Movie Review : Closer ( 2004 )

19.44 Indanavetta 4 Comments

CLOSER
" Lying is the best a girl can have without taking her clothes off"

Director : Mike Nichols
Screenplay : Patrick Marber
Cast : Julia Roberts, Jude Law, Natalie Portman, Clive Owen 


I was shock when a big package came to my room the day before I’m turning into 23 almost a week ago. Diantara banyak bungkusan-bungkusan kado yang ada di dalam kotak besar itu, ada sebuah bungkusan yang ditempeli memo di atasnya, “this content is for 17+, so unless you are Justin Bieber…” (really, Mer? JB? LOL! Really love your sense of witty humor!). 
goodie bag

Dan ternyata isinya bukan DVD Shame atau bahkan Caligula. It’s Closer, one of my most favorite movie ever. Dan gue serasa kembali ke usia 17 tahun ketika kembali menonton filmnya. Rasanya seperti diingatkan akan kenaifan dan kepolosan gue dulu. Karena sesungguhnya, takkan pernah cukup umur kita untuk bisa mengartikan dan mendefinisikan apa cinta itu sebenarnya.
Closer diadaptasi dari sebuah naskah teater berjudul sama yang juga ditulis juga oleh Patrick Marber di tahun 1997 dan memenangkan banyak penghargaan seperti Evening Standard Award for Best Comedy, The Critics Circle Theatre Awards, dan Laurence Olivier Awards for Best New Play. Closer disebut-sebut sebagai versi modern sekaligus tragis dari opera gubahan Mozart : Cosi fan futte. Salah satu fakta unik dari film ini adalah bahwa Clive Owen yang memerankan Larry di versi film, ternyata memerankan Dan di versi teaternya. Disutradarai oleh Mike Nichols yang sudah terkenal dengan Who’s Afraid of Virginia Woolf?, The Graduate, hingga Angels in America dan Charlie Wilson’s War dan dirilis tanggal 3 Desember 2004. So if you are going to watch this, be prepared for being stabbed and slapped over and over again, because I do (or is it just me?). 
Dan (Law) dan Alice (Portman) berkenalan dengan cara yang tidak biasa ketika Alice tertabrak sebuah taxi di jalanan kota London. Dan yang hanya seorang obituaries membosankan sangat terkejut sekaligus terkesan dengan latar belakang Alice, si striper mungil dari New York. Setahun berlalu ketika akhirnya Dan berkenalan dengan Anna (Roberts) yang berprofesi sebagai fotografer untuk kepentingan pemotretan cover novel Dan. Segera saja mereka segera tertarik satu sama lain, sayangnya saat itu Dan sudah berpacaran dengan Alice. Melalui sebuah cara yang iseng dan lucu, Dan menarik masuk Larry (Owen) yang juga seorang dermatologist ke dalam kerumitan cinta segi-empat yang berujung dengan saling menyakiti satu sama lain.
Jude Law & Julia Robert
Natalie Portman & Clive Owen

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
First thing to say, I’m speechless, even after watching it for numbers of time. Ada begitu banyak momen yang memorable di film ini. Filmnya sendiri begitu lucu, sinis, sarkastik, dengan alur maju mundur yang mungkin akan membuat sebagian dari penonton bingung untuk merunutkan timeline filmnya (tapi gak begitu susah kok, ini bukan Memento :p). dialog-dialog panjang yang ditulis oleh Marber is simply breathtaking and genius. Gue suka banget dengan sempilan-sempilan humor sarkas yang begitu pahit, yang membuat gue tertawa nanggung, kombinasi dari rasa geli sekaligus merasa tertampar karena kata-katanya yang begitu menusuk ke dalam realita sebuah hubungan percintaan yang bisa kita temukan dimanapun. Gue juga sangat suka dengan karya Marber yang lain, yaitu Notes on the Scandal. Dua-duanya sama-sama menyorot hubungan antar manusia, namun menurut hemat gue, kualitas Closer ada di atas NotS. Selain karena tema yang ditawarkan sangat related sama kehidupan kita, karakternya jauh lebih hidup. So yea, buat pecinta drama, Closer jelas adalah sebuah film yang membuat penontonnya terpaku dan terpukau dengan skenario cerdas yang menghibur sejak awal, dan diakhiri dengan sebuah perasaan murung dan muram yang bertahan selama seminggu, merasa pengetahuan gue akan apa arti dari sebuah cinta dan pengkhianatan itu hanya sebatas literature khas teenlit. Gue merasa sangat picisan dibandingkan dengan film ini, ga ada apa-apanya. 
Fourplay ? >.<

Dalam filmnya sendiri hanya berfokus pada 4 karakter. Toh justru itu menjadi sebuah kekuatan sendiri dari filmnya, karena sepanjang durasi film kita disuguhi interaksi keempat tokoh ini. Semuanya begitu hidup, sangat manusiawi, dan yang paling penting : believable. Membuat gue merasakan simpati terhadap nasib mereka. Bukankah itu adalah sebuah ciri film yang baik, ketika penonton bisa merasakan emosi dan juga related dengan kisahnya, sehingga mudah untuk menangkap ‘nyawa’ dari filmnya. Kredit khusus gue tujukan untuk Natalie Portman dan Clive Owen sebagai Alice dan Larry. They’re the scene stealer. Akting mereka berdua sungguh-sungguh breathtaking and jaw dropping. Semua ekspresi wajah, pancaran sorot mata, gerak-gerik tubuh, hingga cara mereka bernafas menyiratkan bahwa mereka bukan hanya sekedar memerankan, namun mereka benar-benar menjadi Larry dan Alice. Gue bisa merasakan betapa sakitnya hati Alice dan betapa gilanya Larry ketika mereka sama-sama dikhianati oleh pasangannya. Penjiwaan yang mengantarkan mereka mendapatkan nominasi Academy Award dan juga memenangkan Golden Globes sebagai Best Supporting Actor and Best Supporting Actress, juga penghargaan-penghargaan lainnya.
And boy, the revenge is always sweet. Dengan ending yang selalu membuat gue sukses menitikkan air mata, merasakan sedikit kebebasan sekaligus kehampaan. Bukan hal yang mudah untuk meng-capture semua emosi itu. Salut untuk Mike Nichols. Gue memang belum menonton karya lainnya kecuali Charlie Wilson’s War, but this legendary director emang bukan orang sembarangan. Target gue selanjutnya untuk karya beliau adalah The Graduate, dan gue yakin gue akan tetap terkagum-kagum sama seperti Closer.

Dan semua itu ditambah menjadi tambah sempurna dengan kesenduan dari lagu Damien Rice yang menjadi intisari dari filmnya itu sendiri : Blower’s Daughter. Lagu itu seolah bisa mewakili perasaan dari kota New York, London, sekaligus keempat tokoh utamanya, perasaan kesepian dan kesenduan yang terasa mencekik leher. Sebuah sinkronisasi yang harmonis antara lagu dan filmnya, sebuah kelengkapan yang sempurna. Indah dan sepi.

Overall, Closer memang bukan sebuah drama berat, dan walau tema yang diusung memang universal, tapi Closer bisa membawanya ke level baru, dengan segala muatan bahasa dan gambaran yang tidak terlalu kontroversial namun tetap menghujam perasaan. The feeling afterwards is the best from watching this movie. And again, ada begitu banyak dialog yang serasa menyayat-nyayat hati gue, perih. Karena inilah kenyataan. Cinta bisa datang semudah kedipan mata, bisa pula hilang dalam sekejap, dengan berbagai jenis rasa sakit yang berbeda-beda kadarnya bagi masing-masing orang. Menimbulkan pertanyaan besar dalam benak gue, kalau memang cinta selalu berakhir sesakit ini, mengapa kita tidak pernah lelah untuk terus mencintai orang lain?

And I will close this review with my most favorite quote from Alice to Dan, “Where is this love? I can’t see it, I can’t touch it. I can’t feel it. I can hear it. I can hear some words, but I can’t do anything with your easy words.”
Maybe that’s a prove that love is a feeling, not only simply word. 
****

n.b : dedicated for my dearest bestfriend, Merista Kalorin. Thank you for the birthday gifts. I don’t know how to say thanks properly, this is the only way I know. Thank you for being a friend of mine. Very funny that I just haven’t met you yet. Hope you love this review :p.
 Trailer :
 

4 komentar: