Don Jon (2013) : A Potrayal of Modern Society

00.38 Indanavetta Putri 0 Comments



 


Director : Joseph-Gordon Levitt
Screenplay : Joseph-Gordon Levitt
Cast : Joseph-Gordon Levitt, Scarlett Johansson, Julianne Moore, Tony Danza, Brie Larson




Fowles Jib, dalam bukunya yang berjudul Inventory of Human Motives : Mass Advertising as Social Forecast, menjabarkan mengenai 15 cara iklan menarik perhatian massa dengan cara menggambarkan kebutuhan-kebutuhan mendasar emosional manusia. Hal paling pertama yang ia sebutkan adalah mengenai need for sex, bahwa pada dasarnya hal yang sangat mendasari manusia adalah kebutuhan seksual.

Pendapat Fowles ini yang kemudian membayangi gue saat menonton opening credit Don Jon. Film perdana karya Joseph-Gordon Levitt, aktor muda dengan filmografi yang menarik ini dengan sangat cerdas memberikan sebuah insight mengenai bagaimana media massa, seperti TV dan internet (identified as a new media now), menjejali kita dengan berbagai konten yang memanjakan mata dengan parade sensual, terutama tubuh wanita sebagai pembuka, sebelum masuk ke dalam prolog yang menarik perhatian.

Love (or lust) at the first  sight? *insert hip hop music*

Kita diperkenalkan dengan Don Jon (Levitt), seorang pria muda dengan potongan tubuh ala acara MTV : Jersey Shore : tubuh kekar, potongan rambut tinggi dengan gel, dan hidup berfoya-foya di club. Dengan wajah tampan dan tubuhnya yang membuat wanita ngiler, Jon sangat mudah untuk mendapatkan banyak wanita untuk one night standnya.

Lucunya, Jon justru kecanduan film porno. Baginya, menonton wanita di film porno jauh lebih memuaskan secara seksual dibandingkan dengan melakukannya sendiri. Sampai ia bertemu dengan Barbara (Johansson), wanita seksi yang terlihat berbeda dengan wanita kebanyakan. Jon menjadi terobsesi dengan Barbara, sama seperti Barbara yang memiliki obsesi akan romantisme ala film-film romantis Hollywood. Sementara di kelas malamnya, Jon bertemu dengan Esther (Moore) , yang membuatnya kesal karena Esther yang dianggapnya aneh dan terlalu blak-blakan.

 

Menurut gue, Don Jon memang sangat relevan dengan kehidupan muda-mudi kebanyakan saat ini : kosong dan dangkal. Isi film ini hanya berkisar mengenai petualangan Jon dalam menyeimbangkan kehidupan percintaan normalnya (lewat cara one night stand) dan penyangkalan akan kecanduannya dalam mengkonsumsi film porno. Tokoh Barbara pun digambarkan begitu dangkal, hanya mengenai wanita muda seksi yang menggunakan gestur tubuhnya untuk mencapai hal yang ia inginkan.

Tapi tahu tidak, di balik kedangkalan yang ia gambarkan, JGL justru dengan sangat cermat mengcapture fenomena sosial yang terjadi di kehidupan masyarakat modern sekarang. Hubungan aneh dari keluarga disfunctional Jon yang terlihat adem-ayem padahal ada emosi yang ditahan-tahan. Begitu juga dengan kecanduan yang dialami oleh setiap tokohnya : Jon Sr. (Danza) yang kecanduan tayangan football di TV dan temperamen, Barbara yang kecanduan film romantis, hingga Monica (Larson) yang kecanduang dengan gadgetnya. Inilah potret nyata dari masyarakat modern kita.


Segala kritik sosial yang disampaikan dengan jujur oleh JGL ini kemudian dibawakan secara ringan dan komikal, membuat penonton jadi tertawa-tawa ringan, padahal sesungguhnya plot yang ada jauh lebih dalam dari apa yang terlihat mata. Don Jon, sebagai karya perdana JGL, tampil lumayan menghibur dan menohok, walau pada bagian klimaks film dan ending terlihat menyepelekan masalah seihngga agak melempem, karakter Esther pun terasa begitu terburu-buru dalam penceritaannya. Tapi secara keseluruhan, film ini sangat menyenangkan untuk ditonton berkali-kali saat suntuk. 


 

0 komentar: