Cemetery Drive

02.38 Indanavetta 2 Comments




Hujan turun dengan derasnya, menghembuskan hawa yang begitu dingin, menusuk hingga ke dalam sumsum tulang. Langit siang ini begitu gelap, seolah bisa mengerti dukaku, seolah ikut bersedih bersamaku. Di depanku berkumpul orang-orang, mereka juga turut bersedih, tapi tak ada yang lukanya sedalam lukaku. Kulihat ia diturunkan pelan-pelan, aman terlindungi di dalam peti kayu murahan. Hanya itu yang bisa kuberikan kepadanya. Aku tak mampu memberikannya yang terbaik, bahkan di saat-saat terakhir kehidupannya.

Oh tidak, air mataku mengalir lagi. Aku tak mampu menahannya. Kulihat semuanya memperhatikan, di wajah mereka tidak ada kemakluman. Aku melihat kilasan kemarahan dan kekecewaan di mata mereka. Mereka pasti berpikir aku yang bersalah.Tapi aku tak perduli. Aku berhak untuk bersedih. Kini air mataku berlomba dengan derasnya hujan.
Dan pikiranku pun melayang jauh...

****

“PRANG!!!”
Mike menunduk, melindungi kepalanya dengan kedua tangannya yang dihiasi tato bergambar naga besar merah yang menjulur panjang di seluruh tangannya. Dia terlihat khawatir dan sedikit takut bahwa aku mempertimbangkan dengan sangat serius untuk melempari piring langsung ke arahnya.

Well, setidaknya dia benar. Aku serius mempertimbangkan itu. Tapi aku tak ingin ditangkap polisi dan dikenai hukuman karena membunuh seseorang, tidak sekarang.

“Lizzy...Sudah kukatakan, kau hanya salah paham!!”, katanya mencoba membela diri, setelah selama semenit aku hanya diam menatapnya dengan tatapan yang mampu membakar sesuatu.

Aku meraih piring lagi, biru kali ini, lalu kulemparkan lagi ke arah dinding dengan membabi buta, ingin mengenyahkan rasa marah dan cemburu yang bercokol di dada. “Salah paham katamu?! Salah paham?! Bagian mananya dari masalah ini yang kaubilang salah paham?!”

Mike mengernyit lalu menjelaskan lagi, dengan suara yang tak kalah kerasnya, “Coba kamu pikir dengan akal sehat, Lizzy. Kalau memang aku punya affair dengan Hannah, aku akan berbohong. Aku akan bilang aku tertidur di apartemen Todd atau apa, ya gak? Mestinya kamu menghargai kejujuranku.”

“Kamu tidur di apartemen Hannah!” Aku mengulangi apa yang ia beritahukan sebelum aku mulai melemparinya dengan barang pecah belah.

“Aku tertidur di apartemen Hannah!”, katanya defensif, mengulangi setiap kata dengan penuh tekanan.

“Aku tidak mengerti ada urusan apa diantara kalian, sehingga kamu tertidur di apartemennya!”

“Dengar, kami mengobrol, aku terlalu kelelahan, dan tertidur di sofa, itu saja. Lagipula, ada Todd juga disana!”

Aku terdiam sebelum akhirnya aku bertanya dengan suara pelan, “Tapi Todd tidak tertidur disana juga kan?”

Mike pun ikut terdiam, wajahnya pias. Dia kalah.

Sudah kuduga, dia menyembunyikan sesuatu dariku. Tadinya ada harapan dalam pertanyaan terakhirku. Aku ingin ia menjawab iya. Bohong pun tak apa. Aku hanya sedang tak ingin Mike berkata jujur kepadaku. Karena aku tak akan mampu menahan rasa sakit ini. Dan tidak, aku sudah tak ingin melihatnya, aku tak ingin bertengkar lagi. Aku lelah.

“Kau tahu, aku tak boleh marah seperti ini. Tak baik untuk kandunganku.”, kataku pelan sambil menahan tangis. Karena toh ini akan berakhir, sudah sepantasnya aku menjatuhkan bom ini. Aku mengusap mataku dengan cepat.

Mike tersentak kaget. Sesungguhnya aku benci harus memberitahunya dengan cara seperti ini. Aku sudah menghabiskan waktu nyaris sebulan bagaimana caranya memberitahunya, karena aku tak yakin dengan reaksinya. Aku hanya ingin dia bahagia.

“Kan, kandungan? Ma, ma, maksudmu...Hamil? Anak kita? Anak kita, Lizzy?”, suaranya terbata-bata, tapi sebentuk senyuman terukir di wajahnya. Membuatku langsung merasakan sengatan emosi negatif yang harus segera kulampiaskan.
Aku meraih sebuah mug, lalu kembali melemparnya ke dinding. Namun Mike kini bergeming, tak bergerak sedikit pun. Dia tampaknya sudah tak peduli aku akan melemparnya tepat ke wajahnya.

“...Lizzy, aku mencintaimu.”, bisiknya pelan, senyum mengembang lebar di wajahnya.

Tidak! Aku tak akan terpengaruh dengan kata-katanya!

“Keluar.”

“Hannah hanya sebuah masa lalu, dan dia sahabatku. Aku mencintaimu, Lizzy. Dan bayi kecil kita.”

“KELUAR!!!!!!!!!!!!!!!!”, jeritku keras.

Mike akhirnya menghembuskan nafas panjang lalu menyerah. Dia berjalan menuju pintu, mencoba menghindari pecahan-pecahan di lantai. Sebelum ia keluar, dia berbalik ke arahku dan berkata pelan, “Kau butuh waktu untuk sendiri. Aku tak akan menyerah secepat ini. Tidak. Demi kita, demi bayi kita. Karena aku mencintaimu, sangat mencintaimu.”

****

Itulah kalimat terakhir yang ia ucapkan. Itulah kali terakhir aku melihatnya. Mike meninggal lima jam sesudahnya, dalam sebuah kecelakaan beruntun yang parah. Mobilnya ditabrak dari belakang, dan dia tidak mengenakan sabuk pengaman saat itu. Tubuhnya melayang keluar, sebelum akhirnya ditabrak mobil. Setidaknya ia meninggal dengan seketika, itu yang dikatakan oleh petugas forensik kepadaku saat polisi memintaku mengenali mayatnya.

Aku merasakan asam di lambungku naik menuju ke tenggorokan, aku segera berlari dan memuntahkan semuanya. Hanya air kental berwarna kuning. Aku nyaris tidak makan apapun sejak dua minggu lalu. Aku tak ingin makan. Aku hanya ingin Mike kembali.

Oh ya, mayat Mike. Aku masih bisa mengingat kondisinya dengan jelas. Lehernya patah, kaki kirinya hancur remuk terlindas salah satu ban truk... Kepalanya bocor dengan wajah yang nyaris tidak bisa kukenali lagi....
Ini semua salahku. Andai aku tak mengusirnya pergi, Mike mungkin masih hidup hingga detik ini. Andai aku tak menyuruhnya pergi, Mike mungkin masih ada disini. Memelukku erat tiap malam. Membicarakan masa depan kami, masa depan bayi kami sembari meminum sebotol bir.

Oh tidak, bayi kami!

Tanah yang kupijak serasa berputar dengan kencang. Aku harus mencari pijakan yang lebih baik sampai aku merasakan tangan seseorang mencengkram bahuku.

“Lizzy, kau harus makan sesuatu!! Kau kelihatan begitu kurus dan pucat!”, katanya. Oh, ternyata Todd. Aku hanya menatapnya bingung, seolah-olah dia berbicara dengan bahasa yang tak kumengerti.

Dan memang sesungguhnya aku tak mengerti.

“Todd, kita ke family restaurant sekarang. Aku rasa aku butuh makan siang. Dan Lizzy juga.”, sebuah suara yang halus dan menyenangkan menyela Todd. Walau aku tak mengerti apa yang dikatakannya, tapi aku mengenal suaranya.

Aku membenci suara itu. Hannah.
Hannah kemudian menggamit lenganku dan berjalan bersamaku dengan perlahan-lahan, seolah dia mengimbangi kemampuannya berjalannya yang normal dengan seorang tua renta.

“Mau apa kau?”, tanyaku penuh kebencian, suaraku bergetar.

“Mike akan menangis di dalam petinya kalau melihatmu sekarang ini, Lizzy. Kau butuh makan.”

Aku melepaskan lenganku darinya lalu memeluk tubuhku sendiri, “Aku tidak butuh kau memberitahuku soal apa yang harus kulakukan, Hannah.”

“Lizzy, lihatlah dirimu. Kau seperti zombie!”

Aku sudah tak tahan lagi. Aku kehilangan Mike, dan yang perempuan ini katakan adalah aku terlihat seperti zombie?!

“Kalau bukan karenamu, kami tak akan bertengkar!”, teriakku marah, menumpahkan semua rasa putus asa yang membuncah. Aku yang kehilangan Mike! Mike tidak akan pernah kembali! “ Kalau bukan karenamu, Mike tidak akan ada di dalam peti, dikubur, sendirian!”

Semua orang segera saja berkerumun memperhatikan kami. Tertarik menyaksikan gosip terbaru secara langsung. Dan Hannah, berdiri disana dengan wajah pucat pasi, seolah aku baru saja menamparnya.

“Apa maksudnya ini? Kalian bertengkar karena aku?”

“Ya, kalian punya affair kan?”

“Mike bilang begitu padamu?”

Aku terdiam, “Dia tidak mengakuinya secara langsung.”

Hannah menarik nafas panjang lalu berkata pelan, “Malam itu, Mike datang menyusul ke bar, karena dia ditelepon oleh bartender bahwa aku mabuk. Todd tidak bisa datang karena sedang bekerja. Mike menjemputku, membawaku pulang ke apartemen. Disana, aku muntah dan pingsan dalam kubangan muntahku sendiri. Aku tidak bangga terhadap itu, oke? Mike memandikanku kemudian menaruhku di tempat tidur. Dia sudah seperti kakak bagiku. Kami memang pacaran dulu, tapi dia sangat mencintaimu, Lizzy!” Suaranya bergetar hebat, “Dan aku masih mencintainya, gila rasanya melihat dia mencintaimu seperti itu, karena denganku, dia tidak merasakan hal seperti itu.”

Sakit rasanya aku melihat Hannah, seorang wanita tangguh dengan rambutnya yang cepak itu menangis tersedu-sedu seperti itu. Hannah yang kukenal selalu riang gembira, walau agak sedikit sinis terhadapku, tapi dia selalu bisa membuat Mike tertawa. Hannah dan Todd bersahabat dengan Mike sejak SMA. Dan aku tak nyaman dengan kegiatan rutin mereka bertiga setiap Rabu malam, minum-minum di bar sampai mabuk. Sebuah segitiga yang tak mungkin bisa kumasuki sampai kapanpun. Membuatku merasa tidak dianggap oleh Mike. Dan bukan hanya aku yang kehilangan Mike. Hannah juga kehilangannya.

Oh Tuhan, aku merindukan Mike.

Semua orang lalu mulai meninggalkan kami, tak nyaman dengan drama dan air mata yang bisa ditonton gratis ini. Todd berdiri dengan kikuk, bingung harus melakukan apa, kemudian dia bergumam tentang sesuatu dan berjalan cepat menuju mobil.
Aku dengan segera mendatangi Hannah, tak ada lagi perasaan benci itu. Hannah dan aku hanya sama-sama kebetulan mencintai Mike. Hanya saja, aku yang beruntung dicintai olehnya, dan dia tidak. Sedih rasanya kalau mengingat itu. Apalagi orang yang kami cintai sudah terbujur kaku.

“Maafkan aku, aku hanya...”

Hannah menjawab dengan suara marah yang bercampur dengan tangis, “Tidak, aku mengerti kenapa kau menyalahkanku seperti itu. Aku tidak menyukaimu, Lizzy. Aku benci padamu.”

“Dan aku juga membencimu, Hannah. Kau selalu bisa membuat Mike tertawa. Dan kalian pernah berpacaran, aku merasa tidak diterima.”

Hannah menggeleng dan menatapku dengan tatapan malu, “Aku sengaja membuatmu merasa tidak diterima, karena aku benci padamu. Aku cemburu padamu. Kau membuat Mike berubah, menjadi lebih baik, sabar, dan lembut. Rasanya seperti melihat manusia yang berbeda, seperti ada alien yang mengambil alih kepribadiannya. Aku merasa kau merebutnya dariku. Aku benci melihatnya menjadi begitu baik, tapi bukan untukku. Bukan untukku.”

Aku memeluknya, dan Hannah meletakkan kepalanya ke bahuku, menangis tersedu-sedu lagi, “Dan aku merasa sangat malu pada diriku sekarang. Aku membenci diriku sendiri. Kalau bukan karena aku yang sudah begitu manja, Mike tidak akan bertengkar denganmu. Mike tidak akan ada disana sekarang. Lebih baik melihat Mike hidup, walau bersamamu, dibandingkan melihat dia mati, sendirian tak tersentuh olehku, oleh kita, oleh siapapun.”

Aku menangis, Hannah pun menangis. Bersama kami menangis. Aku tak tahu sampai kapan kami menangisi sesosok pria tampan bernama Mike. Mike yang begitu mencintai hidup. Mike yang begitu suka menonton pertandingan basket. Mike yang pandai memasakkanku risotto. Mike yang senang menghirup bir sembari bekerja di depan laptopnya. Mike yang senang mengedipkan mata saat memandangku. Mike yang selalu tersenyum lebar ketika melihatku meminjam pakaiannya. Mike, ayah bayiku.

Oh Tuhan...Betapa aku mencintai Mike.

*****

Aku sudah mengepak beberapa barang pribadi Mike ke dalam kardus. Tak mungkin aku akan menyimpannya. Aku hanya akan menyiksa diriku sendiri. Aku tak akan kuat. Dan karena aku mengandung bayiku, aku tak bisa terus-terusan berduka seperti ini. Mike tidak akan menyukainya. Aku nyaris tidak makan apapun sejak kami bertengkar dan dia meninggal. Aku hanya menangis terus-menerus. Dan itu melelahkan.
Sejujurnya aku bahkan merasa pasokan air mataku sudah mengering dan habis. Mungkin kalau aku menangis lagi, yang kukeluarkan adalah darah.

Aku menguap keras, begitu lelah. Yang kubutuhkan saat ini adalah tidur yang panjang dan lama. Aku bisa makan besok, setelah aku merasa lebih baik. Aku sangat bersyukur janinku tidak terlalu banyak menuntut. Aku tahu biasanya pada trimester pertama akan sulit dan menimbulkan mual-mual sepanjang hari.

Ketika kepalaku menyentuh bantal, segera saja aku jatuh tertidur. Namun itu tidak lama, karena tak lama kemudian aku mencium seperti bau busuk dan tidak sedap, membuatku begitu mual dan ingin muntah. Aku terbangun dan apa yang kulihat membuat jantungku berhenti sejenak.

Mike. Di depanku ada Mike. Dan bukan seperti film-film, dimana sang kekasih didatangi arwah kekasihnya yang tampan atau apa. Mike yang ada di depanku mengenakan jas hitam yang sama persis dengan ketika ia dikuburkan. Mike yang ada di depanku terlihat seperti mayat yang sudah diawetkan. Kepalanya terkulai lemas di lehernya, sebelah matanya bahkan sudah tak bisa dibuka. Dan kakinya yang hancur...masih hancur, mengotori lantai dengan lumpur. Seolah dia berjalan kemari, dengan menyeret tubuhnya.

Aku ingin menjerit, tapi tak sanggup. Tidak, ini bukan Mike. Bukan Mike-ku!

“...Lizzy...”

Aku tak bisa menjawab. Air mataku mengalir lagi, dan rasanya aku mengompol saking ketakutannya. Apalagi ketika mayat Mike kembali menyeret kakinya yang hancur mendekat, menuju tempat tidurku, tempat tidur kami, aku menjerit pelan, namun tak ada suara yang keluar.

“...Lizzy...” Kini dia mulai berbicara lagi, suaranya terdengar seperti menggeram. Apakah dia akan memakanku?!

Mayat hidup ini dengan bersusah payah berusaha mengangkat tangannya, mengelus wajahku. Badanku bergetar hebat, aku menjerit dalam hati.

“...Ma....ma...”

“A, apa, Mike? Ada apa?”

“...Ma....kkkkaannn...”

“Kau kelaparan? Kau mau memakanku?”, cicitku ketakutan.

“...Baaa...baayii...kkkkiitttta...”

“Kau mau memakan bayi kita?!”

Sialan, aku begitu panik sekarang, dengan sigap aku melindungi perutku dan menjauh darinya, tapi rupanya tangan zombie ini mencengkram tanganku erat. Tak ada yang bisa kulakukan, selain berdoa dia tidak tertarik memakanku maupun bayiku.

“...Aaakkkkuuu...ccinnttaa...pppaadddamuuu, Lizzy...”

Aku terdiam kaget. Tidak, dia bukan mau memakanku. Dia bukan mau menyantapku mentah-mentah. Mike hanya mau mengucapkan salam perpisahan terakhir.

Kusentuh wajahnya yang rusak, mengelus pipinya yang penuh luka dalam. Aku menatap matanya, satu matanya yang melihatku. Mata itu kelihatan begitu mati, tapi bagaimanapun, mata itu memang milik Mike.

“Kau berjalan sejauh ini, keluar dari kubur hanya untuk mengatakan kau mencintaiku, Mike?”, tanyaku sambil menangis. Oh, rupanya aku masih bisa menangis.

“...Ma....kkkkaannn...”

Aku tertawa kecil, “Oh, dan menyuruhku makan juga?”

“...Baaa...baayii...kkkkiitttta...”

“Bayi kita? Dia sehat, kami meridukanmu, Mike. Aku sangat merindukanmu...”

“...Aaakkkkuuu...ccinnttaa...pppaadddamuuu, Lizzy...”, katanya mengulang-ulang terus. Mungkin dia memang tidak mengucapkan kalimat lain.

“Dan aku sangat mencintaimu, Mike. Tapi aku sudah merelakanmu pergi. Kami akan baik-baik saja. Aku akan terus mencintaimu, Mike.” Aku tahu aku terdengar gila, atau aku memang gila. Tapi aku kemudian mendekatkan bibirku ke bibirnya, ke wajahnya yang tergantung lemah di lehernya itu, dan kukecup mesra. Aku tak peduli baunya, aku tak peduli dengan rasanya, aku tak peduli bagaimana kelihatannya. Yang kutahu ini adalah bibir Mike, pria yang kucintai.

Dan kemudian aku terbangun, tentu saja. Ini semua ternyata hanya mimpi. Mimpi yang begitu aneh dan buruk, tapi herannya begitu melegakan perasaan. Perutku bergemuruh begitu hebat, dan aku tahu, yang begitu kuinginkan sekarang adalah sepiring chicken pot pie yang ada di dalam kulkas. Ketika aku bangkit dari kasur, aku tersentak melihat lantai kamarku yang begitu kotor berlumuran lumpur yang telah mengering. Jantungku kembali berhenti berdetak. Ini semua hanya mimpi bukan?

Atau ini nyata?


Jakarta, 09 November 2012
10.45 p.m.

Truly inspired by My Chemical Romance’s songs, taken from Three Cheers For Sweet Revenge :
 Helena and Cemetery Drive.






2 komentar: