Review : We Need To Talk About Kevin – ” a Parenthood Nightmare “

21.02 Indanavetta 0 Comments


WE NEED TO TALK ABOUT KEVIN

Director : Lynne Ramsay
Screenplay : Lynne Ramsay and Rory Stewart Kinnear based on novel by Lionel Shriver
Cast : Tilda Swinton, John C. Reilly, Ezra Miller




Menjadi seorang ibu adalah salah satu pengalaman terbaik dalam hidup gue, yang tak akan gue tukar dengan segenggam berlian atau emas batangan. Kids loving you unconditionally. And you will loving them unconditionally too. No matter what, anak adalah versi mini dari kita. Ada sebuah ikatan batin yang terjadi. Namun nyatanya, banyak juga para ibu yang tidak merasakan ikatan ini terhadap buah hatinya sendiri. Hal inilah yang diangkat oleh Lionel Shriver dalam novel berjudul We Need To Talk About Kevin yang kemudian divisualisasikan oleh Lynne Ramsay dalam film berjudul sama.
Penyuka drama dengan tema yang tidak umum? Berarti We Need To Talk About Kevin mungkin wajib masuk dalam watchlist. Hehe, sebenernya gue udah lumayan lama mewajibkan diri sendiri untuk menonton film ini. Tayang pertama kali pada 12 Mei 2011 di Cannes, dan kemudian rilis secara terbatas tanggal 13 Januari 2012, film ini memang bukan jenis film yang akan dilirik penonton kebanyakan. Sebuah film berbudget kecil, dengan pemain-pemain yang tidak familiar dan menarik penonton kebanyakan. Namun toh kualitasnya tidak sekecil budgetnya. Menurut gue ini bahkan adalah salah satu film yang sangat kompleks dan memiliki cerita berlapis. Dan ya, menimbulkan kontroversi yang tidak akan pernah habis untuk dibicarakan (okay, kalimat barusan mulai mirip sama acara infotainment).

Film ini mengambil sudut pandang Eva Khatchadourian (Swinton), seorang ibu dimana anaknya Kevin (Miller) adalah pelaku pembantaian di SMAnya. Sejak Kevin lahir, Eva tidak bisa merasakan suatu ikatan emotional ibu-anak terhadap Kevin sebagaimana lazimnya ibu pada umumnya. Eva sendiri malah merasakan ada suatu kejanggalan terhadap Kevin, hal yang malah dianggap normal oleh suaminya, Frank (C. Reilly). Alur filmnya sendiri maju-mundur. Namun, sepanjang durasi 112 menit, kita akan disuguhkan sebuah drama yang mencekam dan mencengangkan.

Begitu banyak review positif dari film ini sendiri. Situs Rotten Tomatoes memberikan rating 76% “Certified Fresh”, dan Roger Ebert memberikan bintang 4/4 bahkan menjulukinya sebagai “Masterful Film”. Dan karena ini review gue, ijinkanlah gue untuk membahas film ini, kalau perlu sampai ke tiap lapisannya, dan gue jamin, kalau kalian penikmat film seperti ini, We Need To Talk About Kevin tidak akan mengecewakan.
Sebelumnya, maafkan gue, tapi gue bahkan belum pernah mendengar nama Lynne Ramsay sampai film ini masuk daftar buruan gue (Shame on me!!!). Praktis, ini adalah film pertama Ramsay buat gue. Dan hasilnya tidak mengecewakan.

Filmnya sejak awal sudah menawarkan aura depresi dan mencekam, dengan tone berwarna hitam dan merah. Terutama scene awal, ketika Eva sedang berpesta di La Tomatina, sebuah festival melempar tomat di Spanyol. Belum pernah gue merasa begitu jijik melihat lautan manusia yang sedang berenang di dalam kubangan berton-ton tomat hancur. See? Bahkan festival yang mestinya penuh dengan euphoria positif terlihat begitu depresi di bawah arahan Lynne Ramsay. Belum lagi ditambah dengan musik scoring yang mencekam, gue bisa mendengar sendiri suara detak jantung gue yang bertalu-talu. It’s a chilling sensation. Superb.

Hal ini makin diperkuat dengan akting menawan dari Tilda Swinton. Gue pertama kali mengenal Swinton sebagai White Witch di Narnia Chronicle, yang menurut gue berakting paling menawan. Di film ini akting Swinton-lah tiang penopang dan kunci kesuksesannya. Aktingnya sebagai ibu yang depresi dan dikucilkan oleh lingkungannya karena menjadi ibu dari seorang pembunuh membuat gue begitu trenyuh. Dan justru dengan penggunaan format alur maju mundur, Swinton sangat berhasil menyampaikan beribu emosi kepada penonton (dalam hal ini adalah gue).

Dalam diamnya atau tatapan matanya, kita bisa merasakan rasa frustasi sekaligus penyesalannya terhadap Kevin. Di sisi lain, sebagai Kevin remaja ada Ezra Miller dan Jasper Newell yang memerankan Kevin cilik. Akting keduanya lumayan bisa mengimbangi Swinton. Tatapan mata penuh kebencian dari Kevin cukup membuat orang tua manapun menggigil ketakutan dan berdoa agar anak mereka tidak seperti itu. Ada satu scene dari Kevin versi Miller yang membuat gue sampai saat ini bergidik. Akting yang mengerikan.
Dari beberapa komentar, ada yang beranggapan Kevin adalah seorang pure evil. Menurut gue itu tidak mungkin. He’s not an evil.

 Kevin is a sociopath, has a level zero of empathy, and also born as a manipulator. Dan kemungkinan ini diperburuk oleh rasa frustasi dan ketidaksiapan Eva untuk memiliki Kevin sejak awal (believe me, Baby Blues Syndrome is not a hoax) dan juga Franklin, suami Eva, dimana disini mewakili bangsa Amerika Serikat dengan rasa optimisme yang berlebihan. Dan menurut gue, alasan Kevin membantai teman-teman dan keluarganya, dengan hanya menyisakan ibunya, adalah bentuk rasa sayangnya kepada Eva. Kevin, in his own (sick) way, is loving his mother. Dengan ending yang indah tanpa perlu berlebihan, dan sekaligus meng-capture semua emosi dari Eva. Overall, tak ada ibu yang tak mencintai anaknya. Mau seperti apapun, a mother will always love and accept their children, without any condition. Like I said earlier, being a mother it’s an unconditional love.

We Need To Talk Kevin surely will be talked for years, for its creepy, thrilling, and chilling sensation, and also a bit controversy theme. It’s not an easy movie for me. For me, it’s a nightmare for every parenthood and maternity around the world.
“There’s no point. That’s the point.”

Official Trailer :

0 komentar: