Tampilkan postingan dengan label Psychological Thriller. Tampilkan semua postingan

[Review] The Babadook : "Baba...dook dook!"



Director : Jennifer Kent
Screenplay : Jennifer Kent
Cast : Essie Davis, Noah Wiseman

"Well, I'd consider you a fool if you weren't", adalah jawaban lugas dari Professor Lupin ketika Harry Potter mengemukakan ketakutannya pada Dementor. Takut merupakan salah satu perasaan paling alami yang dimiliki oleh manusia. Menelaah rasa takut mungkin tidak bisa melihat dari sisi luarnya saja. Bahwa ketakutan hadir dari rasa tidak berdaya seseorang saat menghadapi masalah. Kadang, rasa takut hadir karena imajinasi yang ditampilkan berlebihan. Tapi satu yang pasti, rasa takut idealnya harus bisa kita hadapi.




Berkat buzzing yang cukup heboh di linimasa jejaring sosial dan berbagai situs portal film, The Babadook cukup menggoda iman gue, seorang picky yang sebenarnya takut menyantap film berjenis ini. Premisnya biasa saja, yaitu seorang janda yang hidup berdua dengan anak yang bermasalah dan delusional lalu diganggu oleh kekuatan yang misterius di rumahnya. Sudah berapa banyak film-film horor dengan premis sejenis? Tak salah juga ketika banyak orang berharap The Babadook akan sama seramnya dengan Insidious atau The Conjuring dengan premis serupa.

Singkat cerita, The Babadook bercerita mengenai seorang janda bernama Amelia (Davis) yang tinggal berdua saja dengan anaknya, Samuel (Wiseman). Hidupnya tak bisa dibilang mudah, suaminya meninggal dalam kecelakaan sesaat sebelum ia melahirkan Samuel. Samuel sendiri tumbuh besar menjadi seorang anak yang agresif dan memiliki daya imajinasi yang cukup 'liar' dibanding anak-anak seumurannya. Suatu malam, Samuel meminta ibunya untuk membacakan sebuah buku berjudul 'The Babadook' sebelum ia tidur. Sejak saat itu hidup mereka berdua berubah. Benarkah The Babadook hanya hidup di dalam imajinasi Samuel? 

Apa yang menyebabkan The Babadook terasa sama sekaligus berbeda jauh dengan The Conjuring? Pertama, kita diperkenalkan dengan sosok Babadook itu sendiri. Sebuah sosok bogeyman dengan pakaian serba hitam ala jaman Victorian. Jari-jari tangannya panjang dan tajam, sepert Freddy Krueger, dan wajahnya putih pucat dengan tatapan mata kosong melompong. Saat ia menakut-nakuti dengan slogan terkenalnya, "Baba..dook..dook", suaranya sama seraknya dengan suara gagak kurang minum Deskripsi barusan sudah cukup mengerikan dan memacu adrenalin, belum?


Kenyataannya, hal yang membuat The Babadook sangat mengerikan justru bukan dari sosok The Babadook itu sendiri. Saat diperkenalkan dengan kedua tokoh utama, yaitu Amelie dan Samuel, secara tidak langsung kita disodorkan dengan masalah yang lebih pelik dibanding sekedar hantu yang datang di malam hari. Hubungan antara ibu dan anak ini jelas bukan hubungan yang sehat dan penuh kasih sayang. Semuanya terasa tegang dan mencekik. Amelia masih berjuang dengan rasa kehilangannya. Samuel sendiri bukan anak yang mudah dihadapi. Ia terobsesi dengan kehadiran monster, senang menciptakan senjata yang berbahaya, sekaligus agresif dan cenderung histeris, bukti bahwa ia tumbuh besar dengan situasi kegelisahan dan kemarahan yang terpendam. Saat kemudian Amelia menemukan buku cerita The Babadook hanya memperuncing  masalah yang sudah ada.

Kent yang menyutradarai dan menulis sendiri naskah film The Babadook membuat kita melihat dari sudut pandang yang berbeda mengenai sifat-sifat keibuan. Tak jarang kan, kita membaca atau mendengar berita seorang ibu yang tega membunuh anak-anaknya sendiri? Bukan untuk menjustifikasi apa yang sudah mereka lakukan, tapi The Babadook menyorot hal-hal yang tak nampak, bahwa seorang ibu tetap seorang manusia biasa yang hidup dengan pergumulan batin dan ketakutannya sendiri. Ujung-ujungnya tetap, mau melawan balik atau terseret ketakutannya sendiri.

Tanpa akting yang memukau, tentu The Babadook tidak akan bisa tampil semenakutkan ini. Davis dengan sangat cemerlang memerankan banyak layer dari Amelia. Di satu sisi, ia memerankan apa yang masyarakat ingin lihat dari seorang single parent : pekerja keras namun lembut dan menyayangi anaknya. Di sisi lain, ia lapar untuk memiliki partner berbagi sekaligus merasa kesepian. Dan ketika cerita bergulir semakin intens, kita diberikan sisi baru dari Amelia yang tertekan sekaligus berjuang mempertahankan kewarasannya. Seperti saat ia sedang bermasturbasi lalu tiba-tiba Samuel masuk ke dalam kamar sambil menjerit-jerit ketakutan. Frustasi sekali bukan? 



Banyak kemudian yang merasa kecewa dengan The Babadook karena muatan psikologis dan perasaan depresi yang dibawa ke dalamnya. Jelas, saat kita menonton film horor adalah saat yang tepat untuk menjerit-jerit ketakutan dan mengeluarkan rasa frustasi yang ada. The Babadook tidak mengijinkan kita untuk sekedar menjerit ketakutan. Ia membawa kita masuk ke dalam sebuah kisah pergumulan batin seorang single parent melawan trauma dan rasa kehilangan sekaligus berjuang membesarkan anaknya sendirian. The Babadook membawa kita masuk ke dalam sebuah aura klaustrophobia yang pekat dan kental bagai sebuah mimpi buruk dari menjadi seorang ibu.

Di satu sisi, tak heran ketika The Babadook hadir dengan review yang sangat bagus dari para kritikus. Ia hadir bagai gabungan dari The Shining dan Rosemary's Baby dengan kedalaman konten dan karakterisasi yang memukau. Namun di sisi lain bisa jadi ia sangat mengecewakan, terutama dari penggemar genre horror hantu-hantuan yang membutuhkan sarana untuk menginjeksikan adrenalin dan berteriak-teriak seru, bukannya ikut kelelahan dan depresi bersama dengan Amelia dan Samuel. 





[Review] Gone Girl : "Marriage Surely is a Hard Work!"



Warning : Sebelum membaca lebih jauh, tulisan ini mengandung spoiler. Gue udah berusaha banget untuk menahan diri buat ga spoiler, tapi apa boleh buat, it's so hard. Buat yang belum tahu seperti apa cerita Gone Girl, baik itu dari novel dan filmnya, you've been warned!

Year : 2014
Director : David Fincher
Screenplay : Gillian Flynn, based on novel 'Gone Girl' by Gillian Flynn
Cast : Ben Affleck, Rosamund Pike, Neil Patrick Harris, Tyler Perry, Carrie Coon

"You ended up hurting someone you love" adalah salah satu quote favorit gue dari film Blue Valentine. Call me a bitter person (which I am), tapi pada akhirnya menyakiti seseorang yang kita cintai adalah salah satu proses yang terjadi di dalam hidup. Hal yang sama kembali ditegaskan dalam film baru arahan salah satu sutradara favorit gue, David Fincher : Gone Girl.

Pertama-tama, gue mau ngasih warning aja dari awal, bisa jadi apa yang sedang kalian baca ini terasa bias. Itu adalah hal yang wajar mengingat : a. Gue paling suka sama film-filmnya Fincher dan b. Gone Girl adalah film yang paling gue tunggu di tahun ini. Fakta bahwa Gone Girl gagal tayang di Indonesia pas bulan Oktober lalu malah bikin gue patah hati. Kayak anak yang dijanjiin liburan ke ke rumah Nenek kalo nilai raportnya bagus, trus ternyata bokap nyokap lagi ga punya uang dan akhirnya hadiahnya diganti ama makan ayam KFC. Metafora yang barusan bukan curhat pribadi, tapi kurang lebih ngegambarin betapa besarnya ekspektasi gue (dan Fincher-ian Indonesia melarat lainnya) sama film yang digadang-gadangin bakalan masuk bursa award season nanti. 

Saat menulis novel Gone Girl, Gillian Flynn memang mempunyai intensi 'Andai Fincher nge-direct film gue, akan kayak gini jadinya'. Begitu Fincher beneran nge-direct film ini, wajar ketika Flynn sendiri yang didaulat buat menulis versi naskah layar lebarnya. Buat yang udah baca novelnya (gue sendiri masih belum selesai), mungkin udah punya ekspektasi sendiri gimana kerjasama Fincher - Flynn ini. Gak ada kekhawatiran, mengingat Fincher dikenal piawai dalam mengadaptasi film dari novel (kayak The Girl With The Dragon Tattoo atau Curious Case of Benjamin Button). Buat yang suka sama novelnya, pasti kinjong sendiri kayak sohib gue Candra (yang menerima berita gagal tayang tadi lebih drama dibandingin gue).


Nick Dunne (Affleck) adalah seorang pria yang hidup bersama istrinya Amy (Pike) di sebuah kota kecil. Menjalani bisnis bar bernama The Bar bersama adik kembarnya, Go (Coon) dan mengajar kelas menulis kreatif adalah aktivitasnya sehari-hari. Di hari perayaan pernikahannya yang kelima, Amy tiba-tiba menghilang. Hilangnya Amy segera diproses oleh kepolisian setempat dan dibesar-besarkan oleh media massa. Dalam penyelidikan kepolisian sendiri, Nick terlihat sangat mencurigakan. Sedangkan pemberitaan media yang begitu masif membuat pernikahan Nick - Amy yang terlihat adem ayem di luar mulai terkuak kebenarannya sedikit demi sedikit. Benarkah Nick membunuh istrinya sendiri? Ada apa sebenarnya di antara Nick dan Amy?

First of all, Gone Girl dibuat dengan banyak layer yang semakin lama semakin mengejutkan. Seperti sensasi saat pertama kali makan klepon, pertama-tama yang lo rasakan adalah lapisan tepung beras yang kenyal dan sulit ditembus terus duar..!! Lo tiba-tiba mendapati seluruh mulut lo dibanjiri dengan gula merah cair. Di awal, kita seolah disajikan sebuah film thriller biasa : seorang istri yang menghilang dan seluruh isi kota mencari keberadaannya. Namun semakin kita terperosok kedalamnya, ada banyak hal yang cukup mengganggu. Selalu ada dua sisi dari satu cerita, namun yang manakah yang benar? Apa benar Nick - Amy bahagia seperti yang terlihat? Dengan narasi dan flashback dari Amy, bisakah kita bisa menyimpulkan bahwa Nick yang salah? Atau justru Amy yang berbohong? Atau malah bisa jadi keduanya. Kalau iya, terus gimana? 



Kalau boleh jujur, menonton Gone Girl buat gue adalah sebuah mimpi buruk mengenai pernikahan. Secara mendalam, Gone Girl seolah ingin menunjukkan bagaimana rasanya ketika sebuah hubungan pasangan yang semakin mendingin dan menjauh satu sama lain. Bagaimana kedua orang yang dulu saling mencintai malah semakin membenci dan menyalahkan satu sama lainnya. Seperti yang sudah gue sebutkan di awal, Nick dan Amy benar-benar saling menyakiti satu sama lain dengan cara-cara yang manipulatif sekaligus 'sakit'. This is a warning, kita gak akan pernah bisa mengenal orang yang kita cintai. Apalagi jika ternyata pasangan lo adalah seorang psychopath dengan kemampuan manipulasi setara dengan Hannibal Lecter. 

Dari sisi filmnya sendiri, kita tahu persis yang kita harapkan saat menonton film-film besutan Fincher : dark and gloomy. Dan Gone Girl adalah bukti lain bahwa area kekuasaan Fincher memang ada di sini. Gelap, pekat, dan intens seperti darah adalah suasana dan mood yang gue dapatkan selama hampir 2 jam mantengin Gone Girl. Apalagi dengan bantuan scoring gila dari Trent Reznor dan Atticus Ross. Sulit untuk bisa bernafas ketika tiba-tiba satu demi satu layer disingkap ke permukaan.

Tanpa perlu bertele-tele, Gone Girl bisa ada di tahap sekeren ini tentu saja juga berkat aktor-aktor yang bermain di dalamnya. Banyak yang berpikir 'Why Ben Affleck?', tapi Affleck memang cocok sekali memainkan karakter Nick yang clueless. Aktor pendukung lain seperti Neil Patrick Harris, Carrie Coon, dan Tyler Perry bermain bagus. Tapi tak bisa dipungkiri, bintang dari film ini adalah si gone girl itu sendiri : Rosamund Pike. Dengan akting dan suaranya yang dalam, anggun, sekaligus tak terjangkau, Amy sukses menjungkirbalikkan persepsi penonton. Di suatu titik, we are all Team Amy



Secara keseluruhan, sensasi menonton Gone Girl udah kayak nonton Fight Club dan Se7en jadi satu. Ada banyak hal yang membuat Gone Girl begitu disturbing tanpa visual yang kejam seperti Se7en. Namun di sisi lain, ia juga bisa membuat otak meledak dengan tempo yang semakin menggila seperti di Fight Club. Dan buat Fincherian, kita semua udah seneng banget dikasih film bagus dan keren. Ini cara Fincher bersenang-senang : membingungkan, mengejutkan, sekaligus merangsang otak di saat yang bersamaan.

Dan memang ya, pernikahan adalah sebuah kerja keras dari kedua belah pihak. Selalu ada di saat-saat terbaik dan terburuk. Hadir di saat sakit maupun sehat, namun untuk kasus Gone Girl, 'sakit' adalah kata yang paling tepat. Terima kasih sudah bermain-main dengan benak gue, Fincher!