[REVIEW] 12 Years A Slave (2013) : "Don't Survive, Live."

22.41 Indanavetta Putri 0 Comments






Director : Steve McQueen
Screenplay : John Ridley based on book '12 Years A Slave' by Solomon Northup
Cast : Chiwetel Ejiofor, Michael Fassbender, Lupita Nyong'o, Brad Pitt, Benedict Cumberbatch, Paul Dano, Paul Giamatti, Sarah Paulson


Semua movie-enthusiast pasti punya list sutradara favoritnya sendiri. Dan dari setiap sutradara favorit itu, pasti film-film yang disutradarainya jadi sebuah film wajib tonton. Nama Steve McQueen ada di daftar teratas gue secara otomatis. Padahal secara filmografi, McQueen 'baru' memiliki tiga film panjang dan semuanya bukanlah jenis film yang bisa dengan mudah lo tonton di bioskop, serius. Namun di akhir tahun 2013 ini, big thanks to Jiffest (cium kaki panitia-panitianya), gue akhirnya bisa menyaksikan karya sutradara favorit gue ini di layar bioskop. And this is now what I called : Expectation meet the Reality!

Solomon Northup (Ejiofor) is a free black man back then in New York. Bukan sesuatu hal yang lazim kala itu, di era sebelum Perang Sipil dikarenakan orang berkulit hitam masih diaktegorikan sebagai budak yang kelasnya lebih rendah bahkan dibanding binatang. Solomon hidup nyaman sebagai seorang musisi biola bersama dengan istri dan kedua anaknya, sampai ia kemudian diculik oleh duo kawanan pengusaha sirkus dan berakhir sebagai seorang budak.

Sesimpel itu? Tentu tidak. Ini adalah McQueen. Ini adalah pria yang membuat parade pria telanjang yang mengoleskan kotorannya di dinding penjara di Hunger. Ini adalah pria yang membuat adegan threesome paling menghancurkan hati di Shame. Ada alasan mengapa 12 Years A Slave digadang-gadangkan sebagai calon film Oscar terbesar awal tahun 2014 nanti. Dan gue, sebagai seorang fans dan self-acclaimed buzzer film ini akan mencoba menjabarkannya kepada kalian.


Pria berkebangsaan Inggris ini dikenal dengan ciri khasnya memberikan banyak long shot cantik yang mewakili mood film-filmnya. Gue pribadi merasa 12 Years A Slave ini adalah film beliau yang paling festive dan meriah dibanding karya sebelumnya. Namun bukan berarti kemeriahan tersebut tidak mencakupi ciri khas beliau. 12 Years A Slave banyak sekali memberikan gambar-gambar indah dan cantik dengan teknik memukau, seolah memberikan jeda kepada penonton untuk menarik nafas sejenak namun tidak serta merta membuat penonton lupa dengan apa yang mereka tonton.

Ada alasan mengapa banyak orang jatuh hati pada karya-karya McQueen. McQueen tidak pernah mau berkompromi dalam hal visualisasi yang ingin ia sampaikan kepada penonton. Ia memiliki sebuah visi, dan misinya adalah agar penonton bukan hanya sekedar menonton apa yang ia buat, namun juga bisa mengerti realitas yang ia kemukakan. Tajam dan terlalu realistis adalah apa yang gue dapatkan dari 12 Years A Slave. Setiap cambukan dan darah yang mengalir, setiap peluh keringat yang mengalir, setiap tatapan mata kosong yang menerawang di setiap scenenya adalah sebuah penggambaran nyata akan perbudakan kulit hitam, sebuah sejarah kelam yang tidak banyak orang ingin mengingatnya. Though, dibandingkan dengan Hunger dan Shame, kompromi McQueen dalam hal visualisasi cenderung lebih aman dan lunak di 12 Years A Slave ini.

12 Years A Slave adalah film McQueen yang paling banyak bercerita dengan dialog kepada penontonnya. Dan ini sangat didukung dari performa kelas atas dari setiap castnya. Untuk pertama kalinya bekerja bersama McQueen adalah Ejiofor sebagai Solomon/Platt. And he is amazing. Sebagai seorang pria bebas yang dipaksa menjadi budak, harus rela merendahkan diri demi bertahan dan hidup, sekaligus berusaha agar selalu waras di tengah siksaan yang ia terima, Ejiofor bermain begitu gemilang dan menakjubkan. Setiap ekspresi dan gestur yang dimainkannya, rasa frustasi sekaligus keinginannya untuk tetap hidup, semuanya menakjubkan. Sebuah performa yang sayang sekali untuk dilewatkan!

Sexy beast? :3

Di sisi lain ada aktor kesayangan kita semua, Michael Fassbender. Si tampan kebangsaan Jerman – Irlandia ini adalah aktor favorit McQueen di setiap filmnya, dan kali ini dia berkesempatan memerankan Edwin Epps, tuan tanah gila dan kejam. Terserah mau dianggap bias (secara gue Fansbender bo'!), tapi akting Fassbender disini benar-benar mengerikan. Berperan sebagai Epps yang gila, menganggap semua budak sebagai properti pribadinya, selalu marah dan kejam, sekaligus menyimpan perasaan 'cinta' yang aneh kepada budaknya, Patsey (Nyong'o). Kegilaannya yang tergolong sadis...malah membuat gue semakin menggelinjang gak jelas. I just wish it was me whenever his eyes darken and intense, when he seeing Patsy. Gila aja kalau kali ini Oscar masih belum ngasih piala!

Performa dari para cast pendukung pun tidak kalah gila. Walau hanya muncul sebentar, Benny Cumberbatch menjadi penyejuk tensi sebagai Mr. Ford. Paul Giamatti sebagai penjual budak yang tidak berhati. Sarah Paulson sebagai Mistress Epps yang cemburuan kepada Patsey dan cinta segitiga paling aneh dan absurd (nabok kepala orang dengan muka lempeng gitu gila!). Brad Pitt sebagai Bass yang berpandangan luas dan terbuka (walau agak tertutup sama karakter lainnya). Kredit tambahan untuk Paul Dano sebagai Tibeats yang minta ditabok banget, dan terutama sekali pada Lupita Nyong'o, sebagai Patsey yang nampak begitu hancur di tengah kegilaan Epps dan Misstress-nya, secara fisik dan mental, sudah tak bisa menemukan alasan untuk hidup lagi.


In the end, jika dibandingkan dengan Hunger dan Shame, 12 Years A Slave mungkin adalah film karya McQueen yang paling lurus, mudah dicerna dan happy ending, namun bukan berarti dalam prosesnya kita sebagai penonton tidak disuguhi sebuah pengalaman visual yang indah sekaligus jalinan cerita yang utuh dan sanggup menyayat-nyayat hati. Dengan segala kompromi yang McQueen lakukan, 12 Years A Slave masih bisa menyuguhkan sebuah film yang begitu kejam dalam penggambaran realitas, sebuah potret ketidakadilan yang begitu nyata. Dan pada akhirnya, 12 Years A Slave bukan hanya menceritakan sesosok Solomon Northup, namun juga kisah mengenai manusia, yang bukan hanya ingin bertahan, namun juga hidup. Life fucks us all, then it's up to you want to let it happened and be quiet about it, drowned and got lost into it, or just simply fuck it back.

n.b : Review Hunger dan Shame bisa dibaca disini.

0 komentar: