?

(Misc.) Meet My Old Fetish


Warning : Tulisan ini penuh dengan cita rasa delusional! Dilarang komen delusional, karena penulis juga sudah tahu ;p

Hari ini hari Minggu, hari libur, saat-saat untuk bersantai dan mengisi ulang batere untuk menghadapi kehidupan seminggu ke depan. Dan pagi ini, hidup gue diawali dengan menyetel lagu-lagu 'lama' dan berkaraoke bersama dengan adik. Tak perlu lah ya gue jelaskan betapa indahnya suara kami atau tarian erotis yang kami lakukan (well, kesurupan lebih tepatnya). Hal yang kemudian membuat isi otak gue langsung meledak dengan ide yang ingin gue tulis untuk hari ini.



Di tahun 2003-2007 mungkin puncak dari pembentukan selera musik gue yang sedang keren-kerennya. Di jaman itu, musik yang sedang hip adalah genre emo rock, genre musik yang kalau didengar sepintas mirip orang yang nyanyi teriak marah-marah, liriknya juga banyak mengungkapkan amarah. Walau tidak sekeras genre metal, tapi di jaman ini banyak melahirkan generasi emo, dengan potongan rambut poni yang menutupi wajah. Ya, potongan rambut alay dan boyband jaman sekarang, di jaman dulu adalah identitas anak-anak emo, yang juga mengenakan kuteks hitam dan berpakaian serba hitam dan tengkorak (dan beginilah jaman remaja gue dihabiskan. Alay emang).

Tapi di tulisan ini, gue bukan mau membahas soal musik emo, hanya sebagai intermezzo saja. Gue mau membahas kesukaan lain yang mengikuti genre musik favorit gue dulu : ngefans terhadap gitaris band. Yeah, gue memang punya kegemaran yang aneh, atau sebut saja fetish yang aneh. Tiap kali menggemari sebuah band emo yang lagi 'hip', mata gue akan jelalatan memperhatikan anggota band yang terlihat 'keren' di mata gue, khas wanita secara mainstream. Dan mereka akan gue jabarkan satu-satu....

1. Billy Martin - Good Charlotte



Oh ya, sebagai pembuka sebenernya gue suka sekali sama Linkin Park di awal-awal kejayaan, seperti Papercut dan In The End (sayang makin melempem), tapi di LP ga ada yang menarik mata, heheh. Anyway, GC adalah sebuah band punk rock beranggotakan 4 orang : si kembar Joel dan Benji Madden, Paul Thomas, dan trakhir..Billy Martin. Gue suka sejak album mereka The Young and Hopeless, yang merupakan salah satu album paling legendaris, menurut gue. Kemudian di tahun 2007 mereka mengeluarkan album The Chronicle of Life and Death dengan memasukkan unsur emo.

Kenapa gue suka Billy Martin? Secara fisik, dia itu cungkring. Mukanya juga nyeremin, malah lebih enak ngeliat Joel Madden. Gak tau juga kenapa gue pernah ngefans sama Billy, slain fakta dia jago gambar. Iya, gambar-gambarnya yang super gothic dulu jadi favorit gue. Sekarang dia udah nikah dan punya dua orang anak. But I still respect him as a great artist.

2. Billie Joe Amstrong - Green Day



Sebenernya, Green Day juga masuk di genre punk, bahkan jauuuh jauuuh sebelum mereka menelurkan album American Idiot yang jadi hits, gue sudah sering mendengarkan lagu-lagu mereka sejak kecil. Beranggotakan Tre (drummer), Mike (bass), dan Billie Joe Amstrong (gitar), Green Day sekarang dikenal karena lirik-lirik lagu mereka yang sarat dengan kritik politik. Dan alasan gue suka sama Billie Joe A. sepele : karena suaranya keren dengan tubuh yang terlihat 'mungil' di panggung. Dan satu hal, Billie Joe A. adalah penyebab gue jadi sangat suka sejarah Sid Vicious dan Nancy. Coba aja dengerin Jesus of Suburbia. Aneh memang, but it worked for me.

3. Frank Iero and Gerrad Way - My Chemical Romance



Gue emang lebay, tapi ketika MCR memutuskan untuk bubar beberapa waktu silam, gue nangis. Gue kemudian menghabiskan diri dengan mengurung diri di kamar kostan, menyetel album Three Cheers for Sweet Revenge, The Black Parade, sampai Danger Days : The True Lives of the Fabulous Killjoys kencang-kencang, berduka karena MCR adalah penyebab semua kegilaan akan genre emo ini. Sejak lagu Helena, kemudian Thank You For The Venom dan Ghost of You yang jadi favorit gue, lalu I Don't Love You yang jadi lagu galau sejuta umat. Dan banyak, banyaaaaaak sekali cerpen gue (dan masih banyak yang belum utuh ditulis) yang terinpirasi dari lagu-lagu mereka. Dengan beranggotakan Gerard Way di vokal, Ray Toro dan Frank Iero di gitar, dan si imut Mikey Way di bass (Bob dan Matt sudah keluar duluan), kekuatan mereka ada di vokal Gerrard yang memang melengking penuh emosi. Dan walo Ray jauh lebih punya skill, tapi gue slalu suka sama Frank yang main gitar kayak orang kesurupan. So long and goodbye, dear fellows.

4. Patrick Stump - Fall Out Boy



Lewat album From Under The Cork Tree, FOB menjadi terkenal jadi salah satu band yang membesarkan genre emo. Beranggotakan Pete Wentz, Patrick Stump, Joe Trohman, dan Andy Hurley, lagu-lagu mereka banyak meneriakkan soal patah hati. Lirik lagunya edan, semuanya ditulis oleh Pete Wentz, dan musiknya dibuat oleh Patrick. Duo P, not that P, if you know what I mean. Dan okay, Patrick memang bukan tipe gitaris yang gila memainkan alat musiknya. Kekuatannya ada di vokalnya yang kuat melengking, walau artikulasinya kurang jelas. Di mata gue Stump bagaikan kartu truf, seorang vokalis dengan penampilan ala geeky (mirip sama Rivers Cuomo dari Weezer). Sayangnya, mereka agak menurun di mata gue dengan keluarnya album Infinity on High dan Folie a Deux. Dan fakta bahwa nama Pete Wentz jauh lebih terkenal karena skandal percintaannya dibandingkan dengan FOB membuat gue sempet kecewa. Sampai kemudian mendengarkan lagu My Songs Know What You Did In The Dark, The Phoenix, dan Young Volcanoes, lagu terbaru dari album "Save Rock and Roll". Dude, you have to hear the whole album to agree with me, kini FOB kembali ke kualitas lama mereka. Lebih bahkan! Dan terasa begitu personal. And...man! Patrick Stump never been this good! Jadi kurus dan ganteng, fashionable, dengan kualitas suara yang semakin membaik. Welcome back, I love you Patrick!!!

5. Brendon Urie dan Ryan Ross - Panic! At The Disco



Album pertama mereka : A Fever You Can't Sweat Off adalah fenomena. Ditemukan oleh Pete Wentz lewat akun LiveJournal, dikontrak oleh perusahaan 'Fueled by Ramen' dan Decaydance Records (yupe, Gym Class Heroes, Fun., Paramore punya satu kesamaan ;p). Judul lagu-lagu di albumnya diambil dari line film Closer, lirik lagu yang ditulis Ryan terinspirasi dari album-album OST Nightmare Before Christmas dan Moulan Rouge (kalo gue ga salah inget ya). Sayang mereka cuma bertahan sampai album Pretty Odd lalu Ryan dan Jon Walker hengkang dan membentuk The Young Veins. Brandon masih di PATD sekarang. Dan buat gue sendiri, album Fever You Can't Sweat Off itu bagaikan style over substance, megah visualisasinya sedang Pretty Odd terasa begitu syahdu. And I missed Ryan-Brandon's bromance in stage.

6. Synyster Gates - Avenged Sevenfold



Akhirnya, kita pindah ke bagian utama dan terakhir. Tersebutlah nama sebuah band keren bernama Avenged Sevenfold, diisi dengan anak-anak muda penuh bakat : M. Shadow dengan kharisma dan teriakan melengkingnya, Zacky Vengeance yang dengan quirkynya main gitar dengan tangan kiri, Johnny Christ yang kalem dengan bassnya, (alm) The Rev di belakang drum, dan si ganteng Synyster Gates dengan skill gila. Kalau mau berdelusional, nama-nama yang gue sebutin di atas ibaratnya cowo-cowo yang gue taksir, tapi Syn itu cinta sejati gue. Sejak album Waking The Fallen sampai Nightmare, Sinister gak henti-hentinya membuai telinga gue dengan permainan gitarnya. Mau itu lagu yang keras sampai yang lembut, telinga gue bagaikan dapet sebuah eargasme berulang-ulang kali. Indah sekali. Dengan rahang persegi, tubuh jangkung besar, dengan jemari yang lentik memainkan gitar...cukup bikin kaki gue lemes. Sayang, berita pernikahannya cukup bikin gue patah hati, sampai saat ini.

Sekarang gue mungkin sudah lebih 'jinak', dan hati gue sudah tertambat untuk Fassy (dan Jared Leto, Bradley Cooper, Ryan Gosling, Alex Pettyfer, dkk..kadang-kadang), tapi nama-nama di atas selalu ada di memori gue. Terutama Syn, my dearest bad boy. And just FYI, gue nunggu berita lo cerai sih.
Bukannya ngedoain, FYI aja tapi.


------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tulisan ini adalah tulisan pertama gue untuk ajang #30HariMenulis tanggal 1 Juni 2013, sudah dipublikasikan terlebih dahulu di laman facebook.