[REVIEW] Chef's Table Episode 1 : Massimo Bottura


Chef's Table, Netflix Original Series 
Director : David Gelb
Episode 1 : Massimo Bottura

Mei 2012, bagian timur Italia diguncang gempa berkekuatan 5.2 dan 5.8 skala richter. Kejadian ini menewaskan 9 orang meninggal dan menghancurkan beberapa bangunan. Salah satunya adalah gudang penyimpanan keju Parmigiano-Reggiano di kota Modena. Ribuan blok keju yang hancur dan rusak, terancam tak dapat dijual. Padahal perekonomian setempat bergantung dari keju-keju berkualitas tinggi ini.

Massimo Bottura datang dengan ide brilian : memasak semua keju tersebut menjadi risotto. Resep yang dikenal sebagai Risotto Cacio e Pepe ini bukan hanya revolusioner karena mengubah resep tradisional risotto, namun juga mudah dibuat hingga seluruh dunia saat itu, mulai dari New York hingga Tokyo, membuat resep ini. Permintaan akan keju Parmigiano-Reggiano meningkat. Ribuan blok keju yang sudah hancur itu ludes terjual. 

(Risotto Cacio e Pepe)


Risotto Cacio e Pepe adalah sebuah revolusi risotto. Namun itu hanya sebagian kecil revolusi yang dibawa oleh Signor Bottura untuk masakan Italia.

Chef's Table adalah original documenter series dari Netflix yang menceritakan kisah hidup 6 orang chef eksentrik dan ambisius hingga mampu membawa perubahan dalam dunia gastronomi. Disutradarai oleh David Gelb, orang yang sama yang menyutradarai Jiro Dreams of Sushi. Gelb punya cara yang humanis saat menggambarkan chef yang eksentrik dan revolusioner. Kecintaannya akan dunia gastronomi terlihat dari visualisasinya yang jor-joran penuh warna dan detail. 

Di Italia, tradisi kulinernya sudah berakar sangat dalam dan kompleks. Ia bukan sekedar negara asal pizza dan pasta. Jutaan resep kuno dari seluruh penjuru Italia hadir turun temurun, dimakan mulai dari para nonna hingga balita. Kecintaan Bottura akan makanan Italia hadir ketika ia melihat langsung sang nenek membuat tortellini. Sejak saat itu, ia belajar tentang resep-resep kuno ini.

Episode pertama Chef's Table ini bercerita mengenai kisah hidup Bottura, mulai dari awal ia memutuskan untuk menjadi seorang chef hingga kini dikenal sebagai pemilik Osteria Francescana, restaurant terbaik ketiga di dunia (tahun 2015 menjadi kedua terbaik di dunia). Ia pernah bekerja untuk Alain Ducasse dan Ferrari Adria, yang membuatnya terinspirasi untuk berkreasi lebih liar lagi dengan masakan Italia.



Dengan tradisi kuliner yang sudah mengakar dan kuno, jangan pernah coba-coba menghancurkan apa yang yang sudah ada. Do not mess with grandma's recipe. Tapi terkadang, dibutuhkan sebuah aksi gila untuk menyelamatkan tradisi kuliner ribuan tahun ini. Di tangannya, ia menciptakan "Tortellini Waking Into Broth"

Rakyat Modena marah besar dengan apa yang dilakukan oleh Bottura. Biasanya, sesendok sup tortellini berisi sepuluh, namun di hidangan ini hanya ada enam buah, yang dijejerkan di samping krim yang dikentalkan dengan gelatin. "ini penghinaan akan tradisi!", kata mereka. Namun bagi Bottura, ada filosofi tersendiri di balik hidangan ini. Dengan enam buah tortellini ini, rakyat Italia akan benar-benar menghargai perjalanan dan proses kehidupan dan tradiri kulinernya, suatu hal yang konon semakin ditinggalkan oleh para generasi mudanya.

Kisah humanis mengenai Bottura ini memberikan sebuah perspektif baru tentunya bagi para pecinta kuliner. Ini bukan sekedar food porn! Lewat episode ini, kita belajar bahwa terkadang, tradisi yang terlalu mengakar membutuhkan perubahan lewat orang-orang visioner. Apa yang dilakukan Bottura sama dengan Radiohead saat merilis album Kid A. Ia menghancurkan dan merekontruksi ulang tradisi kuliner Italia demi menyelamatkannya. Di tangan Bottura, makanan biasa menjelma menjadi karya seni penuh filosofi dan ide. Setiap bahan diperlakukan dengan sangat hormat dan penuh penghargaan.

(Oopps I Dropped The Lemon Tart)

(The Painted Veal)

(An Eel Swimming Up To Po River)

(Five Ages Of Parmiggiano-Regiano)




Melihat Kuatnya Perempuan Dari Kacamata Film



Menjadi seorang perempuan adalah hal pertama yang menjadi identitas gue, bahkan sebelum nama. Dalam 26 tahun terakhir, gue belum terpikir sama sekali untuk merutuki identitas yang ini. Terlahir sebagai seorang perempuan adalah keistimewaan tersendiri. Kita dianugerahi banyak tugas sekaligus berkah. Kita bisa memilih untuk memakai warna dan pakaian warna apapun tanpa takut dikasih cap "banci". Pakai celana buat perempuan gak aneh, coba kalau dibalik. Perempuan bisa misah misuh dan ngasih alasan lagi PMS. Perempuan dikasih cuti 1 hari setiap bulan kalau sedang menstruasi hari pertama. Perempuan diberkahi desain tubuh yang memungkinkannya untuk mengandung seorang bayi hingga 9 bulan.

Tuh kan, kurang dahsyat apalagi?

Walau begitu, kadang menjadi perempuan bisa jadi tantangan tersendiri. Apalagi ketika lo tinggal di negara yang sistem patriarki-nya kuat. Sistem dimana para lelaki menjadi sentral dalam kehidupan bermasyarakat. Sistem dimana wanita diatur oleh norma-norma yang mengharuskan mereka memenuhi banyak syarat. Anak perempuan itu harus nurut, duduknya ga boleh ngangkang, dan lain sebagainya. Istri ideal itu harus bisa ngurus rumah, suami, dan anak sekaligus tetap terlihat cantik biar suami gak jajan di luar. Dan lain sebagainya.

Yah, apa yang lo harapkan dari sebuah negara yang salah satu lembaga negaranya mewajibkan tes keperawanan bagi perempuan?


Yah, gue sih ga tau sama lo. Tapi gue cukup tersinggung sama potongan tweet di atas. Gimana gak, secara desain ergonomis tubuh aja, Tuhan menciptakan tubuh kita agar kuat menahan beban saat mengandung. Belum lagi potensi kematian saat proses melahirkan. Semuanya tidak bergantung pada orang lain. Itu baru dari segi anatomi tubuh. Belum lagi, perempuan dituntut punya mental yang kuat, agar ia bisa membesarkan sekaligus mendidik anak-anaknya. Potensi terbesar suatu bangsa adalah generasi mudanya, dan orang pertama yang mendidik mereka adalah ibunya.

Meremehkan wanita sebagai makhluk yang lemah atau tak mandiri berarti meremehkan ibunya sendiri.

Untungnya ga semua orang punya pikiran sempit kayak gitu. Malah, perempuan jadi inspirasi untuk banyak karya seni.

Bayangkan kalau bukan Mona Lisa yang jadi inspirasi utama DaVinci saat itu. Atau Pattie Boyd yang ditasbihkan sebagai muse oleh George Harrison dan Eric Clapton di lagu "Someday" dan "Layla".

Berkaitan dengan Hari Wanita Internasional yang baru lewat sebulan lalu, gue ingin sedikit bercerita mengenai kekuatan perempuan lewat kacamata film. Bukan film sembarang film, karena kebetulan yang akan gue ceritakan ini datang dari tanah air sendiri. Yang pertama adalah film pendek, satunya lagi film panjang yang gue nobatkan jadi film Indonesia terbaik tahun ini. Keduanya sama-sama bercerita mengenai betapa powerful-nya seorang perempuan.

* * * 


Sendiri Diana Sendiri (Following Diana)


Diana (Raihanuun) adalah seoranv istri dan ibu yang ideal. Hari-harinya sibuk mengurus rumah, menyiapkan kebutuhan suami, serta menemani dan mendidik anak semata wayangnya. Suatu malam, sang suami pulang dan memberikan ilustrasi power point  mengenai keputusannya untuk menikah lagi. Sang suami bahkan berceramah panjang lebar, bahwa untuk menjadikan Diana benar-benar wanita ideal, ia harus bisa berbagi dan mengikhlaskan suaminya kepada wanita lain. Catet ya : power point!!! Pengecut macam apa yg mau poligami aja pake presentasi. Lo pikir meeting?!

Serius, kalo sampe gue denger lagi ada laki-laki ngomong kayak gitu, udah gue lelepin mulutnya pake sendal jepit yang udah dicemplungin di lumpur Lapindo.


Di satu sisi, Diana tentu aja ga rela. Dia sibuk bertanya-tanya apa yang salah dengan dirinya, sampai suaminya tega mau nikah dengan wanita lain. Di sisi lain, Diana ga siap kehilangan suaminya secara drastis. Kasihan anak dan keluarga besarnya. Pergumulan batin ini yang disorot dalam durasi selama 45 menit.


Diana Sendiri Diana adalah sebuah bentuk keresahan Kamila Andini terhadap kehidupan berumah tangga di sekitar kita. Which is true, ada banyak perempuan yang suaminya ujug-ujug menikah lagi, dengan atau tanpa izin. Bagaimana budaya patriarki dalam masyarakat menempatkan Diana sebagai pihak yang bersalah. Salah, karena kekurangan suatu hal yang membuat suaminya pergi ke pangkuan wanita lain.

Lewat caranya sendiri, Diana lalu berontak. Keadaan yang terjadi padanya memaksanya putar otak demi kelangsungan hidupnya dan putranya. Diana memilih untuk bekerja. Diana berusaha menjadi ibu sekaligus ayah bagi anaknya, ketika suaminya lebih sering berada di rumah istri keduanya. Walau kepercayaan dirinya sempat hancur, Diana pelan-pelan kembali mendapatkan kekuatannya. Ia kini percaya kalau ia mampu berdiri sendiri, mandiri, dan kuat demi putranya. Bahwa menjadi seorang perempuan ideal tidak didefinisikan melalui penilaian masyarakat semata.

Percaya deh walau cuma 45 menit, tapi film yang satu ini sukses bikin gue nangis termehek-mehek. Karena gue related banget sama karakter Diana. Gue tahu banget gimana rasanya ketika suami lo ujug-ujug mau nikah lagi. Lo bertanya-tanya, kesalahan fatal apa yang lo lakukan. Lo ngerasa sangat gak berharga, baik sebagai wanita dan sebagai manusia. Lo tetap harus bisa beraktifitas seperti biasa, karena ada anak-anak lo yang polos dan ga tahu apapun. Dan lo ga bisa cuma diam berharap semua ini akan segera berakhir, karena hal utama sekarang adalah gimana caranya lo bisa survive sendirian, demi anak-anak lo.

* * *


Siti


Siti (Sekar Sari) adalah seorang perempuan yang hidup di kota kecil di pinggir Pantai Parangtritis. Di pagi hari, ia sibuk mengurus dan membujuk putranya yang malas sekolah. Lalu ia berjualan peyek bersama ibu mertuanya. Dan di malam hari, ia menemani tamu-tamu pria di tempat karaoke remang-remang. Pekerjaannya ini bukan tanpa alasan. Sebagai berperan seorang ibu, ia juga berperan sebagai kepala keluarga, karena suaminya mengalami nervous breakdown hingga hanya bisa berbaring diam dan tidak bisa berfungsi sebagai pria normal. Padahal, mereka dikejar-kejar hutang, yang harus segera dilunasi, tak peduli keadaan mereka.

Disorot dalam warna monokrom hitam dan putih, film yang naskahnya ditulis dan disutradarai oleh Eddie Cahyono ini punya kepahitan luar biasa dalam bercerita. Kisah Siti sendiri begitu getir sekaligus nyata terjadi. Partner gue, Ndoro Editor, berhasil meyakinkan gue bahwa di kisah seperti Siti ini banyak terjadi di masyarakat. Perempuan seperti Siti harus menutup telinga dengan omongan orang-orang di kampungnya, karena pilihannya hanya antara bisa makan dan bayar hutang atau mati.

Selain terasa begitu realistis, akting super keren dari Sekar Sari bakalan bikin lo meringis nyeri. Dengan begitu banyak masalah yang mendesak, Siti terlihat begitu tegar walau sinar matanya begitu nanar. Ia bagaikan sebuah granat, siap meledak begitu pemicunya dicabut. Ia marah pada keadaan. Marah karena suaminya tak berfungsi secara fisik, mental, dan biologis. Marah karena hutang suaminya yang terpaksa ia pikul. Marah karena suaminya malah ngambek karena pilihan profesinya.

Beban berat yang ia pikul membuatnya begitu rapuh. Ia ingin menjadi wanita normal lainnya, punya seseorang yang bisa melindunginya.  Ia rindu dengan suaminya. Rindu ingin disentuh dan diperlakukan sebagai wanita. Kerinduannya hadir dalam sosok Gatot, polisi berkumis baplang yang tampan dan tergila-gila padanya. Tapi, bahkan sosok sempurna seperti Gatot tak bisa memenuhi rasa rindunya. Satu-satunya hal yang ia inginkan adalah mendengar suaminya berbicara lagi padanya.


* * *

Siti dan Diana hanyalah contoh kecil dari wajah perempuan di dunia. Perempuan-perempuan yang ditempa oleh kerasnya kehidupan. Perempuan-perempuan yang menolak takluk oleh cobaan hidup. Perempuan-perempuan tegar, yang berusaha untuk tetap tersenyum, sesulit apapun, demi anak-anak mereka. Gak peduli betapa sulitnya, melihat wajah anak yang tertawa bahagia, adalah segalanya.

Masih berpikir wanita adalah makhluk lemah yang ga bisa ngapa-ngapain? Think again!!


[REVIEW] STEAK (R)EVOLUTION : REVOLUSI DALAM SEPOTONG DAGING



Director : Franck Ribière
Writers : Vérane Frédiani, Franck Ribière

Buat orang Indonesia, steak mungkin bukan makanan yang bisa sering kita makan. Harga jadi faktor utama, terutama kalo lo mau makan yang layak dikit. Semurah-murahnya, steak enak dihargain minimal 75 ribuan. Gue sendiri sih ga bakalan makan kalo gak dibayarin, walo itungannya setahun sekali. Yang murah ada, penyajiannya ala-ala schnitzel (daging sapi dikasih telur dan tepung terus digoreng, di Austria dikenal dengan nama Wienerschnitzel), tapi bisa bikin gigi rontok saking alotnya. Mending beli rendang di RM Padang, seporsi dapet 18 ribu dan kenyang.

Tapi sebagai self proclaimed food blogger dan movie enthusiast, ketika melihat judul Steak (R)evolution di jadwal Europe on Screen bisa bikin gue kinjong sendiri. I always have soft spot in my heart for any culinary documentary. Gak tahu kenapa, buat gue film dokumenter mengenai kuliner bukan hanya bercerita mengenai makanan atau bagaimana caranya dimasak, tapi juga budaya dan sudut pandang dari orang-orang yang memakannya. Kuliner bukan cuma sekedar hal yang membuat perut lo kenyang, tapi juga sebuah kajian sosiologis di masyarakatnya. Gak percaya? Liat aja fenomena kue cubit sekarang!

Sang sutradara, Franck Ribière adalah pria berkebangsaan Perancis. Seperti layaknya bangsa Galia lainnya, mereka selalu merasa superior dalam berbagai hal, termasuk soal citarasa dagingnya. Ribière yang dilahirkan di keluarga peternak sapi Charolais, terbiasa memakan steak yang menurut dia terlezat di seluruh dunia. Tapi pandangannya berubah ketika ia mengunjungi sebuah porterhouse legendaris di New York, Peter Lurger. Steak yang dia makan jauh lebih lezat dan kaya cita rasa. Padahal, gak ada yang spesial dengan teknik memanggang steaknya. Ini pasti ulah dagingnya!



Yves-Marie Le Bourdonnec, tukang daging terkenal di Perancis lalu mengajak kita untuk melihat hal ini dari kacamata si sapi. Ras Charolais adalah jenis ras sapi yang lebih mengandung kolagen dan otot dibandingkan dengan lemak. Ini yang menyebabkan dagingnya terasa keras dan bland. Sedangkan, sapi yang ia makan di New York adalah jenis sapi Black Angus, yang terkenal dengan kadar lemak dan keempukannya. Lucunya lagi, Bourdonnec menjelaskan mengenai kebiasaan warga Galia mengenai sapinya. Peternak sapi Perancis membagi sapinya ke dalam 3 kategori. Kategori jantan muda terbaik akan dikirim ke Italia (di Italia, mereka lebih suka makan veal alias sapi muda). Kategori kedua adalah sapi betina terbaik, yang akan dijual ke peternakan lokal lain untuk dikembangbiakkan. Sisanya adalah kategori yang paling jelek, yang akan mereka makan sendiri. Iya, mirip sama kebiasaan orang Indonesia soal ekspor ikan tuna sirip kuning.

Dari sini, Ribière kemudian berkeliling dunia, demi membuat daftar daging steak terenak sedunia. Dari mulai Argentina sampai ke ras asli Black Angus di pegunungan Skotlandia. Dari Brazil sampai ke North Yorkshire dan Kobe. Menarik dan informatif sekali lho, gue jadi tahu kebiasaan memakan daging di setiap negara. Orang Argentina lebih suka iga dan bagian front quarter. Bagian back quarter seperti sirloin, tenderloin, dan fillet mignon biasanya diimpor ke benua Eropa. Brazil lain lagi, mereka tidak suka daging dengan banyak lemak seperti ras Black Angus karena sapinya tidak bisa beradaptasi dengan cuaca, sehingga membutuhkan perhatian ekstra. Di Perancis sendiri, lean meat lebih populer karena orang-orang nurut apa kata Dietitian yang bilang daging berlemak gak bagus buat kesehatan. Ada fenomena unik, pas Burger King dibuka kembali setelah tutup 16 tahun di Paris, antriannya panjang dengan harga yang mahal! Ini menjelaskan kenapa waktu kantor gue kedatengan rombongan mahasiswa Galia, mereka keukeuh banget buat ditemenin makan di Burger King, bukan resto burger lain.


Jangan lupa, ada Jepang yang terkenal dengan daging wagyu, yang masih punya hubungan sepupu sama Black Angus. Wagyu terkenal dengan marbled meatnya. Dikembangkan di tahun 1944, wagyu menjadi favorit karena orang Jepang memakan daging sapi sebagai pendamping nasi, sehingga menyukai daging yang lembut serta empuk supaya bisa mudah diolah jadi sukiyaki dan shabu-shabu. Sapi Kobe dapat treatment kayak raja minyak : makanan campuran berbagai sereal dan biji-bijian untuk ngeboost pertumbuhan berat badan, dipijat dengan semprotan sake, dan ngedenger Mozart dari pagi sampe pagi lagi. Akibatnya, tubuh sapi Kobe jadi besar dengan kaki yang gak sanggup nahan berat badannya sendiri. Daging wagyu sendiri dijual minimal 20.000 euro per kilo.

Tapi oh tapi, daging sapi terenak di Jepang justru bukan wagyu. Ada daging sapi Jepang lain yang lebih enak dan mahal. Namanya daging Matsusaka, yang langsung meleleh di lidah begitu dimakan. Ras sapi kuni ini udah ada sejak era Kenshin ngelawan Shishio. Treatmentnya ga beda jauh ama Kobe, tapi yang dipotong dan dimakan cuman sapi betina yang masih perawan ting ting. Harganya? Gak usah ditanya. Ngimpi aja kayaknya gak kesampean.

Dalam film berdurasi 2 jam 15 menit ini, semua orang yang turut andil dalam dunia perdagingan, mulai dari peternak, tukang daging, hingga chef diajak untuk mengemukakan pendapat masing-masing. Menarik ketika gue menemukan sebuah fakta mengenai pertempuran ideologi mengenai kualitas dan kuantitas daging sapi. Semuanya, ujung-ujungnya kembali ke kita sebagai konsumen.



Penggambaran paling menarik diungkapkan oleh Mark Schatzker, pria asal Kanada yang menulis buku berjudul "Steak". Dengan gamblang, ia menjelaskan filosofi di balik 2 potong daging sirloin. Yang pertama berukuran besar, berwarna cerah dan bertekstur membal. Schatzker menganalisa bahwa daging ini berasal dari sapi yang masih muda dan diberi makan biji-bijian agar tumbuh lebih cepat dan lebih gemuk. Lemaknya tebal dan berwarna putih, yang berarti sapi tersebut diberi makan secara terus menerus agar bisa cepat dipotong. Daging ini jika dipanggang, teksturnya akan lebih kaya karena kandungan lemak, namun berair.

Daging kedua berwarna lebih gelap dan kenyal, dengan lemak yang lebih tipis dan berwarna kekuningan. Sapi ini hanya diberi makan rerumputan karena warna lemak yang bercampur dengan zat klorofil. Pertumbuhan berat badannya lebih lama, usianya lebih tua dibandingkan dengan sapi yang pertama. Daging yang ini mungkin sedikit lebih alot, namun rasanya jauh lebih kaya dan gelap dibandingkan dengan sapi pertama. 

Peringkat sapi terenak di dunia akhirnya dipegang sebuah peternakan di Leon, Spanyol. Berbeda filosofi dari seluruh peternakan yang ada di dunia, mereka hanya mengembangkan ras Castrated yang memiliki aroma spesifik dan hanya diberi makan rerumputan. Dengan pertumbuhan berat badan yang sangat lama, sapi-sapi ini baru dipotong setelah mereka berusia di atas 10 tahun. Sepuluh tahun? Iya, mbak-mbak manajer Peter Lurger juga cuma bisa cengo. 


Udah gitu, keyakinan soal gimana cara daging enak dan empuk pun berbeda. Kalau di Jepang, sapinya dipijat biar ga stress dan dagingnya empuk. Kalau di Leon, semuanya balik ke karakter dasar si sapi itu sendiri. Sapi yang ngambekan dan jelek tabiatnya ga bakalan menghasilkan daging yang enak. Sebaliknya, sapi yang ramah dan woles diajak main sama si empunya, bakalan punya cita rasa terenak sejagad raya. Oh, dan di Leon terbiasa buat dry-aging daging sapi yang udah dipotong (ibaratnya diangin-anginin). Kayak wine and cheese, makin lama daging terpapar udara, kandungan airnya makin hilang dan cita rasanya semakin dalam dan kaya. Jangan harap bisa nemuin cara yang sama di Indonesia, udara kita terlalu lembab, jadi daging kena udara bentar aja udah dikerubungin laler ijo.

In the end, film dokumenter punya caranya sendiri bercerita. Menurut gue, film dokumenter yang bagus adalah film yang bukan cuma memberikan informasi, tapi juga merangsang penontonnya agar mau membuka wawasan dan melihat sebuah permasalahan dari kacamata yang berbeda. Ini yang gue dapet dari film Steak (R)evolution ini. Ia mengajak kita untuk melihat steak dari kacamata banyak orang. Bagaimana sepotong daging di balik 2 benturan idealisme. Yang manakah yang benar, sapi yang tumbuh lambat dengan makanan rumput, atau sapi yang tumbuh cepat dan bertubuh semok? Menarik, karena Ribière tidak menghakimi sudut mana pun, dan membiarkan kita sendiri yang memutuskan.

Buat banyak orang, steak mungkin cuma sepotong daging yang dipanggang, tapi di baliknya, ada orang-orang dengan passion yang sangat besar, yang ingin menyajikan kenikmatan di lidah penikmatnya. Yang lagi bokek atau vegetarian, dilarang nonton film ini, karena dijamin habis ini lo pengen makan steak yang layak dan enak.

Kayak gue. Yang lagi bokek berat. FYI aja sih.


[Review] Foxcatcher : Sia-Sianya Menangkap Sang Rubah



Year of Production : 2014
Director : Bennett Miller
Screenplay : E. Max Frye dan Dan Futterman
Cast : Steve Carell, Channing Tatum, Mark Rufallo, Sienna Miller, Vanessa Redgrave




Kisruh politik yang memanas antara KPK dan Polisi ini bikin gue menyimpulkan suatu hal, bahwasanya kekuatan adalah segalanya, walau kekuatan tersebut bisa jadi merenggut kebebasan yang kita punya. Ada satu kutipan dari George Orwell di bukunya yang berjudul "1984". "Kebebasan adalah bebas untuk berkata dua tambah dua sama dengan empat tanpa perlu takut konsekuensi yang didapat dari pendapat itu". Ada harga yang harus dibayar saat memperjuangkan sebuah bentuk kebebasan." Kesan yang sama gue dapat dari film yang mendapatkan 5 nominasi Oscar tahun ini, Foxcatcher.


Diinspirasi oleh kejadian nyata, kakak beradik Dave (Ruffalo) dan Mark (Tatum) Schultz adalah peraih medali emas untuk olahraga gulat di tahun 1984 dan mereka sedang berlatih untuk menghadapi Olimpiade Seoul 1988. Mark lalu menerima tawaran dari John du Pont (Carell), seorang milyuner, untuk bergabung dan berlatih dalam team gulat yang dinamakan 'Foxcatcher'. Dengan iming-iming gaji dan fasilitas yang tinggi, Mark pun bergabung sementara kakaknya menolak karena ingin menetap bersama dengan keluarganya. Little did they know, tawaran ini tak menguntungkan seperti yang mereka kira.\



Sinematografi dari Greig Fraser memberikan efek dingin dan bermusuhan, yang secara perlahan membuat kita ikut membeku. Mulai dari efek lomo dan tone warna yang biru, sampai ke potret lukisan ibu du Pont yang mengawasi seperti elang, membuat penonton rindu dengan kehangatan yang dibawa oleh Dave dan Mark di awal film.Dari kacamata Mark, kita tahu ada sesuatu yang salah dalam hubungan antara Dave dan Mark. Sebagai sosok yang sempurna, baik sebagai kakak, pegulat, hingga kepala keluarga, Dave sangat menyayangi Mark. Bagaikan induk ayam, Dave memandu, mendukung, dan melindungi Mark. Keinginan Mark untuk keluar dari bayang-bayang ini yang membawanya ke John du Pont.

Secara fisik, du Pont terlihat mengerikan dengan hidung panjang dan bengkok seperti paruh elang, kulit pucat dan bersisik, postur bungkuk, dan suara pelan. Carell lalu memberikan performa mengerikan sekaligus terbaik sepanjang karirnya dengan mengisi du Pont sebagai seorang megalomania gila kekuasaan yang tingkat ke-halu-annya seribu kali lipat lebih mengerikan dibanding Dijah Yellow. Inilah yang kemudian menarik Mark, Dave, dan kita semua ke dalam pusaran depresi.


Mengerikan kemudian ketika Mark salah menginterpretasikan posisi du Pont sebagai pelatih di tengah silaunya kekayaan dan filosofi du Pont. Keputusannyalah, yang membuat kita menyaksikan Mark malah pelan-pelan berubah dari seorang atlit menjadi anjing peliharaan dan pemuas ego du Pont. Seperti ketika mereka nyedot kokain bareng, lalu Mark tanpa sadar berpidato memuji du Pont lewat naskah yang sudah disiapkan, sampai momen ketika dia duduk di berlutut di hadapan du Pont, dengan tangan di samping dan rambut pirang berantakan, menatap kosong mendengarkan du Pont berbicara.

Pun, kita tidak bisa mengesampingkan tensi seksual yang begitu kuat di antara mereka berdua. Seperti latihan gulat di perpustakaan saat tengah malam atau kecemburuan Mark ketika du Pont berhasil  membawa Dave ke dalam Foxcatcher. Belum lagi dengan adanya gejala-gejala megalomania dalam diri du Pont. Rasa superioritas yang terancam dengan hadirnya Dave, mood swings parah, dan terutama sekali rasa haus untuk diakui sebagai seorang mentor. Bersamaan dengan sifat megalomania ini, tensi seksual yang ada malah destruktif dan membuat gue sesak nafas dan ketakutan. Penampilan Carell disini adalah definisi 'creepy' yang sesungguhnya.



Menarik ketika kemudian kita melihat film Miller sebelum Foxcatcher. Di Capote dan Moneyball, Miller memfokuskan diri pada cara penyelesaian masalah yang tidak konvensional di dalam sebuah sistem. Disini, kita malah diajak untuk melihat lebih dalam dari sekedar latar psikologis du Pont dan Mark. Bahwasanya, di dalam masyarakat kekuasaan, garis keturunan, sejarah, dan warisan dari sebuah nama adalah segalanya. Lewat tokoh ibu du Pont , sistem yang seperti inilah yang merusak du Pont dan masyarakat di sekitarnya. Bagaimana masyarakat menerima saja ke-halu-an dan delusionalnya du Pont karena kekayaan dan kekuasaan yang dia miliki. Misalnya membiarkan du Pont menang di pertandingan gulat yang ia danai, atau membuat film dokumenter tentang kehebatan du Pont sebagai mentor. Orang-orang ini lah membuat sifat megalomania du Pont semakin menjadi. Dan yang melawan harus rela terenggut kebebasannya, seperti Dave Schultz.

Mendapatkan lima nominasi Oscar, termasuk Best Original Screenplay, Foxcatcher memberikan sisi gelap kekuasaan dan kekayaan yang bisa merubah hidup seseorang khas Amerika, plus plot naskah yang top notch dan sama tegangnya dengan senar gitarnya Santana. Bukan hanya itu saja, Foxcatcher jadi sebuah potret gelap tentang bagaimana masyarakat tunduk di bawah orang-orang yang punya kekuasaan dan kekayaan.Mengingat du Pont duduk di atas singgasananya sampai sekarang membuat bulu kuduk gue masih merinding, and that is amazing, my friend.




[Review] The Babadook : "Baba...dook dook!"



Director : Jennifer Kent
Screenplay : Jennifer Kent
Cast : Essie Davis, Noah Wiseman

"Well, I'd consider you a fool if you weren't", adalah jawaban lugas dari Professor Lupin ketika Harry Potter mengemukakan ketakutannya pada Dementor. Takut merupakan salah satu perasaan paling alami yang dimiliki oleh manusia. Menelaah rasa takut mungkin tidak bisa melihat dari sisi luarnya saja. Bahwa ketakutan hadir dari rasa tidak berdaya seseorang saat menghadapi masalah. Kadang, rasa takut hadir karena imajinasi yang ditampilkan berlebihan. Tapi satu yang pasti, rasa takut idealnya harus bisa kita hadapi.




Berkat buzzing yang cukup heboh di linimasa jejaring sosial dan berbagai situs portal film, The Babadook cukup menggoda iman gue, seorang picky yang sebenarnya takut menyantap film berjenis ini. Premisnya biasa saja, yaitu seorang janda yang hidup berdua dengan anak yang bermasalah dan delusional lalu diganggu oleh kekuatan yang misterius di rumahnya. Sudah berapa banyak film-film horor dengan premis sejenis? Tak salah juga ketika banyak orang berharap The Babadook akan sama seramnya dengan Insidious atau The Conjuring dengan premis serupa.

Singkat cerita, The Babadook bercerita mengenai seorang janda bernama Amelia (Davis) yang tinggal berdua saja dengan anaknya, Samuel (Wiseman). Hidupnya tak bisa dibilang mudah, suaminya meninggal dalam kecelakaan sesaat sebelum ia melahirkan Samuel. Samuel sendiri tumbuh besar menjadi seorang anak yang agresif dan memiliki daya imajinasi yang cukup 'liar' dibanding anak-anak seumurannya. Suatu malam, Samuel meminta ibunya untuk membacakan sebuah buku berjudul 'The Babadook' sebelum ia tidur. Sejak saat itu hidup mereka berdua berubah. Benarkah The Babadook hanya hidup di dalam imajinasi Samuel? 

Apa yang menyebabkan The Babadook terasa sama sekaligus berbeda jauh dengan The Conjuring? Pertama, kita diperkenalkan dengan sosok Babadook itu sendiri. Sebuah sosok bogeyman dengan pakaian serba hitam ala jaman Victorian. Jari-jari tangannya panjang dan tajam, sepert Freddy Krueger, dan wajahnya putih pucat dengan tatapan mata kosong melompong. Saat ia menakut-nakuti dengan slogan terkenalnya, "Baba..dook..dook", suaranya sama seraknya dengan suara gagak kurang minum Deskripsi barusan sudah cukup mengerikan dan memacu adrenalin, belum?


Kenyataannya, hal yang membuat The Babadook sangat mengerikan justru bukan dari sosok The Babadook itu sendiri. Saat diperkenalkan dengan kedua tokoh utama, yaitu Amelie dan Samuel, secara tidak langsung kita disodorkan dengan masalah yang lebih pelik dibanding sekedar hantu yang datang di malam hari. Hubungan antara ibu dan anak ini jelas bukan hubungan yang sehat dan penuh kasih sayang. Semuanya terasa tegang dan mencekik. Amelia masih berjuang dengan rasa kehilangannya. Samuel sendiri bukan anak yang mudah dihadapi. Ia terobsesi dengan kehadiran monster, senang menciptakan senjata yang berbahaya, sekaligus agresif dan cenderung histeris, bukti bahwa ia tumbuh besar dengan situasi kegelisahan dan kemarahan yang terpendam. Saat kemudian Amelia menemukan buku cerita The Babadook hanya memperuncing  masalah yang sudah ada.

Kent yang menyutradarai dan menulis sendiri naskah film The Babadook membuat kita melihat dari sudut pandang yang berbeda mengenai sifat-sifat keibuan. Tak jarang kan, kita membaca atau mendengar berita seorang ibu yang tega membunuh anak-anaknya sendiri? Bukan untuk menjustifikasi apa yang sudah mereka lakukan, tapi The Babadook menyorot hal-hal yang tak nampak, bahwa seorang ibu tetap seorang manusia biasa yang hidup dengan pergumulan batin dan ketakutannya sendiri. Ujung-ujungnya tetap, mau melawan balik atau terseret ketakutannya sendiri.

Tanpa akting yang memukau, tentu The Babadook tidak akan bisa tampil semenakutkan ini. Davis dengan sangat cemerlang memerankan banyak layer dari Amelia. Di satu sisi, ia memerankan apa yang masyarakat ingin lihat dari seorang single parent : pekerja keras namun lembut dan menyayangi anaknya. Di sisi lain, ia lapar untuk memiliki partner berbagi sekaligus merasa kesepian. Dan ketika cerita bergulir semakin intens, kita diberikan sisi baru dari Amelia yang tertekan sekaligus berjuang mempertahankan kewarasannya. Seperti saat ia sedang bermasturbasi lalu tiba-tiba Samuel masuk ke dalam kamar sambil menjerit-jerit ketakutan. Frustasi sekali bukan? 



Banyak kemudian yang merasa kecewa dengan The Babadook karena muatan psikologis dan perasaan depresi yang dibawa ke dalamnya. Jelas, saat kita menonton film horor adalah saat yang tepat untuk menjerit-jerit ketakutan dan mengeluarkan rasa frustasi yang ada. The Babadook tidak mengijinkan kita untuk sekedar menjerit ketakutan. Ia membawa kita masuk ke dalam sebuah kisah pergumulan batin seorang single parent melawan trauma dan rasa kehilangan sekaligus berjuang membesarkan anaknya sendirian. The Babadook membawa kita masuk ke dalam sebuah aura klaustrophobia yang pekat dan kental bagai sebuah mimpi buruk dari menjadi seorang ibu.

Di satu sisi, tak heran ketika The Babadook hadir dengan review yang sangat bagus dari para kritikus. Ia hadir bagai gabungan dari The Shining dan Rosemary's Baby dengan kedalaman konten dan karakterisasi yang memukau. Namun di sisi lain bisa jadi ia sangat mengecewakan, terutama dari penggemar genre horror hantu-hantuan yang membutuhkan sarana untuk menginjeksikan adrenalin dan berteriak-teriak seru, bukannya ikut kelelahan dan depresi bersama dengan Amelia dan Samuel. 





[Review] Gone Girl : "Marriage Surely is a Hard Work!"



Warning : Sebelum membaca lebih jauh, tulisan ini mengandung spoiler. Gue udah berusaha banget untuk menahan diri buat ga spoiler, tapi apa boleh buat, it's so hard. Buat yang belum tahu seperti apa cerita Gone Girl, baik itu dari novel dan filmnya, you've been warned!

Year : 2014
Director : David Fincher
Screenplay : Gillian Flynn, based on novel 'Gone Girl' by Gillian Flynn
Cast : Ben Affleck, Rosamund Pike, Neil Patrick Harris, Tyler Perry, Carrie Coon

"You ended up hurting someone you love" adalah salah satu quote favorit gue dari film Blue Valentine. Call me a bitter person (which I am), tapi pada akhirnya menyakiti seseorang yang kita cintai adalah salah satu proses yang terjadi di dalam hidup. Hal yang sama kembali ditegaskan dalam film baru arahan salah satu sutradara favorit gue, David Fincher : Gone Girl.

Pertama-tama, gue mau ngasih warning aja dari awal, bisa jadi apa yang sedang kalian baca ini terasa bias. Itu adalah hal yang wajar mengingat : a. Gue paling suka sama film-filmnya Fincher dan b. Gone Girl adalah film yang paling gue tunggu di tahun ini. Fakta bahwa Gone Girl gagal tayang di Indonesia pas bulan Oktober lalu malah bikin gue patah hati. Kayak anak yang dijanjiin liburan ke ke rumah Nenek kalo nilai raportnya bagus, trus ternyata bokap nyokap lagi ga punya uang dan akhirnya hadiahnya diganti ama makan ayam KFC. Metafora yang barusan bukan curhat pribadi, tapi kurang lebih ngegambarin betapa besarnya ekspektasi gue (dan Fincher-ian Indonesia melarat lainnya) sama film yang digadang-gadangin bakalan masuk bursa award season nanti. 

Saat menulis novel Gone Girl, Gillian Flynn memang mempunyai intensi 'Andai Fincher nge-direct film gue, akan kayak gini jadinya'. Begitu Fincher beneran nge-direct film ini, wajar ketika Flynn sendiri yang didaulat buat menulis versi naskah layar lebarnya. Buat yang udah baca novelnya (gue sendiri masih belum selesai), mungkin udah punya ekspektasi sendiri gimana kerjasama Fincher - Flynn ini. Gak ada kekhawatiran, mengingat Fincher dikenal piawai dalam mengadaptasi film dari novel (kayak The Girl With The Dragon Tattoo atau Curious Case of Benjamin Button). Buat yang suka sama novelnya, pasti kinjong sendiri kayak sohib gue Candra (yang menerima berita gagal tayang tadi lebih drama dibandingin gue).


Nick Dunne (Affleck) adalah seorang pria yang hidup bersama istrinya Amy (Pike) di sebuah kota kecil. Menjalani bisnis bar bernama The Bar bersama adik kembarnya, Go (Coon) dan mengajar kelas menulis kreatif adalah aktivitasnya sehari-hari. Di hari perayaan pernikahannya yang kelima, Amy tiba-tiba menghilang. Hilangnya Amy segera diproses oleh kepolisian setempat dan dibesar-besarkan oleh media massa. Dalam penyelidikan kepolisian sendiri, Nick terlihat sangat mencurigakan. Sedangkan pemberitaan media yang begitu masif membuat pernikahan Nick - Amy yang terlihat adem ayem di luar mulai terkuak kebenarannya sedikit demi sedikit. Benarkah Nick membunuh istrinya sendiri? Ada apa sebenarnya di antara Nick dan Amy?

First of all, Gone Girl dibuat dengan banyak layer yang semakin lama semakin mengejutkan. Seperti sensasi saat pertama kali makan klepon, pertama-tama yang lo rasakan adalah lapisan tepung beras yang kenyal dan sulit ditembus terus duar..!! Lo tiba-tiba mendapati seluruh mulut lo dibanjiri dengan gula merah cair. Di awal, kita seolah disajikan sebuah film thriller biasa : seorang istri yang menghilang dan seluruh isi kota mencari keberadaannya. Namun semakin kita terperosok kedalamnya, ada banyak hal yang cukup mengganggu. Selalu ada dua sisi dari satu cerita, namun yang manakah yang benar? Apa benar Nick - Amy bahagia seperti yang terlihat? Dengan narasi dan flashback dari Amy, bisakah kita bisa menyimpulkan bahwa Nick yang salah? Atau justru Amy yang berbohong? Atau malah bisa jadi keduanya. Kalau iya, terus gimana? 



Kalau boleh jujur, menonton Gone Girl buat gue adalah sebuah mimpi buruk mengenai pernikahan. Secara mendalam, Gone Girl seolah ingin menunjukkan bagaimana rasanya ketika sebuah hubungan pasangan yang semakin mendingin dan menjauh satu sama lain. Bagaimana kedua orang yang dulu saling mencintai malah semakin membenci dan menyalahkan satu sama lainnya. Seperti yang sudah gue sebutkan di awal, Nick dan Amy benar-benar saling menyakiti satu sama lain dengan cara-cara yang manipulatif sekaligus 'sakit'. This is a warning, kita gak akan pernah bisa mengenal orang yang kita cintai. Apalagi jika ternyata pasangan lo adalah seorang psychopath dengan kemampuan manipulasi setara dengan Hannibal Lecter. 

Dari sisi filmnya sendiri, kita tahu persis yang kita harapkan saat menonton film-film besutan Fincher : dark and gloomy. Dan Gone Girl adalah bukti lain bahwa area kekuasaan Fincher memang ada di sini. Gelap, pekat, dan intens seperti darah adalah suasana dan mood yang gue dapatkan selama hampir 2 jam mantengin Gone Girl. Apalagi dengan bantuan scoring gila dari Trent Reznor dan Atticus Ross. Sulit untuk bisa bernafas ketika tiba-tiba satu demi satu layer disingkap ke permukaan.

Tanpa perlu bertele-tele, Gone Girl bisa ada di tahap sekeren ini tentu saja juga berkat aktor-aktor yang bermain di dalamnya. Banyak yang berpikir 'Why Ben Affleck?', tapi Affleck memang cocok sekali memainkan karakter Nick yang clueless. Aktor pendukung lain seperti Neil Patrick Harris, Carrie Coon, dan Tyler Perry bermain bagus. Tapi tak bisa dipungkiri, bintang dari film ini adalah si gone girl itu sendiri : Rosamund Pike. Dengan akting dan suaranya yang dalam, anggun, sekaligus tak terjangkau, Amy sukses menjungkirbalikkan persepsi penonton. Di suatu titik, we are all Team Amy. 



Secara keseluruhan, sensasi menonton Gone Girl udah kayak nonton Fight Club dan Se7en jadi satu. Ada banyak hal yang membuat Gone Girl begitu disturbing tanpa visual yang kejam seperti Se7en. Namun di sisi lain, ia juga bisa membuat otak meledak dengan tempo yang semakin menggila seperti di Fight Club. Dan buat Fincherian, kita semua udah seneng banget dikasih film bagus dan keren. Ini cara Fincher bersenang-senang : membingungkan, mengejutkan, sekaligus merangsang otak di saat yang bersamaan.

Dan memang ya, pernikahan adalah sebuah kerja keras dari kedua belah pihak. Selalu ada di saat-saat terbaik dan terburuk. Hadir di saat sakit maupun sehat, namun untuk kasus Gone Girl, 'sakit' adalah kata yang paling tepat. Terima kasih sudah bermain-main dengan benak gue, Fincher!




[Review] Sils Maria : Sebuah Proses Move One Seorang Aktor Watak

This review might contain spoilers. You have been warned!



Director : Olivier Assayas
Screenplay : Olivier Assayas
Cast : Juliet Binoche, Kristen Stewart, Chloe Grace Moretz

Inspirasi bisa datang dari mama saja, salah satunya adalah kehidupan asli para aktor di kehidupan nyata dan perjuangan mereka dalam melebur bersama peran yang akan mereka mainkan. Salah satu yang terbaru datang dari Prancis, yaitu Sils Maria (Cloud of Sils Maria) yang berkompetisi di kategori Palme d'Or di Cannes tahun ini.

Maria Enders (Binoche) adalah seorang aktris watak yang memiliki karir yang stabil dan dihargai di kalangan film dunia. Maloja Snake karya WIlhem Melchior merupakan karya yang meroketkan namanya sebagai jajaran aktris yang diperhitungkan. Maloja Snake sendiri berfokus pada hubungan tragis antara kedua orang wanita, yaitu Sigrid yang diperankan oleh Maria saat masih berusia 18 tahun dengan Helena yang jauh lebih tua dan berakhir mati bunuh diri. Dengan kematian Wilhem, seorang sutradara muda berniat untuk membuat ulang Maloja Snake dalam versi teater, kali ini dengan Maria akan berperan sebagai Helena.



Selama 2 jam lebih, penonton diajak untuk menyaksikan interaksi Binoche dan Stewart sebagai fokusnya. Bagaimana Maria sebagai seorang aktris senior 'dijerumuskan' oleh asistennya untuk mengambil peran Helena, yang merupakan kebalikan dari peran Sigrid yang ia ketahui. Perjuangan Maria untuk melebur dengan karakter Helena, dengan bantuan Val (Stewart) adalah sebuah pertunjukan hebat dari kekuatan dialog yang menjadi spesialisasi Assayas. Ini bukan hanya mengenai soal menghapalkan naskah semata, melainkan juga pergulatan batin bagi Maria sendiri untuk melanjutkan karirnya keluar dari selubung tokoh Sigrid sekaligus mencoba memahami Jo Ann (Moretz), aktris baru sebagai Sigrid yang baru. 

Tanpa perlu diragukan lagi, dengan kompleksnya hal-hal yang ingin disampaikan oleh Assayas dari dialog para karakternya akan terasa melempem tanpa penampilan prima dari ketiga tokoh sentralnya : Maria, Val, dan Jo Ann. Binoche tampil dengan begitu cemerlang dan memukau, terlihat begitu anggun sekaligus innocent dengan caranya sendiri. Stewart juga mampu mengimbangi kekuatan Binoche melalui karakter Val yang quirkie namun cuek. Stewart juga dapat menyampaikan emosi Val yang nyaris tak terlihat, bagai sebuah rasa gatal di permukaan kulit. Dia ada disitu, memohon untuk digaruk, namun kita mencoba untuk mengabaikannya, hingga akhirnya rasa gatal itu semakin menyita perhatian.


Satu hal yang bisa dicermati dari Sils Maria ada di kompleksitas konten terselubung yang ada di dalam isi dialog antara Maria - Val - Jo Ann dalam hal Maloja Snake itu sendiri. Ya, Maloja Snake adalah sebuah kisah tragis pasangan lesbian, dan cara Assayas mengarahkan ketiga pemain utamanya dalam interaksi mereka, somehow terasa ada yang lebih dari sekedar berlatih naskah. Ada sebuah ketertarikan kuat antara Maria dan Val, itu jelas. Dan bagaimana hubungan Maria dan Val tak ubahnya seperti Sigrid dan Helena dalam Maloja Snake itu sendiri.

Bagaimana pun juga, penampilan prima dari ketiga pemeran utama ditambah dengan sinematografi yang memanjakan mata membuat Sils Maria begitu memukau. Memang bukan film yang akan disukai oleh banyak orang, tapi mengingat dalamnya konten yang ingin disampaikan Assayas, Sils Maria jelas bukan film yang bisa dilewatkan begitu saja oleh penikmat film.

Sils Maria adalah satu dari delapan film terbaru Prancis yang ditayangkan di Festival Sinema Prancis 2014.