5 Reasons To Watch Utopia Now!

04.20 Indanavetta Putri 0 Comments

"Where is Jessica Hyde?"


Utopia adalah sebuah serial Inggris yang bener-bener out of my radar. Kalau bukan karena Fincher bakalan membuat versi USnya dengan HBO, gue mungkin ga akan pernah tau serial ini eksis (kayak IT Crowd yang ternyata....pecah parah lucunya. Ya, setelat itu emang gue). Dan fakta bahwa gue menulis ini hanya berarti satu : lo wajib tonton! (Bayangin gue ngomong ini dengan ekspresi super songong minta dijitak ya)

1. It's Only For 6 Episodes!

Cuma ada 6 episode dengan durasi rata-rata 45 menit saja. Gak kayak Tukang Bubur Naik Haji atau Gossip Girl tentu. Bayangkan saja seperti season pertama The Walking Dead yang super seru. Lalu kalikan tiga kali lipat. Ini yang bikin Utopia bisa dikhatamkan hanya dalam waktu sehari, kalo lo emang seniat itu. Cocok buat lo yg bingung
menghabiskan akhir pekan.

2. Intruiging Opening Act

Tanpa basa basi, Utopia dibuka dengan sebuah adegan pembantaian yang bakalan menarik perhatian lo. Lo akan bertanya-tanya mengenai apa yang terjadi sebenarnya.

Dan walaupun ada sesosok manusia berkostum kelinci di awal. Ini bukan Donny Darko. Percayalah, sama sekali bukan. Dan semakin sedikit yang lo tahu, semakin baik jadinya. Semakin paranoid juga jadinya.

3. Eye-Catchy Visualization & Ear-Dropping Scoring

Biasanya serial atau film bertemakan seperti ini akan mengambil warna gloomy, yang akan menambah unsur misteri namun di Utopia, lo akan melihat visualisasi penuh warna-warni mencolok dan ceria, kayak pake filter Vivid di Path. Terutama sekali warna kuning. Tapi tahukah elo bahwa kuning sesungguhnya bisa jadi warna yang menimbulkan depresi dan anxiety saking mencoloknya?

Belum lagi dengan scoringnya yang unik namun sanggup membuat sensasi geli dan nyeri di tempat-tempat tertentu karena lo tahu...ada sesuatu yang bakalan terjadi. And that's not a good thing.

4. Graphic Novel-esque

Serial kreasi Dennis Kelly ini membuat kita seolah membaca sebuah graphic novel. Pergerakan adegan yang selalu menyorot dari kejauhan dan penuh detail seperti satu gambar utuh penuh warna dalam panel. Ini seperti Sin City, hanya saja lebih berwarna. Dan karena ini serial Inggris, toleransi akan adegan kekerasan dan darahnya sanggup membuat mental gue diiris-iris.

Belum lagi dengan karakter-karakternya yang double layer dengan motivasi-motivasi yang jauh lebih mengerikan dari ambisi Bakrie jadi presiden. Dengan kegilaan yang terjadi, semua karakter utamanya ditampilkan dengan banyak variasi dari tangguh namun rapuh. Kayak kepiting, keras cangkangnya namun lembut dan enak isinya (Kecuali karakter Ian, IMHO. Gak ngerti fungsi dia disana jadi apaan).

5. The Original Is Better (?)

Semua orang tahu betapa jeniusnya Fincher. Dia bisa membuat versi remake The Girls With The Dragon Tattoo jadi sebuah karya dengan citarasa berbeda dengan aslinya, dengan kualitas yang lebih baik. Tapi, semua karya Fincher selalu punya warna dasar yang sama. Kelam. Kelabu. Seperti kidung kematian yang membayangi udara. Bayangkan ketika Utopia dibuat remakenya. Akankah akan tetap mempertahankan warna warni mencolok yang justru jadi kekuatan utamanya?

*nb : Penulis adalah seorang pecinta warna kuning, yang menyelesaikan serial ini dalam waktu 2 hari : 3 eps di hari pertama. Dan tersiksa saat bekerja di kantor karena rasa penasaran akan sisa episodenya.

0 komentar: