Jeritan Hati Pecinta Genre Psikopat [2]

06.29 Indanavetta Putri 0 Comments

...with fava beans and chianti, perhaps?


Beware, there are some spoilers in this (so called) essay!

Di tulisan sebelumnya, gue banyak bercerita soal psikopat di dalam genre gore. Di tulisan ini, gue pengen cerita soal psikopat favorit gue. Yep, walau nyali tempe, tapi gue paling suka sama genre psychological thriller yang melibatkan psikopat kayak gini. Jadi fokus cerita bukan pada seberapa banyak atau kreatifnya elo membunuh dan mencincang tubuh lo kayak bawang bombay, tapi pada efek yang ditimbulkan atau apa motivasi yang melatarbelakangi si psikopat ini.


Genre film kayak ini sebenarnya sudah ada sejak lama. Misalnya saja, ada M - Fritz Lang (1931) yang berkisah mengenai seorang psikopat yg gemar membunuhi anak-anak dan bagaimana efek teror yang kemudian ada di masyarakat. Kemudian di tahun 1960 ada 2 buah film yang dirilis bersamaan dan membuat heboh di jamannya : Psycho - Alfred Hitchcock (USA) dan Peeping Tom - Michael Powell (UK). 


Di dalam Psycho, ada Norman Bates, seorang pemilik motel yang senang membunuhi wanita dengan berdandan seperti ibunya : pake daster, wig panjang. Kalau lagi  gak mengkeret ketakutan, gue mungkin bakalan inget sama Olga Syahputra. Sedangkan Peeping Tom menceritakan seorang fotografer yang sangat senang merekam pembunuhan yang ia lakukan. Dari kedua film barusan, ada sebuah kesamaan : sumber gangguan jiwa mereka berasal dari perlakuan orang tuanya. Menceritakan sudut pandang psikologis dari si psikopat dan menjadikannya sebagai tokoh sentral yang membuatnya jadi lebih menarik.


Favorit semua orang, yang tentunya ikonik sampai sekarang, adalah Hannibal Lecter. Karakter karangan Thomas Harris ini pertama kali muncul dalam novel Red Dragon (1981). Brian Cox memerankannya dalam Manhunter di tahun 1989, yang flop di pasaran. Lalu di tahun 1991, Jonathan Demme memvisualisasikan Silence of The Lambs dan membuat Anthony Hopkins memenangkan Oscar hanya dalam penampilan selama 16 menit. Dr. Lecter adalah seorang psikiatris hebat, pandai memanipulasi pasien-pasiennya, yang biasanya adalah sesama orang sakit jiwa lainnya, seperti Buffalo Bill dan Mason Verger, yang juga gemar membunuh dengan cara elegan. Korban-korbannya biasanya akan berakhir sebagai hidangan Prancis yang dinikmati dengan pava beans dan red wine. Gila? Memang. But he is too hard to resist.


Lalu ada Dexter Morgan, dari serial 'Dexter' yang diperankan oleh Robert C. Hall. Ibunya dibunuh di depan matanya saat masih kecil, Dexter diadopsi oleh polisi Harry Morgan. Harry sudah tahu bahwa anak ini bermasalah, layaknya Mama Lauren yang bisa membaca masa depan, makanya ia mendidik Dexter dengan kode dan aturan membunuh. Korban Dexter adalah para pelanggar hukum yang bebas berkeliaran. Bekerja sebagai Blood Splatter Expert  di kepolisian Miami di siang hari dan pembunuh di malam hari, Dexter adalah gambaran sebuah ironi sekaligus kontradiksi : penjahat atau pahlawan?


Salah satu favorit gue yang lain, dari film American Psycho. Dari luar, Patrick Bateman adalah kesempurnaan : kaya, tampan, seksi, dan memiliki kehidupan yang diidamkan semua orang. Yah, kayak Chuck Bass namun versi lebih sombong dan seksi. Namun, Bateman yang narsistik parah dan superior ini gak pernah mau kalah sama siapapun. Mulai dari kucing sampai Jared Leto, siapapun ia habisi. Menyindir habis-habisan masyarakat modern yang individualis dan konsumerisme, film ini sebaiknya jangan ditonton sambil makan siang.


Psikopat juga bisa didasari keinginan balas dendam. Ketika seorang hakim menyalahgunakan kekuasaannya untuk menjebloskan seorang pria tak bersalah gara-gara naksir ama istri dan ngambil anaknya buat dinikahin, bisa jadi si suami bakalan napsu banget buat ngegantung si hakim di monas, persis kayak Anas Urbaningrum yang ketauan korupsi. Tapi apa yang dilakukan oleh Sweeney Todd jauh lebih keji dari itu. Dengan pisau cukur dan bantuan Mrs. Lovett, Todd menyajikan pie daging terenak di Baker St. yang berbahan dasar daging manusia! Sambil nyanyi pula!


Lalu ada Stoker karya Chan Wook, yang dengan cantiknya bercerita transformasi dan kebangkitan psikopat cantik, India. Adegan masturbasi sambil membayangkan leher yang patah itu indah sekali. Sakit jiwa, tapi ya namanya juga psikopat ya...Juga beberapa film korea seperti Chaser (2004) yang bercerita serunya kejar-kejaran antara seorang psikopat yang korbannya adalah pelacur dengan germo yang rugi karena pelacurnya hilang semua. Atau I Saw The Devil (2010), dimana seorang agen khusus membalas dendam kepada psikopat sakit jiwa yang membunuh calon istrinya. Tangkap, siksa, lepaskan, lalu ditangkap dan disiksa lagi. Korban bergelimpangan. Lalu ada Pintu Terlarang dan Modus Anomali karya Joko Anwar. Tonton sendiri, I won't spoiled you any.


Dan terakhir, sebuah lambang kesempurnaan dari sakit jiwanya seorang psikopat, dalam sosok pria paruh baya berwajah biasa namun kharismanya bakalan membuat Justin Bieber pingsan di tempat. Mengikat cewek cantik di tempat tidur dan memotong hidungnya? Checked. Memaksa pria untuk makan sampai mati? Checked. Memasang pisau di penis pria dan memaksanya untuk berhubungan seks dengan seorang pelacur sampai hancur? Checked. Memotong kepala Gwyneth Paltrow dan menaruhnya di dalam kotak untuk memprovokasi Brad Pitt? Checked. Motivasinya untuk memberikan ceramah membuat ustad Hariri keliatan cupu. Ladies and gentlement, mai I present to you...John Doe dari film monumental karya Fincher, 'Se7en'!

0 komentar: