[Review] [Event] Festival Sinema Perancis 2013

02.02 Indanavetta Putri 0 Comments





As a self acclaimed movie-enthusiast, gue sangat-sangat senang kapanpun berlangsung festival film di Jakarta. Tahun 2013 ini, walaupun gak semuanya bisa gue datangi, tapi lumayan masif dibandingkan dengan tahun lalu. Paling pol-polan sih pas Europe On Screen 2013, selama full seminggu gue nyambangin semua venue. Kemudian di pertengahan November ada erasmusindocs, berhubung gue kerja jadi gue cuma sempet nonton 3 film : Chasing Ice, Being Elmo, dan film dokumenter The Doors. Lalu di akhir November ada JiFfest 2013, yang sempat vakum tahun kemarin dan hadir kembali. Lumayan ngegeber juga, gue dapet nonton Snowpiercer, The Host, 12 Years A Slave (yeaay baby!), dan Metro Manila. Are we done yet? Nope!

Awal Desember 2013, festival film tertua di Indonesia, Festival Sinema Perancis kembali hadir dari tanggal 5 – 8 Desember 2013. Tahun kemarin, gue justru ketinggalan yang satu ini. Dan tahun ini, gue udah meniatkan diri banget supaya bisa nonton. Apa daya, tugas keluar kota mendadak membuat gue cuma sempat datang pas hari terakhir, but I am happy, karena berhasil marathon 3 film sekaligus : Black Venus, Mood Indigo, dan Nightingale. Dan karena gue rada males bikin reviewnya satu persatu, gue bakalan cobain format short review kali ini. So here we go now!

  1. Black Venus / Venus Noire – 2010
    Sebagai bagian dari Retrospektif dari Abdellatif Kechiche, sutradara kebangsaan Perancis yang akhir-akhir ini terkenal karena kontroversial film terbarunya yang memenangkan Cannes, Blue Is The Warmest Color. Black Venus berkisah mengenai Saartjie (Yahima Torres), seorang wanita berkulit hitam di tahun 1808 yang menjadi fenomena sendiri di penjuru Eropa. Karena fisik dan warna kulitnya yang tidak biasa, dia bersama dengan Caezar (Andre Jacobs) mencari uang dan ketenaran dengan cara mempertontonkan tubuhnya, diperlakukan seperti hewan buas yang dikurung dalam kandang. Seiring cerita berlanjut, Saatjie jatuh dan hancur dalam depresi, alkohol, hingga sex. Semuanya demi agar bisa kembali ke tanah kelahirannya dengan banyak uang.
    Black Venus adalah film pertama Kechiche untuk gue yang masih berselera alay ini. Alasan gue ingin menonton ini adalah karena di Jiffest kemaren gue nonton 12 Years A Slave. Seorang teman yang berselera sangat keren, mas Algitya menyarankan gue untuk mencoba menonton ini karena adanya kesamaan tema diantara kedua film yang sudah disebutkan. Tapi kalo boleh memilih, gue lebih memilih untuk menonton ulang 12 Years A Slave. Bukan karena ada Fassbender lho ya (oh well, itu juga sih...), tapi 12 Years A Slave masih lebih 'nyaman' untuk ditonton. Kechiche menggambarkan pergulatan batin Saatjie dengan sangat detail, sekaligus membuat gue merasa bagaikan melihat sebuah mimpi buruk. 
     
    Pada intinya, Black Venus sejak awal sudah menghajar penonton dengan visualisasi vulgar mengenai seorang wanita, baik itu secara sadar, mengeksploitasi tubuhnya untuk konsumsi orang banyak. Dan pergulatan batinnya mengenai hal itu, mengenai batasan mana yang wajar dan tak wajar dari apa yang boleh dilihat dan disentuh. Secara gamblang, Kechiche seolah menampar gue mengenai realita ini, bahwa saat ini, banyak sekali wanita dan pria yang bernasib sama seperti Saatjie, diperbudak demi impian dan harapan masa depan yang lebih baik. Ini bukan hanya mengenai perbudakan, ini juga mengenai perbedaan fisik, and above all of that...how a women sexuality can be seductive and destructive in one place. Ngeri.

     
  2. Mood Indigo / L'├ęcume des jours – 2013
    Kelar nonton Black Venus yang brutal, gue langsung lari melanjutkan marathon dengan Mood Indigo. Sesungguhnya tiketnya sudah sold out, dan awalnya gue pesimis bakalan bisa nonton. Special mention for my dear one *uhuk*, gue berhasil dapet tiket dan masuk ke dalam bioskop. Film terbaru dari Gondry, sutradara asal Perancis yang sudah terkenal dengan Eternal Sunshine of The Spotless Mind ini kembali dalam sebuah adaptasi dari novel karangan Boris Vian. Dengan gaya khas Gondry yang sangat quirky dan berwarna-warni, awalnya Mood Indigo berhasil membawa naik mood gue yang sempet hancur-hancuran gara-gara Kechiche. Tapi yah, ini Gondry lho ya. Ngarepin lo masih akan tetep happy-go-lucky selama durasi film ini namanya delusional.
    Kisah cinta antara Colin (Romain Duris) dan Chloe (Audrey Tatou) awalnya berjalan manis bagaikan lollipop dengan warna warni indah. Kedua sejoli ini kemudian menikah, namun dalam bulan madu mereka, Chloe secara tidak sengaja menelan bunga salju yang menyebabkan bunga lili air tumbuh di dalam paru-parunya. Dengan kondisi keuangan mereka yang semakin memburuk, Colin harus mencari pekerjaan dan Chloe pun harus berjuang melawan penyakitnya yang semakin memburuk. 
     
    Mood Indigo mengingatkan gue sama Amour (2012) kemarin, dengan cita rasa yang berbeda. Mood Indigo tidak kental dengan aroma kematian di setiap scenenya. Namun Gondry dengan sangat cerdas mengajak penonton ke dalam sebuah emotion roller coaster dengan penggunaan warna dalam filmnya. Ketika diawal warna yang ia gunakan sangat vivid dan mencolok, sampai kemudian lama kelamaan mulai berwarna suram dan kelabu. Gue juga suka dengan bagaimana Gondry menyesuaikan dunia sureal yang ia ciptakan, ketika semakin lama ceritanya semakin menyedihkan, lingkup tempat dari para tokohnya semakin menyempit dan menggelap, membangkitkan efek klaustrophobia yang tidak biasa.

     

  3. The Nightingale / Le promeneur d'oiseau – 2013
    Kelar Mood Indigo, awalnya gue pikir antrian untuk tiket The Nightingale belum dibuka, jadi gue lebih memilih untuk mengisi perut terlebih dahulu. Namun apa daya malang tak dapat ditolak (hooh, ceritanya lebay), ternyata gue kehabisan tiket. Thanks to Candra Aditya, yang film yang ia produseri, Bunglon, masuk sebagai finalis dalam Festival Sinema Perancis, gue bisa tetep ikut dan duduk manis dengan invitation ticketnya (padahal sudah sukses dicap sebagai pengkhianat dan fans yang tidak setia). Sutradaranya sendiri, Phillip Muyl, datang sebelum filmnya dimulai. 
     
    Sesungguhnya cerita The Nightingale cukup sederhana. Filmnya berkisah mengenai sebuah keluarga kaya namun semuanya terlalu sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Ketika sang ayah harus ke Hong Kong dan sang ibu harus ke Paris pada saat yang bersamaan, putri semata wayang mereka, Ren Xing (Xin Xi Yang) akhirnya terpaksa dititipkan kepada sang kakek (Baotian Li) yang akan pulang kampung. Dalam perjalanan mereka, hubungan Kakek – cucu yang awalnya kaku dan tidak akrab lama kelamaan mulai mencair dan menghangat.
    Keunggulan dari film ini terletak pada sinematografinya. Beuh...cantik sekali! Bagaikan melihat akun Earth Porn yang bergerak, dimana setiap framenya bisa dicapture menjadi kartu pos atau dijadikan pajangan di dinding rumah. Buat gue sendiri ini adalah sebuah penyegaran mata dan pikiran, ketika dimana gue diajak menonton sebuah film ringan tanpa perlu banyak berpikir, ikut tertawa dengan setiap ulah sang cucu, dan ikut terbuai dengan banyaknya adegan unyu yang menghangatkan hati semua orang. In the end, usaha Muyl untuk menangkap fenomena jomplangnya kehidupan warga perkotaan dengan pedesaan, lengkap dengan kritik halus akan tingkat konsumtif dan gila teknologi dalam balutan chemistry antara setiap aktor yang bermain di dalamnya, this is a heartwarming and beautiful one

    Note :
    Gak ada yang lebih menyenangkan dari seharian marathon film-film bagus dalam sehari :3 

0 komentar: