5 Reasons To Watch Utopia Now!
"Where is Jessica Hyde?"
Utopia adalah sebuah serial Inggris yang bener-bener out of my radar. Kalau bukan karena Fincher bakalan membuat versi USnya dengan HBO, gue mungkin ga akan pernah tau serial ini eksis (kayak IT Crowd yang ternyata....pecah parah lucunya. Ya, setelat itu emang gue). Dan fakta bahwa gue menulis ini hanya berarti satu : lo wajib tonton! (Bayangin gue ngomong ini dengan ekspresi super songong minta dijitak ya)
1. It's Only For 6 Episodes!
Cuma ada 6 episode dengan durasi rata-rata 45 menit saja. Gak kayak Tukang Bubur Naik Haji atau Gossip Girl tentu. Bayangkan saja seperti season pertama The Walking Dead yang super seru. Lalu kalikan tiga kali lipat. Ini yang bikin Utopia bisa dikhatamkan hanya dalam waktu sehari, kalo lo emang seniat itu. Cocok buat lo yg bingung
menghabiskan akhir pekan.
2. Intruiging Opening Act
Tanpa basa basi, Utopia dibuka dengan sebuah adegan pembantaian yang bakalan menarik perhatian lo. Lo akan bertanya-tanya mengenai apa yang terjadi sebenarnya.
Dan walaupun ada sesosok manusia berkostum kelinci di awal. Ini bukan Donny Darko. Percayalah, sama sekali bukan. Dan semakin sedikit yang lo tahu, semakin baik jadinya. Semakin paranoid juga jadinya.
3. Eye-Catchy Visualization & Ear-Dropping Scoring
Biasanya serial atau film bertemakan seperti ini akan mengambil warna gloomy, yang akan menambah unsur misteri namun di Utopia, lo akan melihat visualisasi penuh warna-warni mencolok dan ceria, kayak pake filter Vivid di Path. Terutama sekali warna kuning. Tapi tahukah elo bahwa kuning sesungguhnya bisa jadi warna yang menimbulkan depresi dan anxiety saking mencoloknya?
Belum lagi dengan scoringnya yang unik namun sanggup membuat sensasi geli dan nyeri di tempat-tempat tertentu karena lo tahu...ada sesuatu yang bakalan terjadi. And that's not a good thing.
4. Graphic Novel-esque
Serial kreasi Dennis Kelly ini membuat kita seolah membaca sebuah graphic novel. Pergerakan adegan yang selalu menyorot dari kejauhan dan penuh detail seperti satu gambar utuh penuh warna dalam panel. Ini seperti Sin City, hanya saja lebih berwarna. Dan karena ini serial Inggris, toleransi akan adegan kekerasan dan darahnya sanggup membuat mental gue diiris-iris.
Belum lagi dengan karakter-karakternya yang double layer dengan motivasi-motivasi yang jauh lebih mengerikan dari ambisi Bakrie jadi presiden. Dengan kegilaan yang terjadi, semua karakter utamanya ditampilkan dengan banyak variasi dari tangguh namun rapuh. Kayak kepiting, keras cangkangnya namun lembut dan enak isinya (Kecuali karakter Ian, IMHO. Gak ngerti fungsi dia disana jadi apaan).
5. The Original Is Better (?)
Semua orang tahu betapa jeniusnya Fincher. Dia bisa membuat versi remake The Girls With The Dragon Tattoo jadi sebuah karya dengan citarasa berbeda dengan aslinya, dengan kualitas yang lebih baik. Tapi, semua karya Fincher selalu punya warna dasar yang sama. Kelam. Kelabu. Seperti kidung kematian yang membayangi udara. Bayangkan ketika Utopia dibuat remakenya. Akankah akan tetap mempertahankan warna warni mencolok yang justru jadi kekuatan utamanya?
*nb : Penulis adalah seorang pecinta warna kuning, yang menyelesaikan serial ini dalam waktu 2 hari : 3 eps di hari pertama. Dan tersiksa saat bekerja di kantor karena rasa penasaran akan sisa episodenya.
Review : Donnie Darko ( 2001 )

Director: Richard Kelly
Screenplay: Richard Kelly
Cast: Jake Gyllenhaal, Maggie Gyllenhaal, Jena Malone, Drew Barrymore, Mary McDonnell, Holmes Osborne, Drew Barrymore, Patrick Swayze, Katherine Ross
Let’s face this : no one can really predicting of how a cinematic experience could be. Pengalaman menonton film itu selalu berbeda-beda, dan ini terkadang juga berbanding lurus dengan ekspektasi yang ada. Atau malah justru berbanding terbalik. Bisa jadi film yang kita harapkan bagus malah mengecewakan, atau sebaliknya. The key is, my friend, that expectation is a time bomb. Kita harus tahu persis apa yang kita harap akan dapatkan dari sebuah film hiburan. Kalau hanya ingin terhibur dan ketawa haha-hihi, ya jangan nonton film-filmnya Steve McQueen, misalnya. Iya emang, nonton film itu masalah selera, tapi jangan lantas nonton dengan ‘buta’, at least you should find any kind of information about the movie you will watch. Karena bahkan terkadang synopsis yang beredar di banyak media pun tidak bisa menjamin si ‘pengalaman menonton’ itu sendiri. Well in this case, gue mau bercerita sedikit soal Donnie Darko, sebuah film yang kata banyak orang membingungkan…but above of all is simply awesome.
So let me assure you, Donnie Darko memang bukan tipe film yang ingin kalian tonton di saat otak kalian butuh hiburan ringan, tapi kalau kalian memang suka dengan tipe-tipe film dengan banyak lapisan cerita dan juga unexpected twist, you can get it all from this one. You can get drama, you can get mystery, science-fiction…and above all of that you can get…oh wait, I won’t spoil it, since you may get another message from this one. But I really enjoy this one, and I cried in the ending of the movie. This is a perfect example of how a layered movie should be made. And for that, I gave Richard Kelly and Donnie Darko itself my four thumbs…or more if I can borrow someone’s thumbs.
*****
“She said that every living creature on Earth dies alone.”
This review is dedicated for my grandma, my fairy Godmother, Oma. I know this is a weird (or even sick) way to show how much I love you. We lost you, but I know you are in a better place now. Rest in peace, Oma…
Review : Peeping Tom ( 1960 )
"About The Movie and Its Controversial"
Screenplay : Leo Marks
Cast : Carl Boehm, Moira Shrearer, Anna Massey, Maxine Audley

Tahun 1960 mungkin adalah salah satu tahun bersejarah dalam dunia perfilman, ketika ada dua film bergenre horror thriller yang merubah wajah genre tersebut, sekaligus pemicu genre slasher yang begitu berkembang jaman sekarang. Film tersebut dibuat di dua negara berbeda, dengan sambutan yang sama-sama membuat para penontonnya begitu ketakutan saat itu. Film pertama adalah besutan sutradara legendaris Alfred Hitchcock, Psycho. Film bermedia hitam putih ini menjadi begitu melegenda dengan musiknya yang mencekam, dan adegan di kamar mandinya, yang merupakan adegan mandi pertama di film. Di Inggris, film kedua ditayangkan lebih awal dari Psycho, disutradarai oleh Powell, yang justru menerima kritikan begitu hebat yang membuatnya tidak pernah menyutradarai film lagi. Filmnya berjudul Peeping Tom. Di masa sekarang, Peeping Tom dianggap sebagai film horor Inggris terbaik sepanjang masa, dan Roger Ebert sendiri menempatkannya dalam daftar 'Great Movies' miliknya.
Hiduplah seorang kameramen film sekaligus fotografer untuk foto porno, Mark Lewis (Boehm). Pria ini pendiam, terlihat begitu tenang, dan tak berbahaya. Namun rupanya Mark menyimpan sebuah sisi gelap, dia senang membunuhi wanita-wanita yang kemudian dia rekam dengan kameranya. Di saat bersamaan, Mark berkenalan dengan seorang wanita muda dan naif, Helen (Massey) yang kemudian menjadi sangat tertarik untuk berteman dekat dengan Mark. Di tengah obsesinya merekam pembunuhan yang ia lakukan, Mark kini sadar bahwa Helen menjadi 'terlalu' dekat daripada yang ia inginkan. Mana yang akan ia pilih?
Ini adalah genre kesukaan gue, sebuah psychological thriller. Dan buat gue pribadi, sebuah film psychological thriller yang baik itu harus memiliki tiga cakupan : karakterisasi tokoh yang kuat, cerita yang tidak diduga-duga, dan musik scoring yang thrilling. Dan sebagai pelopor di genrenya, Peeping Tom adalah contoh yang sangat well made. Karakterisasi sang tokoh utama yang abu-abu, Mark digambarkan dengan detail. Penyebab 'sakit'nya, motivasinya dalam membunuh, sekaligus pergulatannya untuk menjadi manusia yang 'normal' digambarkan secara utuh. Dan hal ini yang jadi jualan utama filmnya. Gue, sebagai penonton tidak melihat karakter Mark sebagai pria yang pure jahat, yang membunuhi orang-orang hanya karena ia ingin. Tidak. Carl Boehm dengan apik memerankan Mark, dengan latar belakangnya sebagai kelinci percobaan oleh ayahnya sendiri. Dan dengan baiknya dia memerankan Mark, gue ikut merasakan pergolakan batin yang ia rasakan di klimaks filmnya. Membuktikan bahwa dia hanyalah seorang manusia.
Untuk cerita sendiri, gue bahkan tidak menduga twist yang terjadi sampai di ending, yang kembali membuat gue merasakan perasaan kasihan kepada Mark. Hal ini tidak akan terjadi tanpa karakterisasi yang begitu berkesinambungan dengan isi filmnya sendiri. Sejak awal, filmnya sudah menegangkan. Tambahkan sedikit drama dan musik yang mencekam, this is a perfect cult psychological thriller. Dan ya, musik yang digubah oleh Brian Easdale turut berperan penting dalam mempermainkan perasaan penonton. Harmonisasi yang begitu indah dari ketiga aspek yang udah gue sebutin di atas, Peeping Tom adalah film klasik wajib tonton bagi pecinta thriller seperti gue.
Satu-satunya kesalahan fatal dari Powell mungkin dengan mengadakan press screening. Sesungguhnya tidak ada visualisasi gore penuh darah di filmnya, namun yang membuat filmnya begitu kontroversial adalah karena para penonton di era itu merasakan perasaan 'simpati' kepada tokoh Mark, dan di saat itu, masa dimana ketika tidak mengenal area abu-abu, masa dimana yang hitam adalah hitam dan putih jelas putih, ini merupakan hal yang tidak dapat dimaafkan. Jadilah akhirnya pers mencaci film ini habis-habisan, membuat Powell 'kapok' untuk membuat film apapun lagi ke depannya.
Hal ini yang kemudian dijadikan pelajaran oleh Hitchcock ketika dia merilis film Psycho tiga bulan kemudian, membuat filmnya menjadi hit dan box office.
Padahal, kedua film ini memiliki banyak kesamaan satu sama lain. Tokoh utamanya sama-sama seorang pria psikopat yang terlihat tidak berbahaya, yang digambarkan dengan pendalaman karakter dan dari sisi psikologisnya sendiri, membuat kejadian yang ada di filmnya bisa terjadi kapanpun di sekeliling kita. Ini yang menjadikannya mengerikan, bahwa ini mungkin saja terjadi. Dalam sebuah artikel berjudul "'Peeping Tom' and 'Psycho' : Reinventing The Horror Film" disebutkan bahwa kedua film ini 'Coming of Age' dari genre horror, ketika sebelum kedua film ini dibuat, film horror yang ada selalu berfokus pada kisah dongeng klasik (seperti Nosferatu) atau monster. Peeping Tom dan Psycho lalu hadir dan mendobrak ketakutan manusia dengan menjeritkan ide mengenai adanya monster dalam seorang manusia, dan monster tersebut diciptakan oleh manusia lain. Seperti sebuah lingkaran setan yang tidak pernah akan ada habisnya.
And would you like to be the part of it?
Movie Review : Requiem for a Dream ( 2000 )
REQUIEM FOR A DREAM
" Defined the meaning of addiction"
Director : Darren Aronofsky
Screenplay : Darren Aronofsky and Hubert Selby Jr. ( based on novel Requiem of a Dream by Hubert Selby Jr )
Cast: Elien Burstyn, Jared Leto, Jennifer Connely, Marlon Wayans
Semuanya berawal ketika gue mulai mendengarkan musik 30 Seconds to
Mars, yang digawangi oleh Jared Leto. Menurut gue, 30 Seconds to Mars
adalah satu dari sedikit band rock terbaik di generasi gue. Dan Jared
Leto, mau diapain juga model rambutnya, adalah salah satu pria dengan
ketampanan yang gak manusiawi. Sebagai orang yang mengaku sangat
menyukai film, gue merasa sangat bodoh karena lebih mengenal Leto
sebagai seorang musisi dibandingkan dengan sebagai seorang aktor. Ya,
Jared Leto juga seorang aktor (dan mantan pacar Cameron Diaz, by the
way, seolah berita ini super penting). Dan setelah bertanya ke banyak
sumber terpercaya, Requiem of a Dream ada di dalam wajib tonton gue.
Di sudut kota New York, hiduplah seorang wanita paruh baya bernama Rose
Goldfarb (Burstyn) yang sangat terobsesi dengan sebuah acara televisi.
Hidupnya menjadi sangat berwarna ketika dia mendapat telepon yang
memberitahunya bahwa dia akan muncul di acara tersebut. Masalah kemudian
timbul ketika dia ingin menurunkan berat badannya, demi bisa memakai
gaun merah kesukaannya di acara tersebut. Di sisi lain ada Harry (Leto),
anak satu-satunya Rose yang bermimpi untuk bisa sukses bersama dengan
kekasihnya Marion Silver (Connelly) dan Tyrone (Wayans) dengan cara
berjualan heroin. Darisini, kita disuguhi realitas dan arti baru dari
kecanduan.
Kecanduan, menurut KBBI adalah kejangkitan suatu
kegemaran sehingga melupakan hal-hal lain. Hal ini yang begitu gamblang
divisualisasikan oleh Aronofsky. Setelah gue ikut tenggelam dalam
menelaah batas antara fantasi dan kenyataan di Black Swan, ini adalah
pengalaman kedua gue. Aronofsky punya kemampuan untuk membuat sisi gelap
manusia terlihat begitu menarik untuk diikuti, tidak peduli seberapa
menakutkannya itu. Mungkin memang bukan kesukaan banyak orang, tapi
setelah lo sudah terpikat dengan film-film sejenis ini, lo ga akan bisa
menolak buat nonton. Gue terutama sangat suka sama dengan short shot ke
arah wajah keempat tokohnya. Juga dengan scene-scene yang dengan sengaja
dipercepat maupun diperlambat dan warna-warna yang dipakai untuk
mempertegas keadaan dari keempat tokoh utama. Plus score musiknya.
Mencengangkan. Dan juga membius, membuat gue tidak bisa berhenti menatap
layar. Gue bahkan gak tau mau berkomentar apaan lagi.
Dari segi
akting, walau awalnya gue menonton film ini karena alasan Jared Leto,
tapi bintang utama dari film ini justru Elien Burstyn. Sebagai Rose, dia
dengan sangat cemerlang memerankan seorang sosok janda paruh baya yang
kesepian tanpa suami dan anaknya yang sibuk sendiri, ketika tujuan
hidupnya hanyalah sesederhana bisa mengenakan gaun merahnya.
Kegilaannya, kecintaannya terhadap makanan yang kemudian berubah menjadi
rasa takut, tentu bukan akting yang mudah. Terbukti dari nominasi best
actress dari Academy Award dan Golden Globe. Dan buat yang udah nonton
pasti akan mengerti kenapa gue berkomentar seperti ini. Begitu juga
dengan akting Leto, yang begitu meyakinkan sebagai seorang junkie.
Mengingat Aronofsky sendiri yang meminta Leto dan Wayans untuk berpuasa
gula dan seks selama sebulan demi mengerti dan mendalami perasaan sakaw
itu sendiri. Bukan pengalaman menonton yang menyenangkan, tentu, since
this one is tough, but it’s blown your mind, sampai ke titik yang gak
gue duga sebelumnya.
Mungkin ada banyak film yang berkisah mengenai
kecanduan, dengan begitu banyak aspek yang menjadi sudut pandang
utamanya. Tapi Requiem of a Dream menawarkan sisi yang begitu gelap
namun mengundang (emang, yang ‘gelap’ itu selalu lebih menarik!). Kisah
mengenai Harry-Marion-Tyrone mungkin adalah kisah klasik yang banyak
diangkat di film-film lain, namun tambahkan dengan kisah kecanduan Rose,
Requiem of a Dream menjelma menjadi salah satu paling berbahaya,
disturbing, depressing, namun brilian. Kecanduan yang divisualisasikan
oleh Aronofsky seolah menampar gue. Tidakkah gue juga begitu, dalam
artian yang lain? It is chilled my spine, not in a good way. So yes,
I’ve warned you, buat yang gak suka dengan tema film seperti ini, don’t
waste your time, karena perasaan setelah nontonnya yang bener-bener
tidak menyenangkan. Percaya deh, hahaha.
Dalam hidup kita, sadar
maupun tidak sadar, kita semua terpasung dalam kecanduan kita sendiri.
Ada begitu banyak jenis penghambaan terhadap banyak hal, yang membuat
kita lupa akan hal-hal lain, mau kadarnya kecil maupun besar. Jangan
sampai kita menjadi berakhir seperti Rose ataupun Harry, menjadi terlalu
masuk ke dalam dunia yang sibuk kita ciptakan tanpa menoleh ke arah
manapun untuk sekedar meminta pertolongan. We all have our own
addiction. To the technology, to the food, to sex, or even to
Fassbender. Mine is addicted to an empty hope. But after re-thinking it
again, don’t we all like that?
And now I’m scared to death.
Trailer :Review : We Need To Talk About Kevin – ” a Parenthood Nightmare “
Director : Lynne Ramsay
Screenplay : Lynne Ramsay and Rory Stewart Kinnear based on novel by Lionel Shriver
Cast : Tilda Swinton, John C. Reilly, Ezra Miller

Menjadi seorang ibu adalah salah satu pengalaman terbaik dalam hidup gue, yang tak akan gue tukar dengan segenggam berlian atau emas batangan. Kids loving you unconditionally. And you will loving them unconditionally too. No matter what, anak adalah versi mini dari kita. Ada sebuah ikatan batin yang terjadi. Namun nyatanya, banyak juga para ibu yang tidak merasakan ikatan ini terhadap buah hatinya sendiri. Hal inilah yang diangkat oleh Lionel Shriver dalam novel berjudul We Need To Talk About Kevin yang kemudian divisualisasikan oleh Lynne Ramsay dalam film berjudul sama.
Penyuka drama dengan tema yang tidak umum? Berarti We Need To Talk About Kevin mungkin wajib masuk dalam watchlist. Hehe, sebenernya gue udah lumayan lama mewajibkan diri sendiri untuk menonton film ini. Tayang pertama kali pada 12 Mei 2011 di Cannes, dan kemudian rilis secara terbatas tanggal 13 Januari 2012, film ini memang bukan jenis film yang akan dilirik penonton kebanyakan. Sebuah film berbudget kecil, dengan pemain-pemain yang tidak familiar dan menarik penonton kebanyakan. Namun toh kualitasnya tidak sekecil budgetnya. Menurut gue ini bahkan adalah salah satu film yang sangat kompleks dan memiliki cerita berlapis. Dan ya, menimbulkan kontroversi yang tidak akan pernah habis untuk dibicarakan (okay, kalimat barusan mulai mirip sama acara infotainment).
Film ini mengambil sudut pandang Eva Khatchadourian (Swinton), seorang ibu dimana anaknya Kevin (Miller) adalah pelaku pembantaian di SMAnya. Sejak Kevin lahir, Eva tidak bisa merasakan suatu ikatan emotional ibu-anak terhadap Kevin sebagaimana lazimnya ibu pada umumnya. Eva sendiri malah merasakan ada suatu kejanggalan terhadap Kevin, hal yang malah dianggap normal oleh suaminya, Frank (C. Reilly). Alur filmnya sendiri maju-mundur. Namun, sepanjang durasi 112 menit, kita akan disuguhkan sebuah drama yang mencekam dan mencengangkan.
Begitu banyak review positif dari film ini sendiri. Situs Rotten Tomatoes memberikan rating 76% “Certified Fresh”, dan Roger Ebert memberikan bintang 4/4 bahkan menjulukinya sebagai “Masterful Film”. Dan karena ini review gue, ijinkanlah gue untuk membahas film ini, kalau perlu sampai ke tiap lapisannya, dan gue jamin, kalau kalian penikmat film seperti ini, We Need To Talk About Kevin tidak akan mengecewakan.
Sebelumnya, maafkan gue, tapi gue bahkan belum pernah mendengar nama Lynne Ramsay sampai film ini masuk daftar buruan gue (Shame on me!!!). Praktis, ini adalah film pertama Ramsay buat gue. Dan hasilnya tidak mengecewakan.
Filmnya sejak awal sudah menawarkan aura depresi dan mencekam, dengan tone berwarna hitam dan merah. Terutama scene awal, ketika Eva sedang berpesta di La Tomatina, sebuah festival melempar tomat di Spanyol. Belum pernah gue merasa begitu jijik melihat lautan manusia yang sedang berenang di dalam kubangan berton-ton tomat hancur. See? Bahkan festival yang mestinya penuh dengan euphoria positif terlihat begitu depresi di bawah arahan Lynne Ramsay. Belum lagi ditambah dengan musik scoring yang mencekam, gue bisa mendengar sendiri suara detak jantung gue yang bertalu-talu. It’s a chilling sensation. Superb.
Hal ini makin diperkuat dengan akting menawan dari Tilda Swinton. Gue pertama kali mengenal Swinton sebagai White Witch di Narnia Chronicle, yang menurut gue berakting paling menawan. Di film ini akting Swinton-lah tiang penopang dan kunci kesuksesannya. Aktingnya sebagai ibu yang depresi dan dikucilkan oleh lingkungannya karena menjadi ibu dari seorang pembunuh membuat gue begitu trenyuh. Dan justru dengan penggunaan format alur maju mundur, Swinton sangat berhasil menyampaikan beribu emosi kepada penonton (dalam hal ini adalah gue).
Dalam diamnya atau tatapan matanya, kita bisa merasakan rasa frustasi sekaligus penyesalannya terhadap Kevin. Di sisi lain, sebagai Kevin remaja ada Ezra Miller dan Jasper Newell yang memerankan Kevin cilik. Akting keduanya lumayan bisa mengimbangi Swinton. Tatapan mata penuh kebencian dari Kevin cukup membuat orang tua manapun menggigil ketakutan dan berdoa agar anak mereka tidak seperti itu. Ada satu scene dari Kevin versi Miller yang membuat gue sampai saat ini bergidik. Akting yang mengerikan.
Dari beberapa komentar, ada yang beranggapan Kevin adalah seorang pure evil. Menurut gue itu tidak mungkin. He’s not an evil.
Kevin is a sociopath, has a level zero of empathy, and also born as a manipulator. Dan kemungkinan ini diperburuk oleh rasa frustasi dan ketidaksiapan Eva untuk memiliki Kevin sejak awal (believe me, Baby Blues Syndrome is not a hoax) dan juga Franklin, suami Eva, dimana disini mewakili bangsa Amerika Serikat dengan rasa optimisme yang berlebihan. Dan menurut gue, alasan Kevin membantai teman-teman dan keluarganya, dengan hanya menyisakan ibunya, adalah bentuk rasa sayangnya kepada Eva. Kevin, in his own (sick) way, is loving his mother. Dengan ending yang indah tanpa perlu berlebihan, dan sekaligus meng-capture semua emosi dari Eva. Overall, tak ada ibu yang tak mencintai anaknya. Mau seperti apapun, a mother will always love and accept their children, without any condition. Like I said earlier, being a mother it’s an unconditional love.
We Need To Talk Kevin surely will be talked for years, for its creepy, thrilling, and chilling sensation, and also a bit controversy theme. It’s not an easy movie for me. For me, it’s a nightmare for every parenthood and maternity around the world.
“There’s no point. That’s the point.”
Official Trailer :
Movie Review : Vertigo
Vertigo ( 1958 )
Director : Alfred Hitchcock
Screenplay : Alec Coppel and Samuel A. Taylor
based on novel D’enteres les morts by Boileau-Narcejac
Cast : James Stewart, Kim Novak, BarbaraBel Gedes
Gue kemudian bercerita kalau tempo hari gue nonton 12 Angry Men yang notabene dibuat tahun 1957 dan berencana akan menonton Vertigo (1958). Buat dia mungkin gue terdengar aneh, kok mau-maunya nonton film jadul. Sekali lagi : beda definisi, beda pandangan, dan beda selera yang menentukan. Sah-sah aja sih, sebenernya. Kembali lagi, sebenarnya definisi film itu apa?
Buat seorang penikmat awam, yang hanya menginginkan hiburan yang ia suka tanpa perlu berpikir soal tetek bengek siapa sutradara dan pemainnya, kualitas akting, maupun hal-hal artistik lain segala rupa, film jadul mungkin gak akan pernah diliriknya. Tapi buat beberapa pecinta film, film klasik adalah sebuah keharusan. Seorang sahabat gue bahkan adalah pecinta film film Screwball Comedy yang notabene berada di sekitaran tahun 1930-1940 (era Great Depression). Jadi, mau perang urat syaraf sampai kapan pun, film adalah masalah selera pribadi yang gak bisa diganggu gugat.
Perkenalan pertama gue dengan film klasik adalah dengan Psycho (1960), sebuah karya legendaris dari master of suspence, Alfred Hitchcock. Agak riskan sebenarnya waktu itu karena medianya hitam-putih. I might ended up hating it. But I didn’t. Awalnya gue sedikit kaget dengan setting film yang begitu jadul, karena adanya sebuah gap budaya dan generasi yang begitu besar, namun setelah mengeset ulang ekspektasi, it was spectacular and beyond amazing! Jadilah, gue menjadi agak terobsesi untuk menonton semua film karya Hitchcock. Sebuah sensasi sinematik yang begitu orgasmik, buat gue setidaknya. Setelah Rear Window yang begitu artistik, rumit, dan teliti juga Rope dengan karakterisasi menawan dan long shot scene-nya yang breathtaking, this is time for Vertigo!
John ‘Scottie’ Ferguson (Stewart) adalah seorang detektif polisi yang memutuskan untuk pensiun setelah shock atas kematian partnernya, yang tak bisa ia selamatkan karena rupanya dia menderita acrophobia (fobia terhadap tempat tinggi). Hari-harinya ia jalani dengan mengunjungi teman dekatnya Midge Wood (Geddes). Suatu hari, Scottie diundang oleh kawan lamanya, Galvin Elster (Helmore) yang memintanya untuk menyelidiki istrinya, Madeleine Elster (Novak) yang bertindak sangat aneh. Scottie pun menerimanya, tanpa tahu konsekuensi apa yang harus diterimanya.
Siapa yang tidak mengenal Alfred Hitchcock? Sebagai pecinta film, at least pasti pernah dengar namanya. Beliau dielu-elukan sebagai salah satu sutradara paling jenius sepanjang masa, the Master of Suspense karena kesukaanya membesut film-film bergenre Psychological Thriller. Siapa yang bisa melupakan scene di kamar mandi di film Psycho? Salah satu scene paling memorable sepanjang masa. Bukti bahwa untuk membuat sebuah adegan sadis tidak melulu membutuhkan segalon darah palsu maupun tubuh yang terpotong. Artistik dan indah, dilihat dari segi manapun. Dan di Vertigo, Hitchcock membawa gue ke pengalaman baru yang sama sekali berbeda dengan 3 film sebelumnya, namun tetap breathtaking experience
Vertigo dikenal sebagai satu dari “Five Lost Hitchcock” (bersama dengan Rear Window, The Man Who Knew Too Much, Rope, dan The Trouble With Harry) menghilang selama beberapa dekade, yang kemudian dibeli kembali oleh Hitchcock. Ketika ditayangkan, awalnya Vertigo mendapat sambutan beragam baik dari kritikus maupun penonton. Hitchcock menyalahkan Stewart yang menurutnya terlihat tua di film ini, menjadikan Vertigo sebagai kerjasama terakhir Hitchcock-Stewart. Namun setelah akhirnya direstorasi oleh Robert A. Harris dan James C. Katz dan ditayangkan ulang pada tahun 1996, sambutannya berbanding terbalik hingga 180 derajat. Kritikus mengelu-elukannya sebagai salah satu karya terbaik Hitchcock, bersanding dengan Psycho.
Di Vertigo, Hitchcock meng-capture pemandangan San Francisco dengan begitu elegan. Terasa jadul memang, tapi justru membuat gue merinding kagum dengan keelokan dan keindahan landscapenya. Akting Stewart dan Novak, sebagai tonggak utama filmnya, mengesankan. Walau jujur, gue sebenernya lebih suka dengan chemistry antara Stewart-Kelly di Rear Window, yang terlihat elegan dan classy dengan caranya sendiri. Score musiknya sendiri mencekam, dan secara tidak langsung berkolerasi dengan judul filmnya sendiri. Dan gue setuju dengan pendapat Martin Scorsese mengenai scoringnya. Rasanya seperti kita dibawa berputar-putar dalam sebuah lingkaran spiral berulang kali. Menimbulkan sensasi berputar yang menegangkan namun membuat ketagihan.
Toh, Vertigo punya kelasnya sendiri. Kedalaman karakter Scottie digambarkan secara utuh. Ketakutannya akan ketinggian, depresinya, rasa bersalahnya, juga obsesinya tak sehat akan wanita yang ia cintai. Dark, yet inviting us to watch it more and more. Dan dengan aroma sex dan kematian yang membumbui film ini (but please, don’t expect any sex scene, as this is a classic movie that had a very classy way to show the sex scent withour the scene ;p), inilah kekuatan utama dari Vertigo. Sebuah film roman sekaligus thriller yang kualitasnya sulit disamai sampai kapanpun juga.
Walau filmnya awalnya berjalan lambat, namun Vertigo secara perlahan membangun tensi ketegangan, membuat gue menebak-nebak, kemudian mementahkan tebakan tersebut. Dan ketika gue mengira filmnya sudah mencapai klimaks…ternyata gue salah besar! Kalau mau dianalogikan, menonton Vertigo rasanya bagaikan memakan rainbow cake yang tiap lapisan warnanya punya rasa yang berbeda. Dan begitu dimakan sekaligus dalam satu suapan…campuran adrenalin, rasa kagum, dan pikiran yang diaduk-aduk menjadikan sebuah pengalaman baru dalam menonton.
Mengejutkan. Sekaligus membuat kita ketagihan, lagi dan lagi.Jadi, film jadul tak selamanya membuat kita yang menonton mengalami gap budaya dan generasi yang begitu besar. Sebaliknya, untuk yang sudah terbiasa, film klasik punya kelasnya sendiri. Dimana dengan keterbatasan teknologi dibanding sekarang, justru membuktikan bahwa film bagus adalah film yang mempunya cerita yang kuat dan mendalam, yang membuat penontonnya terlena sepanjang durasi dan membuat lupa bahwa si penonton menghirup udara di tahun 2012, bukannya tahun 50an! Definitely a mind blowing from the Master of Suspence! And yes, Mr Hitchcock, thank you for blowing my mind again. I’ll wait for the next orgasms cinematic sensation from your other masterpiece.
What’s next? Any idea?
Official Trailer :
About
Proud Single Fighter - Subterranian Homesick Alien - Paranoid, but not an Android











