Tampilkan postingan dengan label Drama. Tampilkan semua postingan

[Review] Foxcatcher : Sia-Sianya Menangkap Sang Rubah



Year of Production : 2014
Director : Bennett Miller
Screenplay : E. Max Frye dan Dan Futterman
Cast : Steve Carell, Channing Tatum, Mark Rufallo, Sienna Miller, Vanessa Redgrave




Kisruh politik yang memanas antara KPK dan Polisi ini bikin gue menyimpulkan suatu hal, bahwasanya kekuatan adalah segalanya, walau kekuatan tersebut bisa jadi merenggut kebebasan yang kita punya. Ada satu kutipan dari George Orwell di bukunya yang berjudul "1984". "Kebebasan adalah bebas untuk berkata dua tambah dua sama dengan empat tanpa perlu takut konsekuensi yang didapat dari pendapat itu". Ada harga yang harus dibayar saat memperjuangkan sebuah bentuk kebebasan." Kesan yang sama gue dapat dari film yang mendapatkan 5 nominasi Oscar tahun ini, Foxcatcher.


Diinspirasi oleh kejadian nyata, kakak beradik Dave (Ruffalo) dan Mark (Tatum) Schultz adalah peraih medali emas untuk olahraga gulat di tahun 1984 dan mereka sedang berlatih untuk menghadapi Olimpiade Seoul 1988. Mark lalu menerima tawaran dari John du Pont (Carell), seorang milyuner, untuk bergabung dan berlatih dalam team gulat yang dinamakan 'Foxcatcher'. Dengan iming-iming gaji dan fasilitas yang tinggi, Mark pun bergabung sementara kakaknya menolak karena ingin menetap bersama dengan keluarganya. Little did they know, tawaran ini tak menguntungkan seperti yang mereka kira.\



Sinematografi dari Greig Fraser memberikan efek dingin dan bermusuhan, yang secara perlahan membuat kita ikut membeku. Mulai dari efek lomo dan tone warna yang biru, sampai ke potret lukisan ibu du Pont yang mengawasi seperti elang, membuat penonton rindu dengan kehangatan yang dibawa oleh Dave dan Mark di awal film.Dari kacamata Mark, kita tahu ada sesuatu yang salah dalam hubungan antara Dave dan Mark. Sebagai sosok yang sempurna, baik sebagai kakak, pegulat, hingga kepala keluarga, Dave sangat menyayangi Mark. Bagaikan induk ayam, Dave memandu, mendukung, dan melindungi Mark. Keinginan Mark untuk keluar dari bayang-bayang ini yang membawanya ke John du Pont.

Secara fisik, du Pont terlihat mengerikan dengan hidung panjang dan bengkok seperti paruh elang, kulit pucat dan bersisik, postur bungkuk, dan suara pelan. Carell lalu memberikan performa mengerikan sekaligus terbaik sepanjang karirnya dengan mengisi du Pont sebagai seorang megalomania gila kekuasaan yang tingkat ke-halu-annya seribu kali lipat lebih mengerikan dibanding Dijah Yellow. Inilah yang kemudian menarik Mark, Dave, dan kita semua ke dalam pusaran depresi.


Mengerikan kemudian ketika Mark salah menginterpretasikan posisi du Pont sebagai pelatih di tengah silaunya kekayaan dan filosofi du Pont. Keputusannyalah, yang membuat kita menyaksikan Mark malah pelan-pelan berubah dari seorang atlit menjadi anjing peliharaan dan pemuas ego du Pont. Seperti ketika mereka nyedot kokain bareng, lalu Mark tanpa sadar berpidato memuji du Pont lewat naskah yang sudah disiapkan, sampai momen ketika dia duduk di berlutut di hadapan du Pont, dengan tangan di samping dan rambut pirang berantakan, menatap kosong mendengarkan du Pont berbicara.

Pun, kita tidak bisa mengesampingkan tensi seksual yang begitu kuat di antara mereka berdua. Seperti latihan gulat di perpustakaan saat tengah malam atau kecemburuan Mark ketika du Pont berhasil  membawa Dave ke dalam Foxcatcher. Belum lagi dengan adanya gejala-gejala megalomania dalam diri du Pont. Rasa superioritas yang terancam dengan hadirnya Dave, mood swings parah, dan terutama sekali rasa haus untuk diakui sebagai seorang mentor. Bersamaan dengan sifat megalomania ini, tensi seksual yang ada malah destruktif dan membuat gue sesak nafas dan ketakutan. Penampilan Carell disini adalah definisi 'creepy' yang sesungguhnya.



Menarik ketika kemudian kita melihat film Miller sebelum Foxcatcher. Di Capote dan Moneyball, Miller memfokuskan diri pada cara penyelesaian masalah yang tidak konvensional di dalam sebuah sistem. Disini, kita malah diajak untuk melihat lebih dalam dari sekedar latar psikologis du Pont dan Mark. Bahwasanya, di dalam masyarakat kekuasaan, garis keturunan, sejarah, dan warisan dari sebuah nama adalah segalanya. Lewat tokoh ibu du Pont , sistem yang seperti inilah yang merusak du Pont dan masyarakat di sekitarnya. Bagaimana masyarakat menerima saja ke-halu-an dan delusionalnya du Pont karena kekayaan dan kekuasaan yang dia miliki. Misalnya membiarkan du Pont menang di pertandingan gulat yang ia danai, atau membuat film dokumenter tentang kehebatan du Pont sebagai mentor. Orang-orang ini lah membuat sifat megalomania du Pont semakin menjadi. Dan yang melawan harus rela terenggut kebebasannya, seperti Dave Schultz.

Mendapatkan lima nominasi Oscar, termasuk Best Original Screenplay, Foxcatcher memberikan sisi gelap kekuasaan dan kekayaan yang bisa merubah hidup seseorang khas Amerika, plus plot naskah yang top notch dan sama tegangnya dengan senar gitarnya Santana. Bukan hanya itu saja, Foxcatcher jadi sebuah potret gelap tentang bagaimana masyarakat tunduk di bawah orang-orang yang punya kekuasaan dan kekayaan.Mengingat du Pont duduk di atas singgasananya sampai sekarang membuat bulu kuduk gue masih merinding, and that is amazing, my friend.




[Review] Gone Girl : "Marriage Surely is a Hard Work!"



Warning : Sebelum membaca lebih jauh, tulisan ini mengandung spoiler. Gue udah berusaha banget untuk menahan diri buat ga spoiler, tapi apa boleh buat, it's so hard. Buat yang belum tahu seperti apa cerita Gone Girl, baik itu dari novel dan filmnya, you've been warned!

Year : 2014
Director : David Fincher
Screenplay : Gillian Flynn, based on novel 'Gone Girl' by Gillian Flynn
Cast : Ben Affleck, Rosamund Pike, Neil Patrick Harris, Tyler Perry, Carrie Coon

"You ended up hurting someone you love" adalah salah satu quote favorit gue dari film Blue Valentine. Call me a bitter person (which I am), tapi pada akhirnya menyakiti seseorang yang kita cintai adalah salah satu proses yang terjadi di dalam hidup. Hal yang sama kembali ditegaskan dalam film baru arahan salah satu sutradara favorit gue, David Fincher : Gone Girl.

Pertama-tama, gue mau ngasih warning aja dari awal, bisa jadi apa yang sedang kalian baca ini terasa bias. Itu adalah hal yang wajar mengingat : a. Gue paling suka sama film-filmnya Fincher dan b. Gone Girl adalah film yang paling gue tunggu di tahun ini. Fakta bahwa Gone Girl gagal tayang di Indonesia pas bulan Oktober lalu malah bikin gue patah hati. Kayak anak yang dijanjiin liburan ke ke rumah Nenek kalo nilai raportnya bagus, trus ternyata bokap nyokap lagi ga punya uang dan akhirnya hadiahnya diganti ama makan ayam KFC. Metafora yang barusan bukan curhat pribadi, tapi kurang lebih ngegambarin betapa besarnya ekspektasi gue (dan Fincher-ian Indonesia melarat lainnya) sama film yang digadang-gadangin bakalan masuk bursa award season nanti. 

Saat menulis novel Gone Girl, Gillian Flynn memang mempunyai intensi 'Andai Fincher nge-direct film gue, akan kayak gini jadinya'. Begitu Fincher beneran nge-direct film ini, wajar ketika Flynn sendiri yang didaulat buat menulis versi naskah layar lebarnya. Buat yang udah baca novelnya (gue sendiri masih belum selesai), mungkin udah punya ekspektasi sendiri gimana kerjasama Fincher - Flynn ini. Gak ada kekhawatiran, mengingat Fincher dikenal piawai dalam mengadaptasi film dari novel (kayak The Girl With The Dragon Tattoo atau Curious Case of Benjamin Button). Buat yang suka sama novelnya, pasti kinjong sendiri kayak sohib gue Candra (yang menerima berita gagal tayang tadi lebih drama dibandingin gue).


Nick Dunne (Affleck) adalah seorang pria yang hidup bersama istrinya Amy (Pike) di sebuah kota kecil. Menjalani bisnis bar bernama The Bar bersama adik kembarnya, Go (Coon) dan mengajar kelas menulis kreatif adalah aktivitasnya sehari-hari. Di hari perayaan pernikahannya yang kelima, Amy tiba-tiba menghilang. Hilangnya Amy segera diproses oleh kepolisian setempat dan dibesar-besarkan oleh media massa. Dalam penyelidikan kepolisian sendiri, Nick terlihat sangat mencurigakan. Sedangkan pemberitaan media yang begitu masif membuat pernikahan Nick - Amy yang terlihat adem ayem di luar mulai terkuak kebenarannya sedikit demi sedikit. Benarkah Nick membunuh istrinya sendiri? Ada apa sebenarnya di antara Nick dan Amy?

First of all, Gone Girl dibuat dengan banyak layer yang semakin lama semakin mengejutkan. Seperti sensasi saat pertama kali makan klepon, pertama-tama yang lo rasakan adalah lapisan tepung beras yang kenyal dan sulit ditembus terus duar..!! Lo tiba-tiba mendapati seluruh mulut lo dibanjiri dengan gula merah cair. Di awal, kita seolah disajikan sebuah film thriller biasa : seorang istri yang menghilang dan seluruh isi kota mencari keberadaannya. Namun semakin kita terperosok kedalamnya, ada banyak hal yang cukup mengganggu. Selalu ada dua sisi dari satu cerita, namun yang manakah yang benar? Apa benar Nick - Amy bahagia seperti yang terlihat? Dengan narasi dan flashback dari Amy, bisakah kita bisa menyimpulkan bahwa Nick yang salah? Atau justru Amy yang berbohong? Atau malah bisa jadi keduanya. Kalau iya, terus gimana? 



Kalau boleh jujur, menonton Gone Girl buat gue adalah sebuah mimpi buruk mengenai pernikahan. Secara mendalam, Gone Girl seolah ingin menunjukkan bagaimana rasanya ketika sebuah hubungan pasangan yang semakin mendingin dan menjauh satu sama lain. Bagaimana kedua orang yang dulu saling mencintai malah semakin membenci dan menyalahkan satu sama lainnya. Seperti yang sudah gue sebutkan di awal, Nick dan Amy benar-benar saling menyakiti satu sama lain dengan cara-cara yang manipulatif sekaligus 'sakit'. This is a warning, kita gak akan pernah bisa mengenal orang yang kita cintai. Apalagi jika ternyata pasangan lo adalah seorang psychopath dengan kemampuan manipulasi setara dengan Hannibal Lecter. 

Dari sisi filmnya sendiri, kita tahu persis yang kita harapkan saat menonton film-film besutan Fincher : dark and gloomy. Dan Gone Girl adalah bukti lain bahwa area kekuasaan Fincher memang ada di sini. Gelap, pekat, dan intens seperti darah adalah suasana dan mood yang gue dapatkan selama hampir 2 jam mantengin Gone Girl. Apalagi dengan bantuan scoring gila dari Trent Reznor dan Atticus Ross. Sulit untuk bisa bernafas ketika tiba-tiba satu demi satu layer disingkap ke permukaan.

Tanpa perlu bertele-tele, Gone Girl bisa ada di tahap sekeren ini tentu saja juga berkat aktor-aktor yang bermain di dalamnya. Banyak yang berpikir 'Why Ben Affleck?', tapi Affleck memang cocok sekali memainkan karakter Nick yang clueless. Aktor pendukung lain seperti Neil Patrick Harris, Carrie Coon, dan Tyler Perry bermain bagus. Tapi tak bisa dipungkiri, bintang dari film ini adalah si gone girl itu sendiri : Rosamund Pike. Dengan akting dan suaranya yang dalam, anggun, sekaligus tak terjangkau, Amy sukses menjungkirbalikkan persepsi penonton. Di suatu titik, we are all Team Amy



Secara keseluruhan, sensasi menonton Gone Girl udah kayak nonton Fight Club dan Se7en jadi satu. Ada banyak hal yang membuat Gone Girl begitu disturbing tanpa visual yang kejam seperti Se7en. Namun di sisi lain, ia juga bisa membuat otak meledak dengan tempo yang semakin menggila seperti di Fight Club. Dan buat Fincherian, kita semua udah seneng banget dikasih film bagus dan keren. Ini cara Fincher bersenang-senang : membingungkan, mengejutkan, sekaligus merangsang otak di saat yang bersamaan.

Dan memang ya, pernikahan adalah sebuah kerja keras dari kedua belah pihak. Selalu ada di saat-saat terbaik dan terburuk. Hadir di saat sakit maupun sehat, namun untuk kasus Gone Girl, 'sakit' adalah kata yang paling tepat. Terima kasih sudah bermain-main dengan benak gue, Fincher!




[Review] Sils Maria : Sebuah Proses Move One Seorang Aktor Watak

This review might contain spoilers. You have been warned!



Director : Olivier Assayas
Screenplay : Olivier Assayas
Cast : Juliet Binoche, Kristen Stewart, Chloe Grace Moretz

Inspirasi bisa datang dari mama saja, salah satunya adalah kehidupan asli para aktor di kehidupan nyata dan perjuangan mereka dalam melebur bersama peran yang akan mereka mainkan. Salah satu yang terbaru datang dari Prancis, yaitu Sils Maria (Cloud of Sils Maria) yang berkompetisi di kategori Palme d'Or di Cannes tahun ini.

Maria Enders (Binoche) adalah seorang aktris watak yang memiliki karir yang stabil dan dihargai di kalangan film dunia. Maloja Snake karya WIlhem Melchior merupakan karya yang meroketkan namanya sebagai jajaran aktris yang diperhitungkan. Maloja Snake sendiri berfokus pada hubungan tragis antara kedua orang wanita, yaitu Sigrid yang diperankan oleh Maria saat masih berusia 18 tahun dengan Helena yang jauh lebih tua dan berakhir mati bunuh diri. Dengan kematian Wilhem, seorang sutradara muda berniat untuk membuat ulang Maloja Snake dalam versi teater, kali ini dengan Maria akan berperan sebagai Helena.



Selama 2 jam lebih, penonton diajak untuk menyaksikan interaksi Binoche dan Stewart sebagai fokusnya. Bagaimana Maria sebagai seorang aktris senior 'dijerumuskan' oleh asistennya untuk mengambil peran Helena, yang merupakan kebalikan dari peran Sigrid yang ia ketahui. Perjuangan Maria untuk melebur dengan karakter Helena, dengan bantuan Val (Stewart) adalah sebuah pertunjukan hebat dari kekuatan dialog yang menjadi spesialisasi Assayas. Ini bukan hanya mengenai soal menghapalkan naskah semata, melainkan juga pergulatan batin bagi Maria sendiri untuk melanjutkan karirnya keluar dari selubung tokoh Sigrid sekaligus mencoba memahami Jo Ann (Moretz), aktris baru sebagai Sigrid yang baru. 

Tanpa perlu diragukan lagi, dengan kompleksnya hal-hal yang ingin disampaikan oleh Assayas dari dialog para karakternya akan terasa melempem tanpa penampilan prima dari ketiga tokoh sentralnya : Maria, Val, dan Jo Ann. Binoche tampil dengan begitu cemerlang dan memukau, terlihat begitu anggun sekaligus innocent dengan caranya sendiri. Stewart juga mampu mengimbangi kekuatan Binoche melalui karakter Val yang quirkie namun cuek. Stewart juga dapat menyampaikan emosi Val yang nyaris tak terlihat, bagai sebuah rasa gatal di permukaan kulit. Dia ada disitu, memohon untuk digaruk, namun kita mencoba untuk mengabaikannya, hingga akhirnya rasa gatal itu semakin menyita perhatian.


Satu hal yang bisa dicermati dari Sils Maria ada di kompleksitas konten terselubung yang ada di dalam isi dialog antara Maria - Val - Jo Ann dalam hal Maloja Snake itu sendiri. Ya, Maloja Snake adalah sebuah kisah tragis pasangan lesbian, dan cara Assayas mengarahkan ketiga pemain utamanya dalam interaksi mereka, somehow terasa ada yang lebih dari sekedar berlatih naskah. Ada sebuah ketertarikan kuat antara Maria dan Val, itu jelas. Dan bagaimana hubungan Maria dan Val tak ubahnya seperti Sigrid dan Helena dalam Maloja Snake itu sendiri.

Bagaimana pun juga, penampilan prima dari ketiga pemeran utama ditambah dengan sinematografi yang memanjakan mata membuat Sils Maria begitu memukau. Memang bukan film yang akan disukai oleh banyak orang, tapi mengingat dalamnya konten yang ingin disampaikan Assayas, Sils Maria jelas bukan film yang bisa dilewatkan begitu saja oleh penikmat film.

Sils Maria adalah satu dari delapan film terbaru Prancis yang ditayangkan di Festival Sinema Prancis 2014.



Dawn of the Planet of the Apes : "Et tu, Brute?"



Director : Matt Reeves
Screenplay : Mark Bomback, Rick Jaffa dan Amanda Silver
Cast : Andy Serkis, Stephen Jacobs, Gary Oldman, Jason Clarke, Keri Russel

Masih kebayang kan saat si ganteng James Franco bermain-main dengan monyet lucu di Rise of Planet of the Apes? Dalam benak kita, bangsa kera adalah hewan lucu yang dapat diajari meniru kita. Frasa "Sarimin pergi ke pasar!" membuat saya langsung terbayang monyet kecil yang memakai topi bambu dan membawa gerobak di persimpangan jalan, yang kini sudah menghilang berkat Gubernur DKI saat itu, Joko Widodo.

Apa yang disajikan oleh Rupert Wyatt di Rise of Planet of the Apes lalu adalah sebuah gambaran horor nan mengerikan dari kedigdayaan bangsa kera. Berganti kursi penyutradaraan, Matt Reeves (Let Me In) kini bertanggung jawab untuk membawa kita semua ke sekuel terbaru dari era para kera : Dawn of the Planet of the Apes.

Sepuluh tahun berlalu sejak bangsa manusia diperkirakan punah oleh virus, bangsa kera yang dipimpin oleh Caesar (Serkis) kini hidup tenang di dalam hutan belantara dan membangun sistem kehidupannya sendiri. Kehidupan damai ini terusik ketika anak Caesar bertemu dengan manusia yang ketakutan dan tak sengaja menembak bangsa kera. Caesar, dengan seluruh bangsa kera di belakangnya berteriak "Gooo!!!!!" dan tentu saja membuat kelompok kecil manusia itu lari tunggang langgang. Dan saya pun terkena serangan jantung mendadak.



Kelompok kecil manusia tersebut rupanya merupakan bagian dari kelompok survivor yang dipimpin oleh Dreyfus (Oldman). Karena sumber energi mereka akan segera habis, mereka membutuhkan sumber energi baru dari bendungan yang ada di daerah kekuasaan para kera. Walaupun Caesar dan rombongannya (dengan kuda hitam yang seganteng kudanya Prabowo) datang dan memperingatkan agar manusia menjauh dari mereka pun tidak menyurutkan keputusasaan Dreyfus. Sahabat baiknya, Malcolm (Clarke) berkeras bahwa ia dapat melakukan pendekatan yang lebih manusiawi kepada para kera. Namun ada hal lain yang lebih penting daripada sekedar mendapatkan energi baru : kebencian dan prasangka antar ras.

Untuk saya pribadi, film ini layak untuk disematkan sebagai summer blockbuster terbaik tahun ini. Ada banyak hal yang membuat film ini begitu kuat dan membekas di benak saya. Hal yang paling pertama tentu saja ada di skrip keren dari Mark Bomback, Rick Jaffa dan Amanda Silver. Skripnya bukan hanya melanjutkan apa yang sudah dibangun di film pertama, namun juga menggambarkan sebuah kisah klasik yang masih relevan dengan apa yang terjadi di dunia saat ini. Ini bukan hanya film sci-fi yang terdengar mustahil, ada perang antara kaum mayoritas (kera) dan minoritas (manusia) di dalamnya. Yang mayoritas merasa apapun yang mereka pikirkan adalah benar. Yang minoritas mencoba untuk bertahan dan membela diri, walau mereka harus 'didiamkan secara paksa'. Coba kamu trace back ke kondisi belakangan ini. Brilian sekali.



Ibarat roti canae yang gak akan enak kalau tidak dimakan dengan beef curry, naskah filmnya sendiri akan melempem dan hambar tanpa karakter yang kuat. Andy Serkis memerankan Caesar yang begitu otoriter sekaligus sangat karismatik sebagai pemimpinnya. Setiap ekspresi wajah hingga tatapan mata yang begitu manusiawi, membuat kita menjadi sangat simpati terhadapnya. Sebagai anti-tesis dari Caesar adalah Koba yang diperankan Toby Kebbel, tangan kanan Caesar yang memiliki kebencian terhadap kaum manusia. Saking bencinya, Koba yang dibesarkan sebagai sosiopath ini bahkan menganut paham Machiavellisme dalam melancarkan aksinya. Menarik sekali untuk menyaksikan adaptasi dari tragedi Caesar dan Brutus dalam versi modern.

Untuk kamu yang belum familiar, Julius Caesar adalah kaisar terbesar Roma di eranya. Dengan caranya, Julius Caesar membangun pemerintahan dan membentuk undang-undang yang semakin mengukuhkan kekuasaannya yang otoriter. Brutus adalah teman seperjuangan sekaligus tangan kanan yang paling ia percayai. Karena gosip bahwa Roma akan kembali menjadi kerajaan monarki absolut, Brutus dan yang lainnya merencanakan pembunuhan Caesar. Dan kaisar ini pun mati ditikam oleh para orang yang ia kira adalah pendukungnya. Dan terutama, ditikam oleh Brutus. "Et tu, Brute” (Kamu juga, Brutus?) adalah kata-kata terakhirnya sebelum ia meninggal.

Ya, menyaksikan Dawn of Planet of the Apes membuat saya sangat kegirangan. Naskahnya yang matang, aktor dengan akting luar biasa, jalan cerita yang rapi dan solid, serta sutradara yang mampu menyajikan kisah klasik dengan eksekusi baik. Kapan lagi bisa nonton film sekeren ini? Please give Andy Serkis an appropriate award!




Don Jon (2013) : A Potrayal of Modern Society



 


Director : Joseph-Gordon Levitt
Screenplay : Joseph-Gordon Levitt
Cast : Joseph-Gordon Levitt, Scarlett Johansson, Julianne Moore, Tony Danza, Brie Larson




Fowles Jib, dalam bukunya yang berjudul Inventory of Human Motives : Mass Advertising as Social Forecast, menjabarkan mengenai 15 cara iklan menarik perhatian massa dengan cara menggambarkan kebutuhan-kebutuhan mendasar emosional manusia. Hal paling pertama yang ia sebutkan adalah mengenai need for sex, bahwa pada dasarnya hal yang sangat mendasari manusia adalah kebutuhan seksual.

Pendapat Fowles ini yang kemudian membayangi gue saat menonton opening credit Don Jon. Film perdana karya Joseph-Gordon Levitt, aktor muda dengan filmografi yang menarik ini dengan sangat cerdas memberikan sebuah insight mengenai bagaimana media massa, seperti TV dan internet (identified as a new media now), menjejali kita dengan berbagai konten yang memanjakan mata dengan parade sensual, terutama tubuh wanita sebagai pembuka, sebelum masuk ke dalam prolog yang menarik perhatian.

Love (or lust) at the first  sight? *insert hip hop music*

Kita diperkenalkan dengan Don Jon (Levitt), seorang pria muda dengan potongan tubuh ala acara MTV : Jersey Shore : tubuh kekar, potongan rambut tinggi dengan gel, dan hidup berfoya-foya di club. Dengan wajah tampan dan tubuhnya yang membuat wanita ngiler, Jon sangat mudah untuk mendapatkan banyak wanita untuk one night standnya.

Lucunya, Jon justru kecanduan film porno. Baginya, menonton wanita di film porno jauh lebih memuaskan secara seksual dibandingkan dengan melakukannya sendiri. Sampai ia bertemu dengan Barbara (Johansson), wanita seksi yang terlihat berbeda dengan wanita kebanyakan. Jon menjadi terobsesi dengan Barbara, sama seperti Barbara yang memiliki obsesi akan romantisme ala film-film romantis Hollywood. Sementara di kelas malamnya, Jon bertemu dengan Esther (Moore) , yang membuatnya kesal karena Esther yang dianggapnya aneh dan terlalu blak-blakan.

 

Menurut gue, Don Jon memang sangat relevan dengan kehidupan muda-mudi kebanyakan saat ini : kosong dan dangkal. Isi film ini hanya berkisar mengenai petualangan Jon dalam menyeimbangkan kehidupan percintaan normalnya (lewat cara one night stand) dan penyangkalan akan kecanduannya dalam mengkonsumsi film porno. Tokoh Barbara pun digambarkan begitu dangkal, hanya mengenai wanita muda seksi yang menggunakan gestur tubuhnya untuk mencapai hal yang ia inginkan.

Tapi tahu tidak, di balik kedangkalan yang ia gambarkan, JGL justru dengan sangat cermat mengcapture fenomena sosial yang terjadi di kehidupan masyarakat modern sekarang. Hubungan aneh dari keluarga disfunctional Jon yang terlihat adem-ayem padahal ada emosi yang ditahan-tahan. Begitu juga dengan kecanduan yang dialami oleh setiap tokohnya : Jon Sr. (Danza) yang kecanduan tayangan football di TV dan temperamen, Barbara yang kecanduan film romantis, hingga Monica (Larson) yang kecanduang dengan gadgetnya. Inilah potret nyata dari masyarakat modern kita.


Segala kritik sosial yang disampaikan dengan jujur oleh JGL ini kemudian dibawakan secara ringan dan komikal, membuat penonton jadi tertawa-tawa ringan, padahal sesungguhnya plot yang ada jauh lebih dalam dari apa yang terlihat mata. Don Jon, sebagai karya perdana JGL, tampil lumayan menghibur dan menohok, walau pada bagian klimaks film dan ending terlihat menyepelekan masalah seihngga agak melempem, karakter Esther pun terasa begitu terburu-buru dalam penceritaannya. Tapi secara keseluruhan, film ini sangat menyenangkan untuk ditonton berkali-kali saat suntuk. 


 

[Review] [Event] Festival Sinema Perancis 2013





As a self acclaimed movie-enthusiast, gue sangat-sangat senang kapanpun berlangsung festival film di Jakarta. Tahun 2013 ini, walaupun gak semuanya bisa gue datangi, tapi lumayan masif dibandingkan dengan tahun lalu. Paling pol-polan sih pas Europe On Screen 2013, selama full seminggu gue nyambangin semua venue. Kemudian di pertengahan November ada erasmusindocs, berhubung gue kerja jadi gue cuma sempet nonton 3 film : Chasing Ice, Being Elmo, dan film dokumenter The Doors. Lalu di akhir November ada JiFfest 2013, yang sempat vakum tahun kemarin dan hadir kembali. Lumayan ngegeber juga, gue dapet nonton Snowpiercer, The Host, 12 Years A Slave (yeaay baby!), dan Metro Manila. Are we done yet? Nope!

Awal Desember 2013, festival film tertua di Indonesia, Festival Sinema Perancis kembali hadir dari tanggal 5 – 8 Desember 2013. Tahun kemarin, gue justru ketinggalan yang satu ini. Dan tahun ini, gue udah meniatkan diri banget supaya bisa nonton. Apa daya, tugas keluar kota mendadak membuat gue cuma sempat datang pas hari terakhir, but I am happy, karena berhasil marathon 3 film sekaligus : Black Venus, Mood Indigo, dan Nightingale. Dan karena gue rada males bikin reviewnya satu persatu, gue bakalan cobain format short review kali ini. So here we go now!

  1. Black Venus / Venus Noire – 2010
    Sebagai bagian dari Retrospektif dari Abdellatif Kechiche, sutradara kebangsaan Perancis yang akhir-akhir ini terkenal karena kontroversial film terbarunya yang memenangkan Cannes, Blue Is The Warmest Color. Black Venus berkisah mengenai Saartjie (Yahima Torres), seorang wanita berkulit hitam di tahun 1808 yang menjadi fenomena sendiri di penjuru Eropa. Karena fisik dan warna kulitnya yang tidak biasa, dia bersama dengan Caezar (Andre Jacobs) mencari uang dan ketenaran dengan cara mempertontonkan tubuhnya, diperlakukan seperti hewan buas yang dikurung dalam kandang. Seiring cerita berlanjut, Saatjie jatuh dan hancur dalam depresi, alkohol, hingga sex. Semuanya demi agar bisa kembali ke tanah kelahirannya dengan banyak uang.
    Black Venus adalah film pertama Kechiche untuk gue yang masih berselera alay ini. Alasan gue ingin menonton ini adalah karena di Jiffest kemaren gue nonton 12 Years A Slave. Seorang teman yang berselera sangat keren, mas Algitya menyarankan gue untuk mencoba menonton ini karena adanya kesamaan tema diantara kedua film yang sudah disebutkan. Tapi kalo boleh memilih, gue lebih memilih untuk menonton ulang 12 Years A Slave. Bukan karena ada Fassbender lho ya (oh well, itu juga sih...), tapi 12 Years A Slave masih lebih 'nyaman' untuk ditonton. Kechiche menggambarkan pergulatan batin Saatjie dengan sangat detail, sekaligus membuat gue merasa bagaikan melihat sebuah mimpi buruk. 
     
    Pada intinya, Black Venus sejak awal sudah menghajar penonton dengan visualisasi vulgar mengenai seorang wanita, baik itu secara sadar, mengeksploitasi tubuhnya untuk konsumsi orang banyak. Dan pergulatan batinnya mengenai hal itu, mengenai batasan mana yang wajar dan tak wajar dari apa yang boleh dilihat dan disentuh. Secara gamblang, Kechiche seolah menampar gue mengenai realita ini, bahwa saat ini, banyak sekali wanita dan pria yang bernasib sama seperti Saatjie, diperbudak demi impian dan harapan masa depan yang lebih baik. Ini bukan hanya mengenai perbudakan, ini juga mengenai perbedaan fisik, and above all of that...how a women sexuality can be seductive and destructive in one place. Ngeri.

     
  2. Mood Indigo / L'écume des jours – 2013
    Kelar nonton Black Venus yang brutal, gue langsung lari melanjutkan marathon dengan Mood Indigo. Sesungguhnya tiketnya sudah sold out, dan awalnya gue pesimis bakalan bisa nonton. Special mention for my dear one *uhuk*, gue berhasil dapet tiket dan masuk ke dalam bioskop. Film terbaru dari Gondry, sutradara asal Perancis yang sudah terkenal dengan Eternal Sunshine of The Spotless Mind ini kembali dalam sebuah adaptasi dari novel karangan Boris Vian. Dengan gaya khas Gondry yang sangat quirky dan berwarna-warni, awalnya Mood Indigo berhasil membawa naik mood gue yang sempet hancur-hancuran gara-gara Kechiche. Tapi yah, ini Gondry lho ya. Ngarepin lo masih akan tetep happy-go-lucky selama durasi film ini namanya delusional.
    Kisah cinta antara Colin (Romain Duris) dan Chloe (Audrey Tatou) awalnya berjalan manis bagaikan lollipop dengan warna warni indah. Kedua sejoli ini kemudian menikah, namun dalam bulan madu mereka, Chloe secara tidak sengaja menelan bunga salju yang menyebabkan bunga lili air tumbuh di dalam paru-parunya. Dengan kondisi keuangan mereka yang semakin memburuk, Colin harus mencari pekerjaan dan Chloe pun harus berjuang melawan penyakitnya yang semakin memburuk. 
     
    Mood Indigo mengingatkan gue sama Amour (2012) kemarin, dengan cita rasa yang berbeda. Mood Indigo tidak kental dengan aroma kematian di setiap scenenya. Namun Gondry dengan sangat cerdas mengajak penonton ke dalam sebuah emotion roller coaster dengan penggunaan warna dalam filmnya. Ketika diawal warna yang ia gunakan sangat vivid dan mencolok, sampai kemudian lama kelamaan mulai berwarna suram dan kelabu. Gue juga suka dengan bagaimana Gondry menyesuaikan dunia sureal yang ia ciptakan, ketika semakin lama ceritanya semakin menyedihkan, lingkup tempat dari para tokohnya semakin menyempit dan menggelap, membangkitkan efek klaustrophobia yang tidak biasa.

     

  3. The Nightingale / Le promeneur d'oiseau – 2013
    Kelar Mood Indigo, awalnya gue pikir antrian untuk tiket The Nightingale belum dibuka, jadi gue lebih memilih untuk mengisi perut terlebih dahulu. Namun apa daya malang tak dapat ditolak (hooh, ceritanya lebay), ternyata gue kehabisan tiket. Thanks to Candra Aditya, yang film yang ia produseri, Bunglon, masuk sebagai finalis dalam Festival Sinema Perancis, gue bisa tetep ikut dan duduk manis dengan invitation ticketnya (padahal sudah sukses dicap sebagai pengkhianat dan fans yang tidak setia). Sutradaranya sendiri, Phillip Muyl, datang sebelum filmnya dimulai. 
     
    Sesungguhnya cerita The Nightingale cukup sederhana. Filmnya berkisah mengenai sebuah keluarga kaya namun semuanya terlalu sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Ketika sang ayah harus ke Hong Kong dan sang ibu harus ke Paris pada saat yang bersamaan, putri semata wayang mereka, Ren Xing (Xin Xi Yang) akhirnya terpaksa dititipkan kepada sang kakek (Baotian Li) yang akan pulang kampung. Dalam perjalanan mereka, hubungan Kakek – cucu yang awalnya kaku dan tidak akrab lama kelamaan mulai mencair dan menghangat.
    Keunggulan dari film ini terletak pada sinematografinya. Beuh...cantik sekali! Bagaikan melihat akun Earth Porn yang bergerak, dimana setiap framenya bisa dicapture menjadi kartu pos atau dijadikan pajangan di dinding rumah. Buat gue sendiri ini adalah sebuah penyegaran mata dan pikiran, ketika dimana gue diajak menonton sebuah film ringan tanpa perlu banyak berpikir, ikut tertawa dengan setiap ulah sang cucu, dan ikut terbuai dengan banyaknya adegan unyu yang menghangatkan hati semua orang. In the end, usaha Muyl untuk menangkap fenomena jomplangnya kehidupan warga perkotaan dengan pedesaan, lengkap dengan kritik halus akan tingkat konsumtif dan gila teknologi dalam balutan chemistry antara setiap aktor yang bermain di dalamnya, this is a heartwarming and beautiful one

    Note :
    Gak ada yang lebih menyenangkan dari seharian marathon film-film bagus dalam sehari :3 


[REVIEW] 12 Years A Slave (2013) : "Don't Survive, Live."






Director : Steve McQueen
Screenplay : John Ridley based on book '12 Years A Slave' by Solomon Northup
Cast : Chiwetel Ejiofor, Michael Fassbender, Lupita Nyong'o, Brad Pitt, Benedict Cumberbatch, Paul Dano, Paul Giamatti, Sarah Paulson


Semua movie-enthusiast pasti punya list sutradara favoritnya sendiri. Dan dari setiap sutradara favorit itu, pasti film-film yang disutradarainya jadi sebuah film wajib tonton. Nama Steve McQueen ada di daftar teratas gue secara otomatis. Padahal secara filmografi, McQueen 'baru' memiliki tiga film panjang dan semuanya bukanlah jenis film yang bisa dengan mudah lo tonton di bioskop, serius. Namun di akhir tahun 2013 ini, big thanks to Jiffest (cium kaki panitia-panitianya), gue akhirnya bisa menyaksikan karya sutradara favorit gue ini di layar bioskop. And this is now what I called : Expectation meet the Reality!

Solomon Northup (Ejiofor) is a free black man back then in New York. Bukan sesuatu hal yang lazim kala itu, di era sebelum Perang Sipil dikarenakan orang berkulit hitam masih diaktegorikan sebagai budak yang kelasnya lebih rendah bahkan dibanding binatang. Solomon hidup nyaman sebagai seorang musisi biola bersama dengan istri dan kedua anaknya, sampai ia kemudian diculik oleh duo kawanan pengusaha sirkus dan berakhir sebagai seorang budak.

Sesimpel itu? Tentu tidak. Ini adalah McQueen. Ini adalah pria yang membuat parade pria telanjang yang mengoleskan kotorannya di dinding penjara di Hunger. Ini adalah pria yang membuat adegan threesome paling menghancurkan hati di Shame. Ada alasan mengapa 12 Years A Slave digadang-gadangkan sebagai calon film Oscar terbesar awal tahun 2014 nanti. Dan gue, sebagai seorang fans dan self-acclaimed buzzer film ini akan mencoba menjabarkannya kepada kalian.


Pria berkebangsaan Inggris ini dikenal dengan ciri khasnya memberikan banyak long shot cantik yang mewakili mood film-filmnya. Gue pribadi merasa 12 Years A Slave ini adalah film beliau yang paling festive dan meriah dibanding karya sebelumnya. Namun bukan berarti kemeriahan tersebut tidak mencakupi ciri khas beliau. 12 Years A Slave banyak sekali memberikan gambar-gambar indah dan cantik dengan teknik memukau, seolah memberikan jeda kepada penonton untuk menarik nafas sejenak namun tidak serta merta membuat penonton lupa dengan apa yang mereka tonton.

Ada alasan mengapa banyak orang jatuh hati pada karya-karya McQueen. McQueen tidak pernah mau berkompromi dalam hal visualisasi yang ingin ia sampaikan kepada penonton. Ia memiliki sebuah visi, dan misinya adalah agar penonton bukan hanya sekedar menonton apa yang ia buat, namun juga bisa mengerti realitas yang ia kemukakan. Tajam dan terlalu realistis adalah apa yang gue dapatkan dari 12 Years A Slave. Setiap cambukan dan darah yang mengalir, setiap peluh keringat yang mengalir, setiap tatapan mata kosong yang menerawang di setiap scenenya adalah sebuah penggambaran nyata akan perbudakan kulit hitam, sebuah sejarah kelam yang tidak banyak orang ingin mengingatnya. Though, dibandingkan dengan Hunger dan Shame, kompromi McQueen dalam hal visualisasi cenderung lebih aman dan lunak di 12 Years A Slave ini.

12 Years A Slave adalah film McQueen yang paling banyak bercerita dengan dialog kepada penontonnya. Dan ini sangat didukung dari performa kelas atas dari setiap castnya. Untuk pertama kalinya bekerja bersama McQueen adalah Ejiofor sebagai Solomon/Platt. And he is amazing. Sebagai seorang pria bebas yang dipaksa menjadi budak, harus rela merendahkan diri demi bertahan dan hidup, sekaligus berusaha agar selalu waras di tengah siksaan yang ia terima, Ejiofor bermain begitu gemilang dan menakjubkan. Setiap ekspresi dan gestur yang dimainkannya, rasa frustasi sekaligus keinginannya untuk tetap hidup, semuanya menakjubkan. Sebuah performa yang sayang sekali untuk dilewatkan!

Sexy beast? :3

Di sisi lain ada aktor kesayangan kita semua, Michael Fassbender. Si tampan kebangsaan Jerman – Irlandia ini adalah aktor favorit McQueen di setiap filmnya, dan kali ini dia berkesempatan memerankan Edwin Epps, tuan tanah gila dan kejam. Terserah mau dianggap bias (secara gue Fansbender bo'!), tapi akting Fassbender disini benar-benar mengerikan. Berperan sebagai Epps yang gila, menganggap semua budak sebagai properti pribadinya, selalu marah dan kejam, sekaligus menyimpan perasaan 'cinta' yang aneh kepada budaknya, Patsey (Nyong'o). Kegilaannya yang tergolong sadis...malah membuat gue semakin menggelinjang gak jelas. I just wish it was me whenever his eyes darken and intense, when he seeing Patsy. Gila aja kalau kali ini Oscar masih belum ngasih piala!

Performa dari para cast pendukung pun tidak kalah gila. Walau hanya muncul sebentar, Benny Cumberbatch menjadi penyejuk tensi sebagai Mr. Ford. Paul Giamatti sebagai penjual budak yang tidak berhati. Sarah Paulson sebagai Mistress Epps yang cemburuan kepada Patsey dan cinta segitiga paling aneh dan absurd (nabok kepala orang dengan muka lempeng gitu gila!). Brad Pitt sebagai Bass yang berpandangan luas dan terbuka (walau agak tertutup sama karakter lainnya). Kredit tambahan untuk Paul Dano sebagai Tibeats yang minta ditabok banget, dan terutama sekali pada Lupita Nyong'o, sebagai Patsey yang nampak begitu hancur di tengah kegilaan Epps dan Misstress-nya, secara fisik dan mental, sudah tak bisa menemukan alasan untuk hidup lagi.


In the end, jika dibandingkan dengan Hunger dan Shame, 12 Years A Slave mungkin adalah film karya McQueen yang paling lurus, mudah dicerna dan happy ending, namun bukan berarti dalam prosesnya kita sebagai penonton tidak disuguhi sebuah pengalaman visual yang indah sekaligus jalinan cerita yang utuh dan sanggup menyayat-nyayat hati. Dengan segala kompromi yang McQueen lakukan, 12 Years A Slave masih bisa menyuguhkan sebuah film yang begitu kejam dalam penggambaran realitas, sebuah potret ketidakadilan yang begitu nyata. Dan pada akhirnya, 12 Years A Slave bukan hanya menceritakan sesosok Solomon Northup, namun juga kisah mengenai manusia, yang bukan hanya ingin bertahan, namun juga hidup. Life fucks us all, then it's up to you want to let it happened and be quiet about it, drowned and got lost into it, or just simply fuck it back.

n.b : Review Hunger dan Shame bisa dibaca disini.

RUSH (2013) : “A GRIPPING AND INTENSE STORY ABOUT WHAT'S DRIVEN US, HUMAN.”



Director : Ron Howard
Screenplay : Peter Morgan
Cast : Chris Hemsworth, Daniel Bruhl, Olivia Wilde, Alexandra Maria Lara,


Gue gak tahu apa hal ini menimpa para movie-enthusiastic lainnya atau tidak, tapi sesungguhnya sudah nyaris sebulan ini, otak gue seolah mati rasa dengan film-film yang sedang tayang di bioskop. Rasanya gue sedang tidak bernafsu buat nonton, atau emang rasanya basi aja gitu. Hal ini berakibat dengan menurun drastisnya jumlah tulisan gue, khususnya di blog. Padahal ya, blog ini bagi gue bukan cuma sekedar media buat gue nulis review. Blog ini rumah gue, tempat gue membagikan point of view gue, dan terutama sekali...sesi terapi. Writing is my way to dealing with voices in my own head.

Anyway, kenapa jadi lebay dan keluar jalur gini yak?

Intinya sih, gue merasa tulisan gue memang semakin lama semakin 'tumpul'. Like, I've losing a perspective. Yang berasa kayak 'kewajiban' pekerjaan, kaku dan formulatic. Don't get me wrong, gue masih suka kok menulis, but for the first time in my life, reviewing a movie isn't quite fun thing. Sampai semalam, gue diundang untuk media screening film terbaru dari Ron Howard, “Rush”.



Inspired by true story, Rush sendiri berkisah mengenai persaingan antara dua pembalap F1 di tahun 1970 : James Hunt dan Niki Lauda. Hunt (Hemsworth) dan Lauda (Bruhl) pertama kali bertemu di sebuah pertandingan F3 yang kelasnya masih amatir, dimana Lauda mengalami kekalahan pertama dari Hunt, dan persaingan mereka pun dimulai. Hunt, adalah seorang pembalap nekat dengan kemampuan alami dan pesona yang membuatnya likeable, berbeda 180 derajat dengan Lauda yang sangat 'dingin', penuh persiapan, dan sangat analytical. Dan ketika mereka berdua masuk ke liga F1 yang jauh lebih besar sekaligus berbahaya, persaingan mereka berdua bagaikan sebuah ambisi tiada akhir untuk pembuktian siapa yang terbaik dan tercepat. Heart vs Brain. Dan selama 123 menit, penonton, baik fans F1 maupun bukan, diajak larut bukan hanya dengan balapan mobil yang terasa begitu nyata dan mencengangkan, namun kita juga diajak masuk ke dalam isi dan point of view dari kedua karakter utamanya.

And a nice chit-chat between me and two movie-enthusiastic : masset (@ssetiawan) dan Kak Haris (@oldeuboi) after the movie screening questioning about “Howard's Directing Style”. Bahwa sesungguhnya memang, Ron Howard masih agak sulit diprediksi dengan hasil-hasil karyanya. Hit and miss, if I might add. Dengan A Beautiful Mind, Apollo 13, dan Cinderella Man, hingga DaVinci Code dan Angels and Demons yang masuk kategori mediocre (in my humble opinion ya, karena sebagai fans novelnya, gue termasuk yang kecewa) dan The Dilemma (yang...ah sudahlaaah) di dalam daftar filmografinya, Howard sendiri seolah melompat-lompat ke berbagai genre dan style, belum dapat dilihat kira-kira apa gaya penyutradaraannya. Even though, film-filmnya memang masih watchable. 



Namun, dari apa yang kira-kira bisa kita perkirakan, Howard definitely a guy who can made it with the right teams. Give him a bunch of mediocre people, and his movies would be like one. But give him a talented team, and it will be fantastic. Dengan naskah dari Peter Morgan (they previously movie : Frost/Nixon which is awesome) yang memfokuskan pada persaingan Hunt-Lauda secara psikologis. Tambahkan dengan Hans Zimmer (Lion King, Inception) yang mengcompose scorenya, lalu A. Dod Mantle (Slumdog Millionaire, 127 Hours, Trance) yang bertanggung jawab dengan sinematografi dan shot-shotnya yang terasa sangat detail sekaligus 'jantan' (apaan sih gue?). Kesemuanya digabungkan dengan editing dari Daniel P. Hanley, yang merupakan editor film langganan Howard, menjadikan semuanya sebuah film yang utuh, dengan Daniel Bruhl sebagai the center of attention.

And indeed, Bruhl is a shine bright star in here. Jualan utama film ini memang nama Hemsworth yang sudah terkenal lebih dulu dan juga Howard. Di trailer dan materi promosi pun Hemsworth memang pemeran utamanya. Dan gue tidak mengatakan bahwa aktinya jelek atau apa, namun performa Hemsworth benar-benar tertutupi oleh Bruhl, yang dengan sangat mengerikannya memerankan sosok Lauda yang begitu fokus dan tidak mau dikalahkan Hunt. Di sebuah adtegan klimaks bahkan membuat gue semakin merinding. Is it too early predict Bruhl as one of tough contender in Oscar as Best Supporting Actor? Maybe, but he is worth for it. (Walau kayaknya bakalan berhadapan sama Jared Leto dari Dallas Buyer's Club dan my lovely Michael Fassbender dari 12 Years A Slave. Damn. Berat-berat ya saingannya!)

Terus terang, pengetahuan gue soal F1 hanyalah nama Michael Schumacher dan Kimi Raikonen (mukanya yang mana juga kaga tau). Let alone about James Hunt and Niki Lauda itself. Jadi gue bukan di posisi yang bisa memberitahukan apakah akting Hemsworth – Bruhl akurat atau tidak. Physically maybe. Tapi dari segi aktingnya, mereka berdua benar-benar membuat gue terkesima. Hemsworth yang terlihat playful but has his own dark side. Bruhl yang wajahnya dipermak habis-habisan dengan make up protestik dan aksen Austria-nya, memerankan Lauda yang selalu penuh perhitungan dan tidak mau kalah. Keduanya bagaikan sedang balapan. Dengan lincah Howard mengarahkan keduanya untuk saling mengisi, di satu sisi ketika film berfokus dengan 'kemenangan' Lauda, Howard justru mengajak kita masuk ke dalam isi kepala James Hunt di saat-saat downnya. Begitu pula saat Hunt ada di puncak, kita diperlihatkan ambisi dan perjuangan Lauda agar tak pernah kalah dari Hunt.

 
Jadi seperti apa Rush, based on what I've been babbling since this first beginning? All I can say that this one of the best movie I've watch this year so far. Hunt – Lauda's dynamic of ups and downs, bagaikan dua sisi koin yang sama sekaligus berlawanan. They hate each other yet they need each other. They envy each other yet they respect each other. They both just ordinary man, driven by ambitions for speed and winning, dengan aura kematian yang begitu kental di banyak scenes. Gosh...you got all the gripping and intensity with full of inspiring story. Gue gak mau banyak menghamburkan detail filmnya. Go watch it by yourself.

Sesuai dengan apa yang gue tulis di awal tadi, seusai gue menyaksikan Rush, gue seolah diingatkan kembali dengan “reviewing for fun”, bahwa sebuah film bukan hanya sebagai sebuah hiburan belaka, namun lebih dari itu. Gabungan dari pikiran yang terprovokasi dan kepuasan yang membuncah di hati, bagaikan sebuah pengalaman makan malam full course mewah nan lengkap yang dimasak oleh Joel Robuchon mulai appetizer hingga dessert. Thank you for this experience, Mr. Ron Howard!

n.b : Dan kini, gue semakin tak sabar menanti “12 Years A Slave' yang sudah gue buzzer secara masif via socmed karena yakin film ini akan membuat otak gue meledak dan membuai dalam sebuah cinematic experience yang tak dapat dilukiskan kata-kata, bagaikan sebuah orgasme berulang kali.

There, I just writing a review with another food analogical yet sound like a porn stuff, all in one.

But I'm happy!