(Misc.) Balada Nama

00.33 Indanavetta 1 Comments




Seorang penyair legendaris, William Shakespeare pernah berkata, “Apalah arti sebuah nama?”, dan awalnya gue termasuk orang yang berpikir bahwasanya tak masalah gue dipanggil apa, selama yang dimaksud itu tetaplah gue, si cantik dan imut ini. Selama ini gue toh tidak pernah merasa kesulitan dalam hal panggil-memanggil nama ini, karena selama ini gue selalu berada di zona nyaman dimana gue selalu berada di lingkungan yang memang sudah mengenal gue, berikut dengan nama panggilan gue.

Okay, jadi nama panjang gue adalah Indanavetta Putri Bungasa Giswitda Amri. Iya, panjang memang. Blame my over creative mom for that. But actually gue justru sangat senang dengan nama gue. Karena dengan nama yang super panjang sekaligus langka ini, gue justru jadi lebih mudah diingat oleh orang lain. Tapi toh, dengan nama panjang ini membuat banyak orang mesti memutar nama untuk memanggil gue dengan pendek dan efektif.

Daridulu gue selalu dipanggil dengan nama “Indana”. Itu adalah nama panggilan terkenal sejak jaman SD sampai SMA. Dari guru, sahabat, musuh, sampai pacar jaman itu selalu manggil gue dengan nama Indana. Hal ini membuat gue merasa nyaman dan percaya diri saat memperkenalkan diri dengan nama itu.

Banyak juga lalu yang akhirnya tahu bahwa gue punya nama panggilan ‘Tias’, dan mulai iseng memanggil gue dengan nama itu. Gue kasih tahu saja ya, gue awalnya tidak terlalu suka dengan nama panggilan ‘Tias’ itu. Banyak sih yang nanya, “Bagian darimananya nama lo yang super panjang itu ada kata ‘Tias’?”, yang akan gue jawab dengan serius bahwa sesungguhnya nama ‘Tias’ merupakan anagram dari nama Opa dan Om ague : “Een SumiaTI dan Juju Wahyu ASmaradi.” Get it? Ti-As? So yeaaah…Tapi daridulu justru keluarga besar gue selalu memanggil gue dengan nama panggilan ‘Nju’, instead of Tias. Karena nama Tia situ hanya dipakai ketika nyokap dan bokap gue sedang marah dan kemudian memanggil gue dengan intonasi yang menyeramkan.



Tapi ada untungnya juga sih. Justru karena makin banyak orang yang memanggil gue dengan sebutan ‘Tias’, gue jadi ga trauma lagi kalo mendengar nama pendek gue. Dan akhirnya nama itu jadi nama keberuntungan, banyak orang yang mengenal gue di soc-med seperti twitter dan blog dengan nama itu, hihihi…

Masalah dimulai ketika gue memutuskan untuk keluar dari zona nyaman gue di kawasan Indonesia Timur (baca : Makassar) dan pindah untuk berkuliah di Jakarta. Darisana gue harus mulai untuk memperkenalkan diri lagi ke banyak orang-orang baru. Untungnya untuk kasus seperti teman-teman komunitas yang sudah tahu nama panggilan gue, membuat gue tidak terlalu ribet lagi. Ketika kemudian di kampus, orang-orang mulai belibet (baca : males) untuk memanggil gue dengan Indana. Atau bahkan Tias karena sudah ada nama yang sama. Jadilah gue di kampus dipanggil dengan ‘Inda’ (nanggung!) atau bahkan ‘Mamih’ (mentang-mentang gue tua!).

Hal yang sama berlaku ketika gue akhirnya memasuki dunia perkantoran sejak 3 minggu yang lalu. Sejak awal gue sudah berusaha untuk terdengar professional dengan memperkenalkan diri dengan nama Indana. Namun toh rupanya orang-orang mulai belibet pula untuk memanggil nama gue itu. Jadilah, gue dipanggil “Pata” (seriously?), “Indra” (ngecek celana), Endah” (hiks), “Nda” (biar ringkas), dan akhirnya, secara resmi dan sepihak oleh rekan-rekan sekantor, nama panggilan gue ada lah “Indy”. 



Jadi, kalau sekarang ada orang yang mengutip William Shakespeare dengan quote terkenalnya itu, gue akan berteriak “PENTING TAUK!”, karena punya terlalu banyak nama panggilan berpotensi membuat lo sakit kepala. Dan itulah kenapa gue menamai anak gue simpel : Amorina dan Ayden, biar mereka tidak mengalami kesulitan yang gue rasakan ketika sekolah dulu. Atau ini cuma gue aja yang puyeng dan lebay ya?

1 komentar: