Tampilkan postingan dengan label Documentary. Tampilkan semua postingan

[REVIEW] Chef's Table Episode 1 : Massimo Bottura


Chef's Table, Netflix Original Series 
Director : David Gelb
Episode 1 : Massimo Bottura

Mei 2012, bagian timur Italia diguncang gempa berkekuatan 5.2 dan 5.8 skala richter. Kejadian ini menewaskan 9 orang meninggal dan menghancurkan beberapa bangunan. Salah satunya adalah gudang penyimpanan keju Parmigiano-Reggiano di kota Modena. Ribuan blok keju yang hancur dan rusak, terancam tak dapat dijual. Padahal perekonomian setempat bergantung dari keju-keju berkualitas tinggi ini.

Massimo Bottura datang dengan ide brilian : memasak semua keju tersebut menjadi risotto. Resep yang dikenal sebagai Risotto Cacio e Pepe ini bukan hanya revolusioner karena mengubah resep tradisional risotto, namun juga mudah dibuat hingga seluruh dunia saat itu, mulai dari New York hingga Tokyo, membuat resep ini. Permintaan akan keju Parmigiano-Reggiano meningkat. Ribuan blok keju yang sudah hancur itu ludes terjual. 

(Risotto Cacio e Pepe)


Risotto Cacio e Pepe adalah sebuah revolusi risotto. Namun itu hanya sebagian kecil revolusi yang dibawa oleh Signor Bottura untuk masakan Italia.

Chef's Table adalah original documenter series dari Netflix yang menceritakan kisah hidup 6 orang chef eksentrik dan ambisius hingga mampu membawa perubahan dalam dunia gastronomi. Disutradarai oleh David Gelb, orang yang sama yang menyutradarai Jiro Dreams of Sushi. Gelb punya cara yang humanis saat menggambarkan chef yang eksentrik dan revolusioner. Kecintaannya akan dunia gastronomi terlihat dari visualisasinya yang jor-joran penuh warna dan detail. 

Di Italia, tradisi kulinernya sudah berakar sangat dalam dan kompleks. Ia bukan sekedar negara asal pizza dan pasta. Jutaan resep kuno dari seluruh penjuru Italia hadir turun temurun, dimakan mulai dari para nonna hingga balita. Kecintaan Bottura akan makanan Italia hadir ketika ia melihat langsung sang nenek membuat tortellini. Sejak saat itu, ia belajar tentang resep-resep kuno ini.

Episode pertama Chef's Table ini bercerita mengenai kisah hidup Bottura, mulai dari awal ia memutuskan untuk menjadi seorang chef hingga kini dikenal sebagai pemilik Osteria Francescana, restaurant terbaik ketiga di dunia (tahun 2015 menjadi kedua terbaik di dunia). Ia pernah bekerja untuk Alain Ducasse dan Ferrari Adria, yang membuatnya terinspirasi untuk berkreasi lebih liar lagi dengan masakan Italia.



Dengan tradisi kuliner yang sudah mengakar dan kuno, jangan pernah coba-coba menghancurkan apa yang yang sudah ada. Do not mess with grandma's recipe. Tapi terkadang, dibutuhkan sebuah aksi gila untuk menyelamatkan tradisi kuliner ribuan tahun ini. Di tangannya, ia menciptakan "Tortellini Waking Into Broth"

Rakyat Modena marah besar dengan apa yang dilakukan oleh Bottura. Biasanya, sesendok sup tortellini berisi sepuluh, namun di hidangan ini hanya ada enam buah, yang dijejerkan di samping krim yang dikentalkan dengan gelatin. "ini penghinaan akan tradisi!", kata mereka. Namun bagi Bottura, ada filosofi tersendiri di balik hidangan ini. Dengan enam buah tortellini ini, rakyat Italia akan benar-benar menghargai perjalanan dan proses kehidupan dan tradiri kulinernya, suatu hal yang konon semakin ditinggalkan oleh para generasi mudanya.

Kisah humanis mengenai Bottura ini memberikan sebuah perspektif baru tentunya bagi para pecinta kuliner. Ini bukan sekedar food porn! Lewat episode ini, kita belajar bahwa terkadang, tradisi yang terlalu mengakar membutuhkan perubahan lewat orang-orang visioner. Apa yang dilakukan Bottura sama dengan Radiohead saat merilis album Kid A. Ia menghancurkan dan merekontruksi ulang tradisi kuliner Italia demi menyelamatkannya. Di tangan Bottura, makanan biasa menjelma menjadi karya seni penuh filosofi dan ide. Setiap bahan diperlakukan dengan sangat hormat dan penuh penghargaan.

(Oopps I Dropped The Lemon Tart)

(The Painted Veal)

(An Eel Swimming Up To Po River)

(Five Ages Of Parmiggiano-Regiano)




[REVIEW] STEAK (R)EVOLUTION : REVOLUSI DALAM SEPOTONG DAGING



Director : Franck Ribière
Writers : Vérane Frédiani, Franck Ribière

Buat orang Indonesia, steak mungkin bukan makanan yang bisa sering kita makan. Harga jadi faktor utama, terutama kalo lo mau makan yang layak dikit. Semurah-murahnya, steak enak dihargain minimal 75 ribuan. Gue sendiri sih ga bakalan makan kalo gak dibayarin, walo itungannya setahun sekali. Yang murah ada, penyajiannya ala-ala schnitzel (daging sapi dikasih telur dan tepung terus digoreng, di Austria dikenal dengan nama Wienerschnitzel), tapi bisa bikin gigi rontok saking alotnya. Mending beli rendang di RM Padang, seporsi dapet 18 ribu dan kenyang.

Tapi sebagai self proclaimed food blogger dan movie enthusiast, ketika melihat judul Steak (R)evolution di jadwal Europe on Screen bisa bikin gue kinjong sendiri. I always have soft spot in my heart for any culinary documentary. Gak tahu kenapa, buat gue film dokumenter mengenai kuliner bukan hanya bercerita mengenai makanan atau bagaimana caranya dimasak, tapi juga budaya dan sudut pandang dari orang-orang yang memakannya. Kuliner bukan cuma sekedar hal yang membuat perut lo kenyang, tapi juga sebuah kajian sosiologis di masyarakatnya. Gak percaya? Liat aja fenomena kue cubit sekarang!

Sang sutradara, Franck Ribière adalah pria berkebangsaan Perancis. Seperti layaknya bangsa Galia lainnya, mereka selalu merasa superior dalam berbagai hal, termasuk soal citarasa dagingnya. Ribière yang dilahirkan di keluarga peternak sapi Charolais, terbiasa memakan steak yang menurut dia terlezat di seluruh dunia. Tapi pandangannya berubah ketika ia mengunjungi sebuah porterhouse legendaris di New York, Peter Lurger. Steak yang dia makan jauh lebih lezat dan kaya cita rasa. Padahal, gak ada yang spesial dengan teknik memanggang steaknya. Ini pasti ulah dagingnya!



Yves-Marie Le Bourdonnec, tukang daging terkenal di Perancis lalu mengajak kita untuk melihat hal ini dari kacamata si sapi. Ras Charolais adalah jenis ras sapi yang lebih mengandung kolagen dan otot dibandingkan dengan lemak. Ini yang menyebabkan dagingnya terasa keras dan bland. Sedangkan, sapi yang ia makan di New York adalah jenis sapi Black Angus, yang terkenal dengan kadar lemak dan keempukannya. Lucunya lagi, Bourdonnec menjelaskan mengenai kebiasaan warga Galia mengenai sapinya. Peternak sapi Perancis membagi sapinya ke dalam 3 kategori. Kategori jantan muda terbaik akan dikirim ke Italia (di Italia, mereka lebih suka makan veal alias sapi muda). Kategori kedua adalah sapi betina terbaik, yang akan dijual ke peternakan lokal lain untuk dikembangbiakkan. Sisanya adalah kategori yang paling jelek, yang akan mereka makan sendiri. Iya, mirip sama kebiasaan orang Indonesia soal ekspor ikan tuna sirip kuning.

Dari sini, Ribière kemudian berkeliling dunia, demi membuat daftar daging steak terenak sedunia. Dari mulai Argentina sampai ke ras asli Black Angus di pegunungan Skotlandia. Dari Brazil sampai ke North Yorkshire dan Kobe. Menarik dan informatif sekali lho, gue jadi tahu kebiasaan memakan daging di setiap negara. Orang Argentina lebih suka iga dan bagian front quarter. Bagian back quarter seperti sirloin, tenderloin, dan fillet mignon biasanya diimpor ke benua Eropa. Brazil lain lagi, mereka tidak suka daging dengan banyak lemak seperti ras Black Angus karena sapinya tidak bisa beradaptasi dengan cuaca, sehingga membutuhkan perhatian ekstra. Di Perancis sendiri, lean meat lebih populer karena orang-orang nurut apa kata Dietitian yang bilang daging berlemak gak bagus buat kesehatan. Ada fenomena unik, pas Burger King dibuka kembali setelah tutup 16 tahun di Paris, antriannya panjang dengan harga yang mahal! Ini menjelaskan kenapa waktu kantor gue kedatengan rombongan mahasiswa Galia, mereka keukeuh banget buat ditemenin makan di Burger King, bukan resto burger lain.


Jangan lupa, ada Jepang yang terkenal dengan daging wagyu, yang masih punya hubungan sepupu sama Black Angus. Wagyu terkenal dengan marbled meatnya. Dikembangkan di tahun 1944, wagyu menjadi favorit karena orang Jepang memakan daging sapi sebagai pendamping nasi, sehingga menyukai daging yang lembut serta empuk supaya bisa mudah diolah jadi sukiyaki dan shabu-shabu. Sapi Kobe dapat treatment kayak raja minyak : makanan campuran berbagai sereal dan biji-bijian untuk ngeboost pertumbuhan berat badan, dipijat dengan semprotan sake, dan ngedenger Mozart dari pagi sampe pagi lagi. Akibatnya, tubuh sapi Kobe jadi besar dengan kaki yang gak sanggup nahan berat badannya sendiri. Daging wagyu sendiri dijual minimal 20.000 euro per kilo.

Tapi oh tapi, daging sapi terenak di Jepang justru bukan wagyu. Ada daging sapi Jepang lain yang lebih enak dan mahal. Namanya daging Matsusaka, yang langsung meleleh di lidah begitu dimakan. Ras sapi kuni ini udah ada sejak era Kenshin ngelawan Shishio. Treatmentnya ga beda jauh ama Kobe, tapi yang dipotong dan dimakan cuman sapi betina yang masih perawan ting ting. Harganya? Gak usah ditanya. Ngimpi aja kayaknya gak kesampean.

Dalam film berdurasi 2 jam 15 menit ini, semua orang yang turut andil dalam dunia perdagingan, mulai dari peternak, tukang daging, hingga chef diajak untuk mengemukakan pendapat masing-masing. Menarik ketika gue menemukan sebuah fakta mengenai pertempuran ideologi mengenai kualitas dan kuantitas daging sapi. Semuanya, ujung-ujungnya kembali ke kita sebagai konsumen.



Penggambaran paling menarik diungkapkan oleh Mark Schatzker, pria asal Kanada yang menulis buku berjudul "Steak". Dengan gamblang, ia menjelaskan filosofi di balik 2 potong daging sirloin. Yang pertama berukuran besar, berwarna cerah dan bertekstur membal. Schatzker menganalisa bahwa daging ini berasal dari sapi yang masih muda dan diberi makan biji-bijian agar tumbuh lebih cepat dan lebih gemuk. Lemaknya tebal dan berwarna putih, yang berarti sapi tersebut diberi makan secara terus menerus agar bisa cepat dipotong. Daging ini jika dipanggang, teksturnya akan lebih kaya karena kandungan lemak, namun berair.

Daging kedua berwarna lebih gelap dan kenyal, dengan lemak yang lebih tipis dan berwarna kekuningan. Sapi ini hanya diberi makan rerumputan karena warna lemak yang bercampur dengan zat klorofil. Pertumbuhan berat badannya lebih lama, usianya lebih tua dibandingkan dengan sapi yang pertama. Daging yang ini mungkin sedikit lebih alot, namun rasanya jauh lebih kaya dan gelap dibandingkan dengan sapi pertama. 

Peringkat sapi terenak di dunia akhirnya dipegang sebuah peternakan di Leon, Spanyol. Berbeda filosofi dari seluruh peternakan yang ada di dunia, mereka hanya mengembangkan ras Castrated yang memiliki aroma spesifik dan hanya diberi makan rerumputan. Dengan pertumbuhan berat badan yang sangat lama, sapi-sapi ini baru dipotong setelah mereka berusia di atas 10 tahun. Sepuluh tahun? Iya, mbak-mbak manajer Peter Lurger juga cuma bisa cengo. 


Udah gitu, keyakinan soal gimana cara daging enak dan empuk pun berbeda. Kalau di Jepang, sapinya dipijat biar ga stress dan dagingnya empuk. Kalau di Leon, semuanya balik ke karakter dasar si sapi itu sendiri. Sapi yang ngambekan dan jelek tabiatnya ga bakalan menghasilkan daging yang enak. Sebaliknya, sapi yang ramah dan woles diajak main sama si empunya, bakalan punya cita rasa terenak sejagad raya. Oh, dan di Leon terbiasa buat dry-aging daging sapi yang udah dipotong (ibaratnya diangin-anginin). Kayak wine and cheese, makin lama daging terpapar udara, kandungan airnya makin hilang dan cita rasanya semakin dalam dan kaya. Jangan harap bisa nemuin cara yang sama di Indonesia, udara kita terlalu lembab, jadi daging kena udara bentar aja udah dikerubungin laler ijo.

In the end, film dokumenter punya caranya sendiri bercerita. Menurut gue, film dokumenter yang bagus adalah film yang bukan cuma memberikan informasi, tapi juga merangsang penontonnya agar mau membuka wawasan dan melihat sebuah permasalahan dari kacamata yang berbeda. Ini yang gue dapet dari film Steak (R)evolution ini. Ia mengajak kita untuk melihat steak dari kacamata banyak orang. Bagaimana sepotong daging di balik 2 benturan idealisme. Yang manakah yang benar, sapi yang tumbuh lambat dengan makanan rumput, atau sapi yang tumbuh cepat dan bertubuh semok? Menarik, karena Ribière tidak menghakimi sudut mana pun, dan membiarkan kita sendiri yang memutuskan.

Buat banyak orang, steak mungkin cuma sepotong daging yang dipanggang, tapi di baliknya, ada orang-orang dengan passion yang sangat besar, yang ingin menyajikan kenikmatan di lidah penikmatnya. Yang lagi bokek atau vegetarian, dilarang nonton film ini, karena dijamin habis ini lo pengen makan steak yang layak dan enak.

Kayak gue. Yang lagi bokek berat. FYI aja sih.


Review : Heima and Inni ; Sigur Rós


HEIMA & INNI
An Introduction and A Nice Friendly Chatting


Inni : Sigur Ros (2011)
Director : Vincent Morisset
Cast : Jon Thor Birgisson, Orri P. Dyrason
, Georg Hoim


 
Heima : Sigur Ros (2007)
Director : Dean DeBlois
Cast : Jon Thor Birgisson, Orri P. Dyrason, Georg Hoim
 *********

Oke, mungkin sekarang sih sudah banyak yang familiar dengan nama Sigur Ros, tapi buat gue sendiri, nama ini baru familiar belakangan ini. Hmm...to be exact, sejak sahabat gue, Merista Kalorin mulai ketagihan dengan musik mereka, barulah gue tahu bahwa ada sebuah band bernama Sigur Ros yang eksis di dunia ini. Well, mungkin emang gue aja yang ketinggalan berita, karena rupanya mereka sudah ada sejak tahun 1994 (itu semacam gue masih unyu-unyunya). 
Jadi, Mery kemudian mengirimkan dua lagu dari Sigur Ros untuk kemudian gue dengar, yaitu Hoppipolla dan Heima. Alasan kenapa lagu ini yang dipilih karena katanya lagu ini paling easy listening buat kuping gue (yang masih sangat alay, sodara-sodara!). Membuat gue jadi kepikiran sendiri saat itu, yang easy listening-nya aja begini, gimana yang gak easy listening-nya yak...Tapi toh nyatanya, based on curiosity (and they said that curiosity could killed a cat...which is one of the cutest and adorable creature in this world, beside my babies, Aimee and Ayden of course) membuat gue kemudian nekat untuk menonton Inni : Sigur Ros di festival Europe on Screen hari Minggu kemarin di Erasmus Huis. Dengan peluh yang mengalir deras, tas backpack yang berat, dan sekotak anggur yang gue bawa sebagai camilan, gue pun masuk, hanya berbekal pengetahuan bahwa Sigur Ros adalah sebuah band asal Islandia dengan musik yang masih terasa aneh di kuping gue.
Inni, yang disutradarai oleh sutradara berkebangsaan Kanada, Morisset dan berdurasi sepanjang 74 menit ini bisa jadi merupakah salah satu film dokumenter ter-absurd yang pernah gue tonton. Pertama, karena seluruh lagu yang dimainkan di dalam filmnya tak ada satupun yang familiar di telinga gue. Kedua, pilihan Morisset untuk membuat filmnya hitam-putih, ditambah dengan shot-shot yang tidak biasa, menyorot seluruh personel band ini dalam memainkan alat musik dan bereksperimen. Ketiga adalah  dengan suara lengkingan dari Birgisson yang dijuluki angel falsetto. Dan terakhir karena banyak dimasukkannya gambar-gambar seperti langit malam yang bertaburkan sejuta bintang atau hujan dan kabut, yang membuat kesan ambience dan dreamnya semakin nyata. Dan terus terang saja, dengan pilihan seperti ini, pilihannya cuma dua, lo tertidur atau terhipnotis.
Dan gue? Untungnya gue tidak melewatkan seluruh durasi filmnya dengan tertidur, karena gue terlalu sibuk terhipnotis dengan apa yang ada di depan gue. Musik Sigur Ros sendiri, setelah gue perhatikan dengan lebih dekat...musik mereka sangat rumit. Memang terdengar sederhana, tapi sekaligus terdengar begitu kaya dan rumit. Dan bisa menyaksikan itu semua di depan mata gue membuat gue terbuai dan terhipnotis. Rasanya bagaikan diajak masuk ke dalam alam mimpi yang begitu aneh, tak memiliki sebuah bentuk cerita yang utuh, melayang-layang di angkasa...tapi sekaligus terasa begitu damai dan menyejukkan jiwa. Terutama ketika lagu Svefn G Englar (Gue baru tahu judul lagunya belakangan sih, again, thanks to you Mer!) dimainkan...Benar-benar eargasm and breathtaking!



 














Tidak tanggung-tanggung, kurang lebih lima hari setelah pengalaman itu, gue langsung melanjutkannya dengan film dokumenter mereka yang kedua, yaitu Heima. Dirilis terlebih dahulu dibandingkan dengan Inni, Heima masih menawarkan feel yang sama dengan Inni. Bedanya, film yang disutradarai oleh DeBlois ini memberikan film yang lebih berwarna dan ringan, dibandingkan dengan Inni. Heima terasa begitu hangat dan memabukkan, menyaksikan mereka melakukan konser unofficial di kampung halaman mereka sendiri, yang dihadiri oleh orang-orang yang mengenal mereka secara pribadi, memberikan kesan seoalh gue ada di antara mereka, menyaksikan keempatnya dengan penuh takjub dan kekaguman, dan sekaligus terasa begitu dekat.

Hal ini kemudian ditambahkan dengan DeBlois yang memasukkan gambar-gambar pemandangan alam, seperti air terjun yang dilambatkan atau layangan yang terbang bebas di awan biru, landscape yang begitu indah....memberikan kesan kampung halaman yang begitu kuat (walau kampung halaman gue mungkin tidak sekeren itu). Berbeda dengan Inni yang terasa begitu jauh dan bagaikan khayalan, Heima terasa lebih nyata dan personal, gue seolah diajak ikut pulang ke kampung mereka, dengan perbukitan yang mirip dunia Teletubbies, dan malah bikin gue jadi memasukkan Islandia sebagai salah satu negara wajib dikunjungi sebelum mati...

Jadi secara keseluruhan, kedua film ini benar-benar membawa gue ke sebuah dimensi baru. Ketika Inni mengajak gue ke sebuah dunia penuh keabsurdan tapi sekaligus sebagai sebuah salam perkenalan akan musik mereka yang tidak begitu mudah gue cerna, maka Heima bagaikan sebuah percakapan penuh persahabatan yang semakin membuat ketertarikan gue akan Sigur Ros ini semakin kuat. Dan gue rasa, orang yang harus gue berikan rasa terima kasih ini tentu Mery, yang sudah terlebih dahulu tenggelam dalam dunia penuh ilusi dan hipnotis dari Sigur Ros. 

So, Mery... this double back review is highly dedicated for you, For everything that you gave for almost a year of our friendship. And happy birthday. Stay fabulous and classy, exactly like our first time chatted. Happy birthday, dear...


Review : Jiro Dreams of Sushi ( 2011 )

Jiro Dreams of Sushi
 "It Is More Than Making Sushi"
 
Director : David Gelb
Genre : Documentary
Cast : Jiro Ono, Yoshikazu Ono,

Ketika di akhir tahun 2011 kemarin, gue menulis sebuah review mengenai sebuah film dokumenter mengenai masakan, El Bulli. Sebagai seorang yang sangat tertarik dengan dunia kuliner, buat gue El Bulli benar-benar menunjukkan taringnya, bukan hanya menunjukkan seni memasak tingkat tinggi tapi juga mengenai sebuah kerja keras dan ketekunan. Lalu kemudian, ada yang menyarankan gue untuk menonton film ini. I'm up to any kind of food documentary movie, you know. Ibarat seorang pecandu film porno, bagi gue ini adalah film pornonya. So yea, here we go, I said to myself.

Jiro Dreams of Sushi sendiri berfokus mengenai Jiro Ono, seorang sushi master berumur 85 tahun yang memiliki sebuah restoran sushi Sukibayashi Jiro yang mendapatkan tiga bintang Michelin. Jiro adalah seorang workaholic, di umur senjanya, beliau masih tetap datang untuk bekerja di restorannya yang sangat unik, dan disebut-sebut sebagai yang terbaik. Bahkan, beliau masih memegang teguh standar-standar tinggi tentang sushi yang dia buat, dan dengan gamblang dan lancar film ini bercerita mengenai semua proses mengenai pembuatan sushi. Dimulai dari pembelian semua komponen-komponen penting, proses penyiapan, hingga akhirnya menjadi sebuah sushi yang terlihat sangat sederhana sekaligus rumit.  Not an easy job to do, even for make an equal sushi every single pieces everyday, for the rest of his life. But yet Jiro manage to do that, and even step it up into perfection, and he still looking for it.

Is that all? No, dan bahkan yang gue jelaskan di atas tidak mencakupi seluruh isi filmnya. Tidak. Menurut sang sutradara, Gelb awalnya ingin membuat sebuah film dokumenter yang mencakupi seluruh sushi chef yang ada di Jepang, dengan gaya mereka yang beragam, sehingga sampai di titik ketika ia masuk ke restoran milik Jiro, dan dia sangat terpukau dengan rasa sushi yang menurutnya sangat enak dan tidak mungkin disamai oleh siapapun. Terlebih dari itu, Gelb menyadari karakter Jiro yang sangat menantang, seorang pekerja keras yang sangat mencintai pekerjaannya lebih dari apapun, yang selalu ingin bisa melakukan lebih dari apa yang bisa ia lakukan, mengejar kesempurnaan, sekaligus menjadi sosok yang sangat dikalahkan, bahkan oleh anak-anaknya.


















Anak-anaknya? Ya, Jiro memiliki dua anak : Yoshikazu dan Takashi. Mereka 'dipaksa' oleh Jiro untuk mengikuti jejaknya.  Takashi, si bungsu kini memiliki restoran sushi sendiri, sebuah restoran yang memiliki konsep kurang lebih sama dengan restoran milik ayahnya, namun memiliki harga yang di bawah milik ayahnya. Walaupun disebut-sebut memiliki kualitas yang sama, banyak orang yang bilang berbeda, dikarenakan memakan sushi buatan Jiro benar-benar sebuah tantangan yang menakutkan. Ibarat makan sushi di tengah kerumunan pocong kali ya...

And then, the main idea of the movie itself : Yoshikazu, anak Jiro yang berumur 50 tahun namun masih bekerja untuk sang ayah di restoran. Yoshikazu-lah yang akan meneruskan restorannya sepeninggal Jiro nanti, dan sepanjang film ini diceritakan tentang hubungan mereka berdua, dan beban mental yang diemban oleh Yoshikazu, bahkan ketika Jiro masih hidup, karena bagaimanapun, dia akan selalu dibandingkan dengan ayahnya, tak peduli sebagus apa kualitas sushi yang ia buat.

So yea, Jiro Dreams of Sushi tidak hanya menampilkan sebuah kisah keberhasilan dari seorang sushi chef terbaik di dunia. Here's a story about how passion leads you to living in this world. Here's a story about a person living in his father's shadow while his father is in a relentless pursuit of perfection. Here's a story about a father who loves his sons, with his own way. And for that....I really recommend this movie, not only for an art of food lover like me, but also for all of you, whatever your preference are. 



"Always look ahead and above yourself. Always try to improve on yourself. Always strive to elevate your craft. That's what he taught me." -- Yoshikazu Ono, a fifty years old sushi chef, a son of Jiro Ono, the greatest sushi chef alive.




Review : El Bulli: Cooking In Progress ( 2011 )

El Bulli: Cooking In Progress
"When Creativity Have No Boundaries"

Director: Gereon Wetzel
Screenplay : Gereon Wetzel and Anna Gnesti Rosell for the concept
Genre: Documentary
Cast: Ferran Adria
















 
 
Satu hal yang mungkin gak banyak temen-temen saya tahu, saya suka dengan dunia kuliner, terutama mengenai proses memasak sebuah hidangan di dapur chef professional. Walaupun saya tak suka memasak, tapi ada sebuah kepuasan tersendiri dalam menonton proses penciptaan tersebut, karena seperti yang dikatakan Collete dalam film animasi Ratatouille, "You think cooking is a cute job, eh? Like Mommy in the kitchen? Well, Mommy never had to face the dinner rush when the orders come flooding in, and every dish is different and none are simple, and all of the different cooking times, but must arrive at the customer's table at exactly the same time, hot and perfect!" And when comes to dish, terutama dalam haute cuisine, makanan bukan hanya harus enak, tapi juga indah dan memberikan sebuah pengalaman baru.
Film ini adalah sebuah dokumenter di tahun 2010 yang menceritakan mengenai restoran El Bulli itu sendiri. El Bulli adalah restoran yang mendapatkan 3 Michelin stars, yang berlokasi di Roses, Catalonia, Spanyol, yang dipimpin oleh executive chef Ferran Adria. El Bulli terkenal sebagai "the most imaginative generator of haute cuisine on the planet". Restorannya sendiri tidak buka sepanjang tahun, hanya 6 bulan saja. Dan ketika restorannya ditutup, chef Adria menciptakan konsep hidangan baru, dengan keahliannya dalam gastronomi molekular, dibantu dengan sous chefnya Oriol Castro dan Eduard Xatruch.
Masakan apa yang akan mereka sajikan?
Saya suka sekali dengan film ini. Dengan detail memperlihatkan proses kreativitas dalam penciptaan menu-menu baru yang terlihat sederhana namun sangat kompleks dan menyulitkan. Bayangkan saja, untuk menu appetizer seperti Tangerine with Ice Vinaigrette dibutuhkan waktu lama untuk menciptakan mix-and-match agar rasanya sesuai dengan ekspektasi. Mencoba-coba kombinasi minyak untuk salad dressing mulai dari hazelnut oil, truffle oil, hingga olive oil dan kemudian malah menciptakan ide ice vinaigrette dengan bantuan liquid nitrogen membuat gue tersadar, inilah sekumpulan orang-orang yang sangat mencintai pekerjaannya. Mereka bukan hanya sekedar bekerja, mereka menciptakan. Mereka adalah seniman, melukis diatas piring. Mereka adalah ilmuwan, bermain-main di lab, mencampurkan bahan A dan B dan menciptakan sesuatu yang baru. Proses kreativitasnya tidak hanya berhenti setelah selesai membuat konsep awal, seluruhnya berkembang. Banyak menu baru yang tercipta justru dari hasil ketidaksengajaan. Dan chef Adria meminta semua stafnya untuk turut serta dalam proses kreativitas tersebut, membuat seluruh hidangan yang ada bukan hanya miliknya, namun juga milik semua.

And there, this movie left me speechless. Dan ketika satu per satu foto hidangan ditampilkan sebagai penutup, I'm shaking and gasping. It is wonderful, mesmerizing, and beautiful. And again, it's an art. Ketika sebuah kreativitas, yang tak mengenal batasan apapun, melaju kencang bertemu dengan teknik memasak tingkat tinggi dan kemampuan para chef tersebut bermain-main dengan gastronomi molekul, menciptakan sesuatu yang melebihi sekedar makanan, tapi juga seni. Keindahan yang bukan hanya sekedar memanjakan lidah namun juga mata. Dan buat pecinta dunia kuliner, film ini layaknya sebuah film porno. Membuat kita terbuai dan 'panas', ingin ikut menikmati apa yang kita tonton. You have to watch it by yourself to agreed with my statement.

Because it is a food porn movie. Oh yea, baby!!!
*****
Dan saya ingin menutup review ini dengan quote Anthony Bourdain,
"Pastry chefs everywhere—when they see this—will gape in fear, and awe, and wonder. I feel for them; like Eric Clapton seeing Jimi Hendrix for the first time, one imagines they will ask themselves 'What do I do now?'."
- Anthony Bourdain talks about Chef Adria's book
Coconut Sponge

Cherry Umeboshi and Frozen Rose

Tangerine with Ice Vinaigrette

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
---------------------------------

Film dokumenter ini ditayangkan secara gratis di IIC pada tanggal 29 November dan Goethehaus pada tanggal 1 Desember sebagai bagian dari Europe on Screen 2012. Untuk info lebih lengkap mengenai EoS, silahkan buka www.europeonscreen.org