Review : Donnie Darko ( 2001 )

19.12 Indanavetta 1 Comments

DONNIE DARKO
" One perfect example of how layered movie should be made"

















Director: Richard Kelly
Screenplay: Richard Kelly
Cast: Jake Gyllenhaal, Maggie Gyllenhaal, Jena Malone, Drew Barrymore, Mary McDonnell,  Holmes Osborne, Drew Barrymore, Patrick Swayze, Katherine Ross

Let’s face this : no one can really predicting of how a cinematic experience could be. Pengalaman menonton film itu selalu berbeda-beda, dan ini terkadang juga berbanding lurus dengan ekspektasi yang ada. Atau malah justru berbanding terbalik. Bisa jadi film yang kita harapkan bagus malah mengecewakan, atau sebaliknya. The key is, my friend, that expectation is a time bomb. Kita harus tahu persis apa yang kita harap akan dapatkan dari sebuah film hiburan. Kalau hanya ingin terhibur dan ketawa haha-hihi, ya jangan nonton film-filmnya Steve McQueen, misalnya. Iya emang, nonton film itu masalah selera, tapi jangan lantas nonton dengan ‘buta’, at least you should find any kind of information about the movie you will watch. Karena bahkan terkadang synopsis yang beredar di banyak media pun tidak bisa menjamin si ‘pengalaman menonton’ itu sendiri. Well in this case, gue mau bercerita sedikit soal Donnie Darko, sebuah film yang kata banyak orang membingungkan…but above of all is simply awesome.

Donnie Darko (Jake Gyllenhaal) is one of troubled teenagers, yang sangat sulit membangun kedekatan dengan orang-orang di sekelilingnya, bahkan termasuk keluarganya. Kerap bertengkar dengan sang kakak Elizabeth (Maggie Gyllenhaal), sulit dipahami oleh sang ibu Rose (McDonnell), dan bahkan rutin bertemu dengan psikiater, Dr. Thurman (Ross) dikarenakan masa lalunya yang bermasalah. Di suatu malam, Donnie berjalan dalam tidurnya dan bertemu dengan sesosok manusia berkostum kelinci yang menyeramkan bernama Frank. Dengan lugas Frank berkata bahwa dunia akan segera berakhir, dan Donnie adalah orang yang dipilih Frank untuk memperingatkan semua orang…dengan caranya sendiri.

Donnie Darko dirilis pada tanggal 19 Januari 2001 pada Sundance Film Festival, lalu kemudian rilis secara terbatas (hanya 58 layar) di bioskop Amerika Serikat pada bulan Oktober 2001 dengan komentar beragam, walau kemudian pada akhirnya menjelma menjadi salah satu film cult dengan fan base yang cukup besar. Bisa sangat dimengerti kenapa banyak orang yang merasa kebingungan ketika menonton film ini karena sesungguhnya film ini juga sulit untuk ditangkap ‘pesan’nya. Bisa jadi, apa yang gue dapat dari Donnie Darko berbeda dari apa yang kalian dapatkan, dan bukan berarti itu salah. Dan demi kenikmatan menonton buat kalian yang belum, gue tidak mau membahas soal jalan cerita filmnya atau apapun yang berkaitan dengan itu, because believe me, Donnie Darko adalah salah satu film dengan banyak lapisan cerita terbaik yang pernah ada. Dengan begitu banyak lapisan cerita, justru tidak membuat filmnya menjadi kehilangan fokus atau lantas jadi bertele-tele. Nope, Richard Kelly yang juga menulis skenarionya dengan sangat rapi menyusun tempo film dengan banyak detail disana-sini, yang lantas membuat gue yang menonton jadi keasyikan ikut merangkai semua teka-teki yang ada, dan ketika menuju ending…BAM! Gue salah 180o!

So let me assure you, Donnie Darko memang bukan tipe film yang ingin kalian tonton di saat otak kalian butuh hiburan ringan, tapi kalau kalian memang suka dengan tipe-tipe film dengan banyak lapisan cerita dan juga unexpected twist, you can get it all from this one. You can get drama, you can get mystery, science-fiction…and above all of that you can get…oh wait, I won’t spoil it, since you may get another message from this one. But I really enjoy this one, and I cried in the ending of the movie. This is a perfect example of how a layered movie should be made. And for that, I gave Richard Kelly and Donnie Darko itself my four thumbs…or more if I can borrow someone’s thumbs.

*****













“She said that every living creature on Earth dies alone.”

This review is dedicated for my grandma, my fairy Godmother, Oma. I know this is a weird (or even sick) way to show how much I love you. We lost you, but I know you are in a better place now. Rest in peace, Oma…

1 komentar: