Just A Thought ; My New Therapy

08.14 Indanavetta Putri 0 Comments


So many people around me might surprised when they were found out that I love to walk. Tricky memang, karena suasana jalanan di Jakarta memang tidak diperuntukkan untuk pedeastrian. Jalur pejalan kaki dengan kondisi mengenaskan, banyaknya PKL dimana-mana, sampai pengendara motor tolol yang dengan seenak perutnya melaju disana. Sorry, yang tadi curahan hati. Kayaknya semua Jakartans Pedestrian mengalami ini deh (bikin istilah semau gue).

I just want to share how this is started. Jadi gue saat itu masih normal, balik kantor pas jam stengah 6 sore dan dengan setia menunggu kopaja untuk kemudian pulang ke rumah. Then I just got fucked up. Muak rasanya membayangkan akan pulang naik kopaja, yang penuh sesak dan berjejalan. Gue ngerasa kayak ikan sarden, gak punya pilihan, dipaksa masuk berjejalan dengan ikan-ikan sarden lainnya, dengan bau yang beraneka ragam, ke dalam sebuah kaleng rombeng. Ya, kopaja bagi gue gak lebih dari kaleng rombeng berjalan dengan asap hitam yang membumbung tinggi.

Di tengah kemuakan itu, gue melihat ada opsi lain. Jalan. Ya, jalan kaki. Gue kemudian menjajal daerah Tugu Tani lalu Cikini sampai ke Salemba. Saat itu gue sambil mengukur waktu. Waktu yang gue butuhkan untuk sampai ke kostan dengan jalan dan naik kopaja kurang lebih sama : 45 - 60 menit. Bedanya, I keep moving on. Tidak ada macet. Tidak ada sesak napas berjejalan dengan gerombolan orang. For the first time in my Jakarta's Era, I feel free. And relax, in a different way.

So that's how everything started. Ga kenal waktu, ga kenal jarak, gue mengusahakan diri untuk jalan, kalau sedang tidak kecapekan. Gue pernah nekat jalan kaki sendirian pas balik jalan sama anak-anak, sekitar tengah malem. Dan setiap undangan media screening di daerah Thamrin akan gue tempuh dengan jalan. Terakhir gue nekat jalan dari Kampung Melayu sampai ke Cawang Otista. Buat pedestrian tingkat dewa, jalur gue mungkin sepele ya.

Dan kemudian, balik ke awal, banyaaaak banget yang kaget dengan hobi baru gue ini. Well, come on guys! Manusia pada awalnya hanya memiliki kedua kakinya untuk mencapai kemanapun yang ia hendaki. Apakah manusia jadi sedemikian malasnya, dimanjakan oleh motor, bajaj, mobil, dll sehingga untuk mencapai jarak dekat pun harus naik motor? Like...5 km itu deket lho guys! It's not like gue jalan dari Salemba ampe Depok apa Bekasi gitu. Gak sanggup juga sih, gempor man :v.

Then, one bestfriend of mine, Ipan, ngesharing foto ini di timeline path gue :

































Somehow, gue ngerasa bangga, bangga aja gitu jadi pedestrian. Walau adek gue sempat berkomentar, "Gak guna sih elo jadi pedestrian di Jakarta. Kota ini terlalu jahat. Iya bener, lo dapet sehatnya. Tapi lo bisa jadi kena kanker karena polusi disini terlalu ganas, kasihan paru-paru lo, kak." Dan emang ya, semestinya Jakarta atau Indonesia mulai memfasilitasi kami, para pedestrian, agar bisa berjalan dengan nyaman tanpa rasa takut. Jadi teringat ketika gue menjelajahi daerah Gaylang Singapore yang begitu nyaman dan banyak taman kota. Capek, tinggal duduk dan bersantai. Disini? Baru di daerah Thamrin dan Menteng yang pedestrian-able banget. Eh tapi jalan trotoar di Jakarta tuh menantang banget sih, udah kayak mau perang aja gitu, menantang nyawa, hahaha.

Now I want to share an important things  to all of you. Because now I found a new way to dealing voices in my head. A new way for make a conversation with it, make a peace of myself. Walking now, is one of the best way for a theraphy, beside writing, watching movie, and listening to the music. Seriously, I found peace. Otak gue yang mumet dan stress begitu udah dibawa jalan terasa lebih santai. Kadang gue pernah merasa marah luar biasa, namun kemudian kemarahan itu bisa terlampiaskan dengan berjalan...menuju rumah.

Memang, ada kalanya gue merasa begitu sepi, depresi, hingga rasanya begitu mencekik leher. Apalagi kalau jalan sambil ngedengerin Radiohead, terutama lagu Karma Police ama Fake Plastic Tree. I'm not recommended these when you doing your walking routine. Bisa gila. Bisa nangis. Keren sih, gue berasa kayak Natalie Portman di film Closer, cinematic gimanaaa gitu. Tapi tetep aja suicidal bo'!


















Sorry ngelantur, but walking when you really depressed is really help. Lo bisa milih jalan tanpa arah, cuma kaki lo yang membawa lo melangkah sementara pikiran lo sibuk bicara sama diri sendiri. Bicara sama Tuhan. Buat orang mungkin aneh, tapi gue sangat merasa religius dan dekat denganNya saat itu, selain saat shalat tentunya. I feel peace. And secure. Then I realize, Allah memberikan gue perasaan kosong itu agar gue berdialog dan berkomunikasi sama Dia. Allah kangen ngobrol sama gue. Ini caraNya supaya di tengah rutinitas yang semakin mengubah gue menjadi robot, gue selalu bisa dekat dengan Dia. 

So this is my story that I want to share with you. Bukan bermaksud sok religius atau snob abis, tapi orang punya cara yang berbeda-beda sebagai bentuk terapinya. Belanja di butik mahal, thai boxing, atau menyesap red wine atau earl grey tea di kala senggang. Kebetulan cara gue adalah jalan. And it's not require any amount of money. Affordable for any kind of living creature on earth. Human, animal, vampire, zombie, alien....anything.

Jakarta, 24 Oktober 2013
After took 3.5 kms from office to home, while eating a green tea ogura McFlurry in between.
And now starving to death.
Hasta la vista.
Good nite!

0 komentar: