Butterfly

01.43 Indanavetta 2 Comments

BUTTERFLY














Ketika sinar matahari menembus jendela kamarku, seketika itu juga aku terbangun. Mataku memicing karena silau, lalu berusaha untuk menggerakkan tubuhku yang terasa kaku. Kurentangkan tanganku dan perlahan mulai membuka mata. Hatiku mencelos melihat keadaan kamarku. Vas bunga yang ada di di atas meja kecil di dekat pintu sudah tak ada. Pecahannya yang berwarna merah berserakan di lantai karpet. Ketika akhirnya aku bangkit dan kuperhatikan lagi dengan seksama, aku melihat beberapa kepingan vas itu bercampur dengan sesuatu. Merah ditimpa oleh merah. Merah yang lebih gelap. Darah.
Aku memeriksa kedua lenganku, tidak ada apapun.  Kecuali sebuah goresan panjang dan tipis ada di tangan kiriku. Tidak, darah di bawah tidak mungkin berasal dari goresan ini. Kuperiksa kakiku, tapi aku tidak menemukan sumber luka apapun. Kecuali...
Kulirik sosok tubuh di sampingku dengan panik. Dia ada disana. Di sisi sebelah tempat tidur yang lain. Tubuh telanjangnya nyaris tidak tertutup selimut. Darisana rupanya sumber darah berasal. Ada luka besar di telapak kakinya, setelah aku memeriksanya. Tidak dalam, tapi menjelaskan sesuatu. Rambutnya yang panjang terurai di seluruh permukaan bantal. Dadanya naik turun dengan nafas yang pendek-pendek, terasa begitu menyesakkan dada. Bahkan wajah saat tertidurnya tampak begitu hampa.
Aku tak percaya ini. Aku telah melakukannya lagi, di luar keinginanku sendiri. Aku menghancurkannya lagi. Wanita yang kucintai. Belahan jiwaku. Istriku. ***

Aku masih ingat ketika pertama kali melihatnya. Tubuh langsingnya dibalut dengan dress berwarna hijau muda. Rambut panjangnya berkilauan tertimpa sinar matahari. Dia sedang tertawa bahagia. Ada aura yang tak dapat kujelaskan, dia terlihat bagaikan seekor kupu-kupu yang cantik. Sayapnya seolah mengembang dengan indahnya dari kedua sisi tubuhnya. Indah, tak terjangkau, sekaligus rapuh.
Ketika kuberanikan diri mendekatinya, mengajaknya berkenalan, awalnya aura itu hilang sesaat. Dia terlihat begitu angkuh dan menutup diri. Di hadapanku seolah ada sebuah tembok tinggi yang menghalangiku melihat sayap itu lagi.
“Halo, aku Adam.”, kataku saat itu.
Dia hanya menatapku lama lalu mengedipkan matanya, bulu matanya yang panjang menyapu bagian atas pipinya yang berwarna pink. Dia mengibaskan rambut panjangnya lalu kemudian akhirnya menjawab, “Eve. Namaku Eve.”
Aku tertawa gugup, “Kukira kamu tak akan pernah menjawab.”
“Hmm, kenapa memangnya?”
“Entah ya, kamu terlihat bagaikan bukan makhluk nyata bagiku.”
“Hantu, maksudmu?”, suaranya kemudian berubah dingin.
Aku menggeleng dan kutatap matanya dengan lembut, masih tak percaya, “Tidak. Kupikir kamu adalah kupu-kupu.”
Dia tertawa, suaranya berdenting merdu di telingaku, “Oke, kalau kamu sedang berusaha untuk merayuku, yang tadi itu sangat payah. Aku tahu kali berikutnya kamu bicara, kamu akan bilang kamu bagaikan bunga yang meminta sari bunganya dihisap olehku. Basi!”
Aku hanya mengangkat bahu, “Tidak juga. Aku merasa bagai seorang anak kecil, yang  mengejarmu dengan penangkap serangga dari jala. Kapanpun aku berusaha menangkapmu, aku merasa aku tak akan pernah bisa. Kamu selalu terbang bebas.”
Eve terdiam sesaat, lalu sinar matanya melembut saat menatapku. Dia menyelipkan anak rambutnya yang nakal ke telinganya yag dihiasi anting panjang. Kemudian dengan suara malu-malu dia bertanya, “Kamu mau mengajakku minum kopi atau tidak?”
Aku tertawa lega, “Kukira kamu tak akan pernah meminta.”

Suatu kebetulan kalau nama kami sama dengan dua manusia pertama di dunia ini. Dan suatu kebetulan pula kalau kami akhirnnya berpasangan, sama persis dengan dua manusia pertama tersebut. Tak sulit untuk jatuh hati kepadanya. Bukan hanya karena sosok fisiknya yang indah. Tapi senyumnya, yang tak pernah lepas dari wajahnya. Suara tawanya yang berdenting-denting di telingaku. Dia begitu mudah tertawa, mengenai hal sekecil apapun.
 Pernah suatu ketika tali sendalnya putus di tengah jalan. Bukannya histeris, dia malah tertawa dan dengan santainya melepas sendalnya. Dia mengabaikan semua tatapan mata orang yang penasaranmelihat kakinya telanjang di jalanan. Aku ingat segera berlari membawanya ke toko sepatu terdekat. Aku memaksa untuk membelikannya sepasang alas kaki pengganti.
Senyumnya menghilang ketika kami memasuki toko sepatu, “Apa ini, Adam? Tak apa, toh kita akan pulang. Kenapa mesti beli sepatu baru?”
Aku menggeleng, “Kamu membuatku merasa bagai pecundang sejati. Aku memakai sepatu tetapi kamu malah tidak memakai apapun. Pria macam apa yang membiarkan gadisnya bertelanjang kaki?”

Eve lalu tersenyum kecil, ada kerutan di dahinya, “Adam, kadang kamu ini terlalu membesar-besarkan hal yang sebenarnya begitu sepele...”
“Sudahlah, pilih yang mana saja. Tolong senangkan egoku ini, Eve.”
Eve hanya mendesah nafas panjang dengan muram, lalu mulai berjalan mengelilingi etalase. Melihat-lihat berbagai macam dan jenis sepatu yang ada disana. Aku hanya bisa berdiri dengan tak sabar. Aku tak peduli apa yang akan ia kenakan, asal dia memakai alas kaki saat pulang. Eve lalu mengambil sesuatu dari rak, mencobanya di kakinya, nampak bahagia ketika mematut-matut kakinya di kaca. Dia berpaling ke arahku lalu memanggilku. Aku mendekat.
“Lihat, bagaimana menurutmu?”, tanyanya sambil mencondongkan kakinya ke arahku. Dia mencoba sebuah sandal manis, berwarna ungu muda dengan hiasan kupu-kupu berkilauan. Apapun yang ia kenakan selalu terlihat pantas. Apapun itu.
“Bagus.” Aku menjawab pendek saja. Tak tahu harus mengatakan apa, karena kenyataannya memang bagus.
Eve lalu tertawa kecil, “Aku ini kupu-kupu bagimu, ingat?”
Aku tersenyum lembut sambil mengelus pipinya dengan jemariku. Saat itu sudah kuputuskan, dia milikku. Milikku satu-satunya. Tak ada yang bisa mengambilnya dariku.

***
Malam tiba, hujan turun begitu derasnya. Air menampar-nampar kaca depan mobilku. Aku mengetuk-ngetukkan jemariku di kemudi. Nafasku panjang pendek, aku begitu gelisah dan panik. Semestinya Eve sudah pulang dari kantornya dari tadi. Tapi belum kulihat ia keluar dari gedung kantornya. Aku tahu ini karena aku sudah ada disini setengah jam yang lalu.
Tak tahan lagi, aku merogoh sakuku untuk mengeluarkan ponselku. Aku sedang menelponnya ketika kulihat akhirnya dia keluar, berpayungan dengan seseorang. Pria. Mereka berjalan bersama, tubuh mereka agak berimpitan di bawah lindungan payung yang tak seberapa besarnya. Mereka nampak terlibat dalam sebuah pembicaraan serius. Wajah Eve mengkerut, dia lalu mengelus lengan pria itu. Mereka terus saja berjalan, tak sadar melewati mobilku.
Darahku mendidih saat itu juga. Milikku. Itu Eve-ku. Dia seharusnya tidak berjalan berpayungan dengan orang asing. Begitu terlindungi oleh gelembung busa yang tipis, tapi begitu jauh tak terjangkau, larut dalam dunia milik mereka. Tidak boleh begitu.
Aku segera keluar dari mobil, setengah berlari mengejar mereka. Tak kupedulikan tubuhku yang mulai basah. Aku nyaris berteriak kencang ketika memanggilnya, sebelum kutahan emosiku. “Eve!!”

Tubuhnya berhenti lalu berbalik ke arahku. Dia nampak kaget ketika melihatku. Membuatku semakin kesal saja.
“Adam? Kukira kamu sedang tugas di luar.”, katanya tapi tetap tidak beranjak dari bawah payung.
“Kejutan?”, jawabku sambil mengangkat bahu. Pasrah dengan kemejaku yang sudah basah kuyup.
Eve tertawa lalu berbalik ke pria itu. Aku segera berjalan menuju mereka. Jarak kami semakin dekat, samar-samar aku mendengar Eve memperkenalkanku kepada ‘teman’nya itu. Aku tak bisa mendengar dengan jelas, kupingku berdenging, dan suara hujan juga tidak membantu. Tanganku mengepal dengan begitu kerasnya.
Jadi ini namanya perasaan cemburu?
“Halo, aku teman Eve. Namaku...”
“Halo.” Aku menjawab dengan tegas, tanganku masih terkepal erat, menggantung dengan begitu keras di kedua sisi tubuhku. Aku menatap langsung matanya, memancarkan sinyal kepemilikan yang begitu jelas. Dia milikku! Milikku! Jangan dekat-dekat!
Dia mengedip cepat melihat sinyal dariku, lalu dia segera mengangkat bahunya, dan berkata pelan kepada Eve, “Kasihan pacarmu, Eve. Dia sudah basah kuyup.”

Eve hanya mengangguk, dia juga terlihat tegang. “Aku akan ikut hujan-hujanan saja kalau begitu. Terima kasih untuk tumpangan payungnya.”, tegasnya lalu segera keluar dari lindungan payung dan menarik lenganku. Aku tersadar dan langsung berbalik menuju mobil. Eve melambai ke arah temannya. Aku membukakan pintu penumpang dan dia pun masuk. Aku segera masuk.
 “Kamu punya handuk, Adam?”, tanyanya. Rambutnya basah, bagian atas blazernya juga. Aku mengedip cepat lalu meraih kursi belakang. Eve tahu aku selalu menyimpan sehelai handuk di belakang.
“Ini.”
“Terima kasih.”, balasnya lalu segera mengeringkan rambutnya. Aku hanya diam memperhatikannya. Lalu dia mengalungkan handuk tersebut kepadaku, dengan lembut menyelubungi kepalaku yang basah dan mengelap wajahku.
“Terima kasih karena sudah begitu kasar dengan temanku tadi, omong-omong.”
Aku mengernyit, rasa sakit itu muncul. Aku segera meraih leher belakangnya dan menciumnya dengan ganas. Eve memberontak lalu mendorong tubuhku ke belakang, menolakku.
“Oh, kamu tidak suka kucium sekarang, hah?”, bentakku kasar. Eve bersedekap, sejauh mungkin menjauhkan tubuhnya dariku.
“Kamu tidak perlu jadi sekasar itu, tahu!’, balasnya.
“Kenapa memangnya?”
“Karena dia hanya teman, Adam. Dan aku tidak mengerti kenapa kamu begitu marah.”
Aku tertawa sinis, “Kamu melewati mobilku, seolah tidak menyadari aku menunggumu. Kamu begitu asyik berjalan berdua, entah apa yang kalian bicarakan.”
Eve mendesah kesal. Dia menyapu rambut di keningnya, “Kami sedang berdikusi tentang hasil meeting besok, apa proyek kami akan disetujui atau tidak, itu saja. Dan dia sudah menikah.”

Aku terdiam lama. Eve balas memandangku, lalu segera mendekatiku lagi, kembali mengeringkan rambutku sementara aku hanya terdiam.
Satu hal yang pasti, aku cemburu. Perasaan sakit ini tak bisa kujelaskan dengan baik. Rasanya begitu sakit, menusuk-nusuk. Apapun akan kulakukan, agar Eve tidak berpaling dariku. Tangan lembut yang mengeringkan diriku ini milikku. Dia bukan milik siapapun. Hanya aku. Aku.
Aku mengelus pipinya lembut, suaraku serak, “Maaf...”
“Terlalu berlebihan.”
“Memang.”
“Terlalu membesar-besarkan.”
“Memang. Tapi itu karena aku...” Aku hampir saja menyebut kata memiliki, tapi nampaknya itu bukan kata yang tepat saat ini, dalam suasana seperti ini, jadi segera kuganti, “...mencintaimu. Terlalu mencintaimu.”
Eve tersenyum kecil. Senyum itu lagi. Dia menatapku lembut, matanya mencari-cari di dalam mataku. Seolah mencari kepastian di dalam sana. Aku harap dia menemukannya.
“Aku tahu. Aku juga. ”, jawabnya lalu mengecup bibirku lembut.
Aku tahu, dia memang ditakdirkan untuk menjadi milikku.

***
 Ketika aku membuka pintu masuk, lampu ruang tengah masih belum menyala. Aku melonggarkan dasiku dengan kesal. Dia tahu aku tak suka rumah dalam keadaan gelap dan sunyi senyap. Aku tahu pasti dia ada di rumah.
“Eve?!”, teriakku kesal. Aku berjalan menuju kamar kami. Kulihat dia sedang berbaring di ranjang. Tangannya menutupi wajahnya, tubuhnya bergetar hebat. Aku tidak mengerti kenapa dia melakukan ini lagi padaku. Aku segera menyalakan lampu. Dia masih mengenakan daster lusuh itu. Aku benci melihatnya memakai pakaian kumuh begitu.

“Semestinya kamu menjawab. Aku khawatir, tahu.” Aku mulai melucuti bajuku dan berjalan ke kamar mandi. Dia masih tidak menjawab, tapi kuacuhkan saja. Kalau dia ingin memulai aksi tutup mulut, itu terserah dia saja. Aku segera berganti baju dan keluar. Dia masih ada disana, dengan posisi yang sama.
Aku naik ke tempat tidur, duduk di sebelahnya lalu menyalakan TV. Lenganku secara otomatis mengelus rambutnya. Rambutnya lepek, seolah tidak memiliki kehidupan apapun. Bukan rambutnya yang halus mengembang seperti ketika aku pertama kali mengenalnya. Tubuhnya tersentak ketika kemudian dia menatapku.
“...Kumohon...”, cicitnya pelan sembari mendekat ke arahku. Ke pelukanku. Lenganku dijadikannya bantal, dan aku hanya tersenyum kecil melihatnya. Tentu saja, dia yang begitu membutuhkanku.
“Kita sudah jutaan kali membicarakannya, kubilang tidak.”, jawabku santai penuh kemenangan. Sejak kami menikah, Eve sudah dua kali hamil. Entah kenapa kandungannya begitu lemah sehingga ia kehilangan bayinya. Dokter menyuruhnya untuk berhenti bekerja dan istirahat total. Tak masalah bagiku. Lebih mudah, malah.

“Aku bosan, Adam. Aku tak bisa ada di rumah seumur hidupku. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan.”
“Dan berjalan-jalan adalah solusinya?”
“Kamu tahu bukan itu maksudku, Adam.”
Aku memencet-mencet tombol TV  “Eve, tujuan orang bekerja adalah untuk...?”, tanyaku dengan nada yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
“Aku tahu, mendapatkan uang. Tapi...”
“Gajiku sudah lebih dari cukup untuk menghidupi kita berdua, tanpa kekurangan apapun.”
“Bukan uang yang kucari, Adam, tapi...”
“Ada banyak cara untuk menyibukkan diri. Belajar memasak, misalnya. Atau membuat kerajinan tangan. Membaca buku atau menonton atau apa.”, sindirku pedas.
Eve bangkit, wajahnya dipenuhi bercak-bercak kelabu, “Kamu tahu aku tidak diberkati dengan bakat membuat pernak-pernik atau memasak! Aku bukan dewi rumah tangga.”
Aku tertawa muram, “Jelas, kamu tidak memiliki sedikit pun keinginan untuk belajar, Eve. Yang kamu inginkan hanya keluar, bersenang-senang. Aku tidak cukup bagus untukmu.”
“Adam, kenapa selalu kembali ke masalah ini? Aku bukan...”

Aku menatapnya dengan rasa tidak suka yang jelas, “Tentu saja. Lihat dirimu, kamu masih memakai baju tadi pagi. Matamu bengkak sehabis menangis, dan aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali kamu berdandan. Demi diriku. Padahal kamu milikku.”
“Aku bisa mati kalau begini terus, Adam. Kumohon...”
Aku menggeleng kesal, “Dokter sudah bilang, kamu harus beristirahat total.”
“Tapi aku sudah sehat!”
“Tidak, kandunganmu begitu lemah. Atau jangan-jangan, kamu memang sengaja karena tidak mau punya anak denganku, begitu kan?”
“Kamu tahu aku begitu mencintaimu, Adam. Aku minta maaf sudah membuatmu merasa begitu. Aku tahu kamu sudah begitu ingin memiliki anak. Maafkan aku, maafkan aku.” Air mata membanjiri wajahnya lagi, tapi aku tak perduli.
Eve milikku. Dia harus berada di tempat yang seharusnya. Di rumah, menyambutku dengan penuh kelembutan, berdandan hanya untukku. Bernafas untukku. Karena bagiku dia seperti itu. Sedih sekali dia tidak merasakan yang sebaliknya.

***
Suasana rumah begitu berbeda ketika aku pulang malam itu. Ada wangi kegembiraan yang tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Begitu ringan dan memabukkan. Entah apa yang terjadi pada Eve. Ketika aku masuk kamar, kulihat dia berpakaian bagus. Mengenakan setelan berwarna abu-abu, dengan riasan wajah yang tipis. Rambutnya digerai dan mengembang dengan lembut. Ada aura yang dulu, ketika aku pertama kali bertemu dengannya.
“Kamu terlihat cantik sekali.”, pujiku lalu berdiri di sebelahnya. Kami sama-sama menatap cermin, dia sedang membasahi kapas dengan cairan pembersih wajah. Gerakannya terhenti untuk sesaat ketika dia menatapku dengan mata besarnya.
“Ingat dengan Rio tidak?”

Aku merasakan seutas rasa tidak enak di ulu hatiku. Rio, teman Eve di kantornya dulu.
Eve balas menatapku dengan rasa bersalah, “Aku tahu seharusnya aku bilang dulu kepadamu, tapi aku masih belum tahu kejelasannya sampai tadi. Jadi sekarang Rio punya usaha di bidang Event Organizer, dan dia mengajakku makan malam barusan. Semacam wawancara sebenarnya. Dia membutuhkan event planner, dan pekerjaan ini tidak terlalu  berat. Aku bisa melakukannya tanpa terlalu kelelahan.”
Kurasakan rahangku mengeras. Ekspresi wajah Eve berubah menjadi ketakutan.
“Adam, kamu tahu ini yang senang kulaku...”
Aku segera meraih sisir yang ada di meja rias, dan kubanting ke seberang ruangan. Eve segera membeku, tak tahu pasti akan reaksiku selanjutnya. Aura kupu-kupu yang membayanginya tadi langsung menghilang. Sinar matanya yang berbinar-binar langsung padam. Dia tahu aku kecewa sekali karena dia tidak memberitahuku apa-apa tentang ini.
“Aku tak peduli, tapi kamu mestinya mengatakan sesuatu!”, bentakku langsung kepadanya.
Eve sesaat terlihat akan menangis, dia mengerjapkan matanya untuk mengusir air mata tu lalu balas menatapku tajam, “Bicara padamu itu percuma, Adam. Kamu bagaikan tembok. Sulit sekali untuk meyakinkanmu!”

“Aku ini kepala rumah tangga! Aku pilot pesawatnya, aku nahkoda kapalnya! Arah apapun yang ingin kamu tuju, semestinya kamu memberitahuku. Bukan setelah ada kepastian begini baru kamu bilang! Kamu pikir aku ini orang bodoh atau apa, hah?!”
Eve menggeleng-geleng kepala, nampak begitu ketakutan sekaligus lelah menghadapiku.
“Aku lelah, Adam. Aku lelah menghadapimu.”
Kata-kata itu. Tidak. Tidak, dia tidak boleh kemana-mana!
Aku menarik kedua lengannya,dan dia berontak, meronta begitu keras sehingga menyenggol vas yang ada di atas meja. Vas itu jatuh dan pecah berantakan. Eve menjerit kesakitan, tapi aku tak peduli apa yang ia rasakan. Ia milikku, dan ia harus tahu bahwa ia tak bisa kemana-mana!
Aku menyeretnya ke tempat tidur, merobek atasannya dengan buas. Aku membutuhkannya saat ini juga. Aku merasa harus membuktikan kepadanya bahwa aku marah, aku kecewa dia bertindak di luar kehendakku. Dia milikku! Kamu milikku! Aku ingat meneriakkan ini kepadanya. Aku bisa mati kalau begini terus. Rasa ingin memiliki dan melindunginya, di dalam dunia yang kami miliki berdua ini begitu besar. Aku merasa akan mati kalau dia pergi meninggalkanku. Semestinya dia tahu itu. Tidakkah dia merasa begitu?

***

Tiba-tiba aku teringat sebuah kenangan masa kecilku. Saat itu aku bersama ibuku, berjalan bersama di sebuah padang rumput luas, entah dimana tapi aku masih bisa mengingat semua detailnya dengan jelas. Aroma dedaunan basah sehabis hujan. Bagaimana rasanya ketika aku berlari menginjak rerumputan yang basah, ketika airnya mengenai kakiku dan mencipratkan sedikit lumpur yang berwarna kecoklatan. Aku ingat melihat seekor kupu-kupu, begitu indah, terbang rendah dengan sayapnya yang berwarna hijau kebiruan. Mengepak-ngepakkan sayapnya yang rapuh, begitu menggoda. Aku ingat betapa aku ingin memilikinya, untuk diriku sendiri.
“Kejar, Nak. Kejar dan miliki dia, seutuhnya.”, perintah Ibu saat itu dengan suara lembutnya.

Aku mengejarnya dengan susah payah. Tanganku mengayun-ngayunkan penangkap serangga. Aku merasa begitu lelah, begitu putus asa, tapi kemudian jalaku berhasil memerangkap kupu-kupu indah itu. Kupu-kupu yang begitu indah terperangkap, tak bisa terbang lagi.
“Ma! Aku berhasil!”, teriakku bangga saat itu.
Kami bergegas kembali ke rumah, dan ibuku memberikanku sebuah toples kaca bening bekas selai. Tempat yang begitu tepat untuk rumah kupu-kupu milikku. Maka aku memasukkannya dengan paksa ke dalam sana, dan kuletakkan di atas meja kamarku. Begitu terpukau dengan kepak sayapnya, begitu indah melayang-layang di dalam dunianya sendiri. Dunia yang kuciptakan untuknya.
Aku tahu, hal yang sama terjadi pada Eve. Aku menjeratnya dan memerangkapnya ke dalam toples kaca. Tapi Eve tidak serapuh kupu-kupu itu. Tidak. Kupu-kupu itu hanya bertahan sehari. Kelelahan terbang lalu akhirnya dia tergeletak mati begitu saja. Walau tanpa ada harapan lagi, tanpa kekuatan rapuh yang terbiasa bebas itu, dia masih terlihat indah dalam kematiannya.

Eve? Tidak, dia tidak akan mati. Walau kini aku yakin, cepat atau lambat keindahan yang terpancar dari kerapuhannya yang terbang bebas itu kini lambat laun mulai menghilang. Apa aku sadar apa aku yang merenggutnya? Ya, aku sadar sepenuhnya. Tapi sekalipun begitu, dia tak akan bisa kemana-mana. Tuhan sudah mentakdirkan kami berdua bersama. Dia tak bisa meninggalkanku.
Apa aku menyesal? Tidak. Tentu saja tidak. Aku sudah memastikannya terbungkus di dalam dunia indah milik kami berdua. Dia tidak bisa begitu saja pergi meninggalkan ini semua.
Aku memeluknya, membelai-belainya, memanggilnya dengan suara serak. Matanya terbuka, menatapku dengan hampa.
“Maafkan aku, aku...aku mencintaimu, Eve.”
Eve balas merengkuh wajahku, mendekatkan tubuhnya ke pelukanku. Dan aku memeluknya erat.
“Aku tahu, Adam. Aku tahu. Aku juga mencintaimu.”
“Kamu milikku, Eve. Jangan lupakan itu.”
“Aku tahu.”, jawabnya singkat penuh kepasrahan dan penyerahan diri.
Benar.
Dia milikku.
Milikku seutuhnya.
Selamanya.

***


Puncak, 25 Desember 2012, 1.26 AM
Truly inspired by Weezer - Butterfly


2 komentar: