Tampilkan postingan dengan label Animation. Tampilkan semua postingan

Review : Monster University (2013) : "I Want To Be The Part Of It!!!!"


Director : Dan Scanion
Screenplay : Robert L. Baird, Dan Gerson, Dan Scanlon
Cast : Billy Crystal, John Goodman, Steve Buschemi, Helen Mirren, Peter Sohn,


Sejak awal, Pixar memang sudah terkenal karena jadi pelopor animasi CGI. Bagi seorang anak yang menjalani masa remaja dan dewasa di era 98-an keatas seperti gue, sudah pasti sangat familiar dengan banyak karya masterpiece mereka. Toy Story trilogy, tentu saja. Lalu ada Wall-E, Up, Finding Nemo, Ratatouille, dan masih banyak lagi. Diantara semuanya lalu ada Monster Inc. dengan duet Sully-Mike yang memang tidak seterkenal Woody-Buzz atau Marvin-Dori, for example, tapi tetap saja ikonik Lalu kemudian, sejak tahun 2011 nama PIxar mulai menurun. Seolah, they already lose their touch of magic. Entah kenapa, Pixar kemudian terkena latah untuk melanjutkan film-film legendaris mereka seperti Finding Dory, dan Toy Story 4 sebagai proyek mereka ke depan (Please, why no one in PIxar thinks that The Incredibles REALLY DESERVE FOR A SEQUEL!!). Namun toh Monster University ini sudah jadi proyek prekuel sejak tahun 2005, lalu kemudian benar-benar mendapatkan kepastian di tahun 2010 dan akhirnya dipasang sebagai film pamungkas Pixar di summer movies 2013.

For all Monster Inc.'s fans must be remember this : "Ha, ha, ha. You've been jealous of my good looks since the fourth grade, pal.". Yupe, di Monster Inc. Mike dan Sully mengisyaratkan bahwa mereka sesungguhnya sudah bersahabat sejak kecil, namun di Monster University kini hal itu dirombak besar-besarann, mengubah awal kisah pertemuan Mike dan Sully menjadi saat mereka berkuliah di universitas yang sama : Monster University.



Mike (Crystal) sejak kecil selalu ditindas oleh teman-temannya. Ketika kemudian dia mengunjungi pusat tenaga dunia monster, Monster Inc. dalam darmawisata sekolah, dia kemudian menjadi sangat terobsesi untuk menjadi seekor monster scarer dan kuliah di jurusan 'scaring' di universitas terkenal : Monster University (ibarat Harvard kali yaaa). Dengan kerja keras, Mike berhasil masuk kesana. Namun kerja kerasnya nampak tak berharga di hadapan Sully (Goodman), seekor monster berbulu biru yang secara alamiah tampak menyeramkan, tanpa perlu susah payah berusaha. Persaingan mereka semakin meruncing, namun malah menyebabkan kekacauan dan mereka malah dikeluarkan dari jurusan tersebut oleh Dean Hardscarbble (Mirren). Mike lalu menantang Hardscrabble dalam kontes monster terseram. Bersama dengan dorm Oozma Kappa (OK) yang tidak populer dan tidak ada tampang seram sama sekali, Mike dan Sully harus bekerja-sama agar bisa kembali memasuki jurusan 'scaring', di tengah ketidakcocokkan mereka, dan tentunya....ketidakseraman Mike. Berhasilkah mereka?

Sejujurnya, gue sudah tidak berharap banyak akan prekuel ini, tidak sejak Cars 2 dan Brave kemarin. Gue lebih memilih untuk mengenang masa-masa kejayaan Pixar terdahulu, dan bahkan gue menunda-nunda lama untuk akhirnya menonton Monster University ini. Alasannya mungkin karena gue takut ini akan menjadi karya Pixar lain yang terasa tidak Pixar. Apalagi banyak review-review banyak teman yang menganggap film ini 'dingin' dan Pixar sudah semakin kehilangan sentuhan keajaiban mereka. Namun kemudian gue duduk, tanpa ada ekspektasi berlebih. Wajah gue lebih seperti "Okay...let's see how it is." dan rupanya, MU justru memberikan kejutan yang tak terduga.



Ya, surprisingly fun. Gue suka sekali dengan banyaknya lelucon-lelucon ringan yang khas dan sering ditemui film-film bertemakan universitas. Dan walau temanya sangat standar dan simpel, tapi eksekusinya justru malah mengingatkan gue dengan banyak film-film coming of age khas John Hughes di era 80an. Anak culun vs populer, dengan pesta-pesta khas mahasiswa, lelucon perkuliahan yang membuat semua anak-anak kuliah pasti tertawa terbahak-bahak. Dengan karakter-karakter yang lovable, terutama si Squishy membuat gue tak henti-hetinya berpikir, "I want to school there too!"

Dan yah, MU ini jelas jauh jauh lebih menghibur dan membuat gue tertawa terbahak-bahak dibandingkan dengan Despicable Me 2 kemarin. Memang beda pangsa pasar juga sih, walau sama-sama animasi, MU terasa begitu 'gue' dan gue lebih merasa related dengan filmnya dibandingkan dengan DM2. Bukannya DM2 lebih jelek, hanya saja buat gue pribadi, walau tidak sekuat pesona karya-karya lamanya, MU lebih mempesona.

In the end, MU memang sebuah film yang jauh lebih risky, dengan timeline yang berbeda dengan originalnya, dengan ketiadaan karakter Boo dan juga cerita yang terasa lebih cocok untuk pangsa usia dewasa, it is good. Not that great actually, but this one definitely better than Cars 2 and less darker than Brave. Thank you for brought us this, Pixar. We all want to be the part of the univeristy!

Note : Jangan  telat masuk ke dalam studio, karena ada short movie The Blue Umbrella yang astonishing and beautiful, like any kind of Pixar's legacy, dan tentu saja ada kejutan di ending credit jadi jangan buru-buru meninggalkan kursi kalian! :) 

Review : Despicable Me 2 (2013) : "Minions, Minions....Minions Everywhere!!"





Director : Pierre Coffin and Chris Renaud
Screenplay : Ken Daurio and Cinco Paul
Cast : Steve Carell,Kristen Wiig, Benjamin Bratt, Miranda Cosgrove, Russel Brand, Elsie Kate Fisher, Pierre Coffin


Satu hal yang selalu dilakukan di sebuah sekuel adalah membuat semuanya terlihat lebih masif dan lebih heboh. Pokoknya semuanya melebihi apa yang ada di dalam film pertamanya. Apakah filmnya bagus atau jelek, itu nanti belakangan. Yang penting harus melebihi 'kehebohan' yang sudah diciptakan oleh pendahulunya. Banyak kok contohnya. Tapi jarang sekali 'kehebohan' ekstra yang ada di sebuah film sekuel yang bisa melebihi film pendahulunya. Judul-judul yang berhasill itu, yang ada di otak gue saat ini adalah The Dark Knight (kemudian lebih heboh dan keren lagi di TDKR!), Spider-Man 2, dan Toy Story 2. Memang ini hanya pendapat gue pribadi, but too bad, Despicable Me 2 not one of these example.

Pertama kali dirilis di tahun 2010 melalui Illumination Entertainment dan Universal Pictures, Despicable Me merupakan sebuah kuda hitam yang tidak disangka-sangka banyak orang. Dengan cerita yang cukup nyeleneh namun sekaligus menyentuh, Despicable Me mampu bersaing dengan Toy Story 3 dan Shrek Forever After, dan membuat banyak fans-fans baru, terutama untuk karakter sampingan minions (yang terbuat dari kloning jagung). Tak salah kalau lalu kemudian dibuat sekuelnya, toh karakter-karakter yang ada memang sudah lovable.

grmbl....grmbl....


Despicable Me 2 melanjutkan kisah hidup Gru (Carell), si mantan penjahat super yang kini sudah bertobat dan menikmati hari-harinya sebagai seorang ayah rumah tangga untuk ketiga putri angkatnya, Margo (Cosgrove), Edith (Gaier), dan si lucu Agnes (Fisher). DIbantu dengan para minionsnya (Coffin) dan Dr. Nefario (Brand), Gru membuka usaha rumahan jelly dan jam. Gru kemudian diculik oleh Lucy Wilde (Wiig) dari AVL (Anti Villain League) yang memintanya untuk membantu misteri di balik hilangnya serum berbahaya. Gru, Lucy, dan minions pun kini bahu membahu untuk menemukan siapa pencuri serum rahasia itu.

Seperti yang sudah gue bilang di atas, kadar komedi dan skala cerita yang ada di sekuelnya ini jelas lebih ditingkatkan. Gru naik pangkat, bukan hanya menjadi sekedar penjahat, namun kini diberikan kesempatan untuk jadi mata-mata, bertransformasi menjadi jagoan, dan bekerja sama dengan tokoh Lucy yang terlalu exciting di segala suasana. Lalu ada komedi-komedi slapstick yang lebih banyak dibandingkan yang pertama. Dan tentunya porsi kehadiran Minions. Hal ini tentu sebagai penggenjot tawa dan fans service dari fans si kuning annoying yang lucu ini.

"Bottom! Hahahaha!"


Sebenarnya tidak salah ketika lo membuat sebuah film sekuel dengan porsi yang lebih 'besar' dibandingkan dengan sebelumnya. Tapi pada akhirnya, Despicable Me 2 ini bisa jadi sebuah misi suicidal. Ibaratnya, too much love will kill you. Too much minions maybe will made you laugh really really hard, but then again, you forgot about the story itself. You forgot about the whole plot, you forget about the human character, and most of all...you forgot about Gru. Yeah, Minions benar-benar merajalela disini. Bukan hanya porsi mereka yang makin bertambah, jumlah mereka pun seolah tumpah ruah di layar (I'm not complaining because they are....yellow!). Dengan segala kelakuan mereka yang konyol dan membuat gue tertawa sampai sakit perut, Minions berhasil mengemban tugasnya sebagai penghibur (utama dan satu-satunya) sepanjang durasi film.

Sisanya? Yah...beberapa aksi komedi, terutama yang slapstick lumayan membuat tersenyum, walau senyum garing. Karakter Gru, Lucy, The Girls, sampai El Macho disini seolah hanya tempelan untuk membuat filmnya seolah memiliki cerita yang penuh. Terlalu penuh malah. Terlalu banyak sub plot cerita yang tidak fokus dan tidak jelas mau kemana arahnya. Dan lagi, tidak ada sebuah motivasi yang jelas. Okay, i'm might sound like a snob, this is animation anyway, tapi kalau mau dibandingkan dengan film pertama, dimana karakter Gru minimal memiliki kharisma dan tujuan yang jadi fokus di seluruh film, Despicable Me 2 ini seolah-olah hanya menyempilkan mereka ke dalam sebuah cerita yang terlalu kekanakan bagi gue, tapi bisa jadi malah terlalu sulit untuk dicerna oleh anak-anak. Untung....sekali lagi, gue bilang ini emang jatuhnya kayak suicidal mission, tapi Minions menyelamatkan film ini.


So yea, overall...Kalo emang kalian pecinta animasi dan Minions ini secara khusus, kalian pasti bakalan suka filmnya. Ringan dan membuat kita tertawa-tawa melihat aksi para Minions dengan berbagai kekonyolan mereka. Kalau mau dibandingkan, gue tetep lebih cinta film pertamanya, but as a sequel, this isn't that bad, mediocre and then forgetable. Dan karena katanya di tahun 2014 bakalan ada sebuah film spin-off bagi para Minions ini, semua fans pastinya lega dan senang. Karena yang tersisa di otak gue setelah barusan selesai menonton Despicable Me 2 ini hanyalah minions, minions, dan minions. Dan oh, lagu  'Underwear' itu.Tapi ya udah....itu aja sih.






Ratatouille (2007) : "A Sweet Irony Behind A Piece of Gourmet Art"


Director : Brad Bird
Screenplay : Brad Bird
Cast : Patton Oswalt, Ian Holms, lou Romano,



Buat yang suka baca blog gue, atau beberapa tulisan gue, entah itu berupa notes di facebook atau short-short review dulu di sebuah grup majalah film, mungkin sudah hapal kalo gue bilang gue adalah pecinta animasi, terutama karya Pixar (like a thousand millions people put there neng, d'oh! *self keplak). Sejak pertama kali membuat sejarah sebagai animasi CGI pertama di dunia (Toy Story di tahun 1998) sampai sekarang, gue termasuk penikmat karya-karya mereka. Walau jujur, sejak Cars 2 sampai sekarang (belum termasuk Monster University), kualitas film-filmnya menurun dan pamor mereka mulai tersaingi dengan Dreamworks (favorit gue : How To Train Your Dragon yang tastenya Pixar sekali!), Illumination Pictures (si unyu minion dari Despicable Me), Sony Animated Pictures (Cloudy With a Chance of Meatball yang bikin mulut gue megap-megap) dan tentu saja si raja dunia animasi, Walt Disney yang di tahun 2012 kemarin membuat Wreck It Ralph sampai Paperman yang indah. Tapi Pixar punya sederetan judul yang cukup memorable di hati banyak orang. Dan gue sampai bingung harus menyebutkan mana favorit gue, karena memang ada banyak sekali. Dan Ratatoiulle ini adalah salah satunya.

Hiduplah seekor tikus hitam bernama Remy (Oswalt) di sebuah pinggiran desa. Dengan cara yang unik, dia memperkenalkan kesulitan hidup yang ia harus hadapi karena status kehewanannya itu. Dan tentu saja, karena berbeda dengan tikus umumnya, Remy memiliki kelebihan dalam indra perasa dan penciumannya. Dan itu membuatnya menjadi sesosok tikus yang sangat menggemari makanan dan seorang chef bernama Auguste Gusteau (Garret). Kemampuannya ini tentu saja diremehkan, terutama oleh sang ayah yang merupakan pemimpin koloni tikus, Django (Dennehy). Karena obsesinya ini pula yang kemudian mengakibatkan kekacauan dan memisahkan Remy dengan koloninya. Di tengah depresi dan kesendiriannya, Remy yang berhalusinasi dengan berbicara kepada roh Gusteau ( or pigment of imagination more likely) kemudian digiring ke restoran Gusteau.


Remy kegirangan dan lupa diri, kemudian memperbaiki kekacauan yang diciptakan oleh Linguini (Romano) dengan sup, yang kemudian malah membuat kekacauan baru. Linguini kemudian malah dianggap sebagai sang koki handal oleh semua chef di restoran Gusteau, terutama oleh sang rotissuer Colette (Garofalo). Linguini kemudian bekerja sama dengan Remy, dengan kemampuan memasak Remy yang handal dan penampilan Linguini sebagai manusia normal, dengan cepat mereka mencapai puncak, walau mengundang kecurigaan dari sang chef de cuisine Skinner (Holm) dan tantangan dari food critics terkenal Anton Ego (O'Toole). Berhasilkah remy dan Linguini mengelabui semua orang dan mengalahkan kritik kejam dari Ego?

Dulu, sebelum nonton film ini di tahun 2008an, gue termasuk orang yang masih saja curiga dengan premisnya. Karena memang jarang ada film yang mengangkat dunia masak memasak profesional, terlebih lagi ini adalah sebuah film animasi, dengan tokoh utama seekor tikus. Kurang ironis bagaimana coba, seekor tikus hitam yang identik dengan jorok dan kotor ternyata bisa memasak hidangan-hidangan rumit dan indah. ala haute cuisine But this is Pixar, ketika sebuah premis nyeleneh ini dibuat, hasilnya tentu saja gak main-main. Brad Bird, (The Incredible, Mission Imposible : Ghost Protocol) sebagai orang yang bertanggung jawab di penyutradaraan dan penulisan skenario berhasil membuat sebuah film animasi yang bukan saja menghibur, tapi juga detail di berbagai sisinya, dan tentu saja menyentuh, sebuah kekuatan luar biasa yang selalu ada di setiap film Pixar.


Ada banyak alasan kenapa kota Paris yang dipilih sebagai lokasi dari Ratatouille sendiri. Yang pertama karena adanya unsur romantis dari filmnya sendiri, entah itu dari suasana yang memang sejak awal dibangun hingga ke hubungan Linguini-Collete. Dan tentu saja, karena Paris sendiri dikenal sebagai pusat dari gourmet dish around the world. Ya, French Cuisine merupakan sebuah ilmu tersendiri dalam dunia kuliner, dan hampir semua istilah-istilah klasik di dapur memang berasal dari Perancis, seperti hierarki chefs di dapur dan istilah-istilah memasak seperti sautee, roux, fondue, mirepoix, dll. And may I say...Paris never looked really Paris before. Keindahan kota Paris, dari panorama kota, city lights, sungai Seine, hingga menara Eiffel yang terkenal digambarkan dengan begitu detail, dan gue bahkan seolah bisa mencium udara kota Paris. It is so wonderful....

Selain mengambil setting di Paris, ada banyak hal-hal untuk menambah keotentikan dari dunia gourmet cuisine in Parisnya. Seperti misalnya penggambaran karakter Gusteau yang meninggal setelah hidangannya direview jelek dan membuatnya kehilangan Michelin stars, itu berdasarkan Chef Bernard Louiseau yang bunuh diiri ketika media memprediksikan restauran berbintang tiga miliknya, La Cote d'Or turun ke bintang dua. Atau nama Alfredo Linguini yang berasal dari nama masakan khas Italia. Dan terutama dari pemilihan judul, stressing the word 'rat' and also a French dish from Nice and Provence, a vegetable stew dish from tomatoes, onions, zucchini, eggplant, bell peppers, garlic, marjoram, and basil. Ratatouille sendiri merupakan hidangan khas pedesaan Perancis, yang kemudian dimasak Remy di adegan pamungkas, sebagai sebuah hidangan sederhana sekaligus rumit dan kompleks (yang di film diciptakan oleh seorang gourmet chef bernama Thomas Keller).

Ratatouille made by Remi or aka Confit Byaldi :)
Satu hal yang sangat gue sukai dari filmnya ada di musik scoring gubahan Michael Giachinno, yang terdengar begitu riang dan sangat France-esque, menemani naik-turunnya alur cerita dengan pace yang ringan. Gue seolah berada di samping Remy, memperhatikannya memasak berbagai hidangan rumit, and almost can smell the food itself.

And oh boy, all of the characters are quite lovable! Dari tokoh Remy yang super salah 'badan' dan ironis, sok, namun malah paling terlihat normal di antara karakter manusia yang lain, lalu ada tokoh Linguini yang super kikuk dan gestur tubuhnya yang mengundang tawa lebar, dan Collete melengkapi trio ini sebagai wanita super judes dan galak namun tangguh di dapur. Di sisi antagonis ada Chef Skinner yang begitu komikal, dimana body language, ukuran tubuh, hingga perilakunya terinspirasi dari Louis de Funes, seorang aktor komedi dari Perancis (1914-1983) dan juga Anton Ego yang terinspirasi dari Louis Jouvet, aktor dan sutradara Perancis (1887-1951), keduanya hadir menjadi lawan yang sangat tangguh bagi Remy-Linguini. Dan oh ya, karakter kakak Remy, Emile yang lebih banyak jadi trouble-maker!


Jadi ga usah heran kalau kemudian Ratatouille ini kemudian menjadi salah satu film favorit banyak orang, terutama gue, dari Pixar sendiri. Overall filmnya mungkin memang animasi, tapi keindahan dan detailnya tidak bisa diremehkan dan dianggap sebelah mata. Sebuah film yang asyik ditonton bersama keluarga, ramah usia, tapi tidak lantas menjadi sebuah karya yang 'kekanakan'. It's almost really perfect in every aspect, a very beautiful art. Sebuah kisah indah yang begitu persuasif, that i can even drooling for everything in it. Dan tolonglah, Pixar, gue tahu kalian akhir-akhir ini sedang begitu kecanduan membuat sekuel atau prekuel dari kisah-kisah terkenal kalian, tapi untuk yang satu ini...please, leave it alone, unless you really have a very strong script. Let it be alone and prefect and untouchable. I love it so much.

And above from all of those delicious food, di balik panasnya panci dan api di dapur, selain sebuah kisah manis namun ironis mengenai seekor tikus yang mencintai masakan, terselip sebuah kisah indah, that not everyone can became a great artist, but a great artist can come from anywhere, sometimes world is just too cruel for them. Selamat mengejar mimpi indah kalian, the dream-catcher. This is a gift from an artist to every artist in the world. Only truly artist can be great.

Au revoir!




Review : Wreck it Ralph ( 2012 )

WRECK IT RALPH
“IT’S GOOD TO BE BAD”

Director: Rich Moore
Screenplay: Phil Johnson and Jennifer Lee
Cast: John C. Reilly, Sarah Silverman, Jane Lynch, Jack McBryer


Coba mari kita bayangkan sejenak, apa yang terjadi ketika sebuah game centre ditutup? Apakah semua mesinnya mati tanpa ada kegiatan apapun lagi? Atau malah ternyata semua karakter dari game-game tersebut keluar dari mesinnya, hidup dan berinteraksi sebagaimana kita manusia setelah mengalami hari kerja yang melelahkan? Premis dari film animasi Disney terbaru, Wreck It Ralph ini sesungguhnya sangat menarik dan cerdas, menurut saya. Ada sebuah rasa excitement yang begitu besar ketika akhirnya melihat banyak karakter dari game-game masa kecil saya muncul di dalam film ini.
Ralph (Reilly) sudah 30 tahun diprogram untuk menjadi karakter antagonis melawan Fix-It-Felix (McBryer). Namun ternyata ketika game centre ditutup, dia masih saja diperlakukan sebagai orang jahat oleh para Nicelanders. Ralph yang ingin membuktikan bahwa dia juga orang yang baik kemudian nekat keluar dari mesinnya dan menyusup masuk ke dalam konsol “Hero’s Duty” demi mengambil sebuah medali sebagai pembuktian diri. Naas, sebuah insiden membuatnya terlempar keluardari game yang dipimpin oleh Sergeant Calhoun (Lynch) ke dalam mesin game yang lain, “Sugar Rush”. Disana, medali Ralph malah direbut oleh karakter glitch Vannelope von Schweetz (Silverman), namun ujung-ujungnya Ralph malah terpaksa menolong Vannelope memenangkan balapan mobil, tanpa menyadari bahwa mereka berpotensi untuk menguak sebuah konspirasi besar dan juga kelam. Akankah Vannelope berhasil memenangkan balapan mobil dan membuktikan bahwa dia ‘berguna’? Akankah Ralph berhasil mendapatkan pengakuan dari para Nicelanders?
Saya adalah penggemar film animasi, terutama dari Disney-Pixar. Walau Wreck It Ralph ini bukan karya kolaborasi dari keduanya, saya merasa film ini adalah perpaduan dari dua film animasi terkenal Toy Story dan Monster Inc. Ada banyak kemiripan antara ketiga film animasi ini. Tapi ini tidak berarti jelek, karena menurut saya ini justru sebuah hal yang jenius. Wreck It Ralph membuat generasi muda terbuai dengan visualisasinya, sedangkan bagi generasi yang sempat mengalami masa-masa keemasan dari game centre ini ikut bernostalgia. Sungguh sebuah pengalaman yang membangkitkan euphoria masa lalu ketika melihat karakter dari Pac-Man, Sonic, hingga Street Fighter yang berbicara selayaknya kita semua. Seolah apa yang mereka lakukan memang hanya kerja belaka.

Wreck It Ralph sendiri sudah menjadi sebuah konsep sejak sepuluh tahun lalu dimana Moore membuat sebuah premis unik, yaitu ketika sebuah karakter terjebak melakukan hal yang sama berulang-ulang kali selama 30 tahun lamanya. Membuat setting filmnya menjadi di universe video game menurut saya merupakan sebuah ide yang brilliant. Dengan riset yang mendalam, banyaknya referensi terhadap game-game lain yang sudah begitu dikenal oleh kita semua. Tim animator Disney juga berhasil mempertunjukkan sebuah film animasi yang solid dari awal hingga akhir. Tampilan visual dari tiap setting begitu berbeda sekaligus believable. Terutama ketika nyaris seluruh durasi film berpusat di Sugar Rush universe yang penuh akan warna-warni permen cerah ceria yang begitu manis dan memanjakan mata, membuat saya sebagai penonton ingin setidaknya ikut masuk ke dalam sana, ikut berenang dalam kolam coklat atau dikejar-kejar oleh pasukan oreo.
Dari sisi para pengisi suara, tanpa mengecilkan peran Reilly yang berhasil membuat karakter Ralph yang begitu kasar dan agak bodoh layaknya karakteristik antagonis, saya merasa bintang utama disini adalah Sarah Silverman sebagai Vannelope. Suaranya yang serak-serak basah sekaligus imut pas menggambarkan karakter Vannelope yang aneh, nyentrik, sekaligus imut dan adorable. Karakter lain yang turut memberikan warna di Wreck It Ralph justru karakter Fix-It-Felix. Tingkah lakunya yang sangat terinspirasi dari Mario Bross sangat menggelikan, disuarakan dengan begitu naïf dan polosnya oleh McBrayer, yang membuat saya langsung teringat akan perannya di 30 Rock. Terkadang menjadi tokoh protagonis malah menerbitkan tawa yang begitu lepas, ini yang terjadi pada Felix. Jangan lupakan juga suara Lynch yang tegas membahana, membuat karakter Sergeant Calhoun begitu sexy and hard to resist.
Dan ya, walaupun ini animasi, filmnya sendiri tidak ceria, ada begitu banyak plot berlapis dan kompleks di dalamnya, membuatnya sedikit ‘dark’ bagi para penonton belia. Namun hal ini tidak membuat filmnya sendiri keteteran dan kehilangan fokus. Setiap interaksi karakter diceritakan dengan begitu jelas nyaris tanpa ada jeda untuk saya menguap kebosanan. Ada Ralph yang lelah menjadi tokoh jahat, yang hanya ingin dihargai oleh para Nicelanders. Ada Vannelope yang ingin membuktikan diri bahwa walau dia memiliki sebuah kekurangan fatal bukan berarti dia adalah sebuah kegagalan. Perilaku para karakter protagonist, terutama Nicelanders seolah menyindir kita semua, yang terkadang mengucilkan orang-orang yang kita anggap ‘jahat’, tanpa menyadari bahwa kitalah sesungguhnya yang telah berperilaku jahat dan tidak adil kepada mereka.

Overall, Wreck It Ralph memuat banyak pesan positif sekaligus sedikit satire di balik visualisasinya yang semanis permen. Terkadang di dalam sebuah komunitas diperlukan tokoh antagonis. Namun tidak berarti tokoh antagonis ini lebih buruk dari para protagonist, karena sesungguhnya manusia selalu memiliki dua sisi yang saling berlawanan. Tapi akankah kita terjebak dan menjadi masyarakat yang munafik, menganggap diri baik dengan memperlakukan orang yang tidak lebih baik dari kita dengan buruk?
“I’m bad, and that’s good. I will never be good, and that’s not bad. There’s no one I’d rather be than me”

****

Extra Review :
PAPERMAN
“SIMPLE YET TOUCHING”

Sebagai pecinta animasi dari Disney, di setiap penayangan film di bioskop, kita pasti menanti-nantikan seperti apa pendahuluan dari filmnya sendiri. Tak terkecuali kasus Wreck-It-Ralph ini, dengan hadirnya short animation berjudul Paperman.

Disutradarai oleh John Kahrs, Paperman sendiri berkisah mengenai pertemuan tak sengaja seorang pria dan wanita, yang saling jatuh cinta pada pandangan pertama. Mereka lalu berpisah, dan tanpa sengaja sang pria melihat sang wanita kembali. Sang pria lalu berusaha menarik perhatian sang wanita dengan membuat dan menerbangkan pesawat kertas.

Simple, adalah hal pertama yang saya dapat dari Paperman. Namun itu tidak lantas membuat filmnya sendiri tanpa makna. Walau hanya berdurasi 7 menit, namun filmnya sarat dan penuh makna, dengan kesederhanaannya tampil begitu menggugah dan tak kalah memukaunya dengan main course : Wreck-It Ralph. Paperman seolah memberikan sebuah bukti bahwa di tengah gempuran animasi full CGI, perpaduan dari traditional animation dan CGI masih menjadi sebuah kekuatan tersendiri. Ditambah dengan nuansa realism dan black and white ala 1940, membuat Paperman menjadi sebuah campuran dari keindahan klasik dan modernitas.

Warning : ketika kamu sudah membeli tiket Wreck-It Ralph, diharapkan untuk tidak terlambat masuk ke dalam studio, supaya kamu tidak ketinggalan short animationnya, Paperman, yang walau berdurasi pendek, tapi begitu menyentuh dan indah.

Movie Review : Madagascar 3 : Europe’s Most Wanted


Madagascar 3 : Europe’s Most Wanted
Director : Eric Darnell and Tom McGrath
Screenplay : Eric Darnell and Noah Baumbach
Voice-over : Ben Stiller as Alex the Lion, Chris Rock as Marty the Zebra, Jada Pinket Smith as Gloria the Hipo, David Schwimmer as Melman the Girrafe

Image

Dreamworks Picture secara konsisten membuat sekuel dan spin-off dari film-film animasi mereka yang meraup keuntungan besar. Lihat saja contohnya. Shrek dan 3 sekuelnya plus sebuah spin-off di akhir tahun 2011 kemarin, Puss In Boots. Lalu ada juga Kunfu Panda dan Kungfu Panda 2. Dan tahun ini ada sekuel kedua dari franchise Madagascar. Madagascar 3 : Europe’s Most Wanted.

Ketika gang penguin dan 2 ekor simpanse terbang menuju Monte Carlo dan meninggalkan Alex dkk untuk sementara di Afrika, Alex kemudian menyadari bahwa dia sesungguhnya sangat merindukan Central Park Zoo di NYC. Dan ketika sahabatnya juga menyatakan kerinduan yang sama, Alex beserta Marty, Melman, Gloria, dan para kukang kemudian menyusul ke Monte Carlo. Dan seperti biasa malah menimbulkan kekacauan yang menyebabkan mereka dikejar-kejar oleh Captain Chantel DuBois yang sangat terobsesi untuk mendapatkan kepala Alex. Setelah kejar-kejaran yang sangat lucu, heboh, dan menghancurkan isi kota, akhirnya mereka bergabung dengan rombongan sirkus untuk menuju pulang ke rumah.

Okay, I want to confess something : gue sesungguhnya ga antusias menunggu film ini. Madagascar is a big hit. The sequel is an epic fail. So, I don’t expect anything when I’m bring my kids to the movie. Namun ternyata Eric Darnell dan Tom McGrath belajar banyak dari kegagalan mereka di sekuel sebelumnya. Mereka menggaet Noah Baumbach, penulis naskah untuk animasi Fantastic Mr. Fox, untuk ikut menggodok skenario Madagascar 3 ini dan berhasil. Porsi drama dan kekonyolan berimbang. Jangan mengharapkan kekuatan cerita seperti Pixar, tentu saja. Tapi ini sebuah peningkatan kualitas dari Madagascar : Escape 2 Afrika.
Filmnya penuh dengan warna-warni cerah, yang mengingatkan gue sama permen aneka warna. Manis dan ceria. Begitu banyak lagu-lagu indah yang mengiringi perjalanan rombongan sirkus ini mengelilingi benua Eropa. Yang paling membekas tentu saja lagu Katy Perry yang Fireworks.

Lagunya seolah menjadi nyawa dari film ini. Yang paling menyenangkan adalah, walaupun begitu banyak tokoh baru, ditambah dengan tokoh dari sekuel sebelumnya, namun mereka semua mendapat porsi yang sesuai, dan juga kekhasan masing-masing, yang membuat gue tertawa terpingkal-pingkal. Gue mengacungkan jempol terutama untuk karakter Chantel Dubois, yang begitu mengerikan dan menyeramkan. Favorit gue adalah scene ketika Dubois menyanyikan lagu Je Ne Regrette Rien (thank you for Merista Kalorin yang udah ngasih tau judulnya :’D ). Mungkin Dubois bisa dibuatkan duelnya sama John Mcclane dari franchise Die Hard. Sama-sama susah mati!! Dan gue juga sangat senang melihat karakter favorit gue, gang penguin ga cuma ditampilkan sekilas, walau bukan dalam spotlight utama (toh mereka punya serial tv sendiri) namun mereka benar-benar kecil dan tak terkalahkan.

Pada akhirnya, sebuah pelajaran yang bisa kita petik adalah, rumah bukanlah bangunan dimana kau tumbuh besar dan tinggal. Rumah adalah tempat dimana hatimu berada.
Tada-dada-dada-circus! Tada-dada-dada-afro! Circus-afro-circus-afro! Polkadot! Polkadot! Polkadot! Afro!!

Overall 3,5/5 for me :) )

Official Trailer :