Pacific Rim (2013) : "Welcome Back, Childhood!"

01.24 Indanavetta Putri 0 Comments


 
Director : Guillermo del Toro
Screenwriter : Travis Beacham and Guillermo del Toro
Cast : Charlie Hunnam, Idris Elba, Rinko Kikuchi, Charlie Day, Rob Kazinsky, Max Martini, Ron Perlman

First of all, gue mau berterima kasih kepada stasiun TV di era 90-awal 2000an. Era dimana acara TV di Minggu pagi hingga siang adalah serial anime dan tokusatsu. Era dimana di sore hari ketika yang dibicarakan anak-anak sekolah di seluruh penjuru Indonesia adalah soal Ultraman, Satria Baja Hitam, Pokemon, Digimon, Gundam, Power Ranger. Era dimana menonton serial anime Evangelion di tengah malam adalah suatu hal yang begitu keren untuk dilakukan. Era dimana acara musik dengan penonton alay bahkan belum terpikirkan oleh produser-produser TV mainstream. Era dimana gue mengalami masa-masa SD-awal SMA sebagai seorang otaku.

Yep, beginilah kami dibesarkan. Dengan tema "Menyelamatkan dunia dari serangan monster", kami menjalani hari-hari remaja kami dengan senyum lebar di wajah. Sampai akhirnya perlahan semuanya mulai terlupakan. Tugas sekolah, ujian, kuliah, pekerjaan, berkeluarga, dan lain-lainnya mulai menggerus semuanya. Bukan terlupakan, kami hanya bertumbuh menjadi dewasa.

Okay, prolog barusan mungkin terdengar lebay, but trust me, kalau kalian adalah bagian dari semua kebudayaan ini, Pacific Rim jelas ada di list film wajib tonton tahun ini. Guillermo del Toro, sutradara asal Mexico, yang dikenal dengan karya-karyanya yang sangat indah dan detail di sisi visual seperti Pan's Labirynth hingga dwilogi Hell Boy, memberikan kita semua reminder akan kecintaan kita dahulu. Proyek ini sebenarnya memang sudah lama terdengar, sejak Februari 2006, del Toro sudah digadang-gadangkan akan menyutradarai skrip dari Travis Beacham yang berjudul "Killing on Carnival Row". Lama tak terdengar, apalagi Pacific Rim merupakan film pertama del Toro sejak lima tahun yang lalu menyutradarai Hell Boy2 : The Legend of Golden Army. Walau memiliki banyak penundaan, dari bongkar pasang pemain hingga dibatalkannya proyek ini oleh Universal Studio, namun toh kini Pacific Rim siap merobek-robek layar bioskop, sebagai pengingat masa kecil kita semua.
 
Move away! Move Away!

Alkisah, di dasar samudra Pasifik terbentuk sebuah portal yang sangat besar, yang menghubungkannya dengan dunia antah berantah yang mengirimkan sesosok monster besar yang dinamai Kaiju (monster besar dalam bahasa Jepang). Walau berhasil membunuh Kaiju, namun serangan mereka terus datang silih berganti, membuat umat manusia sadar bahwa dunia di ambang kehancuran, dan kiamat mereka berwujud monster besar yang akan menghancurkan apapun yang ada di hadapannya. Tak ingin tinggal diam, manusia membuat monster mereka sendiri, dan Jaeger pun merajalela. Jaeger adalah robot berukuran lebih dari 30 m yang dikendarai oleh 2 orang pilot untuk membunuh setiap Kaiju yang datang. Jaeger dihubungkan dengan otak manusia untuk membuatnya bisa bergerak, untuk itulah dibutuhkan dua orang atau lebih untuk mengendarai Jaeger, masing-masing di bagian otak kiri dan kanan, dan tidak semua orang bisa melakukannya.

Raleigh Becket (Hunnam) adalah salah satu dari pilot Jaeger. Bersama sang kakak, Yance (Klatenhoff), mereka berdua mengendarai Gypsy Danger, sebuah Jaeger Mark III. Namun apa daya, pertarungan dengan Kaiju level 4 di suatu malam malah merenggut nyawa Yance. Raleigh berhasil mengalahkan Kaiju seorang diri, namun setelah itu dia pensiun dan mulai membangun tembok anti-Kaiju, yang dipercayai ampuh untuk menghalau Kaiju. Di sisi lain, kekalahan Jaeger kemudian semakin banyak. Satu per satu Jaeger di berbagai belahan bumi mulai tumbang satu sama lain. Program Jaeger akan dihentikan, digantikan oleh tembok anti-Kaiju.

Komandan Stacker Pentecost (Elba) kemudian menarik semua Jaeger yang tersisa ke pangkalan di Hong Kong lalu mengajak kembali Raleigh untuk bergabung. Berkenalan dengan pilot-pilot Jaeger yang lain, terutama ace yang mereka miliki saat ini : Striker Eureka yang dikendarai ayah-anak Herc - Chuck Hansen. Raleigh harus menemukan sosok pilot pengganti Yance, dan dia menemukannya dalam sosok wanita mungil bernama Mako Mori (Kikuchi) yang memiliki masa lalu yang menyakitkan. Namun selain mereka masih harus menyesuaikan diri, ramalan dari duo ilmuwan Dr. Newt (Day) dan Dr. Gottlieb (Gorman) bahwa situasi semakin gawat semakin mengkhawatirkan. Berhasilkah Raleigh dan Mako mengatasi berbagai masalah di masa lalu mereka? Dan bisakah mereka mempertahankan bumi dari serangan kaiju yang semakin mengganas?
 
 
 
First thing comes first, Pacific Rim jelas-jelas tahu bagaimana membuat para otaku (ataupun mantan) bersorak-sorak gembira saat melihat mecha bertarung melawan Kaiju. This is definitely one of our dreams when we were kids. Dan Pacifi Rim jelas-jelas mengajak kita semua untuk ikut larut ke dalam pertarungan mega ini. Gue pribadi sih seolah menjadi salah satu dari pilot Gypsy Danger, menebas Kaiju yang jelek itu dengan pedang gue. Dan gue pribadi berterima kasih kepada Del Toro dengan love letternya dengan genre ini.

Kedua, adalah balutan visualnya yang memang benar-benar luar biasa. Kehancuran kota dalam skala global, hingga ke detail-detail kecil seperti hujan, salju, hingga deburan ombak ganas yang menerpa selama pertarungan justru sangat mencolok mata, membuat mata gue benar-benar terbuai. Hingga kemudian ke detail yang berkaitan dengan Jaeger dan para Kaiju pun benar-benar mengagumkan. ILM yang berpengalaman dengan teknologi Transformer dipakai untuk mengerjakan visual effectnya. Del Toro juga meminta bantuan dari oscars winners John Knoll dan Hal T. Hickel yang sudah dikenal dengan karya-karya monumental mereka seperti Pirates of Caribbean dan Star Wars prekuel trilogy. Lalu ada Legacy Effects yang bertanggung jawab di sisi spesial dan practical effects di Pacific Rim. Tambahan lagi, ada Shane Mahan (Iron Man) dan John Rosengrant (Real Steel). Nama-nama diatas sudah pasti punya kaliber yang oke, terutama untuk genre robot seperti ini, membuat gue cuma bisa komentar, "Whoa...whoaaa...."

Sayangnya, gue merasa bahwa dari segi cerita yaaaa.....gitu aja sih. Bagian awal film, yang masih lebih banyak menceritakan interaksi antar tokoh berikut masa lalu mereka terasa sedikit membosankan, baru setelah mulai ke pertarungannya, tensi ketegangan baru benar-benar terasa (dan gue merasa pendapat gue ini sahih karena gue sudah mencoba versi 2D dan IMAX, yang gue rasakan tetap sama ternyata, kecuali di sisi visual yang makin megah ketika di 3D IMAX). Pun, ada di sisi drama-nya yang terasa 'biasa' saja. Well i know this is a summer blockbuster movie anyway, tapi entah kenapa gue merasa dramatisasinya benar-benar bukan khas Del Toro. Kalaupun ada satu yang benar-benar flawless dan memorable, ada di adegan flashback Mako Mori kecil yang diperankan oleh Mana Ashida. Di situ baru gue merinding dengan aktingnya yang memang luar biasa. 

Untungnya, dari segi humor ada duet Day-Gorman yang sangat membantu menyeimbangkan tensi ketegangan. Dua karakter dengan pendapat yang selalu bersilangan ini, anehnya justru menampilkan chemistry yang kuat. Atau dengan penampilan Ron Perlman, aktor kesayangan Del Toro sebagai Hannibal Chau yang walau cuma muncul sekilas tapi benar-benar terasa kuat. Sisanya? Yaa...flat-flat saja. Tidak memorable, semuanya sudah digantikan dengan adegan pertarungan yang benar-benar membuai otak gue.

Don't get me wrong, gue bukannya tidak menyukai atau seolah seperti mencari-cari kesalahan dari Pacific Rim. I like it, despite of the flat acting atau dramatisasi yang kerasa 'gak dapet'....Del Toro memang benar-benar seorang visioner sejati, dan kesukaannya akan detail visual itu benar-benar tergambarkan dari sosok Kaiju sampai ke berbagai fighting scenenya. Ibaratnya, Del Toro berhasil mengembalikan ingatan dan mimpi-mimpi basah para otaku akan mecha dan monster, membangkitkan sosok anak kecil di dalam diri kita semua. Terima kasih banyak...

I hope the sequel will be make soon, and will be better than this.
 
And I wish Neon Genesis Evangelion will be make in live-action like this one. It is deserved for the visualization like Pacific Rim! And yes, if you want to hired me as Rei Ayanami, you know how to call me ;).
 
 

And you can design your own Jaeger! How cool is that?!

 


0 komentar: