In Movie I Believe

19.15 Indanavetta 1 Comments


Dengan banyaknya jumlah manusia di dunia ini, jenis kesukaan orang pun bisa beraneka ragam. Ada yang suka sama buku, musik, travelling, masak, makan, tidur, dll. Terkadang kesukaan ini bisa jadi kadarnya lebih besar dibanding kesukaan orang-orang lain. Atau kesukaan yang satu kadarnya lebih besar dibanding kesukaan yang lain di dalam diri satu orang. Misalnya gue. Kesukaan gue akan film jauh melebihi kesukaan gue akan musik rock, novel-novel harlequin, atau lingerie Victoria Secret yang lucu nan seksi. Nah, dalam rangka proyek keroyokan yang kami beri judul "Why I Love Movie", kali ini izinkan gue untuk bercerita mengenai kisah gue.

Gue akan mengawali cerita ini dengan quote dari salah satu sutradara favorit gue, David Fincher, "The thing I love about 'Jaws' is the fact that I’ve never gone swimming." Saking dahsyatnya dampak dari film Jaws, banyak orang yang takut ke laut. True. Film merupakan sebuah media yang bisa punya dampak begitu dahsyat. Begitu mungkin kesan awal gue mengenai film.

Gue masih inget banget, umur gue saat itu mungkin baru 4-5 tahun. Waktu itu gue iseng dan nekad untuk menonton Nightmare on Elm Street. Gue sampai sembunyi di belakang sofa supaya sodara  ga tau gue ikutan nonton. Gue bahkan ga inget jelas ceritanya tentang apaan, tapi satu hal yang membuat gue trauma hingga saat ini adalah sosok bernama Freddy Krueger. Bisa bayangin ga, apa akibatnya buat gadis imut-imut kayak gue yang tiba-tiba didatangi Freddy Krueger dalam mimpi dan ditunjuk sebagai penerusnya? Judul mimpi gue mungkin Freddy Krueger's Legacy kali yak! Gara-gara itu, sampai saat ini gue masih sulit untuk nonton film horror in general or whatever movie that have Freddy Krueger in it!

Kesukaan gue akan film semakin menjadi-jadi mungkin ketika gue memasuki bangku SMA. Saat itu minat gue akan manga dan anime sudah jauh berkurang, dan gue kemudian menonton Forrest Gump. Mungkin ini yang disebut cinta pada pandangan pertama. Baru saat itu gue merasa begitu begitu utuh, begitu bahagia sekaligus menangis terharu dengan filmnya. Baru saat itu gue merasa bahwa film bisa membawa gue ke sebuah level imajinasi yang baru. Film bisa memanjakan mata gue, memperkenalkan dunia yang sama sekali asing buat gue. A whole new world for me. A new fantastic point of view. A dazzling place I never knew. (Iye, ini nyomot lirik lagu...)

Dan dimulailah saat itu, perjalanan sinematik gue, dimulai dengan fase film-film Tom Hanks. Gue mulai kerajingan, sampai adik gue menganggap gue aneh karena lebih doyan oom-oom. Dan tidak mengecewakan, mulai dari Cast Away sampai Saving Private Ryan menimbulkan sebuah perasaan kagum yang sama. Dan gue menganggap Hanks adalah aktor terbaik yang pernah ada. Dari sini, ketertarikan gue akan film bertambah besar. Ketika orang seumuran gue biasanya membeli majalah remaja, yang gue beli adalah majalah-majalah film. Uang jajan gue habis untuk menyewa film di rentalan. Kesukaan gue bahkan mulai spesifik saat itu. Gue tahu gue suka drama. Dan bahkan gue merasa sebagai orang paling keren sedunia karena nonton film-film award winning, padahal yang gue tonton tuh baru film-film tahun 90an. Belagu ya, hahaha. Dan teman-teman gue saat itu menganggap ini semua aneh.

Gimana gak? Ketika semua cewek di sekolahan sedang tergila-gila dengan sosok Chad Michael Murray, gue justru tergila-gila dengan sosok Hannibal Lecter. Ketika teman-teman begitu menyukai film Heart dan Acha-Irwansyah jadi the hottest couple, gue malah menganggap Closer adalah film drama romantis terbaik yang pernah ada. Aneh memang. Dan sesungguhnya, ketika orang-orang di sekitar kita tidak bisa mengerti, mereka akan mulai menyebut kita dengan nama panggilan. Terkadang nama panggilan itu tidak enak didengar. Orang-orang selalu manggil gue aneh. Lunatic, freak, weirdo, you name it. A cool weirdo maybe (tetep ya, fase pembenaran diri). But I always see myself as an outsider. Dan film satu-satunya yang merasa gue diterima. Film adalah media yang gue pilih untuk mengekspresikan diri, sebuah tempat dimana imajinasi gue diacak-acak oleh sebuah pengalaman visual, a place that I want to be drown forever.

Kemudian, ada masa dimana kemudian film tidak menjadi kesukaan gue lagi. Masa-masa dimana gue jenuh dan kemudian hidup gue berasa tidak berwarna (ceileeh bahasanya). Gue ga mau cerita apapun, just so you know, maybe it's a darkest time of my life and that time, movie can't save me. Saat dimana gue menonton dengan perasaan hambar. Tidak ada perasaan seperti dulu lagi. Gue menonton seperti kebanyakan orang di sekeliling gue. Hanya sebagai hiburan.

Tapi secara tidak sadar, gue menurunkan kesukaan gue ini ke anak pertama gue, Aimee. She's a big fan for every Disney-Pixar animation. Dia bisa nonton marathon trilogy Toy Story seharian penuh. Atau mengulang-ulang Ratatouille dan Up sampai dia tertidur. Tidak sehat memang, gue akui. Kadang gue harus galak supaya dia berhenti nonton. Dari sana timbul perasaan saling memahami di antara kami berdua. Kadang gue dengan senang hati menemaninya nonton seharian, tapi ketika misalnya True Blood tayang, my daughter will stop watching it and saying something like, "Aku udah dulu. Kasian mama belom nonton film mama. Nanti abis ini aku lagi ya." What a sweet little girl. And damn, how much I miss her.

Akhirnya, saat ketika gue kembali berhubungan dengan film adalah ketika Toy Story 3 tayang. Dan sebagai bentuk selebrasi terhadap film kesukaan kami, gue dan Aimee nonton bareng dalam format 3D. Aimee, yang begitu tergila-gila dengan petualangan Buzz dan Woody dan gue, yang tumbuh besar dengan film-film tersebut sama-sama terpukau. We were speechless. Toy Story 3 jelas-jelas adalah sebuah film yang komplit. You can find everything in it. Drama, romantic, comedy, action, thriller...in animation movie. I cried in the end of the movie, and my Aimee gave me a tissue. Ikatan itu mungkin yang semakin mengikat kami. Dan gue mentasbihkan Toy Story trilogy sebagai trilogy terbaik yang pernah ada. And now you know why .

Di sisi yang lain, film kemudian akhirnya memperkenalkan gue dengan banyak teman baru, yang rupanya jauh lebih menyukai film dibandingkan dengan gue. Lewat film, gue kemudian berkenalan (dan jadi sahabat baik) sama Merista Kalorin. Lucu juga kami bisa bersahabat begitu erat, menemukan banyak kesamaan di antara banyak perbedaan yang begitu mencolok, bahkan kami belum pernah ketemu face to face. She is my bestfriend, dan kami dipersatukan dengan film (ceilehh bahasa gue -___-).

Lewat film, gue akhirnya jatuh cinta kepada sosok bernama Michael Fassbender, kepada peran-peran menakjubkan yang ia mainkan. Lewat film, gue kemudian ikut terlibat dalam sebuah pembuatan film pendek berjudul Titik Balik dengan sesama teman pecinta film untuk kepentingan sebuah festival film pendek. Lewat film, gue kemudian kembali menekuni hobi menulis yang sempat gue tinggalkan selama Era Depresi. Bahkan kini gue mulai belajar untuk menulis skenario film. Lewat film, gue menjadi lebih menghargai perbedaan, membuka mata gue untuk sudut pandang yang luas untuk banyak kebudayaan dan pola pikir yang baru. Lewat film, gue jadi lebih mengenal siapa gue sebenarnya.

Kini gue bahkan tidak berani menyebut diri gue sebagai seorang penggila film, karena ada begitu banyak teman lebih menggilai film dibandingkan dengan gue. But one thing for sure, I love movie. Film adalah media yang gue pilih untuk mengekspresikan diri gue. Tempat dimana gue bisa pergi dari segala keruwetan hidup untuk sesaat. Ketika gue tak perlu membayar seorang psikiater untuk membantu gue melewati saat-saat gelap hidup gue, karena film cukup membantu gue melewati semua, mengenali siapa diri gue sendiri. Dimana gue bisa melihat imajinasi gue menjadi nyata, atau ketika otak gue diperas dan jantung berdebar kencang saat menikmati sebuah penampakan visual. Dimana gue menemukan sebuah dunia baru, yang bisa dengan mudah menerima gue apa adanya, tanpa ada panggilan-panggilan aneh. Dan film mempertemukan gue dengan banyak orang hebat.

Cerita gue mungkin melankolis, but this is why I love movie, from my point of view.
So what's yours?
------------------------------------
Kalian bisa baca cerita dari teman-teman yang lain di sini....

- Mery "The Miss Classic, read here »

- Zul "Si Kaka Onta", read here » 
- Bandhi "Un-describe-able", read here » 
- Heru "The Cool Hipster", read here » 
- Ipan "Cinemaniac", read here » 
- Kaka Nael yang unyu, read here »
- Lucky who are not so lucky sometimes *kabur*, read here »
- Kaka Algit "yang diam, tenang dan menghanyutkan", read here »
- Adit " the one who love Ronan so much" ,
read here »
- 3 "The Blackjack", read here » 
- Banana " The master of Physchopath" , read here »

1 komentar:

  1. wahh, kisah mba' sangat inspiratif nih. Sy jg mulai ngerasain apa yang mba rasain, dan waktunya pas saya SMA sekarang lg demam - demamnya film nih. Sy jd ada niat buat lanjut kuliah perfilman, pengen jd sutradara gitu, abisnya byk kecewa sama film2 indonesia. Thanks udh boleh sharing

    BalasHapus