Tampilkan postingan dengan label Horror. Tampilkan semua postingan

[Review] The Babadook : "Baba...dook dook!"



Director : Jennifer Kent
Screenplay : Jennifer Kent
Cast : Essie Davis, Noah Wiseman

"Well, I'd consider you a fool if you weren't", adalah jawaban lugas dari Professor Lupin ketika Harry Potter mengemukakan ketakutannya pada Dementor. Takut merupakan salah satu perasaan paling alami yang dimiliki oleh manusia. Menelaah rasa takut mungkin tidak bisa melihat dari sisi luarnya saja. Bahwa ketakutan hadir dari rasa tidak berdaya seseorang saat menghadapi masalah. Kadang, rasa takut hadir karena imajinasi yang ditampilkan berlebihan. Tapi satu yang pasti, rasa takut idealnya harus bisa kita hadapi.




Berkat buzzing yang cukup heboh di linimasa jejaring sosial dan berbagai situs portal film, The Babadook cukup menggoda iman gue, seorang picky yang sebenarnya takut menyantap film berjenis ini. Premisnya biasa saja, yaitu seorang janda yang hidup berdua dengan anak yang bermasalah dan delusional lalu diganggu oleh kekuatan yang misterius di rumahnya. Sudah berapa banyak film-film horor dengan premis sejenis? Tak salah juga ketika banyak orang berharap The Babadook akan sama seramnya dengan Insidious atau The Conjuring dengan premis serupa.

Singkat cerita, The Babadook bercerita mengenai seorang janda bernama Amelia (Davis) yang tinggal berdua saja dengan anaknya, Samuel (Wiseman). Hidupnya tak bisa dibilang mudah, suaminya meninggal dalam kecelakaan sesaat sebelum ia melahirkan Samuel. Samuel sendiri tumbuh besar menjadi seorang anak yang agresif dan memiliki daya imajinasi yang cukup 'liar' dibanding anak-anak seumurannya. Suatu malam, Samuel meminta ibunya untuk membacakan sebuah buku berjudul 'The Babadook' sebelum ia tidur. Sejak saat itu hidup mereka berdua berubah. Benarkah The Babadook hanya hidup di dalam imajinasi Samuel? 

Apa yang menyebabkan The Babadook terasa sama sekaligus berbeda jauh dengan The Conjuring? Pertama, kita diperkenalkan dengan sosok Babadook itu sendiri. Sebuah sosok bogeyman dengan pakaian serba hitam ala jaman Victorian. Jari-jari tangannya panjang dan tajam, sepert Freddy Krueger, dan wajahnya putih pucat dengan tatapan mata kosong melompong. Saat ia menakut-nakuti dengan slogan terkenalnya, "Baba..dook..dook", suaranya sama seraknya dengan suara gagak kurang minum Deskripsi barusan sudah cukup mengerikan dan memacu adrenalin, belum?


Kenyataannya, hal yang membuat The Babadook sangat mengerikan justru bukan dari sosok The Babadook itu sendiri. Saat diperkenalkan dengan kedua tokoh utama, yaitu Amelie dan Samuel, secara tidak langsung kita disodorkan dengan masalah yang lebih pelik dibanding sekedar hantu yang datang di malam hari. Hubungan antara ibu dan anak ini jelas bukan hubungan yang sehat dan penuh kasih sayang. Semuanya terasa tegang dan mencekik. Amelia masih berjuang dengan rasa kehilangannya. Samuel sendiri bukan anak yang mudah dihadapi. Ia terobsesi dengan kehadiran monster, senang menciptakan senjata yang berbahaya, sekaligus agresif dan cenderung histeris, bukti bahwa ia tumbuh besar dengan situasi kegelisahan dan kemarahan yang terpendam. Saat kemudian Amelia menemukan buku cerita The Babadook hanya memperuncing  masalah yang sudah ada.

Kent yang menyutradarai dan menulis sendiri naskah film The Babadook membuat kita melihat dari sudut pandang yang berbeda mengenai sifat-sifat keibuan. Tak jarang kan, kita membaca atau mendengar berita seorang ibu yang tega membunuh anak-anaknya sendiri? Bukan untuk menjustifikasi apa yang sudah mereka lakukan, tapi The Babadook menyorot hal-hal yang tak nampak, bahwa seorang ibu tetap seorang manusia biasa yang hidup dengan pergumulan batin dan ketakutannya sendiri. Ujung-ujungnya tetap, mau melawan balik atau terseret ketakutannya sendiri.

Tanpa akting yang memukau, tentu The Babadook tidak akan bisa tampil semenakutkan ini. Davis dengan sangat cemerlang memerankan banyak layer dari Amelia. Di satu sisi, ia memerankan apa yang masyarakat ingin lihat dari seorang single parent : pekerja keras namun lembut dan menyayangi anaknya. Di sisi lain, ia lapar untuk memiliki partner berbagi sekaligus merasa kesepian. Dan ketika cerita bergulir semakin intens, kita diberikan sisi baru dari Amelia yang tertekan sekaligus berjuang mempertahankan kewarasannya. Seperti saat ia sedang bermasturbasi lalu tiba-tiba Samuel masuk ke dalam kamar sambil menjerit-jerit ketakutan. Frustasi sekali bukan? 



Banyak kemudian yang merasa kecewa dengan The Babadook karena muatan psikologis dan perasaan depresi yang dibawa ke dalamnya. Jelas, saat kita menonton film horor adalah saat yang tepat untuk menjerit-jerit ketakutan dan mengeluarkan rasa frustasi yang ada. The Babadook tidak mengijinkan kita untuk sekedar menjerit ketakutan. Ia membawa kita masuk ke dalam sebuah kisah pergumulan batin seorang single parent melawan trauma dan rasa kehilangan sekaligus berjuang membesarkan anaknya sendirian. The Babadook membawa kita masuk ke dalam sebuah aura klaustrophobia yang pekat dan kental bagai sebuah mimpi buruk dari menjadi seorang ibu.

Di satu sisi, tak heran ketika The Babadook hadir dengan review yang sangat bagus dari para kritikus. Ia hadir bagai gabungan dari The Shining dan Rosemary's Baby dengan kedalaman konten dan karakterisasi yang memukau. Namun di sisi lain bisa jadi ia sangat mengecewakan, terutama dari penggemar genre horror hantu-hantuan yang membutuhkan sarana untuk menginjeksikan adrenalin dan berteriak-teriak seru, bukannya ikut kelelahan dan depresi bersama dengan Amelia dan Samuel. 





Review : Warm Bodies ( 2013 )



WARM BODIES
" This Zombie is getting warm"
" 
Director        : Jonathan Levine
Screenplay    : Jonathan Levine based on novel Warm Bodies by Isaac Marion
Cast              : Nicholas Hoult, Teresa Palmer, Analeigh Tipton, John Malkovich


Hollywood rasa-rasanya memang sedang begitu larut di dalam demam post-apocalypse of zombie invasion. Bukan hal yang aneh, karena toh genre ini memang sudah ada sejak lama, tapi film-film zombie kini berada di puncak ketenaran. Toh, kalau mau dipikir-pikir lagi, sudut pandang dari film-film ini selalu ada di pihak para manusia, the mortal who really trying to survive. Para the undead alias zombie selalu menjadi pihak antagonis yang hanya menginginkan daging segar kita semua. Dan kini, Warm Bodies mengambil sudut pandang para zombie, yang jatuh cinta kepada manusia. And I was thinking “Oh, here comes the Twilight’s legacy all over again…”

 R (Hault) adalah seekor (apa seorang ya? Ah sudahlah!) zombie dimana bumi sudah lebih banyak dipenuhi oleh para pemakan daging bau ini. R merasa dirinya berbeda, karena dia masih merasa seperti manusia di dalam pikirannya, walau dia tidak bisa menolak hidangan berupa manusia hidup, lebih disukai kalau sedang berlari-lari ketakutan. Terutama bagian otaknya, the yummiest part, karena dengan memakan bagian tubuh ini, R bisa mengetahui memori dan pikiran sang pemilik otak, membuatnya merasa seperti manusia walau hanya sejenak. Dalam sebuah perburuan makan malam, R lalu bertemu dengan Julie (Palmer). Disanalah, dia merasakan hal yang tidak lazim dialami para zombie : love at first sight. And his heart start to beat again. Dengan segera dia menyelamatkan Julie dan membawanya pulang. Namun, ada The Boneys, sebuah zombie form yang mengerikan, yang tidak berperikemanusiaan, mencium keberadaan Julie dan menginginkan mereka berdua. Maka, R harus menyelamatkan Julie dari kejaran The Boneys, sekaligus merasakan dirinya seolah-olah kembali menjadi  manusia normal. Berhasilkah R menyelamatkan Julie? Akankah R bisa menjadi seperti manusia normal lainnya?

 First thing first, sejak awal gue mendengar tentang pembuatan film ini, gue ada di pihak yang rajin mencemooh di media twitter. Gue ngerti sih, Summit memang sedang gencar-gencarnya mencari franchise baru untuk menggantikan Twilight Saga dan mengisi pundi-pundi uang mereka, but come on! Zombie dan manusia? Pertama, mereka itu ‘mati’ lho! Emang sih vampire juga ‘mati’ tapi kan vampire is in a good shape! Vampire always good looking, while zombie…bentuknya ga karuan and they don’t look appealing…in a hot way. Never. Kedua : zombie itu kan bauuuu! Just imagining a zombie kissing me (walo mungkin berakhir dengan bibir gue dimakan, which is more make sense to me), and I feel like want to biting my lips hard, just to make sure the lips warm, save, and kissable. (Silahkan, kalo mau muntah...) 

Tema cinta terlarang memang selalu menarik. Emang ya, manusia pada dasarnya selalu tertarik dengan apa pun yang dilarang. Dan pengeksploran tema forbidden love ini semakin luas saja. Apalagi ketika temanya lion fallin in love with the lamb. Pihak yang berbahaya, ada di puncak rantai makanan malah jatuh cinta kepada buruannya. Vampire dan manusia sudah terlalu mainstream. Bahkan Alien dan monster yang jatuh cinta kepada manusia pun sudah dieksplor…so why not for zombie? 

And really, semua kekonyolan yang bisa gue pikirkan ketika baru mendengar tema ceritanya saja justru membuat gue harus menjilat ludah gue sendiri (or in this case maybe I should scrolled down my timeline and deleting my previous mocking tweets). Karena filmnya ternyata bagus, and even much more better than Twilight Saga. Ketika di Twilight Saga menekankan tentang kisah percintaan Edward-Bella dengan segala aktifitas fisiknya, Warming Bodies memilih penekanan di line-linenya yang witty, humble, dan sangat lucu. Edward Cullen boleh terlihat sangat sempurna di layar, dengan wajah tampan bagaikan pualam dan kulit blink-blinknya, tapi menurut gue R lebih terlihat lovable dengan sikap zombienya yang kaku, awkward, dan bahkan menganggap dirinya sendiri pengangguran. (Pernyataan gue bisa dibilang invalid, toh gue ga pernah ngefans sama karakter Edward Cullen. Justu gue malah suka sama Jasper Cullen, hehe).

Levine, yang sudah dikenal lewat 50 : 50 berhasil menghidupkan cerita ini, tanpa harus merasa membuatnya menjadi terlalu berlebihan. Diangkat dari novel karangan Isaac Marion berjudul sama, Levine yang juga menulis skenarionya memberikan sentuhan angin segar di genre zombie, sebuah kisah romantic comedy yang dicampur dengan tema horor , dalam usahanya memanusiakan para zombie. Sweet, simple, but heart warming.  Walau mungkin dari sisi komedi dan kontinuitas cerita masih kalah dari Zombieland ataupun Shaun of The Dead, toh misinya berhasil, membuat penonton (in this case..gue) tertawa terpingkal-pingkal menonton sisi lain dari para zombie. Apalagi ditambah dengan beberapa adegan yang mengingatkan gue dengan film Romeo + Juliet atau bahkan memocking beberapa hal dari Twilight Saga, it is really refreshing!


Lalu, Warm Bodies menambah nilai positifnya dengan deretan soundtrack khas 80an seperti lagu Pretty Woman dan lagu-lagu rock keren dari Scorpions, Guns and Roses, dan masih banyak lagi. Kalau di Twilight Saga seolah memantapkan diri dengan tema soundtrack top 40, Warm Bodies mundur agak jauh ke belakang, memperkenalkan spirit of hipster teen seperti tokoh R itu sendiri.

Dari jajaran cast, Hoult tampil lovable sebagai R, seorang teen-look-alike zombie dengan jaket hoodie merahnya yang lusuh dan kumal, postur tubuhnya yang bungkuk, dan juga inner mind-nya yang cerewet dan super manis. Just like any ordinary geeky teens all over the world, and he got my heart already when he said "Keep...you...save" and "Don't be creepy, don't be creepy". Hoult sudah pasti menjadi rising actor untuk setahun ke depan, dengan film-film 'besar' yang akan segera rilis, and I bet you won't getting boring with him.
 
 Di sisi lain, ada Julie yang diperankan oleh Teresa Palmer. Mungkin tidak ada yang super spesial dengan aktingnya, toh karena karakterisasi yang harus dibawakannya tidak terlalu rumit, tapi karena sejak awal review ini gue buat dengan perbandingan Twilight Saga, aktingnya jelas lebih ekspresif dibandingkan dengan Kristen Stewart. Dan karakter sidekick, Nora (yang juga tidak terlalu berbeda dengan karakter yang diperankannya di Crazy, Stupid, Love) yang dimainkan Analeigh Tipton cukup mencuri perhatian. Sayang, Malkovich hanya tampil sedikit, tapi cukup meyakinkan sebagai seorang ayah sekaligus pemimpin yang saklek dan berkepala batu. Not his best one though, but still enjoyable and much more better than that crappy and annoying role in The Dark Side of the Moon.


So yea overall, Warm Bodies finally give me a punch in my face, for making such a very bad and poor early judgement. I kept my expectation low, and it surprisingly good. Well, not that 'good' karena toh di bagian pertengahan ke akhir sudah mulai agak melempem dan predictable, but it really keep you wide awake, laughing, and feel entertain. It such a sweet guilty pleasure, and definetely worth watching more than once. And it might not warming my body (hence the title, hehe), but it warming my heart.
And now I can't stop talking "Hungreeeh.." :p


Review ini juga dimuat di Layar Tancep lhoo :)

Review : Peeping Tom ( 1960 )

Peeping Tom
 "About The Movie and Its Controversial"

Director : Michael Powell
Screenplay : Leo Marks
Cast : Carl Boehm, Moira Shrearer, Anna Massey, Maxine Audley




















Tahun 1960 mungkin adalah salah satu tahun bersejarah dalam dunia perfilman, ketika ada dua film bergenre horror thriller yang merubah wajah genre tersebut, sekaligus pemicu genre slasher yang begitu berkembang jaman sekarang. Film tersebut dibuat di dua negara berbeda, dengan sambutan yang sama-sama membuat para penontonnya begitu ketakutan saat itu. Film pertama adalah besutan sutradara legendaris Alfred Hitchcock, Psycho. Film bermedia hitam putih ini menjadi begitu melegenda dengan musiknya yang mencekam, dan adegan di kamar mandinya, yang merupakan adegan mandi pertama di film. Di Inggris, film kedua ditayangkan lebih awal dari Psycho, disutradarai oleh Powell, yang justru menerima kritikan begitu hebat yang membuatnya tidak pernah menyutradarai film lagi. Filmnya berjudul Peeping Tom. Di masa sekarang, Peeping Tom dianggap sebagai film horor Inggris terbaik sepanjang masa, dan Roger Ebert sendiri menempatkannya dalam daftar 'Great Movies' miliknya.

 Hiduplah seorang kameramen film sekaligus fotografer untuk foto porno, Mark Lewis (Boehm). Pria ini pendiam, terlihat begitu tenang, dan tak berbahaya. Namun rupanya Mark menyimpan sebuah sisi gelap, dia senang membunuhi wanita-wanita yang kemudian dia rekam dengan kameranya. Di saat bersamaan, Mark berkenalan dengan seorang wanita muda dan naif, Helen (Massey) yang kemudian menjadi sangat tertarik untuk berteman dekat dengan Mark. Di tengah obsesinya merekam pembunuhan yang ia lakukan, Mark kini sadar bahwa Helen menjadi 'terlalu' dekat daripada yang ia inginkan. Mana yang akan ia pilih?

Ini adalah genre kesukaan gue, sebuah psychological thriller. Dan buat gue pribadi, sebuah film psychological thriller yang baik itu harus memiliki tiga cakupan : karakterisasi tokoh yang kuat, cerita yang tidak diduga-duga, dan musik scoring yang thrilling. Dan sebagai pelopor di genrenya, Peeping Tom adalah contoh yang sangat well made. Karakterisasi sang tokoh utama yang abu-abu, Mark digambarkan dengan detail. Penyebab 'sakit'nya, motivasinya dalam membunuh, sekaligus pergulatannya untuk menjadi manusia yang 'normal' digambarkan secara utuh. Dan hal ini yang jadi jualan utama filmnya. Gue, sebagai penonton tidak melihat karakter Mark sebagai pria yang pure jahat, yang membunuhi orang-orang hanya karena ia ingin. Tidak. Carl Boehm dengan apik memerankan Mark, dengan latar belakangnya sebagai kelinci percobaan oleh ayahnya sendiri. Dan dengan baiknya dia memerankan Mark, gue ikut merasakan pergolakan batin yang ia rasakan di klimaks filmnya. Membuktikan bahwa dia hanyalah seorang manusia.
















Untuk cerita sendiri, gue bahkan tidak menduga twist yang terjadi sampai di ending, yang kembali membuat gue merasakan perasaan kasihan kepada Mark. Hal ini tidak akan terjadi tanpa karakterisasi yang begitu berkesinambungan dengan isi filmnya sendiri. Sejak awal, filmnya sudah menegangkan. Tambahkan sedikit drama dan musik yang mencekam, this is a perfect cult psychological thriller. Dan ya, musik yang digubah oleh Brian Easdale turut berperan penting dalam mempermainkan perasaan penonton. Harmonisasi yang begitu indah dari ketiga aspek yang udah gue sebutin di atas, Peeping Tom adalah film klasik wajib tonton bagi pecinta thriller seperti gue.

Satu-satunya kesalahan fatal dari Powell mungkin dengan mengadakan press screening. Sesungguhnya tidak ada visualisasi gore penuh darah di filmnya, namun yang membuat filmnya begitu kontroversial adalah karena para penonton di era itu merasakan perasaan 'simpati' kepada tokoh Mark, dan di saat itu, masa dimana ketika tidak mengenal area abu-abu, masa dimana yang hitam adalah hitam dan putih jelas putih, ini merupakan hal yang tidak dapat dimaafkan. Jadilah akhirnya pers mencaci film ini habis-habisan, membuat Powell 'kapok' untuk membuat film apapun lagi ke depannya.

















Hal ini yang kemudian dijadikan pelajaran oleh Hitchcock ketika dia merilis film Psycho tiga bulan kemudian, membuat filmnya menjadi hit dan box office.
Padahal, kedua film ini memiliki banyak kesamaan satu sama lain. Tokoh utamanya sama-sama seorang pria psikopat yang terlihat tidak berbahaya, yang digambarkan dengan pendalaman karakter dan dari sisi psikologisnya sendiri, membuat kejadian yang ada di filmnya bisa terjadi kapanpun di sekeliling kita. Ini yang menjadikannya mengerikan, bahwa ini mungkin saja terjadi. Dalam sebuah artikel berjudul "'Peeping Tom' and 'Psycho' : Reinventing The Horror Film" disebutkan bahwa kedua film ini 'Coming of Age' dari genre horror, ketika sebelum kedua film ini dibuat, film horror yang ada selalu berfokus pada kisah dongeng klasik (seperti Nosferatu) atau monster. Peeping Tom dan Psycho lalu hadir dan mendobrak ketakutan manusia dengan menjeritkan ide mengenai adanya monster dalam seorang manusia, dan monster tersebut diciptakan oleh manusia lain. Seperti sebuah lingkaran setan yang tidak pernah akan ada habisnya.
And would you like to be the part of it?

Cemetery Drive




Hujan turun dengan derasnya, menghembuskan hawa yang begitu dingin, menusuk hingga ke dalam sumsum tulang. Langit siang ini begitu gelap, seolah bisa mengerti dukaku, seolah ikut bersedih bersamaku. Di depanku berkumpul orang-orang, mereka juga turut bersedih, tapi tak ada yang lukanya sedalam lukaku. Kulihat ia diturunkan pelan-pelan, aman terlindungi di dalam peti kayu murahan. Hanya itu yang bisa kuberikan kepadanya. Aku tak mampu memberikannya yang terbaik, bahkan di saat-saat terakhir kehidupannya.

Oh tidak, air mataku mengalir lagi. Aku tak mampu menahannya. Kulihat semuanya memperhatikan, di wajah mereka tidak ada kemakluman. Aku melihat kilasan kemarahan dan kekecewaan di mata mereka. Mereka pasti berpikir aku yang bersalah.Tapi aku tak perduli. Aku berhak untuk bersedih. Kini air mataku berlomba dengan derasnya hujan.
Dan pikiranku pun melayang jauh...

****

“PRANG!!!”
Mike menunduk, melindungi kepalanya dengan kedua tangannya yang dihiasi tato bergambar naga besar merah yang menjulur panjang di seluruh tangannya. Dia terlihat khawatir dan sedikit takut bahwa aku mempertimbangkan dengan sangat serius untuk melempari piring langsung ke arahnya.

Well, setidaknya dia benar. Aku serius mempertimbangkan itu. Tapi aku tak ingin ditangkap polisi dan dikenai hukuman karena membunuh seseorang, tidak sekarang.

“Lizzy...Sudah kukatakan, kau hanya salah paham!!”, katanya mencoba membela diri, setelah selama semenit aku hanya diam menatapnya dengan tatapan yang mampu membakar sesuatu.

Aku meraih piring lagi, biru kali ini, lalu kulemparkan lagi ke arah dinding dengan membabi buta, ingin mengenyahkan rasa marah dan cemburu yang bercokol di dada. “Salah paham katamu?! Salah paham?! Bagian mananya dari masalah ini yang kaubilang salah paham?!”

Mike mengernyit lalu menjelaskan lagi, dengan suara yang tak kalah kerasnya, “Coba kamu pikir dengan akal sehat, Lizzy. Kalau memang aku punya affair dengan Hannah, aku akan berbohong. Aku akan bilang aku tertidur di apartemen Todd atau apa, ya gak? Mestinya kamu menghargai kejujuranku.”

“Kamu tidur di apartemen Hannah!” Aku mengulangi apa yang ia beritahukan sebelum aku mulai melemparinya dengan barang pecah belah.

“Aku tertidur di apartemen Hannah!”, katanya defensif, mengulangi setiap kata dengan penuh tekanan.

“Aku tidak mengerti ada urusan apa diantara kalian, sehingga kamu tertidur di apartemennya!”

“Dengar, kami mengobrol, aku terlalu kelelahan, dan tertidur di sofa, itu saja. Lagipula, ada Todd juga disana!”

Aku terdiam sebelum akhirnya aku bertanya dengan suara pelan, “Tapi Todd tidak tertidur disana juga kan?”

Mike pun ikut terdiam, wajahnya pias. Dia kalah.

Sudah kuduga, dia menyembunyikan sesuatu dariku. Tadinya ada harapan dalam pertanyaan terakhirku. Aku ingin ia menjawab iya. Bohong pun tak apa. Aku hanya sedang tak ingin Mike berkata jujur kepadaku. Karena aku tak akan mampu menahan rasa sakit ini. Dan tidak, aku sudah tak ingin melihatnya, aku tak ingin bertengkar lagi. Aku lelah.

“Kau tahu, aku tak boleh marah seperti ini. Tak baik untuk kandunganku.”, kataku pelan sambil menahan tangis. Karena toh ini akan berakhir, sudah sepantasnya aku menjatuhkan bom ini. Aku mengusap mataku dengan cepat.

Mike tersentak kaget. Sesungguhnya aku benci harus memberitahunya dengan cara seperti ini. Aku sudah menghabiskan waktu nyaris sebulan bagaimana caranya memberitahunya, karena aku tak yakin dengan reaksinya. Aku hanya ingin dia bahagia.

“Kan, kandungan? Ma, ma, maksudmu...Hamil? Anak kita? Anak kita, Lizzy?”, suaranya terbata-bata, tapi sebentuk senyuman terukir di wajahnya. Membuatku langsung merasakan sengatan emosi negatif yang harus segera kulampiaskan.
Aku meraih sebuah mug, lalu kembali melemparnya ke dinding. Namun Mike kini bergeming, tak bergerak sedikit pun. Dia tampaknya sudah tak peduli aku akan melemparnya tepat ke wajahnya.

“...Lizzy, aku mencintaimu.”, bisiknya pelan, senyum mengembang lebar di wajahnya.

Tidak! Aku tak akan terpengaruh dengan kata-katanya!

“Keluar.”

“Hannah hanya sebuah masa lalu, dan dia sahabatku. Aku mencintaimu, Lizzy. Dan bayi kecil kita.”

“KELUAR!!!!!!!!!!!!!!!!”, jeritku keras.

Mike akhirnya menghembuskan nafas panjang lalu menyerah. Dia berjalan menuju pintu, mencoba menghindari pecahan-pecahan di lantai. Sebelum ia keluar, dia berbalik ke arahku dan berkata pelan, “Kau butuh waktu untuk sendiri. Aku tak akan menyerah secepat ini. Tidak. Demi kita, demi bayi kita. Karena aku mencintaimu, sangat mencintaimu.”

****

Itulah kalimat terakhir yang ia ucapkan. Itulah kali terakhir aku melihatnya. Mike meninggal lima jam sesudahnya, dalam sebuah kecelakaan beruntun yang parah. Mobilnya ditabrak dari belakang, dan dia tidak mengenakan sabuk pengaman saat itu. Tubuhnya melayang keluar, sebelum akhirnya ditabrak mobil. Setidaknya ia meninggal dengan seketika, itu yang dikatakan oleh petugas forensik kepadaku saat polisi memintaku mengenali mayatnya.

Aku merasakan asam di lambungku naik menuju ke tenggorokan, aku segera berlari dan memuntahkan semuanya. Hanya air kental berwarna kuning. Aku nyaris tidak makan apapun sejak dua minggu lalu. Aku tak ingin makan. Aku hanya ingin Mike kembali.

Oh ya, mayat Mike. Aku masih bisa mengingat kondisinya dengan jelas. Lehernya patah, kaki kirinya hancur remuk terlindas salah satu ban truk... Kepalanya bocor dengan wajah yang nyaris tidak bisa kukenali lagi....
Ini semua salahku. Andai aku tak mengusirnya pergi, Mike mungkin masih hidup hingga detik ini. Andai aku tak menyuruhnya pergi, Mike mungkin masih ada disini. Memelukku erat tiap malam. Membicarakan masa depan kami, masa depan bayi kami sembari meminum sebotol bir.

Oh tidak, bayi kami!

Tanah yang kupijak serasa berputar dengan kencang. Aku harus mencari pijakan yang lebih baik sampai aku merasakan tangan seseorang mencengkram bahuku.

“Lizzy, kau harus makan sesuatu!! Kau kelihatan begitu kurus dan pucat!”, katanya. Oh, ternyata Todd. Aku hanya menatapnya bingung, seolah-olah dia berbicara dengan bahasa yang tak kumengerti.

Dan memang sesungguhnya aku tak mengerti.

“Todd, kita ke family restaurant sekarang. Aku rasa aku butuh makan siang. Dan Lizzy juga.”, sebuah suara yang halus dan menyenangkan menyela Todd. Walau aku tak mengerti apa yang dikatakannya, tapi aku mengenal suaranya.

Aku membenci suara itu. Hannah.
Hannah kemudian menggamit lenganku dan berjalan bersamaku dengan perlahan-lahan, seolah dia mengimbangi kemampuannya berjalannya yang normal dengan seorang tua renta.

“Mau apa kau?”, tanyaku penuh kebencian, suaraku bergetar.

“Mike akan menangis di dalam petinya kalau melihatmu sekarang ini, Lizzy. Kau butuh makan.”

Aku melepaskan lenganku darinya lalu memeluk tubuhku sendiri, “Aku tidak butuh kau memberitahuku soal apa yang harus kulakukan, Hannah.”

“Lizzy, lihatlah dirimu. Kau seperti zombie!”

Aku sudah tak tahan lagi. Aku kehilangan Mike, dan yang perempuan ini katakan adalah aku terlihat seperti zombie?!

“Kalau bukan karenamu, kami tak akan bertengkar!”, teriakku marah, menumpahkan semua rasa putus asa yang membuncah. Aku yang kehilangan Mike! Mike tidak akan pernah kembali! “ Kalau bukan karenamu, Mike tidak akan ada di dalam peti, dikubur, sendirian!”

Semua orang segera saja berkerumun memperhatikan kami. Tertarik menyaksikan gosip terbaru secara langsung. Dan Hannah, berdiri disana dengan wajah pucat pasi, seolah aku baru saja menamparnya.

“Apa maksudnya ini? Kalian bertengkar karena aku?”

“Ya, kalian punya affair kan?”

“Mike bilang begitu padamu?”

Aku terdiam, “Dia tidak mengakuinya secara langsung.”

Hannah menarik nafas panjang lalu berkata pelan, “Malam itu, Mike datang menyusul ke bar, karena dia ditelepon oleh bartender bahwa aku mabuk. Todd tidak bisa datang karena sedang bekerja. Mike menjemputku, membawaku pulang ke apartemen. Disana, aku muntah dan pingsan dalam kubangan muntahku sendiri. Aku tidak bangga terhadap itu, oke? Mike memandikanku kemudian menaruhku di tempat tidur. Dia sudah seperti kakak bagiku. Kami memang pacaran dulu, tapi dia sangat mencintaimu, Lizzy!” Suaranya bergetar hebat, “Dan aku masih mencintainya, gila rasanya melihat dia mencintaimu seperti itu, karena denganku, dia tidak merasakan hal seperti itu.”

Sakit rasanya aku melihat Hannah, seorang wanita tangguh dengan rambutnya yang cepak itu menangis tersedu-sedu seperti itu. Hannah yang kukenal selalu riang gembira, walau agak sedikit sinis terhadapku, tapi dia selalu bisa membuat Mike tertawa. Hannah dan Todd bersahabat dengan Mike sejak SMA. Dan aku tak nyaman dengan kegiatan rutin mereka bertiga setiap Rabu malam, minum-minum di bar sampai mabuk. Sebuah segitiga yang tak mungkin bisa kumasuki sampai kapanpun. Membuatku merasa tidak dianggap oleh Mike. Dan bukan hanya aku yang kehilangan Mike. Hannah juga kehilangannya.

Oh Tuhan, aku merindukan Mike.

Semua orang lalu mulai meninggalkan kami, tak nyaman dengan drama dan air mata yang bisa ditonton gratis ini. Todd berdiri dengan kikuk, bingung harus melakukan apa, kemudian dia bergumam tentang sesuatu dan berjalan cepat menuju mobil.
Aku dengan segera mendatangi Hannah, tak ada lagi perasaan benci itu. Hannah dan aku hanya sama-sama kebetulan mencintai Mike. Hanya saja, aku yang beruntung dicintai olehnya, dan dia tidak. Sedih rasanya kalau mengingat itu. Apalagi orang yang kami cintai sudah terbujur kaku.

“Maafkan aku, aku hanya...”

Hannah menjawab dengan suara marah yang bercampur dengan tangis, “Tidak, aku mengerti kenapa kau menyalahkanku seperti itu. Aku tidak menyukaimu, Lizzy. Aku benci padamu.”

“Dan aku juga membencimu, Hannah. Kau selalu bisa membuat Mike tertawa. Dan kalian pernah berpacaran, aku merasa tidak diterima.”

Hannah menggeleng dan menatapku dengan tatapan malu, “Aku sengaja membuatmu merasa tidak diterima, karena aku benci padamu. Aku cemburu padamu. Kau membuat Mike berubah, menjadi lebih baik, sabar, dan lembut. Rasanya seperti melihat manusia yang berbeda, seperti ada alien yang mengambil alih kepribadiannya. Aku merasa kau merebutnya dariku. Aku benci melihatnya menjadi begitu baik, tapi bukan untukku. Bukan untukku.”

Aku memeluknya, dan Hannah meletakkan kepalanya ke bahuku, menangis tersedu-sedu lagi, “Dan aku merasa sangat malu pada diriku sekarang. Aku membenci diriku sendiri. Kalau bukan karena aku yang sudah begitu manja, Mike tidak akan bertengkar denganmu. Mike tidak akan ada disana sekarang. Lebih baik melihat Mike hidup, walau bersamamu, dibandingkan melihat dia mati, sendirian tak tersentuh olehku, oleh kita, oleh siapapun.”

Aku menangis, Hannah pun menangis. Bersama kami menangis. Aku tak tahu sampai kapan kami menangisi sesosok pria tampan bernama Mike. Mike yang begitu mencintai hidup. Mike yang begitu suka menonton pertandingan basket. Mike yang pandai memasakkanku risotto. Mike yang senang menghirup bir sembari bekerja di depan laptopnya. Mike yang senang mengedipkan mata saat memandangku. Mike yang selalu tersenyum lebar ketika melihatku meminjam pakaiannya. Mike, ayah bayiku.

Oh Tuhan...Betapa aku mencintai Mike.

*****

Aku sudah mengepak beberapa barang pribadi Mike ke dalam kardus. Tak mungkin aku akan menyimpannya. Aku hanya akan menyiksa diriku sendiri. Aku tak akan kuat. Dan karena aku mengandung bayiku, aku tak bisa terus-terusan berduka seperti ini. Mike tidak akan menyukainya. Aku nyaris tidak makan apapun sejak kami bertengkar dan dia meninggal. Aku hanya menangis terus-menerus. Dan itu melelahkan.
Sejujurnya aku bahkan merasa pasokan air mataku sudah mengering dan habis. Mungkin kalau aku menangis lagi, yang kukeluarkan adalah darah.

Aku menguap keras, begitu lelah. Yang kubutuhkan saat ini adalah tidur yang panjang dan lama. Aku bisa makan besok, setelah aku merasa lebih baik. Aku sangat bersyukur janinku tidak terlalu banyak menuntut. Aku tahu biasanya pada trimester pertama akan sulit dan menimbulkan mual-mual sepanjang hari.

Ketika kepalaku menyentuh bantal, segera saja aku jatuh tertidur. Namun itu tidak lama, karena tak lama kemudian aku mencium seperti bau busuk dan tidak sedap, membuatku begitu mual dan ingin muntah. Aku terbangun dan apa yang kulihat membuat jantungku berhenti sejenak.

Mike. Di depanku ada Mike. Dan bukan seperti film-film, dimana sang kekasih didatangi arwah kekasihnya yang tampan atau apa. Mike yang ada di depanku mengenakan jas hitam yang sama persis dengan ketika ia dikuburkan. Mike yang ada di depanku terlihat seperti mayat yang sudah diawetkan. Kepalanya terkulai lemas di lehernya, sebelah matanya bahkan sudah tak bisa dibuka. Dan kakinya yang hancur...masih hancur, mengotori lantai dengan lumpur. Seolah dia berjalan kemari, dengan menyeret tubuhnya.

Aku ingin menjerit, tapi tak sanggup. Tidak, ini bukan Mike. Bukan Mike-ku!

“...Lizzy...”

Aku tak bisa menjawab. Air mataku mengalir lagi, dan rasanya aku mengompol saking ketakutannya. Apalagi ketika mayat Mike kembali menyeret kakinya yang hancur mendekat, menuju tempat tidurku, tempat tidur kami, aku menjerit pelan, namun tak ada suara yang keluar.

“...Lizzy...” Kini dia mulai berbicara lagi, suaranya terdengar seperti menggeram. Apakah dia akan memakanku?!

Mayat hidup ini dengan bersusah payah berusaha mengangkat tangannya, mengelus wajahku. Badanku bergetar hebat, aku menjerit dalam hati.

“...Ma....ma...”

“A, apa, Mike? Ada apa?”

“...Ma....kkkkaannn...”

“Kau kelaparan? Kau mau memakanku?”, cicitku ketakutan.

“...Baaa...baayii...kkkkiitttta...”

“Kau mau memakan bayi kita?!”

Sialan, aku begitu panik sekarang, dengan sigap aku melindungi perutku dan menjauh darinya, tapi rupanya tangan zombie ini mencengkram tanganku erat. Tak ada yang bisa kulakukan, selain berdoa dia tidak tertarik memakanku maupun bayiku.

“...Aaakkkkuuu...ccinnttaa...pppaadddamuuu, Lizzy...”

Aku terdiam kaget. Tidak, dia bukan mau memakanku. Dia bukan mau menyantapku mentah-mentah. Mike hanya mau mengucapkan salam perpisahan terakhir.

Kusentuh wajahnya yang rusak, mengelus pipinya yang penuh luka dalam. Aku menatap matanya, satu matanya yang melihatku. Mata itu kelihatan begitu mati, tapi bagaimanapun, mata itu memang milik Mike.

“Kau berjalan sejauh ini, keluar dari kubur hanya untuk mengatakan kau mencintaiku, Mike?”, tanyaku sambil menangis. Oh, rupanya aku masih bisa menangis.

“...Ma....kkkkaannn...”

Aku tertawa kecil, “Oh, dan menyuruhku makan juga?”

“...Baaa...baayii...kkkkiitttta...”

“Bayi kita? Dia sehat, kami meridukanmu, Mike. Aku sangat merindukanmu...”

“...Aaakkkkuuu...ccinnttaa...pppaadddamuuu, Lizzy...”, katanya mengulang-ulang terus. Mungkin dia memang tidak mengucapkan kalimat lain.

“Dan aku sangat mencintaimu, Mike. Tapi aku sudah merelakanmu pergi. Kami akan baik-baik saja. Aku akan terus mencintaimu, Mike.” Aku tahu aku terdengar gila, atau aku memang gila. Tapi aku kemudian mendekatkan bibirku ke bibirnya, ke wajahnya yang tergantung lemah di lehernya itu, dan kukecup mesra. Aku tak peduli baunya, aku tak peduli dengan rasanya, aku tak peduli bagaimana kelihatannya. Yang kutahu ini adalah bibir Mike, pria yang kucintai.

Dan kemudian aku terbangun, tentu saja. Ini semua ternyata hanya mimpi. Mimpi yang begitu aneh dan buruk, tapi herannya begitu melegakan perasaan. Perutku bergemuruh begitu hebat, dan aku tahu, yang begitu kuinginkan sekarang adalah sepiring chicken pot pie yang ada di dalam kulkas. Ketika aku bangkit dari kasur, aku tersentak melihat lantai kamarku yang begitu kotor berlumuran lumpur yang telah mengering. Jantungku kembali berhenti berdetak. Ini semua hanya mimpi bukan?

Atau ini nyata?


Jakarta, 09 November 2012
10.45 p.m.

Truly inspired by My Chemical Romance’s songs, taken from Three Cheers For Sweet Revenge :
 Helena and Cemetery Drive.







Movie Review : Rosemary's Baby


Rosemary’s Baby (1968)
Director : Roman Polanski
Screenplays : Roman Polanski
Cast : Mia Farrow, John Cassavetes, Ruth Gordon, Sidney Blackmer

 Image


Kira-kira di pertengahan tahun 2011 kemarin, di salah satu thread di forum film, yang sedang membahas film-film yang paling menyeramkan sepanjang masa, ada beberapa teman yang menulis Rosemary’s Baby. Gue bukanlah penikmat film horor. Alasannya sederhana : takut. Tapi dari judulnya saja udah bikin gue lumayan penasaran dan mulai mencari-cari sendiri info tentang film ini. Ternyata filmnya lebih ke psychological thriller dibanding hantu-hantuan. Aman ternyata, pikir gue saat itu sampai akhirnya menonton dan membuktikan sendiri Rosemary’s Baby ini.
Pasangan suami istri Woodhouse baru saja pindah ke sebuah apartemen. Sang suami Guy (John Cassavetes) adalah seorang aktor yang sedang menapaki karir dan istrinya Rosemary (Mia Farrow) yang sangat mendukung karir Guy. Awalnya mereka agak kurang senang dengan tetangga mereka, sepasang suami istri tua bernama Roman (Sidney Blackmer) dan Minnie Castevet (Ruth Gordon) yang sangat annoying dan usil. Hingga ketika mereka makan malam bersama dan kemudian Guy tiba-tiba menjadi sangat akrab dengan Roman. Lalu kemudian Rosemary mengandung, dan dia mulai mencurigai bahwa suami dan tetangganya memiliki misi sendiri terkait dengan bayi yang dikandungnya. Apakah itu hanya khayalan Rosemary belaka atau memang kenyataan?

Polanski memulai filmnya dengan scene pemandangan kota New York dan suara seorang wanita bernyanyi lullaby. Tensi ketegangannya dan seramnya bahkan sudah dimulai dari situ. Gue ga bisa mengenyahkan perasaan ketakutan walaupun nyaris tidak ada sosok menyeramkan disini (yang justru malah semakin menakutkan). Kita sebagai penonton diajak untuk ikut merasakan ketakutan dan kecurigaan Rosemary dari awal hingga akhir. Dari sisi akting, Mia Farrow tampil sangat meyakinkan. Membuat kita bertanya-tanya apa benar yang dia rasakan sepanjang film ini adalah kenyataan apa tidak. Dan lawan dari akting memukau Mia adalah Ruth Gordon, yang berakting sebagai tetangga paruh baya yang sangat annoying sekaligus protektif namun ternyata menyimpan rahasia. Dan jangan lupa dengan endingnya yang sangat di luar dugaan. Bener-bener membuat gue menobatkan Rosemary’s Baby sebagai salah satu film yang sangat disturbing sekaligus menyeramkan. Believe me.
Overall : 4,9/5 for me.

Trailer :