Tampilkan postingan dengan label Intermezzo. Tampilkan semua postingan

Melihat Kuatnya Perempuan Dari Kacamata Film



Menjadi seorang perempuan adalah hal pertama yang menjadi identitas gue, bahkan sebelum nama. Dalam 26 tahun terakhir, gue belum terpikir sama sekali untuk merutuki identitas yang ini. Terlahir sebagai seorang perempuan adalah keistimewaan tersendiri. Kita dianugerahi banyak tugas sekaligus berkah. Kita bisa memilih untuk memakai warna dan pakaian warna apapun tanpa takut dikasih cap "banci". Pakai celana buat perempuan gak aneh, coba kalau dibalik. Perempuan bisa misah misuh dan ngasih alasan lagi PMS. Perempuan dikasih cuti 1 hari setiap bulan kalau sedang menstruasi hari pertama. Perempuan diberkahi desain tubuh yang memungkinkannya untuk mengandung seorang bayi hingga 9 bulan.

Tuh kan, kurang dahsyat apalagi?

Walau begitu, kadang menjadi perempuan bisa jadi tantangan tersendiri. Apalagi ketika lo tinggal di negara yang sistem patriarki-nya kuat. Sistem dimana para lelaki menjadi sentral dalam kehidupan bermasyarakat. Sistem dimana wanita diatur oleh norma-norma yang mengharuskan mereka memenuhi banyak syarat. Anak perempuan itu harus nurut, duduknya ga boleh ngangkang, dan lain sebagainya. Istri ideal itu harus bisa ngurus rumah, suami, dan anak sekaligus tetap terlihat cantik biar suami gak jajan di luar. Dan lain sebagainya.

Yah, apa yang lo harapkan dari sebuah negara yang salah satu lembaga negaranya mewajibkan tes keperawanan bagi perempuan?


Yah, gue sih ga tau sama lo. Tapi gue cukup tersinggung sama potongan tweet di atas. Gimana gak, secara desain ergonomis tubuh aja, Tuhan menciptakan tubuh kita agar kuat menahan beban saat mengandung. Belum lagi potensi kematian saat proses melahirkan. Semuanya tidak bergantung pada orang lain. Itu baru dari segi anatomi tubuh. Belum lagi, perempuan dituntut punya mental yang kuat, agar ia bisa membesarkan sekaligus mendidik anak-anaknya. Potensi terbesar suatu bangsa adalah generasi mudanya, dan orang pertama yang mendidik mereka adalah ibunya.

Meremehkan wanita sebagai makhluk yang lemah atau tak mandiri berarti meremehkan ibunya sendiri.

Untungnya ga semua orang punya pikiran sempit kayak gitu. Malah, perempuan jadi inspirasi untuk banyak karya seni.

Bayangkan kalau bukan Mona Lisa yang jadi inspirasi utama DaVinci saat itu. Atau Pattie Boyd yang ditasbihkan sebagai muse oleh George Harrison dan Eric Clapton di lagu "Someday" dan "Layla".

Berkaitan dengan Hari Wanita Internasional yang baru lewat sebulan lalu, gue ingin sedikit bercerita mengenai kekuatan perempuan lewat kacamata film. Bukan film sembarang film, karena kebetulan yang akan gue ceritakan ini datang dari tanah air sendiri. Yang pertama adalah film pendek, satunya lagi film panjang yang gue nobatkan jadi film Indonesia terbaik tahun ini. Keduanya sama-sama bercerita mengenai betapa powerful-nya seorang perempuan.

* * * 


Sendiri Diana Sendiri (Following Diana)


Diana (Raihanuun) adalah seoranv istri dan ibu yang ideal. Hari-harinya sibuk mengurus rumah, menyiapkan kebutuhan suami, serta menemani dan mendidik anak semata wayangnya. Suatu malam, sang suami pulang dan memberikan ilustrasi power point  mengenai keputusannya untuk menikah lagi. Sang suami bahkan berceramah panjang lebar, bahwa untuk menjadikan Diana benar-benar wanita ideal, ia harus bisa berbagi dan mengikhlaskan suaminya kepada wanita lain. Catet ya : power point!!! Pengecut macam apa yg mau poligami aja pake presentasi. Lo pikir meeting?!

Serius, kalo sampe gue denger lagi ada laki-laki ngomong kayak gitu, udah gue lelepin mulutnya pake sendal jepit yang udah dicemplungin di lumpur Lapindo.


Di satu sisi, Diana tentu aja ga rela. Dia sibuk bertanya-tanya apa yang salah dengan dirinya, sampai suaminya tega mau nikah dengan wanita lain. Di sisi lain, Diana ga siap kehilangan suaminya secara drastis. Kasihan anak dan keluarga besarnya. Pergumulan batin ini yang disorot dalam durasi selama 45 menit.


Diana Sendiri Diana adalah sebuah bentuk keresahan Kamila Andini terhadap kehidupan berumah tangga di sekitar kita. Which is true, ada banyak perempuan yang suaminya ujug-ujug menikah lagi, dengan atau tanpa izin. Bagaimana budaya patriarki dalam masyarakat menempatkan Diana sebagai pihak yang bersalah. Salah, karena kekurangan suatu hal yang membuat suaminya pergi ke pangkuan wanita lain.

Lewat caranya sendiri, Diana lalu berontak. Keadaan yang terjadi padanya memaksanya putar otak demi kelangsungan hidupnya dan putranya. Diana memilih untuk bekerja. Diana berusaha menjadi ibu sekaligus ayah bagi anaknya, ketika suaminya lebih sering berada di rumah istri keduanya. Walau kepercayaan dirinya sempat hancur, Diana pelan-pelan kembali mendapatkan kekuatannya. Ia kini percaya kalau ia mampu berdiri sendiri, mandiri, dan kuat demi putranya. Bahwa menjadi seorang perempuan ideal tidak didefinisikan melalui penilaian masyarakat semata.

Percaya deh walau cuma 45 menit, tapi film yang satu ini sukses bikin gue nangis termehek-mehek. Karena gue related banget sama karakter Diana. Gue tahu banget gimana rasanya ketika suami lo ujug-ujug mau nikah lagi. Lo bertanya-tanya, kesalahan fatal apa yang lo lakukan. Lo ngerasa sangat gak berharga, baik sebagai wanita dan sebagai manusia. Lo tetap harus bisa beraktifitas seperti biasa, karena ada anak-anak lo yang polos dan ga tahu apapun. Dan lo ga bisa cuma diam berharap semua ini akan segera berakhir, karena hal utama sekarang adalah gimana caranya lo bisa survive sendirian, demi anak-anak lo.

* * *


Siti


Siti (Sekar Sari) adalah seorang perempuan yang hidup di kota kecil di pinggir Pantai Parangtritis. Di pagi hari, ia sibuk mengurus dan membujuk putranya yang malas sekolah. Lalu ia berjualan peyek bersama ibu mertuanya. Dan di malam hari, ia menemani tamu-tamu pria di tempat karaoke remang-remang. Pekerjaannya ini bukan tanpa alasan. Sebagai berperan seorang ibu, ia juga berperan sebagai kepala keluarga, karena suaminya mengalami nervous breakdown hingga hanya bisa berbaring diam dan tidak bisa berfungsi sebagai pria normal. Padahal, mereka dikejar-kejar hutang, yang harus segera dilunasi, tak peduli keadaan mereka.

Disorot dalam warna monokrom hitam dan putih, film yang naskahnya ditulis dan disutradarai oleh Eddie Cahyono ini punya kepahitan luar biasa dalam bercerita. Kisah Siti sendiri begitu getir sekaligus nyata terjadi. Partner gue, Ndoro Editor, berhasil meyakinkan gue bahwa di kisah seperti Siti ini banyak terjadi di masyarakat. Perempuan seperti Siti harus menutup telinga dengan omongan orang-orang di kampungnya, karena pilihannya hanya antara bisa makan dan bayar hutang atau mati.

Selain terasa begitu realistis, akting super keren dari Sekar Sari bakalan bikin lo meringis nyeri. Dengan begitu banyak masalah yang mendesak, Siti terlihat begitu tegar walau sinar matanya begitu nanar. Ia bagaikan sebuah granat, siap meledak begitu pemicunya dicabut. Ia marah pada keadaan. Marah karena suaminya tak berfungsi secara fisik, mental, dan biologis. Marah karena hutang suaminya yang terpaksa ia pikul. Marah karena suaminya malah ngambek karena pilihan profesinya.

Beban berat yang ia pikul membuatnya begitu rapuh. Ia ingin menjadi wanita normal lainnya, punya seseorang yang bisa melindunginya.  Ia rindu dengan suaminya. Rindu ingin disentuh dan diperlakukan sebagai wanita. Kerinduannya hadir dalam sosok Gatot, polisi berkumis baplang yang tampan dan tergila-gila padanya. Tapi, bahkan sosok sempurna seperti Gatot tak bisa memenuhi rasa rindunya. Satu-satunya hal yang ia inginkan adalah mendengar suaminya berbicara lagi padanya.


* * *

Siti dan Diana hanyalah contoh kecil dari wajah perempuan di dunia. Perempuan-perempuan yang ditempa oleh kerasnya kehidupan. Perempuan-perempuan yang menolak takluk oleh cobaan hidup. Perempuan-perempuan tegar, yang berusaha untuk tetap tersenyum, sesulit apapun, demi anak-anak mereka. Gak peduli betapa sulitnya, melihat wajah anak yang tertawa bahagia, adalah segalanya.

Masih berpikir wanita adalah makhluk lemah yang ga bisa ngapa-ngapain? Think again!!


[Misc] [Feature] : My Own Liebster and Sunshine Award



Sebenernya sejak masa liburan lebaran kemaren, Natanael udah ngetag gue buat ikutan award ini. Dan kemudian sohib gue Merista juga ikutan ngetag gue. Udah lama kepengen bikin juga terus kemudian lupa. Sampai akhirnya kakak Haris (@oldeuboi) juga ngetag gue dan seolah mengingatkan gue buat tugas mulia ini (halah...). Since there is no good movie worth it for midnight viewing and i'd prefer to write this before watching season 3 of Game of Thrones, so here we go...

Sekilas info aja, Liebster and Sunshine Award ini merupakan sebuah ajang bagi para bloggers amatir dan pemula yang memiliki kurang dari 200 followers. Liebster sendiri berasal dari bahasa Jerman yang berarti 'sweetest', 'kindest', 'nicest', 'dearest', dan semuanya yang paling unyu-unyu kayak gue. Sebelum gue memulai ini, ada aturan yang harus gue penuhi dan gue bakalan ngejabarin disini :

1. Acknowledge blogger(s) who nominated you.
Big thanks for Nael, Mery, and kaka Haris, off course ;)

2. Pasang logo Liebster Awars di postingan kamu.

3. Jawab 11 pertanyaan yang diajukan oleh blogger(s) yang menominasikan.
And there, i have 3 so it's triple the questions. Le sigh me...

4. Tulis 11 fakta random tentang dirimu.

5. Buat 11 pertanyaan untuk blogger lain yang dinominasikan.

Dan sekarang, mari kita mulai...

From Natanael :


1. Tell me your favorite local director and their movie you'd  recommended?
Ummm....My most favorite Indonesian director would be Joko Anwar. Because i really a big fans of thriller psychological genre and he gave it to us here in Indonesia, where this genre seems lack of attention. You might want to try Pintu Terlarang. It's bloody awesome...

2. Sequels, yay or nay?
Depend on the original movie, I guess. Sometimes a movie deserve to make the sequel. Like The Incredibles. But most of the times, the sequel seems like forced to be made. We're talking about money so yeaaaa.......no comment.
3. What movie you hate but everyone seemed to love?
D'oh....Avatar. Over-rated!

4. What movie you love but everyone seemed to hate?
Recently...Only God Forgives (2013). Most people I met hate it. But i kinda enjoying it, hahahah.

5. How many movies you usually watch in a month?
Ummm, depend on my mood actually. But make it consideration as....15 movies, perhaps.

6. How many many times you usually go to cinema?
About 5-6 times maybe. And most of them are for free for media screening. Can't help it, sorry guys, hahaha.

7. Style or substance?
Depend on how the movie itself, so I guess it's both.

8. Foreign film, yay or nay?
Yay baby!

9. Vague cliffhanger or happy ending?
Call me a sick-o, but i love vague cliffhanger. Means that somewhere in other universe dimension, the movie really not ending, and we can guess it, with all the wildest possibility. And that the joyous part.
10. Who's your favorite villain?
That would be hard...I love villain!
That would be....John Doe, portayed by Kevin Spacey from Se7en by David Fincher. Creepy. Deadly. And looked harmless...which made him looked more even deadly.
But also, I give an honorable mention to Hannibal Lector (Hannibal trilogy), Loki (Thor), Patrick Bateman (American Psycho), Joker (The Dark Knight), Anton Chigurh (No Country For Old Men), and Tyler Durden (Fight Club), etc.



11. Who's your favorite movie pet?
Dory from Finding Nemo! Just keep swimming....just keep swimming....swimming, swimming, swimming~~~~~~~


From Merista Kalorin :

1. The oldest movie you ever watch?
Hmmm....Since i still don't have the right mood for watching The Cabinet of Dr. Caligari (1920) yet, so the oldest movie i ever watch is Metropolis (1927) by Fritz Lang. Awesome. That's what we called style and substance going through together...

2. What's your fave soundtrack? Gimme 5!
Okay madame....Here are the list :
a. Festival by Sigur Ros (127 Hours)
b. Svefn g Englar by Sigur Ros (Vanilla Sky)
c. Desolation Row by My Chemical Romance (Watchmen)
d. Back in Black by AC/DC (School of Rock, Iron Man)
e. Til Kingdom Come by Coldplay (The Amazing Spider-Man)


3. Coming of age or road movie?
Off course i love coming of age movie! It's amazing that you can observed a character in a movie and you growing and matured with them. But then there is one coming of age/road movie that i loved...Les Geants from Belgian. Amazingly hurt :(.

4. The most awesome director?
There are so many! But my favourite auteur is David Fincher. With his dark approached in his movies, he never failed amazed me. Look at Se7en, it gave us a creepiness about fanatism and how people reacted with that. Or Fight Club, when he brought us to the madness yet it simply make sense to me. And trust me...The Social Network would be very lame and boring without his 'touch', literally.

5. Peter Parker or Bruce Banner?
Both are geeks. One transform into a huge and greeny creature and one choosed tight red and blue spandex to hiding his identity....Tough callm buddy. But since Peter Parker have a very witty and sarcasm sense of humor, i choose him over Banner.

6. Favourite movie from Oscar winner?
There are a lot T__T, but if i had to choose, that must be Forrest Gump (1993). Life is like a box of chocolate, you'll never know what you gonna get.

7. Dewi Persik atau Nikita Mirzani?
WHAT KIND OF QUESTION IS THIS, MERY????????????!!!!!!!!!! LIKE, SERIOUSLY???????????????????????!!!!!!!!!!!!!!!
JULIA PEREZ OF COURSE! HAH!


8. Favourite film's setting and in what movie?
Oh you know how i loved New York....And i loved it when Steve McQueen gave a different look about New York in Shame (2011). In Brandon's point of view, i can see miserable and loneliness everywhere...

9. Favourite film based on novel?
Harry Potter saga. No need to ask why.

10. Favourite film based on true story or event?
The Pursuit of Happyness (2006) by Will Smith and his (overworried's face) son.

11. What's your most favorite movie?
It's like choosing which one are our favorite child :"(.

From Harris :

1. Disney or Ghibli?
Both are amazing in their own way. But i might choose Disney because i haven't watch Ghibli's unless Spirited Away so...someone, slap my face!

2. Horor, love or hate it?
I hate it. I don't like to being threatened and scared by a ghost or any non sense creature.

3. Romantic-Comedy or Drama-Romantic?
Both. I am a hopeless romantic so i love both. Hahahaha.

4. Keanu Reeves, love or hate it?
Are we talking about that hunky guy in Speed? I love it!

5. Stephen Spielberg, cinema maestro or overrated director?
He is a maestro...for being overrated. Okay, now all Spielberg's fans will kill me.

6. Korean Drama, yes or no?
No....because they will made me drown in my own tears. Darn it, Wedding Dress!

7. Nudity in films, yes or no?
Depends on the substance of the movie itself i guess...
But whenever Fassbender get naked, i'm in!


8. Titanic, best film ever or no?
Hell no.

9. What crossed in your mind when you heard or read : Kate Winslet?
Near....Far....Wherever you are.....

10. Named a movie you've watch more than 5 times.
Forrest Gump, Green Mile, Saving Private Ryan, The Man In The Iron Mask, Mean Girls, Shawshank Redemption, Never Been Kissed, all Disney/Pixar movies (unless Cars 2, Brave, and Monster University), Drive, Shame, Spider-Man trilogy...okay, i lost my counts.

11. Would you prefer to watch alone or along with others people?
Again, depend on the crowd and the movie itself. Some movie are awesome to watch it along with others, like Iron Man 3, World War Z and Pacific Rim, recently. But i loved to watch my favourite genre alone.

Eleven Random Facts About Me

1. Dressed in my own mood. Can be very girly with dress and heels but also can be very boyish with sneakers and ripped jeans.
2. Coffee junkie. Drink them in different amount and case. For casual day : 1 time. For writing mood and hectic time : 3 - 4 times a day.
3. I am a social butterfly but sometimes i loved being alone in the middle of crowd.
4. In love with yellow. It's describe my personality best.
5. Want to backpack and travel around the world someday. Especially Italy, because I want to eat all of the food in there.
6. Indecisive. Need a long time even to decide which food should ordered.
7. Gadget freak. The first and last thing i do everyday is checking on them.
8. Hate ballad songs, it will drowned me into sad and blue mood. I'd rather heard the depressive one.
9. Have a shoe and lingerie fetish.
10. Always fall for night's light. And beach. And breathtaking skies.
11. Proud single fighter for both of my prince and princess : Ayden and Aimee.

The Sunshine Award


1. Favorite Actor : Michael Fassbender, off course.

2. Favorite Actress : Emma Stone

3. Favorite Auteur : David Fincher

4. Favorite Film : Shame

5. Favorite TV Show : err....Running Man, hahaha.

6. Favorite Music Video : My Chemical Romance - The Ghost of You

7. Favorite Album : Fall Out Boy - From Under The Cork Tree

8. Favorite Book : Haruki Murakami - Norwegian Wood

9. Favorite Drink : Coffee Latte

10. Favorite Food : Anything with cheese in it!


And here are the list of my 11 Questions :
1. What is the most disturbing movie you have ever watch?
2. What movie you have to watch before you die?
3. If you can choose to be in a movie, what character would you choose? Why?
4.  Name a movie that you would like to direct!
5. Who do you think the coolest actor/actress to hang out with you?
6. Name an actor or actress that you want to kiss!
7. Imagine you woke up in the morning, where are you and who's beside you?
8. Describe your movie taste in 5 words!
9. Which one do you think greater : Harry Potter vs The Lord of The Rings?
10. Do you have a fetish to any famous creatures in Earth?
11. Describe your fetish then, hahaha!

And I give this order to you, guys :
4. Kaka Onta dan Gila Filmnya
5. Blogger film favorit gue : Candra Aditya
6. The Not So Lucky Ramadhan
7. Kakak Hem's Cullen
8. Senior dengan alis tebal tercinta, kang Arbie
9. Penulis paling pervert, Bang Opan



[Misc.] From Under The Cork Tree then Saving The Rock and Roll




Buat beberapa orang yang follow gue di twitter ataupun pernah membaca salah satu tulisan gue disini, pasti ngeh kalau gue adalah salah satu penikmat musik dari band asal Illinois, Amerika Serikat, Fall Out Boy. Band yang beranggotakan Patrick Stump (vokal + gitar), Pete Wentz (bass), Andy Hurley (drum), dan Joe Trohman (gitar) ini dibentuk di tahun 2001. Album pertama mereka adalah Take This To Your Grave si tahun 2003, nama mereka justru melejit melalui album keduanya, yang juga merupakan salah satu album favorit gue sepanjang masa : From Under The Cork (2005).

From Under The Cork Tree (2005) : One of the  most memorial and influent album in my whole life


Saat itu, saat dimana MTV masih waras dengan banyak memutarkan video klip dari musisi-musisi keren, adalah saat dimana gue mengenal mereka. Ya, lagu Sugar We're Goin' Down merupakan lagu pamungkas dari album mereka. Dan memang, kekuatan FOB ada ada duet Pete-Patrick, dimana Wentz menulis lirik dan Stump yang menjadi komposernya, album From Under The Cork Tree kebanyakan berisi lagu-lagu beraliran emo tentang patah hati. Is it any good? Well hell yea! Buat yang belum dengerin, mungkin bisa nyobain denger Get Busy Living or Get Busy Dying, XO, Dance, Dance, I Slept with Someone in Fall Out Boy and All I Got Was This Stupid Song Written About Me, dan Nobody Puts Baby In The Corner.


Infinity on High cover album


Lalu kemudian popularitas mereka semakin besar, namun sayangnya, hal itu lebih banyak disebabkan oleh skandal si frontman Pete Wentz. You name it lah, kencan dengan banyak artis sexy (termasuk Lindsay Lohan) lalu puncaknya ketika foto (maaf) tititnya beredar di interner tentu membawa mereka ke ketenaran yang bagaikan 2 sisi mata uang. Lalu di tahun 2007 dirilis Infinity on High, dengan single pamungkas mereka This Is Ain't Scene, This An Arms Race. Video klipnya sarkastis, justru menertawakan skandal-skandal yang mereka lalui. Dan untuk albumnya sendiri, bekerja sama dengan Babyface dan Jay Z, albumnya sendiri merupakan kombinasi emo-punk dengan R&B dan soul, banyak beatnya yang cukup enak. Coba dengerin Thnks Fr Th Mmrs, Thriller, dan The Carpal Tunnel of Love. 

 

And then, Folie a Deux dirilis setahun kemudian. But this one might the less favorite from me, tapi gue sendiri sebenarnya suka dengan gaya musikalitas mereka yang lebih dewasa dengan lirik yang jauh lebih sarkastis dan banyak menyentil masalah moral dan politik. Mungkin karena gue agak 'kaget' aja kali ya dengan perubahan ini, walau kalau untuk sisi vokal, Patrick Stump memang semakin dan semakin keren aja. Buat lagu favorit gue, coba denger : American Suiteheart, 27, I Don't Care, dan What a Catch, Donnie. 

Sampai pada akhirnya di tahun 2009, mereka mengumumkan untuk hiatus dan membuat fans-fans mereka menunggu dalam ketidakpastian, termasuk gue. Waktu itu gue pikir, walau statusnya hiatus, bisa jadi ada kemungkinan mereka bakalan bubar. And as a big fan, I was scared. Trohman dan Hurley membuat sebuah band beraliran heavy metal : The Damned Things, Wentz bergabung bersama Bebe Rexha membentuk band beraliran punk-ska bernama Black Cards, sementara Stump membuat sebuah solo album Soul Punk dimana dia menulis dan menkomposeri semua lagunya, bahkan termasuk memainkan semua instrumen di albumnya. Transformasi Stump juga berupa fisik, dimana selama ini dia dikenal sebagai vokalis bertubuh tambun dan geeky, lalu tiba-tiba berubah menjadi lebih kurus dan mulai menarik perhatian banyak orang (Although, rupanya justru banyak yang mencemooh perubahan fisiknya. Stump menulis sebuah blog post berjudul We Liked You Better Fat: Confessions of a Pariah, dimana banyak fans yang menghinanya saat konser solonya dengan mengatakan , “We liked you better fat!”).

"We liked you better fat!" - angry fans shouted after seeing Stump like this


Desas-desus kembalinya Fall Out Boy mulai berhembus kencang di tahun 2012 namun masing-masing dari mereka menyangkal akan hal itu. Gue sudah mulai H2C (njirr, jadul :p) dengar kabar ini, tapi karena belum ada komentar yang official jadi jelas gue mematikan pengharapan ini, dan terus move on sama hidup gue. Iye, lebay gue tahu. Sampai akhirnya di 4 Februari 2013, akhirnya FOB membuat pernyataan resmi bahwa album terbaru mereka akan berjudul “Save Rock and Roll”, dan merilis single pertama My Songs Know What You Did In The Dark (So Light 'Em Up) yang terdengar super kinky. Dan gue awalnya kaget melihat arah musikalitas mereka yang lebih dan dewasa. Dan kesan yang gue dapatkan dari lagu ini, mereka terdengar lebih 'clean and sleek' dibandingkan dengan album-album sebelumnya yang terasa lebih 'rebel' dan 'raw'. Lalu kemudian di bulan April, mereka merilis albumnya secara full dan gue benar-benar cintaaaaaa sama lagu-lagunya!

The cover reflects on how

Any goods from here? Well, I almost love all the tracks, baby! Yang gue sangat kagumi adalah dimana suara vokal dari Stump yang benar-benar bertransformasi, jadi terasa lebih powerful dan crisp. Walau permasalah artikulasi masih belum-belum jelas (Buat pendengar yang berbahasa non-Inggris, artikulasi Stump terkadang memang agak kurang jelas. Kecuali kalo lo sudah hapal liriknya), tapi toh hal ini ditutupi oleh musik mereka yang semakin terdengar dewasa. Dan satu hal, album ini terasa begitu personal, menggambarkan perjuangan yang harus dilalui setiap member, terutama Wentz yang sempat kecanduan Xanax dan Klonopin dan bercerai. Hal ini kemudian terasa sekali dari segi lirik yang ditulis oleh Wentz. Seperti yang gue tulis di atas, lirik lagu-lagu FOB memang banyak yang terdengar sinis, penuh kemarahan akan relationships, namun di album terbaru ini, justru terdengar lebih kalem dan tenang, juga dewasa.

My suggestion : The Phoenix, Young Volcanoes, Alone Together, Where Did The Party Go, Rat a Tat (feat Courtney Love), dan Save Rock and Roll (feat Elton John). Dan terinspirasi dari Daft Funk dengan Interstella 5555: The 5tory of the 5ecret 5tar 5ystem-nya. FOB membuat The Young Blood Chronicles, yaitu musik video yang dibuat saling sambung-menyambung, membentuk sebuah timeline cerita yang utuh. Dimulai dari My Songs Know What You Did In The Dark, lalu berlanjut ke The Phoenix, lalu Young Volcanoes. Kisah diakhiri di Alone Together, dengan memberikan detail dari chapter yang pertama : My Songs. Isn't it cool enough?

 
First Chapter of Young Chronicle : My Songs Know What You Did In The Dark



 Second Part, The Phoenix, a constantly eargasm for me!



Third part : Young Volcanoes. Alert : It's Explisit and Contain Some of Disgusting Scene!

The Last (so far) of Young Blood Chronicles


[Event] My 2012's Journey

Gue akan memulai tulisan ini dengan ucapan dari semua mainstream di muka bumi ini, "First chapter : the new beginning." Yep, happy new year! Akhirnya, ketakutan semua umat manusia tidak menjadi kenyataan. Terbukti, paranoid mengalahkan akal sehat. Gak kepikiran bahwa suku maya mungkin bosen aja memahat kalender di batu, so they stopped at 2012. Ha. Ha. Ha. #krik

Entah kenapa, gue jadi agak sedikit ketagihan nulis curhatan di blog. Semestinya, sebagai seorang self-acclaimed movie lover, gue mestinya membuat daftar Best Movies atau Worst Movies in 2012. Atau bahkan Most Anticipating Movies in 2013. But no, I'll let it all flow. Maybe I'll make it, or not. But I'm waiting for Oldboy remake, for your consideration :p. Oh, dan film apapun yang ada Gosling dan Fassy, tentu saja.

Tahun 2012 ini bisa disebut sebagai tahun perubahan dalam hidup gue. Perubahan positif, tentu saja, kontras dengan ramalan buruk tahun ini. Ada begitu banyak perubahan ekstrem, yang terjadi begitu cepat, tapi juga begitu menyenangkan. Life is like a roller coaster sometimes, there's ups and downs. But for this year, it's the time for me to going up up and away.

Dari segi sinematik, mungkin tahun ini adalah salah satu tahun yang paling memuaskan. Di paruh awal tahun, mungkin gue kelewatan banyak film bagus di bioskop. Dan itu termasuk Prometheus dan The Dark Knight Rises. Gue terbiasa untuk tidak ikut-ikutan hype film bioskop, mungkin karena gue adalah ibu dari dua anak, jadi gue sedikit terlalu memilih-milih film yang bisa gue tonton bareng anak-anak.

Tapi untungnya, melanjutkan tahun 2011 kemarin, di tahun 2012 gue melanjutkan petualangan sinematik gue dengan film-film yang sudah masuk ke dalam daftar wajib gue. Akhirnya gue menonton 12 Angry Men dan Vertigo, dua film klasik yang ternyata melebihi ekspektasi gue. Yang pertama adalah salah satu karya legendaris dari Sydney Lumet dengan penceritaan yang begitu kuat. Yang kedua adalah salah satu karya terbaik dari Hitchcock, yang begitu mistis dan thrilling di saat bersamaan. And I'm promise to myself, di tahun 2013 nanti gue akan semakin rajin menonton film-film klasik dari Watchlist gue, mulai dari Singin' In The Rain.

Tahun 2012 juga gue jadi semakin rajin menonton film-film non Hollywood. Ada banyak judul film bagus dari Korea dan Jepang, walau mungkin belum bisa mengalahkan kecintaan gue akan Oldboy dan Confessions. Ada Wedding Dress yang mampu membuat gue nangis termehek-mehek, Beck yang sanggup membuat gue ber-headbang  dan menggelinjang ria karena gue suka sekali sama manga-nya, atau Jibero yang begitu sederhana tapi menyentuh, dan membuat gue kangen sama nenek dan oma gue.

Dan karena gue sekarang tinggal di Jakarta, praktis jadi ada banyak festival-festival film yang tak pernah gue hadiri sebelumnya. Seperti misalnya Festival Film Korea di Taman Anggrek, yang hari itu gue tonton adalah Idol tentang perjuangan sebuah grup idol dan Quick yang bisa jadi adalah versi parodi dari Speed. Di akhir tahun ada Festival Film Prancis, tapi gue hanya menonton 1 film berjudul Beloved, itupun karena ditayangkan setelah event "What's Next After Blogging" yang diadakan oleh Muvilla.

Sayangnya, keinginan gue untuk menyaksikan Inaff tidak terlaksana, tapi ada Europe on Screen, yang ditayangkan selama seminggu di banyak venue di Jakarta. Gue beruntung bisa menonton beberapa, seperti El Bulli dan Me,Too. Sayang gue ketinggalan Bullhead, Loose Cannons, Rust and Bones, dan Amour yang jadi highlights dari festival ini, but I've finally got some of the titles, just wait the review, fufufu.

Ada apa lagi ya di tahun 2012 ini? Oh, akhirnya gue ikut juga dalam acara nonton bareng dengan teman-teman dari komunitas yang selama ± 1,5 tahun ini jadi rumah baru gue. Akhirnya kopi darat juga sama banyak teman yang selama ini mungkin hanya sekedar nama di layar gadget gue. Nonton bareng pertama gue adalah Skyfall bersama Layar Tancep, yang diadakan bertepatan dengan web launching mereka. Itu adalah kali pertama gue mengembara ke daerah Gajah Mada sendirian, dan untungnya gue gak nyasar. Nonton bareng yang lebih besar massanya adalah sewaktu film The Hobbit. To be honest, ini adalah pengalaman pertama gue nonton 3D di IMAX, dan hasilnya? Amazing. Beyond amazing.

Lalu apa film terbaik buat gue di tahun 2012 ini? Mengingat ada banyak film yang sudah gue tonton, gue berjanji untuk mulai membuat daftar "Done Watching" atau sesuatu seperti itu di tahun 2013, supaya gue tidak melupakan apapun. Lebih terorganisir lah ya, hehehe. Back to the topic, film terbaik buat gue di tahun 2012 ada banyak.  Senang di tahun 2012 film Indonesia mulai menggeliat, dan yang terbaik bagi gue adalah Modus Anomali yang benar-benar WTF. Super fucking my mind, love it. Lalu ada Life of Pi, dengan visualisasinya yang super indah dan eyegasm. Tapi film terbaik buat gue adalah Drive dan Shame, yang baru gue tonton di awal tahun 2012. Drive begitu menghipnotis dan menginspirasi gue, ketika Refn dan Gosling memperkenalkan gue sebuah bentuk romantisme yang baru. Dan Shame? Shame adalah saat-saat dimana seorang Michael Fassbender mengeskplorasi kekuatan akting (dan tubuh) terbaiknya. Saat-saat dimana gue bahkan tak tahu mau bicara apa. Dan saat-saat dimulainya era Fansbender. For yours only, Fassy *kedip*

And I know, I've been telling this many times, but in 2012, I met with this girl. A very tough girl, who loved classic movie so much. Berawal dari bertukar pin BB, it ended up with (almost) non stop BBMing each other. Dengan begitu banyak perbedaan, ternyata kami berdua bisa jadi begitu akrab dan cocok. Obrolan ringan dari mulai film, buku, masalah pekerjaan, cowok, dan kehidupan, seperti tidak pernah ada habisnya. She is one of my biggest supporter, and my bestfriend. And she always said this, "If i don't support you at your worst, then i don't deserve you at your best.." I don't know how to say thanks properly, but thank you for stay with me, when I need to make one of the biggest decision in my life. I owed you big, Merista Kalorin ;).

Tahun 2012 menjadi awal bagi gue untuk mulai serius dengan hobi menulis gue. Sejak dulu gue selalu suka menulis, tapi tidak pernah serius, atau bahkan merasa tidak ingin menulis. Ada banyak cerita yang gue buat, yang hanya gue yang baca, lalu kemudian hilang entah kemana. Kini gue mulai belajar untuk menulis fiksi, dimana kebanyakan masih berupa cerita pendek. Dari sisi tema, gue akhirnya mengenali tema-tema yang suka gue tulis. Dari sisi teknis, masih banyak yang harus dipelajari.  Banyak sekali, but when you do something you like, it won't hesitate you. You'll glad to drown in your own fantasy. Tahun ini ada total 7 cerpen : "9 Crimes", "Jeritan Tanpa Suara", "Rebirth", "Porcelain Doll", "Hello, Goodbye", "Cemetery Drive", dan "Butterfly". Gue harap di tahun 2013 ini gue bisa lebih konsisten menulis fiksi, dengan banyak peningkatan dan eksplorasi di tema-tema lain.

Another my first cinematic experience ada di akhir tahun, ketika gue bersama teman-teman akhirnya mengambil satu langkah besar untuk membuat film. And it's not easy, obviously. Di film yang berjudul Titik Balik ini, gue bertindak sebagai penulis skenario. Mungkin ini adalah skenario kedua yang gue tulis, tapi buat gue, this is my first time, karena gue merasa lebih bebas untuk menuliskan premis yang sudah disepakati teman-teman. Dan ternyata, menulis skenario itu sama menyenangkannya dengan menulis review. Sebuah ilmu yang baru. Di tahun 2013 ini, gue diajak terlibat sebuah produksi film indie oleh teman yang gue kenal dari social media. Dan ya, gue menulis skenario lagi, berdasarkan cerpen yang gue tulis sendiri. Still can't believe it!

So this is my way to say goodbye properly to 2012. What a good year, a good life. And still can't believe that movie can brought me at this point. I'm 23 years old and now I'm living my dream. And one of my obsession is watching more movies. Can 2013 will be more generous and adventurous than 2012? Only God knows.

So long, partner!

Sedikit Kisah di Balik Proyek "Why I Love Movie"


Selamat Natal 2012 bagi yang merayakan dan Tahun Baru 2013, teman-teman semuanya! Syukurlah, ternyata ramalan film 2012nya Rolland Emerich ga jadi kenyataan ya! Mudah-mudahan ga ada ramalan disaster melalui film lain, udah cukup buruk hidup di Jakarta dengan begitu banyak teror soal zombie dimana-mana. But don't worry! Zombieland is available, in case you want to learn how to survive. And I guess, our first resolution in 2013 is cardio. Period.

Anyway, memperingati tahun baru ini, gue mau cerita sedikit mengenai proyek rahasia antara gue sama temen-temen sesama blogger, dengan judul "Why I Love Movie". Simple aja sih sebenernya. Ini berawal dari gue dan Mery, yang saat ini sebenernya punya proyek rahasia berdua juga (tunggu tanggal mainnya!). Karena ternyata pada prosesnya semakin mendekatkan kami sebagai sahabat, gue berpikir untuk membuat proyek-proyek tulisan lain, yang melibatkan massa lebih banyak. Tapi ide proyek itu belom ada, jadi gue pending dulu untuk sementara. 
















Lalu, pada suatu malam hujan yang sendu, ketika gue sedang bingung mau makan malam pake mie kuah, mie goreng atau mie goreng jumbo pake telor + daun bawang, tetiba gue tersadar bahwa gue hanya tau sedikit sekali alasan kenapa Mery bisa jadi sesuka ini sama film. Dan kemudian, gue semakin tersadar, gue ga tau apa-apa soal cerita dari temen-temen lain. Seolah, karena kita sama-sama suka film, ga masalah bagaimana titik awal ini dimulai. Pembicaraan mengenai film seolah mengalir tanpa mengenal waktu dan tempat. Dan dalam pembicaraan ini, kami menemukan teman sejiwa, tempat dimana semua terasa begitu normal. Kami mencintai film. That's all that matter.

Maka dimulailah akhirnya proyek kumpulan post di blog ini. Kemudian teman-teman sesama blogger pun bersedia untuk turut serta dalam proyek ini. Total ada dua belas blogger, dengan kesukaan film yang berbeda-beda. Dalam proses kreatif yang sampe saat ini masih dirahasiakan isinya satu sama lain, justru makin membuat kami semua akrab, walau isi chattingnya kebanyakan becandaan mulu. Dan sudah diputuskan bahwa deadline bertepatan dengan akhir tahun, sekaligus merayakan tidak jadinya bumi kiamat.

So yeah, dalam tulisan ini, kalian bisa baca profil pendek kami plus link langsung menuju blog. Tinggal klik dan baca langsung cerita kami semua. Selamat menikmati, dan selamat tahun baru.

Karena sesungguhnya setiap insan memiliki kisahnya masing-masing.

-----------------------------

Indanavetta Putri BGA, blogger amatir yang super mirip sama Carey Mulligan (versi enci-enci), bubbly, coffee and indomie junkie, doyan nonton terutama film rada depresif. Occasional pervert only for Fassbender. Baca curhatannya di www.tyazism666.blogspot.com



Merista Kalorin aka Mery, seneng masak, nonton film klasik, dan selalu ileran kapanpun liat foto Robert Pattinson. Mengaku sebagai versi KW super dari Marion Cottillard (no comment!), baca curhatannya di www.mecail2012.blogspot.com



Zuliandra Guci alias Zul atau lebih dikenal dengan nama kaka Onta (mungkin karena punya punuk). Orangnya baek, suka ngasih gratisan dan cinta sama Bollywood. Muka preman tapi hati dangdut. Baca curhatannya di www.ocehansigilafilm.blogspot.com






Ipan the Cinemaniac, calon aktor terkenal dengan kemampuan akting setara ama Bella Twilight, pecinta Coldplay tingkat ibukota. Menerima pesanan lukisan sketsa dengan bayaran sate kambing, baca curhatannya di www.ipancinemaniac.blogspot.com






Bandhi Abstar, temen sekamar-kostannya kaka Onta, matanya langsung bersinar terang kalo denger kata gratisan, sering dikejar-kejar ama debt collector, seorang Potterholic sekaligus yang paling ganteng (dibandingin ama Andika eks Missing Band iku lho), baca curhatannya di www.ceritacinema.blogspot.com

Heru Chrisardi, maniak bola, penikmat musik dari The Beatles dan JKT48. Ngakunya sih masih cucu dari keponakan tante dari ibunya Joseph Gordon Levitt. Mirip sih emang ama JGL...kalo diliat dari lubang jarum di atas monas. Baca curhatannya di www.thecinemajourney.blogspot.com


tebak tebak wajah >,<



Natanael Christianto, yang paling unyu dan lugu, doyan memanggil semua orang dengan panggilan "ayy", dan menebar cinta ke seluruh wanita di penjuru Tangerang dan sekitarnya, baca curhatannya di http://www.tentangfilmdanmusik.blogspot.com/







Aditya yang lebih dikenal di dunia twitter dengan @ruttastratus, terkenal dengan badannya yang kurus, tapi reviewnya yang gemuk, cerdas, sarkas, dan tajam setajam gunting kuku, punya obsesi yang tak sehat kepada Saoirse Ronan, baca curhatannya di www.sigemarfilm.blogspot.com



tebak tebak wajah >,<



 Mas Algitya, pecinta film-film unik, tenang diam dan menghanyutkan laksana air danau, konon kabarnya sangat misterius...tapi mudah ditebak! Apalagi kalau sudah menumbuhkan kumis, bisa bikin hati wanita cenat-cenut! Baca curhatannya di http:// moviechotic.blogspot. com/







Bahana Damayana. In a learning process to be an idealistic director and screenplay writer. Hitchcockian sekaligus sci-fi junkie. Saksikan film terbarunya, coming soon in your nearest movie theatre...kapan-kapan! Baca curhatannya di www.visinspiration.blogspot.com
 


tebak tebak wajah >,<


Triyanto Dalay yang sering dipanggil 3 (lu kate provider -,,-). Seorang Blackjack sejati, mendambakan pacar seorang Dara 2ne1. Suka galau kalau belum makan dan kurang tidur, kadang galau juga karena ga bisa gemuk padahal makannya sebakul, baca curhatannya di www.moviecorner333.blogs pot.com 







 Lucky Ramadhan, yang nasibnya kadang tidak se-lucky namanya. Mendewakan Oasis sebagai kiblat musiknya, otaku kelas WWE, dan kini sedang giat menjalani pola makan ala kelinci demi merebut kembali hati Emma Stone dari jeratan sarang laba-laba, baca curhatannya di www.moviesupernova12.blogspot.com

In Movie I Believe


Dengan banyaknya jumlah manusia di dunia ini, jenis kesukaan orang pun bisa beraneka ragam. Ada yang suka sama buku, musik, travelling, masak, makan, tidur, dll. Terkadang kesukaan ini bisa jadi kadarnya lebih besar dibanding kesukaan orang-orang lain. Atau kesukaan yang satu kadarnya lebih besar dibanding kesukaan yang lain di dalam diri satu orang. Misalnya gue. Kesukaan gue akan film jauh melebihi kesukaan gue akan musik rock, novel-novel harlequin, atau lingerie Victoria Secret yang lucu nan seksi. Nah, dalam rangka proyek keroyokan yang kami beri judul "Why I Love Movie", kali ini izinkan gue untuk bercerita mengenai kisah gue.

Gue akan mengawali cerita ini dengan quote dari salah satu sutradara favorit gue, David Fincher, "The thing I love about 'Jaws' is the fact that I’ve never gone swimming." Saking dahsyatnya dampak dari film Jaws, banyak orang yang takut ke laut. True. Film merupakan sebuah media yang bisa punya dampak begitu dahsyat. Begitu mungkin kesan awal gue mengenai film.

Gue masih inget banget, umur gue saat itu mungkin baru 4-5 tahun. Waktu itu gue iseng dan nekad untuk menonton Nightmare on Elm Street. Gue sampai sembunyi di belakang sofa supaya sodara  ga tau gue ikutan nonton. Gue bahkan ga inget jelas ceritanya tentang apaan, tapi satu hal yang membuat gue trauma hingga saat ini adalah sosok bernama Freddy Krueger. Bisa bayangin ga, apa akibatnya buat gadis imut-imut kayak gue yang tiba-tiba didatangi Freddy Krueger dalam mimpi dan ditunjuk sebagai penerusnya? Judul mimpi gue mungkin Freddy Krueger's Legacy kali yak! Gara-gara itu, sampai saat ini gue masih sulit untuk nonton film horror in general or whatever movie that have Freddy Krueger in it!

Kesukaan gue akan film semakin menjadi-jadi mungkin ketika gue memasuki bangku SMA. Saat itu minat gue akan manga dan anime sudah jauh berkurang, dan gue kemudian menonton Forrest Gump. Mungkin ini yang disebut cinta pada pandangan pertama. Baru saat itu gue merasa begitu begitu utuh, begitu bahagia sekaligus menangis terharu dengan filmnya. Baru saat itu gue merasa bahwa film bisa membawa gue ke sebuah level imajinasi yang baru. Film bisa memanjakan mata gue, memperkenalkan dunia yang sama sekali asing buat gue. A whole new world for me. A new fantastic point of view. A dazzling place I never knew. (Iye, ini nyomot lirik lagu...)

Dan dimulailah saat itu, perjalanan sinematik gue, dimulai dengan fase film-film Tom Hanks. Gue mulai kerajingan, sampai adik gue menganggap gue aneh karena lebih doyan oom-oom. Dan tidak mengecewakan, mulai dari Cast Away sampai Saving Private Ryan menimbulkan sebuah perasaan kagum yang sama. Dan gue menganggap Hanks adalah aktor terbaik yang pernah ada. Dari sini, ketertarikan gue akan film bertambah besar. Ketika orang seumuran gue biasanya membeli majalah remaja, yang gue beli adalah majalah-majalah film. Uang jajan gue habis untuk menyewa film di rentalan. Kesukaan gue bahkan mulai spesifik saat itu. Gue tahu gue suka drama. Dan bahkan gue merasa sebagai orang paling keren sedunia karena nonton film-film award winning, padahal yang gue tonton tuh baru film-film tahun 90an. Belagu ya, hahaha. Dan teman-teman gue saat itu menganggap ini semua aneh.

Gimana gak? Ketika semua cewek di sekolahan sedang tergila-gila dengan sosok Chad Michael Murray, gue justru tergila-gila dengan sosok Hannibal Lecter. Ketika teman-teman begitu menyukai film Heart dan Acha-Irwansyah jadi the hottest couple, gue malah menganggap Closer adalah film drama romantis terbaik yang pernah ada. Aneh memang. Dan sesungguhnya, ketika orang-orang di sekitar kita tidak bisa mengerti, mereka akan mulai menyebut kita dengan nama panggilan. Terkadang nama panggilan itu tidak enak didengar. Orang-orang selalu manggil gue aneh. Lunatic, freak, weirdo, you name it. A cool weirdo maybe (tetep ya, fase pembenaran diri). But I always see myself as an outsider. Dan film satu-satunya yang merasa gue diterima. Film adalah media yang gue pilih untuk mengekspresikan diri, sebuah tempat dimana imajinasi gue diacak-acak oleh sebuah pengalaman visual, a place that I want to be drown forever.

Kemudian, ada masa dimana kemudian film tidak menjadi kesukaan gue lagi. Masa-masa dimana gue jenuh dan kemudian hidup gue berasa tidak berwarna (ceileeh bahasanya). Gue ga mau cerita apapun, just so you know, maybe it's a darkest time of my life and that time, movie can't save me. Saat dimana gue menonton dengan perasaan hambar. Tidak ada perasaan seperti dulu lagi. Gue menonton seperti kebanyakan orang di sekeliling gue. Hanya sebagai hiburan.

Tapi secara tidak sadar, gue menurunkan kesukaan gue ini ke anak pertama gue, Aimee. She's a big fan for every Disney-Pixar animation. Dia bisa nonton marathon trilogy Toy Story seharian penuh. Atau mengulang-ulang Ratatouille dan Up sampai dia tertidur. Tidak sehat memang, gue akui. Kadang gue harus galak supaya dia berhenti nonton. Dari sana timbul perasaan saling memahami di antara kami berdua. Kadang gue dengan senang hati menemaninya nonton seharian, tapi ketika misalnya True Blood tayang, my daughter will stop watching it and saying something like, "Aku udah dulu. Kasian mama belom nonton film mama. Nanti abis ini aku lagi ya." What a sweet little girl. And damn, how much I miss her.

Akhirnya, saat ketika gue kembali berhubungan dengan film adalah ketika Toy Story 3 tayang. Dan sebagai bentuk selebrasi terhadap film kesukaan kami, gue dan Aimee nonton bareng dalam format 3D. Aimee, yang begitu tergila-gila dengan petualangan Buzz dan Woody dan gue, yang tumbuh besar dengan film-film tersebut sama-sama terpukau. We were speechless. Toy Story 3 jelas-jelas adalah sebuah film yang komplit. You can find everything in it. Drama, romantic, comedy, action, thriller...in animation movie. I cried in the end of the movie, and my Aimee gave me a tissue. Ikatan itu mungkin yang semakin mengikat kami. Dan gue mentasbihkan Toy Story trilogy sebagai trilogy terbaik yang pernah ada. And now you know why .

Di sisi yang lain, film kemudian akhirnya memperkenalkan gue dengan banyak teman baru, yang rupanya jauh lebih menyukai film dibandingkan dengan gue. Lewat film, gue kemudian berkenalan (dan jadi sahabat baik) sama Merista Kalorin. Lucu juga kami bisa bersahabat begitu erat, menemukan banyak kesamaan di antara banyak perbedaan yang begitu mencolok, bahkan kami belum pernah ketemu face to face. She is my bestfriend, dan kami dipersatukan dengan film (ceilehh bahasa gue -___-).

Lewat film, gue akhirnya jatuh cinta kepada sosok bernama Michael Fassbender, kepada peran-peran menakjubkan yang ia mainkan. Lewat film, gue kemudian ikut terlibat dalam sebuah pembuatan film pendek berjudul Titik Balik dengan sesama teman pecinta film untuk kepentingan sebuah festival film pendek. Lewat film, gue kemudian kembali menekuni hobi menulis yang sempat gue tinggalkan selama Era Depresi. Bahkan kini gue mulai belajar untuk menulis skenario film. Lewat film, gue menjadi lebih menghargai perbedaan, membuka mata gue untuk sudut pandang yang luas untuk banyak kebudayaan dan pola pikir yang baru. Lewat film, gue jadi lebih mengenal siapa gue sebenarnya.

Kini gue bahkan tidak berani menyebut diri gue sebagai seorang penggila film, karena ada begitu banyak teman lebih menggilai film dibandingkan dengan gue. But one thing for sure, I love movie. Film adalah media yang gue pilih untuk mengekspresikan diri gue. Tempat dimana gue bisa pergi dari segala keruwetan hidup untuk sesaat. Ketika gue tak perlu membayar seorang psikiater untuk membantu gue melewati saat-saat gelap hidup gue, karena film cukup membantu gue melewati semua, mengenali siapa diri gue sendiri. Dimana gue bisa melihat imajinasi gue menjadi nyata, atau ketika otak gue diperas dan jantung berdebar kencang saat menikmati sebuah penampakan visual. Dimana gue menemukan sebuah dunia baru, yang bisa dengan mudah menerima gue apa adanya, tanpa ada panggilan-panggilan aneh. Dan film mempertemukan gue dengan banyak orang hebat.

Cerita gue mungkin melankolis, but this is why I love movie, from my point of view.
So what's yours?
------------------------------------
Kalian bisa baca cerita dari teman-teman yang lain di sini....

- Mery "The Miss Classic, read here »

- Zul "Si Kaka Onta", read here » 
- Bandhi "Un-describe-able", read here » 
- Heru "The Cool Hipster", read here » 
- Ipan "Cinemaniac", read here » 
- Kaka Nael yang unyu, read here »
- Lucky who are not so lucky sometimes *kabur*, read here »
- Kaka Algit "yang diam, tenang dan menghanyutkan", read here »
- Adit " the one who love Ronan so much" ,
read here »
- 3 "The Blackjack", read here » 
- Banana " The master of Physchopath" , read here »