Bekerja, Bukan Bertamasya

09.07 Indanavetta Putri 0 Comments


What is a traveling? Sesimpel berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk sementara waktu. Sehingga sesungguhnya perjalanan menuju kostan ke rumah pun bisa saja kita sebut traveling. Anggap saja begitu. Setuju?

Pada kenyataannya, makna traveling kini semakin menanjak naik. Traveling kini berarti liburan, menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak dari penat di kantor. Koper ataupun ransel, tiada masalah. Yang pasti adalah pengalaman tak terlupakan yang didapat.

Lalu bagaimana jika traveling untuk pekerjaan? Dulu, saat saya masih jadi anak baru di kantor, saya selalu terbayang-bayang, betapa enaknya bisa bekerja ke luar kota dan dibayari oleh kantor. Apalagi saat event Miss World 2013 di Bali, sungguh iri sekali saya pada teman-teman yang bertugas kesana, bisa menikmati Nusa Dua sekaligus bekerja.

Masanya kemudian tiba untuk saya mulai bekerja ke luar kota. Memang masih di pulau Jawa, karena kantor saya memiliki cabang di kota-kota besar di pulau sejuta umat ini. Saya tentu saja senang sekali. Rasanya impian saya untuk bisa bekerja sambil berjalan-jalan seperti yang saya impikan jadi kenyataan. Padahal pantang untuk mengeset sebuah ekspektasi terhadap sesuatu yang belum kamu ketahui. Pada kenyataannya, tidak seenak itu.

Kota pertama yang saya kunjungi adalah Bandung, untuk sebuah event off air dengan TV swasta. Berangkat pukul 9 pagi, saya sampai di kota kembang ini pukul 12 siang untuk kemudian langsung menuju venue acara. Sayang, acara molor. Yang semestinya saya sudah selesai pukul 7, hingga pukul 09.30 malam masih belum selesai. Walhasil, rencana untuk berjalan-jalan dan langsung pulang di hari yang sama gagal. Untung ada teman-teman komunitas film yang berbaik hati menjamu dan memberikan saya tempat untuk menumpang tidur.

Kali kedua adalah Jogjakarta, kota kecil yang sangat menarik dan berbudaya, terutama sekali karena ini kampung halaman si dia. Pesawat saya berangkat pukul 5 subuh dan saya sudah harus ada di bandara pukul 4. Sementara saya pulang larut karena mengerjakan tugas kampus hingga pukul 2. Badan sudah tentu hancur, stamina drop sehingga tidak bisa menikmati kota pelajar ini. Ditambah dengan waktu yang singkat, saya lagi-lagi tidak bisa menjelajahi kota.

Agak lama baru kemudian saya mampir ke kota pahlawan Surabaya di April lalu. Kebetulan ada pembukaan cabang baru, dan sebagai panitia tentu saya harus ada disana. Team yang lain berangkat sejak H-3 acara, sedangkan karena saya baru dibutuhkan di hari H (juga karena saya ada jadwal kuliah), barulah saya berangkat sebelum acara. Sampai di venue, menyiapkan acara, kembali ke hotel larut malam, lalu sudah kembali bersiap sejak subuh. Jalan-jalan? Jangan sedih, selesai acara saya langsung balik bersama team ke Jakarta, karena di hari Senin ada event lain.

Setidaknya, ketika saya menonton film Up In The Air kini, saya mengerti perasaan dari George Clooney. Esensi kenikmatan saat akan bepergian ke suatu tempat kini menjadi hal yang biasa, bahkan membuat saya agak malas karena pendeknya waktu yang ada. Satu-satunya kenikmatan yang tersisa adalah ketika saya bisa duduk di pinggir jendela, dan menyaksikan kerlap kerlip lampu kota atau megahnya langit saat ia akan take off ataupun landing. 

note : tulisan ini adalah dalam rangka mengikuti event #30HariMenulis yang rutin diselenggarakan oleh teman-teman di laman facebook saya. Dan ini adalah tulisan untuk Day 1. Walau terlambat dan sekalian curhat, gak apa kan?

0 komentar: