RUSH (2013) : “A GRIPPING AND INTENSE STORY ABOUT WHAT'S DRIVEN US, HUMAN.”

03.37 Indanavetta Putri 0 Comments



Director : Ron Howard
Screenplay : Peter Morgan
Cast : Chris Hemsworth, Daniel Bruhl, Olivia Wilde, Alexandra Maria Lara,


Gue gak tahu apa hal ini menimpa para movie-enthusiastic lainnya atau tidak, tapi sesungguhnya sudah nyaris sebulan ini, otak gue seolah mati rasa dengan film-film yang sedang tayang di bioskop. Rasanya gue sedang tidak bernafsu buat nonton, atau emang rasanya basi aja gitu. Hal ini berakibat dengan menurun drastisnya jumlah tulisan gue, khususnya di blog. Padahal ya, blog ini bagi gue bukan cuma sekedar media buat gue nulis review. Blog ini rumah gue, tempat gue membagikan point of view gue, dan terutama sekali...sesi terapi. Writing is my way to dealing with voices in my own head.

Anyway, kenapa jadi lebay dan keluar jalur gini yak?

Intinya sih, gue merasa tulisan gue memang semakin lama semakin 'tumpul'. Like, I've losing a perspective. Yang berasa kayak 'kewajiban' pekerjaan, kaku dan formulatic. Don't get me wrong, gue masih suka kok menulis, but for the first time in my life, reviewing a movie isn't quite fun thing. Sampai semalam, gue diundang untuk media screening film terbaru dari Ron Howard, “Rush”.



Inspired by true story, Rush sendiri berkisah mengenai persaingan antara dua pembalap F1 di tahun 1970 : James Hunt dan Niki Lauda. Hunt (Hemsworth) dan Lauda (Bruhl) pertama kali bertemu di sebuah pertandingan F3 yang kelasnya masih amatir, dimana Lauda mengalami kekalahan pertama dari Hunt, dan persaingan mereka pun dimulai. Hunt, adalah seorang pembalap nekat dengan kemampuan alami dan pesona yang membuatnya likeable, berbeda 180 derajat dengan Lauda yang sangat 'dingin', penuh persiapan, dan sangat analytical. Dan ketika mereka berdua masuk ke liga F1 yang jauh lebih besar sekaligus berbahaya, persaingan mereka berdua bagaikan sebuah ambisi tiada akhir untuk pembuktian siapa yang terbaik dan tercepat. Heart vs Brain. Dan selama 123 menit, penonton, baik fans F1 maupun bukan, diajak larut bukan hanya dengan balapan mobil yang terasa begitu nyata dan mencengangkan, namun kita juga diajak masuk ke dalam isi dan point of view dari kedua karakter utamanya.

And a nice chit-chat between me and two movie-enthusiastic : masset (@ssetiawan) dan Kak Haris (@oldeuboi) after the movie screening questioning about “Howard's Directing Style”. Bahwa sesungguhnya memang, Ron Howard masih agak sulit diprediksi dengan hasil-hasil karyanya. Hit and miss, if I might add. Dengan A Beautiful Mind, Apollo 13, dan Cinderella Man, hingga DaVinci Code dan Angels and Demons yang masuk kategori mediocre (in my humble opinion ya, karena sebagai fans novelnya, gue termasuk yang kecewa) dan The Dilemma (yang...ah sudahlaaah) di dalam daftar filmografinya, Howard sendiri seolah melompat-lompat ke berbagai genre dan style, belum dapat dilihat kira-kira apa gaya penyutradaraannya. Even though, film-filmnya memang masih watchable. 



Namun, dari apa yang kira-kira bisa kita perkirakan, Howard definitely a guy who can made it with the right teams. Give him a bunch of mediocre people, and his movies would be like one. But give him a talented team, and it will be fantastic. Dengan naskah dari Peter Morgan (they previously movie : Frost/Nixon which is awesome) yang memfokuskan pada persaingan Hunt-Lauda secara psikologis. Tambahkan dengan Hans Zimmer (Lion King, Inception) yang mengcompose scorenya, lalu A. Dod Mantle (Slumdog Millionaire, 127 Hours, Trance) yang bertanggung jawab dengan sinematografi dan shot-shotnya yang terasa sangat detail sekaligus 'jantan' (apaan sih gue?). Kesemuanya digabungkan dengan editing dari Daniel P. Hanley, yang merupakan editor film langganan Howard, menjadikan semuanya sebuah film yang utuh, dengan Daniel Bruhl sebagai the center of attention.

And indeed, Bruhl is a shine bright star in here. Jualan utama film ini memang nama Hemsworth yang sudah terkenal lebih dulu dan juga Howard. Di trailer dan materi promosi pun Hemsworth memang pemeran utamanya. Dan gue tidak mengatakan bahwa aktinya jelek atau apa, namun performa Hemsworth benar-benar tertutupi oleh Bruhl, yang dengan sangat mengerikannya memerankan sosok Lauda yang begitu fokus dan tidak mau dikalahkan Hunt. Di sebuah adtegan klimaks bahkan membuat gue semakin merinding. Is it too early predict Bruhl as one of tough contender in Oscar as Best Supporting Actor? Maybe, but he is worth for it. (Walau kayaknya bakalan berhadapan sama Jared Leto dari Dallas Buyer's Club dan my lovely Michael Fassbender dari 12 Years A Slave. Damn. Berat-berat ya saingannya!)

Terus terang, pengetahuan gue soal F1 hanyalah nama Michael Schumacher dan Kimi Raikonen (mukanya yang mana juga kaga tau). Let alone about James Hunt and Niki Lauda itself. Jadi gue bukan di posisi yang bisa memberitahukan apakah akting Hemsworth – Bruhl akurat atau tidak. Physically maybe. Tapi dari segi aktingnya, mereka berdua benar-benar membuat gue terkesima. Hemsworth yang terlihat playful but has his own dark side. Bruhl yang wajahnya dipermak habis-habisan dengan make up protestik dan aksen Austria-nya, memerankan Lauda yang selalu penuh perhitungan dan tidak mau kalah. Keduanya bagaikan sedang balapan. Dengan lincah Howard mengarahkan keduanya untuk saling mengisi, di satu sisi ketika film berfokus dengan 'kemenangan' Lauda, Howard justru mengajak kita masuk ke dalam isi kepala James Hunt di saat-saat downnya. Begitu pula saat Hunt ada di puncak, kita diperlihatkan ambisi dan perjuangan Lauda agar tak pernah kalah dari Hunt.

 
Jadi seperti apa Rush, based on what I've been babbling since this first beginning? All I can say that this one of the best movie I've watch this year so far. Hunt – Lauda's dynamic of ups and downs, bagaikan dua sisi koin yang sama sekaligus berlawanan. They hate each other yet they need each other. They envy each other yet they respect each other. They both just ordinary man, driven by ambitions for speed and winning, dengan aura kematian yang begitu kental di banyak scenes. Gosh...you got all the gripping and intensity with full of inspiring story. Gue gak mau banyak menghamburkan detail filmnya. Go watch it by yourself.

Sesuai dengan apa yang gue tulis di awal tadi, seusai gue menyaksikan Rush, gue seolah diingatkan kembali dengan “reviewing for fun”, bahwa sebuah film bukan hanya sebagai sebuah hiburan belaka, namun lebih dari itu. Gabungan dari pikiran yang terprovokasi dan kepuasan yang membuncah di hati, bagaikan sebuah pengalaman makan malam full course mewah nan lengkap yang dimasak oleh Joel Robuchon mulai appetizer hingga dessert. Thank you for this experience, Mr. Ron Howard!

n.b : Dan kini, gue semakin tak sabar menanti “12 Years A Slave' yang sudah gue buzzer secara masif via socmed karena yakin film ini akan membuat otak gue meledak dan membuai dalam sebuah cinematic experience yang tak dapat dilukiskan kata-kata, bagaikan sebuah orgasme berulang kali.

There, I just writing a review with another food analogical yet sound like a porn stuff, all in one.

But I'm happy!


 

0 komentar: