Tampilkan postingan dengan label Poetry. Tampilkan semua postingan

Pamit

Saya Pamit.
Pergi jauh.
Melarikan diri.
Dari kamu.
Dari sebuah rasa.
Dari sebuah bentuk.
Yang semuanya abstrak.
Terlalu rumit untuk diurai.
Kusut bagai gumpalan benang.
Terlalu keruh untuk dapat jernih.
Seperti lumpur yang larut.
Cukup.
Sudahlah.
Saya pamit.


1 + 1 = 3


Bahwa sesungguhnya, manusia memiliki tiga buah telinga.
Dua buah telinga yang berada di samping kanan-kiri kepala manusia.
Dua buah telinga yang mendengarkan percakapan di kanan-kiri seorang manusia....
Dan satu telinga berada di dada.
Satu telinga yang mendengarkan isi hati manusia.
Penuh berisi prasangka dan praduga.
Menimbulkan luka-luka hati yang tak perlu.
Menumbuhkan keruwetan dan kekusutan yang tak penting.
Namun terkadang, ketika seorang manusia terlalu tuli dengan apa yang ada di kanan-kirinya.
Satu telinga di dada itulah yang benar-benar mendengarkan apa yang diinginkan hati.
Terkadang justru itulah suara yang paling dapat dipercayai kebenarannya.

Jakarta, 12.23 PM
Inspired by 'Bung', taken from T(w)ITIT! by Djenar Maesa Ayu