Movie Review : Requiem for a Dream ( 2000 )

20.52 Indanavetta 1 Comments

REQUIEM FOR A DREAM
" Defined the meaning of addiction"

Director : Darren Aronofsky
Screenplay : Darren Aronofsky and Hubert Selby Jr. ( based on novel Requiem of a Dream by Hubert Selby Jr )
Cast: Elien Burstyn, Jared Leto, Jennifer Connely, Marlon Wayans


 
 
 
 
 
 

Semuanya berawal ketika gue mulai mendengarkan musik 30 Seconds to Mars, yang digawangi oleh Jared Leto. Menurut gue, 30 Seconds to Mars adalah satu dari sedikit band rock terbaik di generasi gue. Dan Jared Leto, mau diapain juga model rambutnya, adalah salah satu pria dengan ketampanan yang gak manusiawi. Sebagai orang yang mengaku sangat menyukai film, gue merasa sangat bodoh karena lebih mengenal Leto sebagai seorang musisi dibandingkan dengan sebagai seorang aktor. Ya, Jared Leto juga seorang aktor (dan mantan pacar Cameron Diaz, by the way, seolah berita ini super penting). Dan setelah bertanya ke banyak sumber terpercaya, Requiem of a Dream ada di dalam wajib tonton gue.

Di sudut kota New York, hiduplah seorang wanita paruh baya bernama Rose Goldfarb (Burstyn) yang sangat terobsesi dengan sebuah acara televisi. Hidupnya menjadi sangat berwarna ketika dia mendapat telepon yang memberitahunya bahwa dia akan muncul di acara tersebut. Masalah kemudian timbul ketika dia ingin menurunkan berat badannya, demi bisa memakai gaun merah kesukaannya di acara tersebut. Di sisi lain ada Harry (Leto), anak satu-satunya Rose yang bermimpi untuk bisa sukses bersama dengan kekasihnya Marion Silver (Connelly) dan Tyrone (Wayans) dengan cara berjualan heroin. Darisini, kita disuguhi realitas dan arti baru dari kecanduan.

Kecanduan, menurut KBBI adalah kejangkitan suatu kegemaran sehingga melupakan hal-hal lain. Hal ini yang begitu gamblang divisualisasikan oleh Aronofsky. Setelah gue ikut tenggelam dalam menelaah batas antara fantasi dan kenyataan di Black Swan, ini adalah pengalaman kedua gue. Aronofsky punya kemampuan untuk membuat sisi gelap manusia terlihat begitu menarik untuk diikuti, tidak peduli seberapa menakutkannya itu. Mungkin memang bukan kesukaan banyak orang, tapi setelah lo sudah terpikat dengan film-film sejenis ini, lo ga akan bisa menolak buat nonton. Gue terutama sangat suka sama dengan short shot ke arah wajah keempat tokohnya. Juga dengan scene-scene yang dengan sengaja dipercepat maupun diperlambat dan warna-warna yang dipakai untuk mempertegas keadaan dari keempat tokoh utama. Plus score musiknya. Mencengangkan. Dan juga membius, membuat gue tidak bisa berhenti menatap layar. Gue bahkan gak tau mau berkomentar apaan lagi.
Dari segi akting, walau awalnya gue menonton film ini karena alasan Jared Leto, tapi bintang utama dari film ini justru Elien Burstyn. Sebagai Rose, dia dengan sangat cemerlang memerankan seorang sosok janda paruh baya yang kesepian tanpa suami dan anaknya yang sibuk sendiri, ketika tujuan hidupnya hanyalah sesederhana bisa mengenakan gaun merahnya. Kegilaannya, kecintaannya terhadap makanan yang kemudian berubah menjadi rasa takut, tentu bukan akting yang mudah. Terbukti dari nominasi best actress dari Academy Award dan Golden Globe. Dan buat yang udah nonton pasti akan mengerti kenapa gue berkomentar seperti ini. Begitu juga dengan akting Leto, yang begitu meyakinkan sebagai seorang junkie. Mengingat Aronofsky sendiri yang meminta Leto dan Wayans untuk berpuasa gula dan seks selama sebulan demi mengerti dan mendalami perasaan sakaw itu sendiri. Bukan pengalaman menonton yang menyenangkan, tentu, since this one is tough, but it’s blown your mind, sampai ke titik yang gak gue duga sebelumnya.

Mungkin ada banyak film yang berkisah mengenai kecanduan, dengan begitu banyak aspek yang menjadi sudut pandang utamanya. Tapi Requiem of a Dream menawarkan sisi yang begitu gelap namun mengundang (emang, yang ‘gelap’ itu selalu lebih menarik!). Kisah mengenai Harry-Marion-Tyrone mungkin adalah kisah klasik yang banyak diangkat di film-film lain, namun tambahkan dengan kisah kecanduan Rose, Requiem of a Dream menjelma menjadi salah satu paling berbahaya, disturbing, depressing, namun brilian. Kecanduan yang divisualisasikan oleh Aronofsky seolah menampar gue. Tidakkah gue juga begitu, dalam artian yang lain? It is chilled my spine, not in a good way. So yes, I’ve warned you, buat yang gak suka dengan tema film seperti ini, don’t waste your time, karena perasaan setelah nontonnya yang bener-bener tidak menyenangkan. Percaya deh, hahaha. 

Dalam hidup kita, sadar maupun tidak sadar, kita semua terpasung dalam kecanduan kita sendiri. Ada begitu banyak jenis penghambaan terhadap banyak hal, yang membuat kita lupa akan hal-hal lain, mau kadarnya kecil maupun besar. Jangan sampai kita menjadi berakhir seperti Rose ataupun Harry, menjadi terlalu masuk ke dalam dunia yang sibuk kita ciptakan tanpa menoleh ke arah manapun untuk sekedar meminta pertolongan. We all have our own addiction. To the technology, to the food, to sex, or even to Fassbender. Mine is addicted to an empty hope. But after re-thinking it again, don’t we all like that?
And now I’m scared to death.
 Trailer :



 

1 komentar: